Ambisi Dan Sihir

Ambisi Dan Sihir
Chapter 33 Ikhtiar


__ADS_3

Keesokan Paginya


Seperti yang sudah dikatakan pada istrinya, Andri mengajak kakak iparnya mbak Atik mencari tahu yang bernama Wulan. Karena tamu yang akan menghadiri akad nikah sudah berdatangan, akhirnya mereka mengajak bicara mbak Wulan di dalam kamar, Agar Wulan tidak merasa rikuh, Andri juga mengajak Anton suami Wulan untuk ikut menemaninya.


"Mbak Wulan sebelumnya mohon maaf ya sudah mengganggu mbak Wulan. Hal ini dilatar belakangi oleh cerita istri saya semalam, yang menanyakan jika mendengar nama mbak Wulan dari Tutut." Andri memulai pembicaraan.


Wulan melihat ke arah suaminya, dan Anton tersenyum sambil menganggukkan kepala. Terlihat laki-laki itu mendukung apa yang akan diceritakan oleh istrinya untuk menjawab pertanyaan Andri.


"Sebelumnya mohon maaf ya Om.., bukannya saya tidak mau dekat-dekat dengan bulik Renita. Karena saat ini saya sedang menstruasi Om, jika terjadi apa-apa, saya tidak bisa mengendalikan diri saya. Sedangkan ustadz yang biasa menolong saya ada di Sukoharjo, jadi lebih baik saya melakukan tindakan preventif." Wulan mulai menanggapi perkataan suami Renita.


"Iya mbak.., sebenarnya apa yang mbak Wulan lihat pada istri saya mbak.." Andri bertanya langsung tentang permasalah Renita.


"Iya Om.. saya melihat jika bulik Renita saat ini sedang dalam gangguan orang yang iri dan dengki kepadanya. Hal itu dilandasi karena ambisi orang tersebut, yang merasa jika bulik Renita akan menjadi penghalangnya. Salah satu yang terlihat sering mengirim sesuatu ke bulik, dan menggunakan tidak hanya satu dukun, sepertinya beragama non muslim Om. Mungkin sebenarnya bulik sendiri tahu siapa orang tersebut.." Wulan melanjutkan.


Andri yang sering mendengar cerita istrinya tentang feeling tentang teman kantornya, menyambungkan apa yang disampaikan oleh Wulan.


"Sepertinya istri saya sebenarnya sudah tahu mbak, laki-laki bukan yang saat ini sedang duduk di yayasan. Termasuk orang di puncak tertinggi UP." Andri menanggapi. Perempuan itu menganggukkan kepala sambil tersenyum kecut.


"Saya hanya berpesan saja Om, bulik diminta sabar, saat ini sedang menghadapi ujian. Nanti akan hilang dengan sendirinya kok, yang penting keimanan bulik harus ditingkatkan, dengan memperbanyak dzikir dan sholat serta amalan sunah lainnya." perempuan muda itu kembali menambahkan.

__ADS_1


"Atau kalau mau Om.., saya punya ustadz di Sukoharjo, tapi ustadz itu syari'ah. Jadi tidak ada alat untuk membantu penyembuhan, kecuali dengan menggunakan ayat-ayat Al-qur'an. nanti bulik atau Om bisa mengimbangi dengan memperbanyak syari'ah mandiri. Kakak kandung saya saja, meskipun orangnya dalam tanda kutip jahat, bisa disembuhkan kok. Namanya ustadz Abdurrahman." sambungnya lagi.


"Baik mbak, nanti tak sampaikan pada istri saya. Siapa tahu mau ikhtiar kesana, kalau biasanya istri saya dibantu oleh temannya dari Magelang mbak. Pernah juga ikhtiar mencari pengobatan sampai ke Purworejo, tetapi kok analisisnya malah menakutkan, karena ada penyakit lain yang ditemukan. Kanker tulang belakang, dan hal itu membuat istri saya panik. Akhirnya untuk sementara istri saya berhenti dari pengobatan di Purworejo." Andri menceritakan.


"Kalau anak saya yang perempuan itu bagaimana mbak, itu yang tinggi dan sekarang duduk di samping buliknya Renita." mbak Atik turut menanyakan tentang Zahra. Wulan tersenyum, kemudian melihat ke arah Zahra sebentar.


"Iya bulik.. saya juga melihatnya ada di mbak Zahra. Sama seperti yang dikirimkan kepada saya, mereka tidak menginginkan saya dan mbak Zahra tidak memiliki anak. Sayapun saat ini juga sedang dalam pengobatan dengan ustadz Abdurahman." ucap Wulan yang kemudian terlihat sedih. Sudah lebih dari sepuluh tahun, Wulan dan Anton melakukan pernikahan, namun belum juga dipercaya Allah untuk memiliki momongan.


"Maaf ya mbak Wulan, mas Anton.. malah mengungkit kisah lama. Terus jika boleh tahu, untuk ke ustadz Abdurahman itu, berapa tarifnya." agar mereka tidak keliru untuk memberikan harga,mbak Atik menanyakan tentang tarif pengobatan.


"Suka rela bulik, ustad tidak memberikan tarif resmi dalam pengobatannya. Kalau saya dan mas Anton, hanya melihat dari kemampuan kami setiap berobat, kami memberikan beliau seratus ribu rupiah. Bulik nanti bisa mengukur, kira-kira berapa bulik pantas untuk memberikan pada beliau." tidak ada yang ditutupi, Wulan mengatakan semuanya.


*********


"Gimana mas, apakah sudah merasa lebih baik?" Andri mengusap lengan istrinya, dan bertanya kepadanya.


"belum yah, masih sama seperti tadi." sambil terlihat lesu, Renita menjawab pertanyaan suaminya.


"Ya sabar mah, nanti kalau mamah ada waktu, minggu depan akan diatur janji dengan ustadz Abdurahman ma. Nanti mamah ayah temani, jika anak-anak ga ada acara, semuanya kita ajak." ucap Andri menenangkan istrinya.

__ADS_1


Tiba-tiba Andri menghentikan pijatan di lengan istrinya, karena melihat Wulan dan Anton lewat di depan mereka. Tetapi terlihat Wulan seperti menghindar untuk berada lebih dekat dengan Renita. Mendengar cerita yang disampaikan perempuan muda itu tadi pagi, Andri memaklumi sikap perempuan muda itu.


"Tidak apa-apa bulik.., bulik kuat kok.." tiba-tiba sambil berjalan, Wulan mengucapkan sesuatu pada Renita.


Renita hanya tersenyum melihat perempuan muda itu. Tidak ada sepatah katapun keluar dari bibirnya.


"Mau kemana mbak Wulan, mas Anton.." untuk menghilangkan kecanggungan, Andri bertanya pada pasangan suami istri itu.


"Panas Om.., mau cari es batu sebentar di warung depan. Sejak tadi mau menyalakan kipas angin, khawatir lampunya gak kuat, mending kita cari yang dingin-dingin saja." Anton menanggapi pertanyaan Andri. Wulan hanya tersenyum kecut sambil kembali melirik pada Renita.


Perempuan muda itu tidak sampai memberitahukan apa yang dirasakan pada Renita. Sebenarnya Wulan merasakan, jika jin yang ada ditubuh Renita ingin masuk ke tubunya, namun Wulan tidak mau dan menolaknya. Untuk itu, dengan ditemani suaminya, Wulan harus mengalah, untuk menyingkir dari tempat itu.


"Ya sudah, segera berangkat saja mas. Sepertinya mbak Wulan sudah sangat kepanasan." Andri yang tiba-tiba merasa tidak enak hatinya menanggapi perkataan Anton.


"Baik om, bulik.. mari kami duluan." akhirnya dengan mengendarai sepeda motor, Wulan membonceng suaminya.


Dari tempatnya duduk, Renita dan Andri menatap pasangan suami istri itu sambil tersenyum.


"Kasihan ya mah.. sudah sebelas tahun menikah, mereka belum juga dianugerahkan anak untuk mereka." melihat mereka pergi, Andri mengomentari pasangan suami istri itu.

__ADS_1


"Iya mamah juga mendengarnya, mungkin karena memang belum diberi saja sama Allah yah. Masih diminta untuk terus bersabar, mamah yakin, pada saat semua akan indah pada waktunya.." Renita menyahuti perkataan suaminya.


**********


__ADS_2