Ambisi Dan Sihir

Ambisi Dan Sihir
Chapter 24 Rencana Istighosah


__ADS_3

Setelah melakukan sosialisasi, tetapi tanpa meminta persetujuan dari semua civitas academica, secara sepihak pengurus yayasan mulai membangung gedung baru. Orang-orang yang duduk di pimpinan tertinggi saat ini, mereka tidak bisa dengan amanah menjalankan tampuk kepemimpinan. Imbalan sejumlah materi dan fasilitas yang mereka dapatkan dari pihak pemborong, menjadikan mereka semakin termotivasi untuk melakukan pembangunan kampus secara fisik. Bahkan secara terang-terangan, di depan karyawan, Rektor dan pengurus yayasan mendapatkan fasilitas kebutuhan pribadi dari mitra pembangunan.


"Hmm.. kampus ki sekarang membangun terus, kenapa hanya fisik saja yang dipikirkan ya. Pembangunan dari sisi human resource tidak dilakukan, mana keuangan untuk saat ini dipegang dan dikendalikan langsung dari yayasan sih, hanya dicatat di dalam buku folio besar, tanpa terkomputerisasi." beberapa karyawan tampak berkumpul, mereka membicarakan tentang pembangunan gedung yang terus menyambung, tanpa memberikan sedikitpun nafas segar untuk UP.


"Iya.. kira-kira kita nanti masih bisa mendapatkan dana pensiun tidak. Padahal setiap bulannya, gaji kita dipotong sebanyak lima persen. Bisa-bisa ketika kita pensiun, uang kita sudah raib digunakan untuk perorangan saja." Ketua ikatan keluarga karyawan menyahuti.


"Kalian ini masih berharap UP bisa berdiri sampai kita memasuki pensiun. Kekhawatiran saya bukan pada dana pensiunnya, tetapi masa sudah dalam usia yang seharusnya memasuki masa istirahat, kita masih harus keluar membawa stop map, untuk mencari lowongan pekerjaan," sahut karyawan lainnya.


"Benar juga ya, terus apa yang harus kita lakukan. Si Yayak itu betul-betul tidak punya hati dan perasaan. Jika kita memberinya masukan, malah kita dipikir menghambat pengembangan UP. Kita ini bukannya menghambat, hanya saja kita itu ingin ikut menjaga dan mengawasi jalannya roda UP agar sesuai dengan relnya." sahut bu Endi yang beberapa kali bersitegang dengan Ketua Pengurus Yayasan.


"Atau kita adakan pertemuan keluarga karyawan, kita bahas masalah ini dalam rapat besar. Karena tidak bisa hanya diam saja, menyaksikan kampus kita ini hancur dalam waktu singkat, dan dipermainkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab." mbak Dhenny karyawan yang sudah lebih dari 30 tahun mengabdi di UP ini berbicara.


"Pertemuan karyawan.., kita masih percaya dengan masalah ini. Ingat tidak, di beberapa pertemuan kita terakhir, malah keluarga karyawan yang memprovokasi kita untuk melawan UP. Padahal dia itu siapa, hanya suami dari karyawan bukan, yang nota bene tidak memiliki hak untuk berbicara atas nama UP." Endi kembali menanggapi.

__ADS_1


Beberapa orang itu terdiam, membenarkan perkataan Endi. Secara informal, Ketua Pengurus Yayasan yang seusia dengan Endi dan Dhenny sering terlibat pembicaraan di luar rapat. Tetapi perkataan Yayak tidak bisa dipegang, tidak mencerminkan jika dia saat ini sebagai seorang sesepuh di UP, meskipun usianya masih tergolong muda. Sudah diketahui bagaimana track record laki-laki itu, yang sangat jauh dari mendekat kepada Tuhan. Meskipun diketahui memiliki agama Islam, namun laki-laki itu tidak pernah terlihat menjalankan perintah dari ajaran Islam,


"Iya.. iya.., kita diam saja dulu. Atau kita bisa meminta bantuan bu Kiki, beliau selalu berani untuk bersuara jika ada pertemuan di auditorium. Bagaimana.. siapa yang akan menyampaikan pada Bu Kiki.. karena untuk saat ini, kita tidak bisa menggantungkan diri pada bu Renita. Ruang geraknya sudah betul-betul terbatas, dan sangat sempit sekali. Karena si Umam, Rektor nya saja tidak mendukung kerja tim, malah bersama dengan yayasan sering menghakimi bu Renita." sahut Endi.


Mereka kembali terdiam, berusaha untuk menemukan cara agar mereka dapat menyampaikan aspirasi mereka, tanpa menimbulkan kontroversi.


*******


Pembangunan terus berlangsung, dan dilakukan tanpa ada tender sama sekali. Selain itu, keanehan demi keanehan terjadi. Beberapa karyawan UP banyak yang mengalami sakit, dan bahkan beberapa di antaranya mengalami kematian. Hal itu sontak menimbulkan diskusi kecil di antara para pegawai. Hingga Renita dengan meminta persetujuan Rektor, dan dibantu Kepala Biro Sarana Prasarana berencana untuk mengadakah Istighosah dengan mengundang hafidz Qur'an dari pondok pesantren,


"Setuju.. nanti pan Jack dengan pak Saef yang bertanggung jawab untuk menghubungi pihak pondok pesantren ya. Nanti mbak Dhenny membantu menyiapkan snack dan makan siang untuk para santri pondok, dan beberapa bapak/ibu dosen yang hadir." Bu Ana Kepala Bagian Kepegawaian turut bersuara.


"Iya setuju.., ingat untuk kegiatan ini kita tidak ada kepanitian. Tugas ini sudah include tugas dari BSP selaku fasilitator, dan Bagian kepegawaian selaku pelaksana yang menyediakan orang-orangnya." WR II menegaskan.

__ADS_1


"Setuju.. tidak masalah. Oh ya pak Saef dan pak Jack.. jangan lupa ketika menghubungi pengelola pondok, kalian berdua menceritakan kondisi yang terjadi di UP. sehingga doa yang mereka bacakan itu, sekaligus untuk membersihkan kampus kita ini dari hal-hal yang tidak baik." pak Ardi menyahuti.


Akhirnya, dengan memanfaatkan dana penyegaran pegawai, tim bidang II di bawah koordinasi Renita mengadakan suatu acara pengajian.  Kebetulan mayoritas, pegawai UP semuanya beragama Islam, dan untuk agama lain juga ada anggaran yang bisa dimanfaatkan untuk semua karyawan sesuai dengan agama mereka masing-masing. Semua tim mempersiapkan diri sesuai penugasan mereka masing-masing.


"Bu Renita.., apakah bidang II jadi menyelenggarakan acara istighosah besok hari Jum'at." Rektor bertanya tentang rencana istighosah.


"Jadi pak, pak Saef dan pak Jack yang akan menghubungi pondok pesantren yang ada di Krapyak, sepertinya bekerja sama dengan salah dosen baru. Kebetulan salah satu dosen baru kita, memiliki hubungan dekat dengan pihak pondok pesantrea,  sehingga kita agak dimudahkan." Renita menjelaskan masalah pengajian pada Rektor.


"Baguslah jika begitu, untuk pak Yayak juga sudah saya informasikan. Meskipun tidak bisa datang, tapi tidak komentar dari beliau, jadi kita simpulkan saja jika beliau menyetujuinya." pak Umam menambahkan,


"Tapi untuk pak Tomm urusan bapak ya, beliau sepertinya kurang begitu berkenan. Apalagi pak Saef berencana, akan memasang speaker di luar auditorium, jadi suara akan masuk ke seluruh gedung UP terutama di unit satu ini. Padahal ruang kerja pak Tomm kan ada disamping auditorium, jadi pasti akan sangat terganggu dengan kegiatan ini." Renita berusaha mencari pembelaan jika nanti Wakil Ketua Pengurus Yayasan marah.


"Halah.. abaikan saja. Yang penting pak Yayak sudah tahu, dan kita asumsikan setuju dengan acara ini. Tetap lanjutkan acaranya saja Bu.." Rektor kembali menegaskan pada Renita.

__ADS_1


"Siapp.. saya kembali ke ruangan ya pak.." akhirnya Renita kembali keluar dari ruangan Rektor, untuk melanjutkan pekerjaannya yang lain.


*********


__ADS_2