Ambisi Dan Sihir

Ambisi Dan Sihir
Chapter 61 Banyak yang Membantu


__ADS_3

Noncy dengan tenang berusaha menangani Renita sendiri, perempuan itu memeluk erat tubuh Renita dengan membisikkan ayat-ayat di telinganya. Bu Kiki, Gita.. yang ternyata sedang melakukan sholat dan sudah selesai, melihat ke arah Noncy dan Renita. Mereka baru menyadari jika ada yang tidak beres dengan teman mereka itu.


Tanpa diminta, mereka berdua turut berdoa, mengirimkan ayat-ayat untuk membantu kesembuhan Renita.


"Bu Noncy ada apa dengan bu Renita bu..., apakah saat ini sedang sakit?" dengan perasaan khawatir, Kiki bertanya pada Noncy.


"Mohon bantuannya ya bu Kiki, kirimkan Al fatehah untuk nyonyahe, agar segera disadarkan kembali. Maaf ya saya tidak banyak bisa menjawab bu Kiki.." kembali Noncy membacakan ayat-ayat di telinga Renita.


Tiba-tiba Renita yang sejak tadi hanya mendesis dan merintih pelan, tiba-tiba melakukan gerakan seperti sebuah tarian. Badannya bergerak-gerak ke kanan dan ke kiri, demikian pula dengan kepalanya. Semua orang yang sedang melakukan sholat di mushola, memperhatikan dan memandang Renita dengan perasaan ingin tahu. Di samping Renita, Kiki membacakan ayat-ayat Al Qur'an mencoba membantu, demikian juga dengan Gita. Kedua mata Kiki dan Gita sudah meneteskan air mata tidak tega menyaksikan penderitaan sahabatnya itu.


"Renita.. sadar, kuasai dan kendalikan dirimu. Ini adalah sukmamu, sukma Renita.. jangan biarkan pihak lain merebutnya.." Noncy berteriak, sambil memijat tengkuk Renita.


Mendapatkan perlakuan seperti itu, Renita tidak semakin stabil, tetapi malah semakin memberontak. Noncy sampai kewalahan, kemudian memberikan isyarat pada Gita untuk mendekat kepadanya.


"Bu Gita.. minta tolong pakai ponsel saya, telponkan pak cahyo ya, minta beliau untuk datang ke mushola. Katakan saja jika bu Renita mengalami reaksi, pasti akan langsung menuju kesini." tanpa memperhatikan kiri kanan, karena fokus pada Renita, Noncy memerintah Gita untuk menghubungi Cahyono.


Tanpa membantah ataupun protes, Gita segera melakukan apa yang diperintahkan Noncy. Sebenarnya Noncy juga tahu jika, antara Renita dan Gita memiliki kedekatan emosional, sehingga tidak merasa sungkan untuk meminta tolong pada perempuan itu.


"Pak Cahyo.., ini Gita. Mohon ke musholla depan FST ya, bu Renita sedang mengalami sesuatu. Ini saya menggunakan ponselnya Bu Noncy karena beliau lagi fokus menenangkan bu Renita.." terdengar suara Gita seperti sedang memberikan perintah pada Cahyono.


Tidak lama kemudian, Cahyono datang ke musholla dengan dua orang laki-laki yang datang bersamanya. Laki-laki itu kemudian mengambil air wudhu, kemudian melakukan sholat sebentar dan dzikir beberapa saat. Terlihat Noncy merasa tenang melihat kedatangan Cahyono, meskipun laki-laki itu belum membuat tindakan apapun.


Setelah beberapa saat, Cahyono berjalan mendekati Renita kemudian menatap Renita dengan tatapan seram. Tiba-tiba Renita menangis dan mengalihkan wajahnya ke samping..

__ADS_1


"Pergi.., pergi... jangan kemari, kamu jahat, kamu menakutiku/.." Renita berteriak histeris. Namun Cahyono malah memegang kedua bahu Renita sambil terus menatap wajah perempuan itu. Tidak lama kemudian, laki-laki itu melantunkan sholawat dan ayat-ayat Al Qur-an lainnya, dan tubuh Renita semakin berontak dan meronta-ronta.


"Kamu sudah berbohong kepadaku. Kemarin aku sudah bilang bukan, berhenti mengganggu, dan tidur saja jika kamu tidak mau keluar. Ternyata kamu sudah ingkar janji, maka jangan salahkan aku jika aku menghajarmu kali ini." Cahyono berbicara dengan nada keras pada Renita. Orang-orang yang keluar masuk musholla hanya diam, dan menatap prihatin Renita yang terus meronta.


"Kamu mau keluar tidak, jika tidak mau keluar, kamu akan aku hajar.." kembali Cahyono mengancam makhluk yang tidak terlihat itu.


"Tidak, aku tidak mau keluar.. kalau aku keluar aku akan dihajar sama orang yang saat ini sedang duduk di auditorium itu. Aku tidak mau, jika menyuruhku keluar, katakan pada yang ada di auditorium untuk menarikku keluar.." Renita kembali menceracau. Mendengar perkataan Renita, orang-orang yang ada di tempat itu saling berpandangan.


Kembali Cahyono membaca doa-doa kemudian membasuh wajah Renita dengan menggunakan tangannya, namun Renita belum juga kembali sadar. Akhirnya Cahyono melihat ke arah Noncy..


"Bu Noncy.. titip bu Renita sebentar ya, saya mau sholat hajat sebentar," dengan perasaan khawatir, Cahyono meminta ijin bu Noncy untuk menitipkan bu Renitan.


"Baik pak.. tenang saja, untuk nyah Renita saya akan menjaganya pak." Noncy menyanggupi.


Kembali orang-orang yang ada di sekeliling Renita, ikut mendoakan, Namun ada juga beberapa orang yang merasa kepo, melihat dari luar musholla sambil mengobrol. Tiba-tiba Andri yang sudah dihubungi Gita, datang dan langsung memeluk istrinya dengan erat. Kepala Renita disandarkan di dadanya, sambil membacakan ayat-ayat pendek di telinga istrinya.


Tiba-tiba dari arah luar musholla, datang dua orang dosen dari prodi Pendidikan Sejarah yang membawa tissue masuk ke dalam musholla. Dipikirnya dua laki-laki itu mau mengerjakan sholat, ternyata tidak.


"Apakah ada sarung tangan ya.." laki-laki bernama Farhan itu menanyakan sarung tangan.


"Tidak ada pak, bisa gunakan sajadah saja pak untuk pelapisnya." Noncy yang sudah paham apa yang akan dilakukan oleh laki-laki itu, memberikan arahan.


Farhan dan Bayu akhirnya melapisi tangan mereka dengan menggunakan sajadah, dan mendekat ke arah Renita. Andri yang masih memeluk istrinya, bergeser memberikan ruang pada dua laki-laki itu untuk melakukan tindakan pada istrinya.

__ADS_1


"Hei.. kalian siapa... jangan turut campur dalam masalah ini. Kalian tidak akan mampu mengeluarkan aku, pergi. Urus anak istrimu di rumah, tidak usah macam-macam, campur tangan dalam masalah ini.. Pergi.." Renita kembali menceracau, dan berusaha mengusir pergi dua laki-laki itu.


Farhan tersenyum, kemudian memegang kening dan ubun-ubun Renita dan membaca ayat-ayat Al-Qur'an, sementara Cahyono masih melakukan dzikir.


"Ha.. ha.. ha.., kalian tidak akan mampu mengusirku. Ilmu kalian itu masih segini.." Renita menjentikkan kuku di depan dua laki-laki itu.


Laki-laki yang bernama Bayu itu menatap tajam pada Renita, dan di luar musholla sudah semakin banyak orang berkumpul. Renita memang cukup dikenal di UP, karena keramahan dan kebaikannya. Sehingga banyak orang yang peduli kepadanya, dan membantu mengirimkan doa untuk kesembuhannya.


"Aku tidak mau pergi.. sebelum ibu ini mati. Ha.. ha.. ha.." kembali Renita berbicara sambil memejamkan matanya.


"Renita bin Mardi Siswoyo, buka matanya! Istighfar mah.. kendalikan tubuh mamah." terdengar suara Andri kembali memberikan arahan pada istrinya.


Farhan dan Bayu terus berdoa sambil menatap tajam ke arah Renita. Tidak lama kemudian Renita merasa lemas, tubuh perempuan itu kembali jatuh ke bawah.


"Ambilkan air minum.., ambilkan air minum.." terdengar Kiki panik berteriak.


Tidak lama kemudian, Gita sudah membawa satu gelas air mineral yang sudah dibuka, kemudian memberikannya pada Renita, Namun sepertinya kesadaran perempuan itu sedikit pulih


"Aku puasa, aku puasa.." dengan suara tercekat, Renita menolak air putih itu.


"Biarkan bu, istri saya puasa. Tidak perlu diberikan minum.." Andri juga menguatkan,


"Tapi kasihan fisik bu Renita pak.." Kiki tetap memaksa.

__ADS_1


"Tidak masalah bu, jika istri saya minum, puasanya akan batal, Nanti dia malah akan marah, dan jin semakin kuat berada dalam tubuhnya. Jdi, biarkan saja dia, nanti kalau mau putus puasa, pasti akan bilang sendiri." Andri menjelaskan.


**********


__ADS_2