Ambisi Dan Sihir

Ambisi Dan Sihir
Chapter 79 Sisi Positif


__ADS_3

Hastho dan Renita mengobrol beberapa jam, mereka membicarakan tentang banyak hal. Hastho memang sudah menganggap Renita seperti kakaknya sendiri, dan banyak yang dicurhatkan oleh laki-laki itu pada perempuan itu. Tapi meskipun mereka pergi berdua, atau nongkrong berdua, tidak ada yang menggosipkan mereka berdua. Tidak hanya Renita, bahkan suami dan anak-anak Renita juga memiliki kedekatan emosional dengan laki-laki muda itu. Mereka sering saling menyambangi, dan berkunjung. Bahkan sampai ke tempat mertua Hastho, Renita pernah bersilaturahmi di rumahnya.


"Kapan-kapan tak mampir ke rumah bu.. tapi malam bisanya. Ga tahu bu, sekarang pola tidurku kembali rusak seperti yang dulu. Sudah tidak dapat lagi, tidur awal dan bangun lebih awal, Rusak bu, paling cepat bangunnya sering pas adzan Dhuhur.." dengan polosnya, Hastho menceritakan pola hidupnya


"Jangan seperti itu mas, karena dirimu sekarang sudah punya anak. Dan kata para ustadz, waktu Shubuh dan sebelum Shubuh adalah saatnya malaikat turun. Jika malaikat akan menyampaikan rejeki atau kesehatan ke rumah kita, tapi dirimu masih tidur tidak menyambutnya dengan pujian asma Allah, ya semuanya akan dibawa pergi lagi oleh para malaikat." ucap Renita menasehati laki-laki itu.


"Iya bu.. terkadang kalau pas sendiri, aku tuh juga berpikir untuk berubah. Tapi kenyataannya bu.. jika sudah sampai tahap eksekusi, mesti rasa malas mengalahkan segalanya." ucap Hastho sambil tersenyum kecut.


"Ya harus dicoba mas, minta bantuan istri atau anak untuk memaksa membangunkan. Membangun kebiasaan baik itu, di awal memang susah mas.. Tapi jika satu minggu kita berhasil melewatinya, maka semua akan jalan dengan sendirinya. Seperti akan ada signal yang membangunkan dan mengingatkan kita. Dan jika kita terlewat tidak mengerjakannya, kita akan merasa jika ada sesuatu yang hilang dalam diri kita." lanjut Renita.


"Benar bu.. ya Inshaa Allah, besok aku akan mencobanya. Semoga ibu negara mendukung bu.., karena ibu negara juga suka kelewat bangunnya, apalagi anakku.." tanpa sadar Hastho malah menceritakan istrinya,


"Pokoknya diniati, besok gagal, ya diniatkan lagi, besoknya lagi. Terus berusaha, tapi kalau tetap gagal, ya berarti memang tidak ada kemauan dari dirimu sendiri. tidak mau merubah diri untuk menjadi lebih baik. gagal membangun habit yang baik.." Renita terus menasehati laki-laki muda itu, tetapi bukan bermaksud untuk memojokkannya. Dan untungnya Hastho juga sudah hafal dengan bagaimana watak dan karakter Renita.


Hastho terdiam, dan laki-laki mengambil ponsel karena ada panggilan masuk. Tiba-tiba laki-laki itu berdiri, sambil mengangkat gelasnya.

__ADS_1


"Saya tak di luar sebentar ya bu.. biasa, minuman ini hambar jika tidak ditemani oleh asap rokok. Nanti kalau merokoknya disini, bisa-bisa bu Renita terkena denda dari pelayannya." sambil membawa gelas, laki-laki itu berjalan keluar untuk pindah ke smooking room.


Renita hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah konyol laki-laki itu. Sepeninggalan Hastho.., Renita melanjutkan kerjaannya, dan kembali menekuni website yang sudah sejak tadi dibukanya. Karena kedatangan Hastho tadi, menyita waktunya karena Renita tidak bisa berpikir, jika disambi dengan mengobrol. Namun menolak kedatangan Hastho, juga tidak bisa dilakukannya.


"Hmm.. sudah jam dua lebih tiga puluh menit, sebentar lagi aku harus cabut dari tempat ini." Renita melihat ke arah jam yang ada di layar laptopnya. Merasa sudah tiga jam lebih, maka Renita berpikir harus segera pulang.


********


Sesampainya di rumah, Renita membuka kunci pintu karena hanya dia sendiri yang sudah sampai ke dalam rumah. Suaminya Andri sedang ada kerjaan rental, sedangkan kedua anaknya pergi belum ada yang pulang ke rumah. Begitu pintu terbuka, Renita segera masuk ke dalam. Namun perempuan itu menghentikan langkah kakinya, karena tiba-tiba aroma wangi menyeruak masuk ke hidungnya.


"Aku pulang ke rumahku, jangan ganggu aku. Kalau kamu merasa nyaman disini, tetap tinggallah disini jika itu membuatmu tenang, tetapi jangan sakiti aku dan keluargaku.." Renita berbicara sendiri, yang ditujukan untuk para jin yang mungkin ada di dalam rumah atau di dalam tubuhnya.


Perempuan itu segera menyimpan kunci mobil ke tempatnya, kemudian masuk ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan kakinya. Setelah merasa bersih, segera Renita keluar dari dalam kamar mandi, kemudian mengambil tas laptop dan tas kerja, untuk dibawanya ke kamar di lantai atas. Tidak lupa, perempuan itu mengunci pintu karena sering tidak mendengar jika ada orang keluar masuk dari dalam rumahnya.


Sesampainya di kamar atas, Renita menyalakan pendingin ruangan, dan kemudian berbaring di atas bed sambil meluruskan badannya.

__ADS_1


"Ya Allah.. nikmat mana lagi yang hamba dustakan ya Allah, dengan semua nikmat dan anugerah yang Engkau limpahkan pada hamba dan keluarga.." merasakan kenikmatan dengan berbaring, Renita mengucap syukur.


Perlahan Renita memejamkan mata, dan kembali merasakan nikmat mata terpejam, punggung dan kaki bisa lurus sejajar. Beberapa saat Renita menghabiskan waktu pada posisi tersebut, dan berpikir jika masih banyak nikmat yang perlu disyukuri, dari pada hanya memikirkan masalah dan rasa sakit yang terlalu sering dideritanya itu. Tiba-tiba mata Renita terbuka lebar, perempuan itu ingat jika masih ada tanggung jawab yang belum bisa diselesaikannya.


"Aku tidak boleh malas, masih banyak kerjaanku yang belum selesai. Tidak mungkin jika semuanya harus aku selesaikan pada malam hari." gumam Renita.


Renita segera kembali berdiri, kemudian mengambil laptop dan membukanya di atas meja. Baru beberapa menit Renita duduk, tiba-tiba pinggang bagian bawah naik ke tulang belakang Renita tiba-tiba merasa nyeri, dan rasa nyeri itu terasa sekali menyebar ke atas melewati tulang belakang.


"Astaghfirullahaladzim, Bismillah..., Audzubillahi wa qudratihi min syarrima ajidu wa uhadiru." kembali sebanyak tiga kali, Renita mengucapkan doa. Setelah selesai membaca lafadz doa, perempuan itu meniup kedua telapak tangannya, kemudian perlahan mengusapkan tangannya menyusuri tulang belakang, ke bawah.


Meskipun tidak yakin, dengan membaca ayat itu akan mengalami kesembuhan, namun Renita bisa mengurangi kecemasan setelah membaca ayat-ayat itu. Renita bisa menghafalkan ayat itu, karena pernah diberi Cahyo untuk membantu mengurangi rasa ketegangan. Selain itu, setiap melakukan rukiyah secara online maupun offline, Renita juga mendengar ustadz membaca ayat itu untuk penanganan pasien.


Sisi baik yang dirasakan Renita adalah, karena beberapa ayat seperti dzikir pagi, dzikir sore sering kali dilakukannya, tanpa disadari ternyata Renita bisa menghafal ayat-ayat itu dengan sendirinya. Jadi perempuan itu tidak terpuruk dalam derita yang terlalu sering dirasakannya, namun mengambil hikmah dan sisi positif yang didapatkannya dari setiap kejadian itu.


*********

__ADS_1


__ADS_2