
Perjalanan dari Jogja menuju Magelang, betul-betul perjalanan yang sangat melelahkan. Renita duduk di kursi belakang, dan Vian sangat menjaga mamanya. Sepanjang perjalanan, tubuh Renita bergerak-gerak sendiri, seperti orang menari, dan sekuat tenaga Renita berusaha untuk mengendalikan diri, Sesekali dari kursi belakang setir, Andri menengok ke belakang, dan rasa trenyuh selalu muncul di hatinya ketika melihat kondisi yang dialami istrinya. Renita yang sehari-hari terbiasa ceria, supel, tapi kali ini terlihat seperti sedang terpuruk dikuasai oleh kekuatan jahat, yang akan berusaha mengendalikannya.
"Arrghhh... akan dibawa kemana aku..? Ayo kembali.., kembali.. kembali.. aaargghh.." kembali terdengar teriakan dan keluhan dari Renita, Tampak terlihat jika perempuan itu tidak mau diajak untuk berikhtiar, dan menolak untuk dibawa ke Gunung Andong.
"Istighfar mah... kita mau ke tempat Om Cahyo dan Om Suryo.., nanti akan ke pondok pesantren mah.." dengan nada pelan, Vian menjawab pertanyaan mamanya. meskipun anak muda itu juga tahu, jika yang bertanya sebenarnya bukan mamanya, namun jin yang ada di dalam tubuh mamanya.
"tidak... aku tidak mau... ayo kembali..." kembali Renita menjerit, perempuan itu terlihat seperti ketakutan untuk dibawa ke tempat yang akan mereka tuju itu.
Tidak ada yang menanggapi teriakan Renita, semua mendiamkan dan membiarkan tubuh perempuan itu bergerak-gerak sendiri seperti gerakan orang menari, Dari samping tempat duduknya, putra sulung Andri dan Renita terus mengawasi dan melihatnya, untuk mencegah jika terjadi hal buruk yang akan menimpa mamanya. Dari kursi depan, terlihat Zidan juga sering menengokkan kepala ke belakang, melihat kondisi mamanya.
*********
Setelah menempuh satu jam setengah perjalanan, akhirnya Andri sudah melewati Secang. kemudian laki-laki itu melajukan mobil kurang lebih satu kilometer ke depan, kemudian mengambil arah kanan, pas berada di pertigaan. Dengan berbekal google map, Andri mengikuti arah yang ditunjukkan oleh penunjuk arah tersebut. Tidak sampai tiga puluh menit, akhirnya mereka sudah sampai di sebuah perumahan yang hanya berisi beberapa rumah saja. Di rumah yang berada di paling ujung, rumah bercat hijau muda, Andri menghentikan mobilnya.
"Arghhh ga mau, aku ga mau turun, ayo kembali.." kembali Renita berteriak tidak mau keluar dari dalam mobil.
"Mamah.., istighfar.." Vian meminta mamanya mengucapkan kalimat istighfar. Andri keluar dari mobil lebih dulu, untuk memberi keluarga Cahyono jika mereka sudah datang,
__ADS_1
Meskipun badan Renita terus bergerak, dan mulutnya berusaha menolak. Tetapi Renita tetap turun dari dalam mobil, kemudian berjalan menuju ke teras rumah Cahyono. Vian dan Zidan menemani mamanya dengan berjalan di belakang perempuan itu. Sepertinya istri dan anak-anak Cahyono, sudah diberi tahu jika akan kedatangan tamu, karena ternyata pintu sudah dibuka. Andri segera membantu istrinya untuk duduk di kursi.
"Maaf ya mbak, merepotkan." sambil badannya terus bergerak-gerak sendiri, Renita menyapa istri Cahyono. Sebelumnya Renita memang pernah datang ke rumah ini, dengan ditemani Noncy, ketika istri Cahyono melahirkan anak ketiganya. Sama dengannya, anak Cahyono ketiga-tiganya laki-laki semua.
"Tidak apa-apa bu, tadi mas Cahyo juga sudah berpesan, Sekarang mas Cahyo sedang menjemput mas Suryo ke rumahnya. Ditunggu sebentar ya bu, saya nyambi mengasuh anak yang paling bungsu." istri Cahyono segera masuk ke dalam rumah.
Renita dan anak-anak serta suaminya duduk di kursi, dan anak pertama Cahyono keluar dengan membawa ponsel, kemudian mengajak Vian dan Zidan bermain mobil legend. Namun kedua anak Renita tidak mau, hanya menemani anak Cahyono bermain,. Tidak lama kemudian, istri Cahyono menyuguhkan teh panas, dan beberapa camilan.
"Mari bu, mumpung masih panas segera dicicipi. Saya tinggal ke belakang lagi ya bu.." sepertinya istri Cahyono takut dengan tubuh Renita yang terus bereaksi, karena sejak tadi, Renita terus membaca istighfar, sholawat tibbil qullubi, dan berusaha mengendalikan tubuhnya yang terus bergerak-gerak sendiri,
********
"Diam.. jangan macam-macam di tempatku, atau aku habiskan kamu.." Cahyono berbicara dengan nada keras pada Renita. Kedua tangan laki-laki itu mencengkeram pundak perempuan dari sisi kiri dan sisi kanan.
Suryo menatap hal itu dengan sorot pandangan dalam, mencoba menelaah kekuatan yang merasuk di tubuh Renita, Andri dan kedua anaknya, bergeser memberi jalan pada kedua laki-laki itu untuk menangani istrinya.
"Kita langsung berangkat saja, kasihan bu Renita terlalu lama kesakitan dikuasai makhluk biadab itu." melihat reaksi Renita, Cahyono mengajak mereka segera berangkat.
__ADS_1
"Baik, kita naik apa" tanya Suryo.
"Kita di depan saja naik motor." sahut Cahyono, kemudian berjalan mendekati Renita.
"Saya saja pak yang pegang bu Renita, jika tidak nanti di jalan, bu Renita bisa berlari meninggalkan kita.: Cahyono meminta Andri dan kedua anaknya untuk keluar duluan.,
Seperti yang sudah diperkirakan, Renita berpegangan pada sandaran kursi, dan tidak mau mengangkat kakinya. Perempuan itu merasa enggan atau bahkan tidak mau untuk mengangkat tubuhnya, dan oleh Cahyono melalui bahu dan lengannya, Renita ditarik dan perempuan itu terus berdiri.
"Aku tidak mau pergi.. aku tidak mau pergi.." sambil berjalan, Renita terus menolak untuk dibawa pergi. Namun oleh Cahyono, tubuhnya terus dipegangi. Suryo berjalan di belakang Cahyono dan Renita, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya, laki-laki hanya terus merokok dan menghembuskan asap dari mulutnya.
"Maaf ya bu, tadi kalau istri saya tidak mau menemani ibu. Istri saya itu takut bu, biasa menyingkir jika ada orang yang reaksi seperti ini." sambil jalan menuju ke mobil, Cahyono mengajak bicara Renita.
"Ga pa pa mas, kami maklum. Tapi putra sulungnya berani ya, sejak tadi malah duduk di sampingku, dan mengajak ngobrol. Padahal waktu duduk di kursi, tadi saya tidak bisa mengendalikan tubuh saya. Arghhhh..." selesai bicara, Renita kembali menjerit ketakutan. Namun oleh Cahyono, Renita terus dipaksa jalan.
Vian sudah membukakan pintu mobil, kemudian ikut memegangi mamanya dan mendudukkan di dalam mobil, kemudian pintu mobil ditutup, dan dikunci dari depan oleh Andri. Di dalam mobil, ketika Andri mulai menjalankan mesin mobil, Renita semakin meraung-raung menolak untuk dibawa ke pondok pesantren punya Kiyai Muh Dain. Di sampingnya, dengan sabar Vian memegang tangan Renita, dan terus membisikkan kata-kata agar mamanya mengucap ayat-ayat Allah.
**********
__ADS_1