Ambisi Dan Sihir

Ambisi Dan Sihir
Chapter 39 Kekacauan


__ADS_3

Setelah pergantian pejabat struktural di UP, dengan para pejabat yang sebelumnya hanya merupakan orang-orang opportunist menjadikan pengelolaan perguruan tinggi menjadi acak-acakan. Good university governance hanya tinggal slogan saja, mungkin diminta menjelaskan maknanya tidak ada yang tahu, Bahkan peraturan dalam sekejap mengalami perubahan, hanya untuk kepentingan dari beberapa pihak. Namun.., dalam kondisi seperti itu, tidak ada yang berani untuk melakukan protes, orang-orang hanya berani bicara di belakang.


Selain semakin kacaunya pengelolaan universitas, berita tentang banyaknya SDM yang tiba-tiba mengalami serangan mistis semakin santer terdengar. Berita meninggalnya keluarga UP, juga semakin sering muncul. Bahkan di sekali waktu, UP kehilangan sekitar sebelas pegawai, hal yang akhirnya membuat warga UP menjadi bertanda tanya, ada fenomena apa di UP.


"Mbak Ren.. aku hanya berpesan saja ya. Mbak Renita jangan terlalu banyak bicara, tenang saja.  Karena setiap gerakan yang dilakukan mbak Reni selalu dibaca, semacam ada CCTV yang khusus mengawasi perilaku mbak. Ini aku berani bilang, karena di tempat ini Inshaa Allah aman." saat ini Renita dengan ketiga teman perempuan yaitu Dhani. Wati, dan Nancy sedang makan di rumah makan Warung Teduh.


Menurut Dhani, rumah makan ini dijaga dan diawasi oleh dua sosok makhluk astral yang memiliki kekuatan tinggi. Sosok-sosok astral yang mengikuti langkah mereka berempat, hanya bertahan di halaman parkir tidak bisa masuk ke dalam rumah makan. Oleh sebab itu, Dhani berani untuk berbicara, karena selama ini Dhani memang berhati-hati dalam berbicara, dan tidak mau terlibat dengan masalah siapapun,


"Aku itu juga tidak pernah lagi bicara tentang UP mbak. Sudah mati rasa, mau dibuat seperti apapun UP.. silakan, Asalkan kita para pegawai tetap mendapatkan gaji, dan hak-hak kita terpenuhi." Renita menanggapi perkataan Dhani.


"Benar nyah.. sudah diam saja masih selalu diganggu. Setiap saat, hidupnya sudah diganggu makhluk yang tidak terlihat. Di rumah saha, merawat anak, berbakti sama suami, dan jangan lupa studi S3 nya segera diselesaikan." dari samping Dhani, Wati menambahkan.


"Hmmm... menurutku nyah.. masa penderitaanmu berurusan dengan makhluk ghaib tak terlihat itu masih sangat lama. Entah kapan akan hilangnya, yah.. kuncinya hanya sabar nyah. Karena kamu masih dianggap sebagai primadona yang akan mengincar UP, menurut orang yang tidak suka denganmu lho.." sahut Nancy sambil senyum-senyum.


"Huh.. sebenarnya apa sih yang mereka takutkan kepadaku. Aku ini sudah diam, tidak pernah lagi berbicara yang aneh-aneh tentang UP. Jika beberapa teman mendatangiku, kemudian mereka melakukan curhat itu.. apakah itu dianggap sebagai bentuk kesalahan. Dipikir mereka, aku sedang menjalin massa. Tidak ada sedikitpun pikiran untuk sampai kesitu aku mbak.. mereka saja yang sudah terlalu suudzon kepadaku. Aku sudah diam, mereka malah berprasangka buruk, dan mengirim hal-hal aneh kepadaku.." Renita tampak merasa lelah. Perempuan ini juga selalu merasa heran, kenapa dirinya selalu yang menjadi sasaran.

__ADS_1


"Mereka itu takut nyah, khawatir dengan basis suaramu. Sekali dirimu itu bicara, tanpa kamu mencari massa pun, orang-orang akan percaya dengan apa yang dirimu sampaikan. Itulah yang ditakutkan orang-orang jahat dan dhalim kepadamu." kembali Nancy menambahkan.


Renita terdiam, terkadang otaknya tidak pernah masuk akal. Karena begitu bencinya orang itu kepadanya, sampai bekerja sama dengan kaum astral, membayar dukun dengan biaya yang mahal hanya untuk menyingkirkannya. Namun Allah memang masih berkehendak lain, kejadian aneh yang sering menimpanya, menjadikan Renita dan keluarga, menjadi semakin dekat dengan Allah. Ibadah mereka juga semakin meningkat.


"Lha iya.. nyah., nyah.., aku juga kadang berpikir. Kenapa ada orang sejahat itu di UP, sampai takutnya denganmu. Kenapa malah tidak dengan bu KIki ya, padahal bu Kiki itu selalu protes, dan berani berbicara di depan umum, meskipun tidak ada yang mendengarnya." Wati menimpali.


"Kiki itu bisa dikatakan sudah mati mbak di UP.., suaranya sudah tidak berarti apapun. Mereka bisa memperhitungkan itu, tetapi kalau suara nyonyahe ini terdengar.., mereka akan kelabakan." ucap Nancy memperkuat.


"Aku itu terkadang merasa takut, bagaimana jika aku kalah berjuang, dan akhirnya meninggal dalam keadaan tersantet." dengan wajah sedih, Renita tanpa sadar mengungkapkan kegalauan yang dirasakannya.


"Tenang mbak Ren.. husnul khatimah.., itu janji Allah. Tidak perlu takut, karena semakin mbak Renita takut., maka raga mbak Renita akan semakin berlobang, dan mudah dimasuki oleh makhluk itu. Lawan mbak, kendalikan.. jangan sampai mudah dipengaruhi oleh mereka.." Dhani berusaha menenangkan Renita.


********


Sepulang dari warung teduh, Renita minta ditemani Nancy untuk ke biro keuangan, karena akan ada yang diurus terkait dengan keuangan. Sebenarnya Nancy sudah melarang, agar Renita tidak memasuki ruangan tersebut. Namun.. karena Renita yang memang terkadang masih tidak yakin, dan tidak percaya dengan adanya makhluk astral di seluruh lingkungan UP, tetap akan ke biro keuangan.

__ADS_1


"Ya sudah nyah.. aku temani. Sudah aku bilang, kendalikan dirimu untuk tidak datang ke ruangan itu dulu, kamu ini selalu ngeyel saja. Gemes aku jadinya denganmu.." melihat Renita yang tetap nekad akan ke biro keuangan, Nancy akhirnya tidak tega. Perempuan itu tetap mengikuti sahabat baiknya itu.


Akhirnya Nancy dan Renita keduanya berjalan menuju ke biro keuangan. Karena Renita terutama, masih memiliki hubungan akrab dan dekat dengan para karyawan, begitu masuk ke lobby gedung A, banyak sapaan dialamatkan untuk perempuan itu.


"Momm... tumben ke gedung ini. Ada perintah.." seorang laki-laki berkulit putih keluar dari ruang kerjanya, ketika melihat Nancy dan Renita melintas di depan ruangannya. Laki-laki itu adalah Kepala BAAK.


"Perintah.., perintah... terbalik kali.. Dirimu yang saat ini punya kuasa untuk memerintahku, bukan diriku. Pamali jika didengar orang.." Renita menanggapi perkataan Kepala BAAK.


"Ha.. ha.. ha.., jabatan itu hanya di papan nama Momm... Bagi kami dan teman-teman, mommy ini tetap pemimpin di hati kami.." ucap kepala BAAK.


"Sudah.., sudah.. ayo katanya mau ke BAKU, malah ngerumpi disini. Ntar kita ini dilihatin orang, dipikir membicarakan orang lain.." Nancy segera mengingatkan sahabatnya itu, tentang apa yang menjadi tujuan utama kedatangan mereka ke gedung itu.


"Halah bu Nancy.. masak kita ajak bu Renita ngobrol saja ga boleh sih. Protective amat.." kepala BAAK protes pada Nancy.


"Hush.. disini ini tempatnya orang kerja mas.. Kalau mau ngajak ngobrol ya diluar, kita pergi ke cafe. Okay.." sambil menarik tangan Renita, Nancy sempat menggoda kepala BAAK.

__ADS_1


Laki-laki itu tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat sikap Nancy kepadanya.


**********


__ADS_2