
Keesokan harinya
Renita seperti biasa berangkat ke kampus mengendarai mobil sendiri, dan karena ada peraturan yang menyebutkan halaman parkir kampus hanya dibolehkan untuk tamu dan pejabat struktural saja, akhirnya Renita parkir di parkir samping kampus yang hanya muat untuk tiga mobil. Untungnya karena Renita berangkat agak pagi, tempat parkir itu masih kosong, sehingga Renita leluasa untuk memilih tempat parkir untuknya. Setelah memarkirkan mobilnya dengan tepat, Renita segera berjalan keluar untuk memasuki kampus lewat akses dari pintu barat.
"Selamat pagi bu Renita.." petugas security yang jaga di pintu barat, menyapa Renita dengan ramah,
"Selamat pagi pak, jaga disini ya pak.." untungnya Renita sendiri sudah dilupakan dengan kejadian ketika terakhir dirinya memasuki kampus, sehingga dirinya tetap biasa menanggapi interaksi dengan orang-orang.
"Mengajar pagi apa bu.. kok jam segini sudah sampai kampus?" dengan basa-basi security masih melanjutkan pembicaraan.
"Tidak pak, kan masih libur. yah.. hanya ke kantor saja, menunjukkan tanggung jawab dan kewajiban sebagai dosen UP pak. mari pak, saya duluan mau langsung ke gedung C.." tidak mau pembicaraan melebar kemana-mana, Renita langsung bergegas meninggalkan petugas security itu,
"Oh ya bu.. mari.."
Renita segera berjalan langsung menuju ke gedung C, tempat ruang kerjanya berada. Tanpa menoleh ke kanan kiri, karena harus menyapa setiap orang yang bertemu dengannya, Renita terus berjalan lurus ke depan, Setelah masuk ke gedung C, perempuan itu segera menekan tombol finger print untuk scan jika dia sudah hadir di kampus. Beberapa saat kemudian, Renita segera naik ke lantai dua untuk segera masuk ke ruang kerjanya.
"Pagi bu Renita.. sudah habis masa cutinya bu.. Tambah kelihatan segar, semua beban masalah seperti hilang, setelah meluangkan waktu untuk melakukan healing ternyata.." Shuman rekan kerja yang akrab dengan Renita berseloroh melihat kedatangan Renita.
__ADS_1
"Ya memang harus begitu pak.. sekali-sekali kita memang perlu healing, perlu untuk menenangkan diri kita. Jadi agar refresh kembali, untuk menyambut hari baru pak.." Renita menanggapi gurauan Shuman.
"Bagus bu.. setelah itu bu Renita siap untuk menghadapi visitasi akreditasi dari LAMEMBA. Berita kedatangan asesor sudah didapatkan bu, kita tinggal menyiapkan semua berkas, atau penyimpanan-penyimpanan elektronik dari file-file kita." Shuman malah menyampaikan kabar baru.
Selama menjadi penjabat, apakah itu visitasi akreditasi Universitas, prodi lain selalu mengharuskan Renita untuk turun berperan. Bahkan terkadang sampai malam hari, Renita masih harus berada di kampus sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai pejabat. Tetapi kali ini, beban itu terasa ringan karena sudah terangkat dari ekdua bahunya. karena yang berat bagi Renita adalah beban moral yang dihadapinya.
"Untuk visitasi prodi Manajemen aman pak, kan aku bukan tim penyusun, juga bukan panitia. Hanya memposisikan diriku sebagai dosen saja nantinya.. Malah pak Shuman tuh, kan menjabat menjadi laboran Galeri Investasi.." ucap Renita tanpa bermaksud menyinggung perasaan laki-laki muda itu.
"Tidak mungkin bisa jika bu Renita akan diam, pasti akan membantu prodi dengan sekuat tenaga. Lha prodi ini ada karena bu Renita yang pertama kali mengabdi, dari tahun 1997, masak tega bu Renita akan membiarkan dan meninggalkan begitu saja." mas Adhi turut menimpali.
"Ha.. ha.. ha..benar mas. Bu Renita menjadi tidak berkutik.." Shuman seperti mendapatkan pendukung bicara.
*********
Karena sudah dua belas hari tidak masuk kantor, Renita mampir ke ruang admin prodi. Ketua program studi dan beberapa yang ada di ruang itu, menoleh dan melihat kedatangan Renita mendatangi perempuan itu. mereka duduk di meja tengah.
"Bagaimana bu Ren kabarnya..? Enak sekali hampir dua minggu ga datang ke UP, aku kapan ya bisa seperti bu Renita." Ketua prodi mengucapkan salam menyambut kedatangan perempuan itu.
__ADS_1
"Alhamdulillah, kan aku ga datangnya bukan karena aku bolos ya. Tapi menjalankan aturan pegawai, yaitu menikmati masa cuti, agar tubuh kita menjadi fresh kembali, segar dam kembali bertugas sebagai dosen yang baik. Tuntutan publikasi SInta untuk pengabdian, dan tuntutan publikasi Scopus untuk penelitian bisa tercapai." Renita menanggapi perkataan dari Kaprodinya.
"Oh iya bu Ren.. ibu harus melakukan uji coba bu. Kita semua sudah membuktikan semuanya, dan berakhir dengan tepar meriang." tiba-tiba mbak Ella admin magang di ruang Kaprodi, meminta Renita melakukan pembuktian.
"Iya benar, semua sudah merasakannya, tinggal bu Renita yang belum. Katanya tubuh Bu Renita itu lebih sensitif daripada kita-kita. Jika nanti bu Renita bereaksi atau merasakan sesuatu ketika bertemu dengan pak Anggi, berarti tebakan kita selama ini benar.." sahut mbak Cici.
Renita bingung dengan apa yang dimaksud oleh kedua karyawan admin. Sedangkan bu Kaprodi hanya senyum-senyum melihatnya.
"Bentar.., bentar.. sebenarnya ini ada apa, tolong dijelaskan dong. Masak ngomongnya nanggung, ga jelas, ya jelas aku malah kebingungan." Renita yang memang benar-benar tidak tahu, bertanya pada ketiga perempuan itu.
"Iya bu Renita kan tidak tahu, ibu sih kebanyakan cuti, ga tahu perkembangan kampus. Di prodi kita itu bu.., saat ini ada empat dosen baru yang kualifikasinya ya Allah bu.. Juga asal perguruan tingginya tempat dia kuliah terakhir, juga naudzubillah.. amit-amit bu, dan waktu kita wawancara sempat nyeletuk bahwa bapaknya itu pernah jual ijazah. APa tidak mengerikan bu.." Kaprodi langsung menceritakan apa yang terjadi.
Beberapa dosen muda yang menurut Renita memang agak lebay sih, ikut menanyai dosen-dosen baru tersebut. Bahkan karena pak Dito terlalu bersemangat bertanya, dan ingin membuka semua aktivitas dosen melalui laman Sinta, malah berakhir akan ribut dengan salah satu dosen itu.
"Hmm.. itu to. Sudah ditanyakan ke yang menugaskan disini belum. Jika belum, ya dilakukan konfirmasi, apa alasanya dan kenapa menempatkan dosen kok tidak berdasarkan analisis kebutuhan. Semua masih bisa ditelusur kan, kecuali memang ada sesuatu dibalik penempatan itu." Renita memilih bersikap netral, tidak mau memihak siapapun. Perempuan ini sudah terlalu lama kebanyak bersuara, dan akhirnya malah mendapatkan ending yang tidak bagus.
"Ya Allah,. sudah bu. Malah ketua Pengurus yayasan menanggapinya sangat keterlaluan menurut kami. Katanya, jika ada lulusan S3, meskipun dia gila pasti akan aku terima kok. Dan juga, mengatakan jika penempatan SDM bukan tanggung jawab dari prodi, dan mereka berempat itu tidak akan menjadi dosen prodi, hanya sementara dititipkan ke prodi Manajemen,. Nanti jika prodi MM sudah berdiri, mereka akan ditarik dan ditempatkan disana." dengan berapi-api, Kaprodi yang masih muda itu menjelaskan.
__ADS_1
"Hmm.. sabar saja. Nanti kapan-kapan kalau ada kesempatan, aku tak coba bicara atau tanya-tanya pada mereka." ucap Renita.
************