Ambisi Dan Sihir

Ambisi Dan Sihir
Chapter 75 Belum Boleh Berbicara


__ADS_3

Hari berikutnya, ketika Renita berada di ruang kaprodi Manajemen, kebetulan di ruang itu ada beberapa dosen. Akhirnya Renita bergabung dengan pera dosen lainnya, yang sedang menyiapkan bukti fisik asesmen lapangan. Baru beberapa Renita duduk, tiba-tiba semua pejabat Wakil Dekan minus Dekan datang ke ruangan tersebut.


"Mommy.., bagaimana mom.. sehat kan..?" WD I yang memang secara emosional dekat dengan Renita memberi salam pada perempuan itu.


"Alhamdulillah, Inshaa Allah selalu sehat cantik. bagaimana persiapan AL, sudah disiapkan semuanya kan..?" Renita berbasa basi menanyakan persiapan AL.


"Ya ini mom.. agak oleng, nervous sih yang pasti. Mana kita di UP, menjadi prodi yang pertama kali dikunjungi AL  oleh LAMEMBA. Agak deg-degan nih mom... Oh ya mam,,, by the way sebelum mommy cuti itu katanya bu Renita kesurupan atau gimana ya mom.. di mushola." WD I menanyakan kabar.


Renita tersenyum, dan perempuan itu menimbang-nimbang untuk bicara jujur dan menepis simpang siur yang berkembang sendiri. Ataukah tetap membiarkan persepsi tentang dirinya bergulir liar. Akhirnya Renita mengambil nafas panjang, kemudian..


"Baiklah aku cerita ya, daripada mendapatkan informasi dari orang yang tidak ada di lokasi, dan tidak melihat sendiri.Dari pada menjadi bola panas, yang nantinya malah berujung fitnah.." ucap Renita sambil tersenyum kecut.


"Jadi.. sebenarnya hari Senin minggu lalu, saya itu bukan kesurupan. Tapi memang di tubuh saya itu ada sesuatu, ada makhluk astral yang berada di dalamnya. Untuk asalnya disinyalir dari kiriman seseorang, saya tidak akan menyebut namanya. Dan sudah tiga tahunan ini, sebenarnya saya menjalani treatment, pendampingan dari spiritualis.. Tapi satu tahun terakhir memang lebih fokus.." Renita berhenti sebentar untuk mengambil nafas.


"Pak Cahyo ya bu, yang suka mendampingi bu Renita.." bu Putri menyeletuk.

__ADS_1


"Bukan bu.. mas Cahyo itu untuk emergency bu. Jadi kalau sewaktu-waktu tubuhku bereaksi di kampus, atau pas di jalan, mas Cahyo dan keluarganya yang pasti dihubungi suami saya pertama kali. Karena kebetulan beliau memiliki kemampuan untuk rogoh sukmo, jadi meskipun fisiknya di Grabag, namun sukmanya bisa datang ke tempat saya, untuk memberikan tindakan." Renita kemudian menceritakan semuanya secara rinci.


Semua yang ada di ruangan itu terdiam, karena ternyata informasi sepihak yang mereka dengar berbeda dengan apa yang diceritakan oleh Renita sendiri.


"Kebetulan hari Senin kemarin saya itu sudah ikhtiar tetirah, dan sudah tinggal di hotel, Tetapi karena undangan pembinaan pegawai, yang kebetulan bertepatan dengan hari lahir dan wetonku, aku berangkat. Tapi sebenarnya, aku sudah menyiapkan diri saya dengan puasa waktu itu." kembali Renita melanjutkan ceritanya.


"Ya Allah momm... semoga cepat sembuh ya momm.." WD I mendoakan Renita dengan tulus.


"Oh iya bu... terkait dengan visitasi besok, berdasarkan hasil rapat dosen dan pejabat, diputuskan untuk meminta bantuan bu Renita menjadi nara hubung asesor ya bu..?" tiba-tiba bu Susi WD II memberikan perintah pada Renita,


"Begini ya bu, bukannya saya menolak, namun kondisi saya belum fit, saya yakin bapak/ibu akan memahami dan mengerti keadaan yang saya alami. Tapi Inshaa Allah, saya akan membantu dari belakang layar, saya janji.." Renita memberikan jawaban.


"Di belakang layar seperti apa  bu Renita, apakah bisa disampaikan secara jelas disini..?" terlihat WD II malah mengejar renita, yang akhirnya mengharuskannya kembali untuk menghirup nafas panjang. Sepertinya bu Fitri seakan tidak tahu  dan tidak memahami, penyakit psikhologis yang dialami Renita. Namun karena memaklumi kondisi panik menghadapi asesor, akhirnya Renita mencoba menelan sendiri rasa kecewanya itu.


"Begini bu Susi.. saya tidak dapat menyebutkan satu persatu apa yang akan saya lakukan, namun aku yakin meskipun semua berkas sudah siap, kita masih akan membutuhkan tambahan berkas maupun  tambahan dukungan dari unit lainnya. Mungkin bapak dan ibu pejabat, juga sudah sedikit tahu bagaimana peta dari SDM di UP. Kita tidak bisa hanya mengedepankan kalau kita ini pejabat, namun tanpa kedekatan emosional, mereka sering mengabaikan kita." Renita memperjelas kata-katanya.

__ADS_1


Baru saja Renita menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba perempuan itu merasakan rasa nyeri di matanya. Secara reflek, Renita memejamkan mata sambil mengucapkan doa, kemudian dengan mata tertutup Renita mencari sesuatu dalam tas. Bu Putri tanggap dengan apa yang dialami perempuan itu, perempuan itu mendekat untuk memberikan bantuan, namun rupanya Renita sudah menemukan RUqyah Sidr.


Di bawah tatapan panik teman-teman yang ada di dalam ruangan itu, Renita meneteskan madu Yaman itu ke mata kiri dan mata kanan. Namun begitu, obat tetes mata berbahan utama madu Yaman itu masuk ke dalam matanya, Renita seperti kehilangan kesadaran. Rasa sakit seperti ditusuk-tusuk, dan seperti ada pasir yang keluar dari matanya dialami oleh perempuan itu. Bibir Renita membaca ayat-ayat Al qur'an, dan tiba-tiba Renita merasakan ada yang memegang kepalanya kemudian menyandarkan di perutnya. Sejenak ada rasa dingin, dan rasa nyerinya sedikit berkurang.


"Bu Renita.. sadar, kendalikan dirimu. Jangan mau sukmamun untuk mainan, sadar Nyah.. kendalikan dirimu.." terdengar ucapan Noncy dengan nada sedikit keras.


Tubuh Renita bergerak ke kanan , ke kiri, ke depan.. dan terus seperti merasakan kesakitan, Namun lafaz istighfar, An naas dan bacaan ayat-ayat Al Qur'an yang lain terus diucapkan Renita. Dengan tatapan khawatir, semua yang ada di dalam ruangan itu terlihat panik, namun tidak bisa memberikan bantuan pada perempuan itu. Setelah beberapa saat, akhirnya Renita kembali bisa menguasai dirinya, dan matanya kembali terlihat terang.


"Nyah.. kamu harus pulang sekarang, cukup di kampusnya. Harus netralisasi.." Noncy mengajak Renita pulang. Tetapi untungnya perempuan itu menyadari bagaimana posisi Renita saat ini..


"Untuk tips dan trik menghadapi asesor, tidak harus disampaikan secara terbuka ya, karena ada larangan bagi bu Renita untuk  bicara, jika Renita memaksakan maka Bu Renita yang akan celaka, Nanti masukannya bisa disampaikan dengan cara yang lain.." noncy meminta pengertian dari teman-teman satu prodi Renita itu.


"Ya bu Noncy.. kami paham kok. Ga pa pa, bu Renita dibawa pulang saja, daripada terjadi apa-apa, kita juga tidak bisa untuk menanganinya." WD I bertindak cepat, dan mengiyakan keinginan Noncy.


"Terima kasih,.. ayo kita pulang sekarang. Aku yang akan mengantarmu pulang.." sahut Noncy sambil mendirikan tubuh Renita yang masih duduk di kursi kerja. Tidak lama kemudian, kedua perempuan itu segera meninggalkan ruang Kaprodi Manajemen.

__ADS_1


**************


__ADS_2