
Sesuai dengan janji yang sudah dibuat dengan Cahyono, hari Sabtu pagi dan ternyata bertepatan dengan tanggal satu Muharram, atau kalau orang jawa menyebutnya sebagai satu Suro, Andri meminta semua segera bersiap. Vian dan Zidan segera bersiap, karena harapan untuk kesembuhan mama mereka. Namun keanehan malah terlihat di sisi Renita, meskipun sudah mandi sejak sebelum fajar, tetapi Renita tidak segera bersiap. Perempuan itu merasa malas untuk menggerakkan tubuhnya untuk mempersiapkan sendiri.
"Mah... ini sudah hampir jam tujuh lho mas.. Ayah padahal sudah bilang sama mas Cahyo jika kita akan sampai di Grabag pukul sembilan. Kita juga belum sarapan juga.." dengan suara pelan, Andri mengingatkan istrinya. Saat ini Renita masih duduk di depan laptop.
"Bentar yah.., lagian kamar mandi juga masih dipakai anak-anak kan..?" Renita yang biasanya semangat jika akan dibawa berobat, entah tidak tahu sebabnya, kali ini perempuan itu masih terasa malas.
"Kosong mah... anak-anak sudah selesai bersiap. Mereka juga sudah mandi sejak tadi, kita hanya tinggal menunggu mama saja. Semua sudah ayah siapkan di mobil, mamah tinggal ganti baju, dan nanti kita mampir toko kue untuk cari oleh-oleh untuk mas Cahyo dan mas Suryo. Oleh-oleh untuk pak kiyai juga sudah ayah masukkan ke bagasi mobil." dengan sabar, Andri terus mengajak istrinya.
Akhirnya masih dengan rasa malas, Renita segera berganti baju, dan tidak lama kemudian perempuan itu mulai melangkahkan kaki, turun ke lantai satu. Terlihat suami dan putranya memang sudah bersiap di bawah, dan mereka segera membawa barang-barang yang akan mereka bawa, dan memasukkan ke dalam mobil. Namun tiba-tiba saja Renita malah terduduk di kursi, dan tampak air mata mulai menggenangi kelopak matanya. Andri merasa tersentak, namun dalam hati, laki-laki itu berpikir jika itu bukan istrinya, namun jin yang ada di dalam tubuh istrinya yang merasa malas untuk bergerak.
Laki-laki itu dengan sabar berjalan keluar, dan mendatangi Vian yang sudah masuk ke dalam mobil duluan. Melihat para tetangga yang banyak mengobrol di halaman perumahan, Andri mendekati putra sulungnya.
"Kak.. sepertinya jin di tubuh mama menghalangi mamah untuk pergi ke Gunung Andong. Kakak dan adik bantu mamah ya, paksa untuk mau keluar rumah dan masukkan ke dalam mobil." Andri berbisik pada Vian.
Vian langsung berdiri, kemudian mengajak Zidan untuk menjemput dan membawa mamahnya keluar dari dalam rumah. Zidan segera membuka pintu mobil, kemudian keluar dan mengikuti kakaknya masuk kembali ke dalam rumah. Dua anak muda itu melihat bagaimana mamanya sedang berjuang keras untuk mengendalikan dirinya. Saat ini, Renita terlihat ketakutan, dan air mata terus mengalir ke pipinya.
"Mah.. istighfar.. ayo kita segera berangkat." Vian berjalan lebih mendekat kepada mamanya.
__ADS_1
Namun, Renita sedikitpun tidak bergerak. Perempuan itu malah memundurkan tubuhnya ke belakang, dan menutup wajah menggunakan kedua tangannya. Vian langsung tanggap, kedua tangannya kemudian memegang bahu mamanya, dan dibantu Zidan mereka menarik Renita dan membawanya keluar dari dalam rumah.
"Jangan... jangan.. aku takut, takut.., kita tidak perlu kesana. Jangan.." Renita terus meraung, menolak untuk dibawa ke mobil.
Para tetangga yang sedang berada di halaman kaget melihat reaksi yang ditunjukkan Renita, mereka segera mendekat ke depan rumah Renita.
"Kenapa mbak Ren pak Andri.. apakah sakit. Trus ini mau dibawa kemana, apakah mau dibawa ke rumah sakit.." Rossi yang belum mengetahui apa yang terjadi dengan Renita, bertanya pada Andri.
Andri hanya tersenyum, dan Wati yang kebetulan juga satu kantor di tempat kerja Renita, dan mengetahui apa yang terjadi dengan perempuan itu langsung mendekat, dan membantu Vian dan Zidan memasukkan Renita ke dalam mobil. Renita masih terus menjerit, menolak untuk dimasukkan ke dalam mobil. Para tetangga yang tidak tahu ceritanya terus mengejar Andri dengan pertanyaan, namun Andri hanya tersenyum,
"Sudah mbak Rossi, biar pak Andri segera berangkat, biar mbak Renita segera mendapatkan pertolongan. Nanti akan aku ceritakan apa yang terjadi sebenarnya." untuk mempersingkat waktu, akhirnya Wati menghalangi Rossi yang terus berusaha mengejar Andri dengan pertanyaan.
***********
Di Grup Whattsapps dosen-dosen FST
Pagi-pagi grup whattsapps FST tiba-tiba merasa heboh. Setelah masuk rumah, ternyata Wati mengirimkan pesan yang berisi memintakan doa Al Fatehah untuk Renita.
__ADS_1
"Kenapa mbak Wati.. apakah bu Renita kumat lagi.." salah satu dosen memberi tanggapan.
"Aku ga tahu bagaimana persisnya, tapi pagi ini bu Renita tidak bisa mengenali lagi orang-orang dekatnya. Sejak tadi berteriak ketakutan, karena dipaksa oleh suami dan anak-anaknya mau dibawa berobat ke Kiyai yang ada di Gunung Andong.." Wati mulai menceritakan apa yang tadi pagi dilihatnya.
"Ya Allah.. semoga tidak terjadi apa-apa dengan bu Renita.." sahut anggota grup.
Masing-masing anggota grup yang terdiri lima belasan orang itu akhinya membaca Al Fatehah khusus untuk Renita, semoga dikuatkan dalam menghadapi ujian ini. Tanpa banyak bicara, Noncy meneruskan pesan yang dikirimkan Wati ke grup Independent Project (IP), yang berisi kelompok penelitian dengan anggota lintas prodi, yang terdiri dari mahasiswa dan dosen. Noncy mengirimkan pesan ke grup itu, karena semua anggota grup mengetahui persis bagaimana kondisi Renita, karena beberapa kali ketika mereka berada di lokasi penelitian, Renita pernah beberapa kali kambuh.
"Para mahasiswa dan bu Kiki.. mohon kirimkan Al Fatehah saat ini untuk Bu Renita ya. Semoga diberikan kekuatan dalam menghadapi ujian dari Allah pagi ini..' Noncy segera mengirimkan chat ke grup IP.
"Ya Allah apa yang terjadi dengan mommy bu Noncy.." mahasiswa yang bernama Dillo yang memang dekat dengan Renita, mencari tahu.
"Iya momm... apa yang terjadi dengan bu Renita.." mahasiswa yang lain saling bersahutan, merasa penasaran dengan yang dialami oleh dosen pembimbing mereka itu.
Hanya Mala mahasiswa dari prodi Informatika, yang memang gadis itu memiliki kemampuan untuk masuk ke portal, dan melihat sendiri bagaimana penderitaan Renita yang tidak ikut berkomentar. gadis itu secara diam-diam selalu berusaha membantu meringankan apa yang dialami Renita, tanpa gadis itu berbicara.
"Bu Noncy... bu Renita kenapa... Syafakillah.." Bu Kiki juga merespon dengan pertanyaan.
__ADS_1
"Sudah ya, besok jika kita bertemu dan berkumpul, nanti akan saya ceritakan. Yang penting untuk pagi ini kita kirimkan Al fatehah yang sengaja kita khususkan hanya untuk beliau. Semoga semua anggota keluarganya di sabarkan dalam menjalani ujian ini, dan bisa cepat tuntas pengobatannya. Aamiin.." Noncy tidak mau menjelaskan secara gamblang apa yang terjadi. Tetapi untungnya semua yang ada di dalam grup tersebut sudah paham, dan apalagi hari ini adalah hari Satu Suro.
**********