Ambisi Dan Sihir

Ambisi Dan Sihir
Chapter 29 Aku Tidak Sakit


__ADS_3

Dokter tampak mengerutkan kening melihat hasil pemeriksaan terhadap kondisi Renita. Hasil USG, hasil pemeriksaan laboratorium sudah berada di tangan dokter perempuan itu. Dokter Palupi, dokter spesialis kandungan yang bertugas, saat ini sedang memeriksa kondisi yang dialami Renita.


"Bu Ren.. melihat gejalanya, ibu seperti mengalami keguguran. Namun ketika kita USG, rahim ibu terlihat bersih tidak ada sedikitpun tanda-tanda jika habis keguguran. Juga tidak perlu dilakukan kuret. Saya menyimpulkan, kali ini ibu mengalami Darah istihadhah, yaitu darah yang keluar, namun tidak sesuai dengan ketentuan haid dan nifas. Untuk itu, ibu hari ini langsung mengerjakan sholat, mengaji dan aktivitas lainnya." tidak diduga, Dokter Palupi malah menyoroti dari sisi lain.


"Atau mungkin, saya sudah akan mendekati masa menopause ya Dokter, karena usia saya saat ini sudah 47 tahun." Renita menambahkan kemungkinan lain.


"Kemungkinan itu bisa terjadi bu, namun rahim ibu masih segar, tidak atau belum ada tanda-tanda kekeringan, sebagai deteksi awal jika ibu akan terkena menopause. Untuk itu, bisa harus tetap menjalankan kewajiban selaku seorang muslim, saya kali ini tidak membawa bukunya. Tapi saya pernah membacanya, dan saya pastikan jika hadist itu sahih." jawaban dari dokter, malah membingungkan Renita.


Kedua perempuan itu, dan ada satu tenaga perawat yang mendampingi mereka terdiam. Dokter masih terpekur dalam pengamatannya. tetapi sepertinya ragu-ragu untuk menyampaikan sesuatu pada Renita. Tidak lama kemudian..


"Untuk pengobatan ibu, disini saya buatkan resep untuk Mefix 500, untuk penghilang nyeri otot. juga Kalnex yaitu obat yang digunakan untuk menghentikan proses pendarahan pada sejumlah kondisi seperti mimisan, cedera, pendarahan akibat menstruasi berlebihan, dan pendarahan pada penderita angio-edema turunan." dokter menjelaskan obat yang diresepkan untuk Renita,


"Tapi Dok.. untuk Mefix jika tidak saya minum tidak masalah bukan? Karena saya tidak merasakan nyeri, ataupun sakit yang lain Dok. Bahkan dokter juga bisa melihat bukan, meskipun saya sudah hampir satu box menghabiskan pembalut sejak pagi, namun saya sedikitpun tidak merasakan lemas." karena kurang menyukai obat-obat dari dokter, Renita mencoba bernegoisasi dengan dokter Palupi.


"Boleh saja, atau mau mencoba pengobatan alternatif juga bisa, mungkin menggunakan air zam zam. Sudah dicoba belum..?" Renita agak terkejut dengan pertanyaan dari dokter. Tetapi memang, Renita juga belum pernah mencobanya. Seketika Renita teringat dengan kasus ketika divonis menderita stroke mata, kemudian tidak ada obat dari dokter, dan Renita meneteskan air zam zam di mata yang sakit setiap selesai sholat, sambil meminta kesembuhan dan perlindungan pada Allah. Akhirnya, seperti mendapatkan mukjizat, matanya bisa dinyatakan sembuh tanpa operasi, dan tanpa pengobatan dari dokter.


"Kenapa ibu malah melamun.." mendengar pertanyaan terakhir itu, Renita tersenyum kecut. Akhirnya perempuan itu menceritakan kejadian ajaib ketika menderita penyakit mata beberapa waktu yang lalu.

__ADS_1


"begitu Dok.., saya janji akan mencoba theraphy dengan menggunakan zam zam dan kurma. Siapa tahu malah menjadi jodoh untuk kesembuhan saya Dokt.."  akhirnya Renita menanggapi perkataan Dokter.


"Iya bu.. yang penting kita sebagai manusia memang diwajibkan berikhtiar, tidak hanya pasrah dengan nasib yang ada di depan kita. Sudah ya bu konsultasinya, semoga bu Renita segera diberikan kesembuhan dan selalu dalam perlindungan Allah." akhirnya dokter mengakhiri konsultasinya.


"Aamiin, terima kasih Dokter, saya pamit." akhirnya Renita keluar dari ruang tindakan. Andri sudah menunggu istrinya dengan sabar di luar pintu, akhirnya segera merengkuh bahu istrinya dan membawanya ke mobil.


**********


Di dalam mobil dalam perjalanan pulang, Renita menceritakan hasil pemeriksaan dokter. Andri hanya diam mendengarkan, dan berpikir sendiri. Menyadari jika istrinya suka panik dan gundah, laki-laki itu berusaha tidak memancing kepanikan istrinya, jadi lebih baik memendam sendiri apa yang ada dalam pikirannya. Tetapi begitu masalah terselesaikan, barulah Andri akan menceritakan pada istrinya.


"Ya yah.. tapi kita belum ada lauk di rumah yah. Nanti kalau anak-anak pulang bagaimana, kasihan jika tidak ada lauk, mereka pasti lapar." mengingat jika tadi pagi, Renita belum sempat masak, perempuan itu bermaksud untuk mampir ke rumah makan padang, guna membeli lauk.


"Sudah.. tidak perlu memikirkan lauk. Nanti ayah saja yang mencarinya mah, saat ini kita pulang saja. Karena mamah tidak boleh kemana-mana, ayah takut terjadi apa-apa dengan mamah." mendengar bicara suaminya, Renita terdiam, jika sudah begitu biasanya Andri sudah tidak bisa diajak bernegosiasi.


Jalanan menuju ke arah rumah pasangan suami istri itu di selatan Ring road selatan, lumayan padat. Sambil menahan semburan darah yang terus keluar, Renita meluruskan sandaran punggungnya. Perlahan perempuan itu memejamkan matanya, dan tidak bergerak sama sekali. Dari tempat duduknya, Andri menatap istrinya dengan tatapan prihatin. Meskipun dalam kehidupan mereka sehari-hari, antara Andri dan Renita sering terjadi keributan, namun melihat keadaan istrinya, laki-laki itu turut merasa sedih.


********

__ADS_1


Sampai tiga hari berlalu, Renita belum berani untuk berangkat ke kantor. Bukannya merasa sakit, karena meskipun sudah diminumkan obat penghenti pendarahan, namun darah masih mengalir deras keluar. Dan Renita terus merangkap pakaian bawahnya dengan menggunakan sarung bali, untuk mencegah darahnya tembus ke tempat duduk atau tempatnya berada.


"Tet.. tet.. tet.." Renita menengok ke arah ponsel bagian layar. Terlihat ada panggilan masuk dari Umam, Rektor UP saat ini. Dengan cepat, perempuan itu menerima panggilan masuk.


"Assalamu alaikum.." Renita mengucapkan salam.


"Wa alaikum salam, bu Ren.. njenengan ki sakit apa. Kami para bapak di Rektorat, mau berkunjung ke rumah, apakah diperbolehkan..?" dari seberang ponsel, terdengar suara pak Umam bertanya kepadanya,


"Bukan sakit pak, hanya saja aku belum bisa menceritakannya pak. Besok.. aku akan berusaha untuk mencoba datang ke kampus, nanti aku akan cerita, sebenarnya aku sakit apa.." sambil tersenyum, Renita menjawab pertanyaan Rektor UP kepadanya.


"Yang benar.., jangan membohongi kami bu.. Kalau masih sakit, istirahat saja di rumah dulu, besok aku dengan pak Faiz dan pak Adi akan datang ke rumah. Minta dibawakan apa.." sambil bercanda, terdengar pak Umam masih terus mendesak untuk datang ke rumah Renita.


"Tidak perlu pak Boss.. aku tidak bohong. Aku ki sehat wal afiat, hanya ada alasan dimana aku belum bisa datang ke kampus. Besok pagi, semuanya akan aku ceritakan.." Renita terus menolak kedatangan teman-temannya, karena dirinya memang tidak mengalami rasa sakit.


"Yo wislah kalau begitu.. tetap istirahat bu. Kami tunggu kedatangan bu Renita di kampus esok hari.." akhirnya karena kedatangan mereka ditolak oleh perempuan ini, akhirnya pak Umam mengakhiri panggilannya.


*********

__ADS_1


__ADS_2