
Setelah meletakkan ponsel, Renita perlahan memejamkan mata, dan disampingnya Vian masih melihat film melalui layar LED televisi yang menempel di dinding depan bed mereka, Dalam tidurnya, Renita merasa sedang tidur nyenyak. Tetapi tiba-tiba perempuan merasa sebuah tangan yang masuk ke dalam kepalanya, melalui ubun-ubun di atas kepalanya. Renita merasa tidak mampu berbuat apapun, karena tangan itu terasa memiliki kekuatan yang sangat besar, dan dia merasa tidak mampu untuk menanganinya,
"Jangan.. jangan..." Renita merasa berteriak, tetapi tidak ada suara yang keluar dari dalam mulutnya.
Kekuatan yang menyerangnya terasa nyata, dan sangat kuat sekali. Renita merasa terengah-engah mencoba untuk mempertahankan dirinya, namun kekuatan masih terus menekan dan merangseknya. Renita menggapai-gapai minta pertolongan, namun tidak ada yang mendengar teriakannya. Aura ketakutan tampak menyelimuti dirinya, dan Renita mmerasa berlari kemanapun tetap tidak ada pertolongan yang dapat menyelamatkannya,
"Pergi..., pergi.., jangan ganggu aku.." kembali Renita merasa terus berteriak mengusir kekuatan yang menakutkan.
"Ha.. ha.. ha..., kamu tidak akan bisa mengusirku Renita.. Kamu ini terlalu bahaya, dan sangat membahayakan untuk ambisiku, untuk keberadaanku. Untuk itu, kamu harus pergi dari dunia ini..." terdengar suara tawa keras tampak seperti mengejek perempuan itu.
Renita terus berlari dan berusaha melawan kekuatan itu dengan segala kekuatannya. Mulut Renita terus mengucapkan doa, dan berbagai surat yang dihafalnya diucapkan dengan lantang. Ayat kursi, Al Fatehah, Al Ikhlas, Al Falaq, An naas. BacaaN Bismillahilladzi la yadurru ma asmihi syaiun fil ardhi walafissamai wahuwassami ul alim, terus keluar dari mulut Renita. Namun.. kekuatan itu terasa masih mengungkungnya, Renita merasa di dalam sebuah kegelapan, tidak ada seorangpun berada disitu.
"Aku tidak boleh mati sekarang.., aku harus hidup. Anak-anakkua menungguku... aku putra bapak Mardi Siswoyo tidak akan menyerah. Pergi.." Renita kembali berteriak. Tiba-tiba gadis itu merasa mendapatkan sebuah semangat dan pengharapan baru.
"Kalian dhalim, kalian biadap, aku tidak akan membiarkan kalian bisa mengambil sukmaku. Pergi... pergi jangan ambil sukmaku.." kembali Renita merasa berteriak. Gadis itu merasa ada sebuah kekuatan yang sangat besar, yang masuk ke ubun-ubunnya dan akan menarik sukmanya dari dalam ubun-ubun tersebut.
"Ha.. ha.. ha.., kamu hanyalah seorang perempuan yang lemah Renita.. Kamu tidak akan berarti apa-apa untukku, kamu akan kalah, Sukmamu adalah milikku, milikku Renita..." kembali kekuatan besar itu merangsek masuk, dan akan mengambil sukma perempuan itu dari ubun-ubunnya.
__ADS_1
Kembali aura dingin dan gelap kembali datang dan menyelimuti tempat itu. Renita kembali merasa gelagapan dan tidak bisa melihat apa-apa. Tetapi perempuan itu masih bisa merasakan, ketika ada kekuatan yang ingin menarik keluar sesuatu dari ubun-ubunnya. Renita mengulurkan tangannya untuk bertahan, dan sepertinya perempuan itu terus beradu kekuatan mempertahankan apa yang menjadi miliknya.
"Bismillahilladzi la yadurru ma asmihi syaiun fil ardhi walafissamai wahuwassami ul alim. Pergi... ini sukmaku... ini sukma Renita bin Mardi Siswoyo, jangan diambil ini sukmaku. Ini sukma Renita bin Mardi Siswoyo.. pergiii...." kembali Renita bergerak sekuat tenaga.
Antara sadar dan tidak sadar, Renita merasa dirasuki kesadaran jika saat ini di dalam keadaan "tindihan". Perempuan itu terus berupaya agar dirinya tetap berada dalam kesadaran penuh, perlahan Renita merasa menggerak-gerakkan jari kelingking di kedua kakinya. Hal itu terus dilakukannya secara berulang-ulang. Perlahan-lahan akhirnya mata Renita terbuka, dan masih dalam keadaan terengah-engah, perempuan itu melirik ke arah jam yang ada di dinding. Waktu tepat menunjukkan pukul dua belas mala.
"Audzubillah Himinas Syaiton Nirojim.." Renita kemudian menoleh ke kiri dan membuang ludah sebanyak tiga kali.
"Alhamdulillah cuma mimpi." Renita yang masih dalam keadaan terengah-engah melihat ke samping, terlihat Vian sudah tertidur. Perlahan perempuan itu bangun untuk menuju ke kamar mandi, ternyata melihat Zidan yang tidak tahu tidur jam berapa, ternyata tidur di lantai hanya beralaskan karpet dan selimut, Perlahan Renita mengambil handuk dan sarung bali kemudian menyelimutkan kembali pada putranya.
********
Renita sengaja tidak menceritakan mimpi yang tampak nyata itu kepada suaminya Andri. Hari ini kebetulan Andri sedang ada event pekerjaan sebagai koordinator transportasi pada event band di Prambanan. Kebetulan suaminya berkewajiban membawa Katon Bagaskara, vokalis Kla project, grup band lawas yang kebetulan juga disukai oleh Andri. Karena sudah pukul 07.15, Renita mengajak Vian dan Zidan untuk sarapan di restoran hotel.
"Kak..., dik.. kita turun sarapan yuk. Kalau nanti, khawatir sudah pada habis, atau ramai restorannya."
"Bentar mah.. Zidan tak cuci muka dulu.." sahut Zidan. Anak muda itu kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
__ADS_1
"Kamu ga mandi kak..?" tanya Renita pada Vian.
"Tadi pas sholat Shubuh sudah sikat gigi mah. Jadi sepertinya, belum perlu mandi, mau makan dulu." seperti biasanya, anak sulung Renita itu memang seperti alergi tersentuh dengan air. Sering Renita ribut memarahi Vian. hanya karena menyuruh anak muda itu mandi.
Tetapi karena merasa tidak ada agenda lain, hanya makan pagi di hotel saja, Renita membiarkan kelakuan putra sulungnya itu. Setelah Zidan keluar dari kamar mandi serta selesai bersiap, akhirnya ketiganya keluar dari dalam kamar dan menuju ke lift untuk menuju ke lantai satu.
"Mamah di hotel ini sampai hari apa mah..?" sambil mereka berjalan, Zidan bertanya.
"Sampai hari Minggu dik, belum tahu mau perpanjang lagi atau sudah boleh pulang ke rumah. Jika tidak ada halangan, nanti Rabu atau Kamis.., kita kembali pergi ke lereng Gunung Andong. Kemarin Om Cahyo dan Om Suryo bilang, jika tanggal 12 Muharram, kita bisa mencoba pergi ke tempat pak Kiyai." Renita menjawab pertanyaan putra bungsunya.
"Semoga bisa cepat kembali ke rumah, biar uang mamah tidak habis untuk bayar hotel. Aamiin.." tidak diduga, Zidan memanjatkan doa.
"Uang bisa dicari dik, yang penting jika berdoa itu, mamah dan ayah selalu diberikan kesehatan sama Allah. begitu juga dengan kakak dan adik.." sambil tersenyum, Renita menanggapi doa yang dipanjatkan Zidan.
"Sudah mah.. kalau Zidan itu selesai sholat, selalu baca Al Fatehah khususon untuk mamah. Biar mamah Zidan dan kakak selalu sehat. Orang-orang dhalim yang menyakiti mamah, segera diberikan balasan sama Allah. Aamiin." Renita terharu mendengar perkataan putranya. Tidak terasa, air mata menggenang di kelopak matanya.
"Aamiin.." sahut Renita dan Vian bersamaan.
__ADS_1
Karena mereka sudah sampai di restoran, Renita mendatangi meja banquet untuk melaporkan jika menambah satu pax untuk sarapan pagi. Jatah dari hotel hanya untuk dua pax, sedangkan saat ini mereka datang bertiga ke restoran.
***********