
Melihat kondisi Renita yang seperti terserap habis semua energinya, akhirnya Noncy memutuskan untuk mengantar perempuan itu pulang ke rumah. Noncy tidak tega jika harus membiarkan Renita menyetir sendiri seperti biasanya. Sebelum menuju ke mobil perempuan itu, Noncy memanggil David, cleaning service untuk mengikutinya dengan menggunakan motor. Jadi setelah Renita diantarkan, Noncy bisa pulang bersama-sama dengan David.
"Mak.. aku tak cari pinjaman motor dulu ya.., soalnya aku ga pede jika boncengkan mak Noncy pakai motorku." David meminta mak Noncy menunggu.
"Halah ga pa pa mas David.. yang penting aku bisa pulang ke rumah tanpa berjalan kaki, aku sudah bersyukur. Jangan lama-lama ya, karena aku ga bisa nahan nyonyahe ini lama-lama di kampus. Aku tunggu di mobil ya.." melihat Renita yang semakin lemas, Noncy kemudian memegangi perempuan itu, kemudian membawanya ke mobil Renita yang sudah diparkir di pinggir jalan,
Tidak lama kemudian, setelah melihat David sudah membawa motor dan menunggu di pinggir jalan, akhirnya Noncy segera menjalankan mobil. David mengikuti mobil itu dari belakang. Tanpa bicara, Noncy menjalankan mobil, dan sesekali melihat ke arah kiri untuk melihat kondisi Renita. Setelah hampir dua puluh menit perjalanan, karena jalanan sedikit ramai, akhirnya mereka sampai di rumah Renita.
Setelah Renita turun, Noncy kemudian memarkirkan mobil di carport. Renita berjalan lebih dulu, kemudian membuka pintu dan meminta David yang sudah memarkirkan motornya untuk masuk ke dalam rumah.
"Mas David,.. langsung masuk ya." setelah mempersilakan David masuk ke dalam rumah, Renita kemudian berjalan meninggalkan David untuk menjerang air panas. Meskipun sudah memiliki dispenser, namun keluarga Renita memang terbiasa membuat teh panas, maupun kopi menggunakan air yang dijerang secara langsung, merasa tidak yakin jika hanya menggunakan air panas dari dispenser,
"Assalamu alaikum.." Noncy dan David masuk rumah bersama-sama, keduanya langsung masuk dan duduk di atas kursi,
"Wa alaikum salam.." Renita menjawab, dan tidak lama kemudian bau harum kopi Excellso panas sudah dusajikan dalam satu cangkir. Perempuan itu membawa cangkir itu, kemudian meletakkannya di depan kursi David. Kemudian Renita mengambil satu botol air mineral, kemudian menyajikannya untuk menjamu Noncy.
__ADS_1
"Nyah.. aku pesan sekali lagi ya untuk dirimu. Kamu itu sudah tidak dibolehkan lagi untuk campur tangan urusan UP, itu isi kontrak antara dukun dengan orang yang memintanya untuk menyakitimu. Karena dia tidak ingin kamu itu kembali naik, jadi begitu kamu itu memberikan masukan, otomatis jin yang sudah di dalam tubuhmu itu akan menyerangmu. Sudahlah.. tidak perlu mencari masalah, kita malah dibuat enak kan." Noncy menyampaikan pandangan,
Mendengar perkataan Noncy, Renita hanya tersenyum kecut. Ikatan batin antara prodi Manajemen dengan Renita memang sangat erat, karena dari pertama kali prodi itu berdiri, Renita sudah membersamainya, Sehingga begitu ada hal terkait dengan prodinya, tanpa dimintapun, Renita akan unjuk diri menawarkan jasa baiknya.
"Aku juga sudah mencoba makk..., tapi begitu mendengar curhatan dosen-dosen muda yang belum pernah menghadapi visitasi, aku ga tega. Aku yang mengawal berdirinya prodi dari tahun 1997, masak akau akan diam saja," Renita berkata lirih.
"iya aku juga paham dan ngerti nyah.. tapi masalahnya kali ini akan dapat terkait dengan nyawamu sendiri nyah. Kalau dirimu itu kuat, sehat.. jujur aku tidak akan melarangmu. Namun kali ini, dirimu ini masih masa treatment, kamu sendiri yang harus mengatur dan mengendalikan. Ustadz hanya sebagai pendamping, semuanya terserah kepadamu." Noncy melanjutkan.
Renita terdiam, mencoba meresapi kata-kata yang diucapkan oleh sahabatnya itu. Setelah beberapas aat kemudian, akhirnya Noncy berpamitan pulang. Renita mengantarkan sahabatnya itu sampai di depan pintu, dan akhirnya David memboncengkan perempuan itu.
*********
Beberapa saat kemudian, Andri membersihkan diri dan melanjutkan dengan mengerjakan sholat. Setelah itu mendatangi istrinya yang sedang tiduran di atas ranjang,.
"Kenapa mah.. apa yang dirasakan?" setelah merasa badannya siap, ANdri bertanya pada istrinya.
__ADS_1
"Pinggang mamah yah.. rasanya nyeri tapi aneh nyerinya. Padahal mamah juga tidak melakukan pekerjaan berat, ataupun jalan kaki jauh." Renita mengadukan apa yang saat ini sedang dirasakannya pada Andri suaminya.
"Mau mamah pijat, kalau mau, mamah sekarang berbaring, Ayah akan siapkan minyaknya dulu.." Renita kemudian mengganti dasternya dengan menggunakan sarung, dan Andri segera mengambil minyak kutus-kutus.
Setelah melihat istrinya sudah berbaring tetapi dengan bertelungkup, meskipun dalam keadaan capai, laki-laki itu mulai mengusapkan minyak ke punggung dan turun ke bawah mengikuti tulang belakang di sepanjang punggung Renita. Tetapi baru saja tangan Andri menyusuri pinggang sambil membaca surat-surat pendek, tiba-tiba tubuh Renita menggeliat. Andri terdiam sebentar kemudian menekankan tangannya sambil mengeraskan bacaan surat-surat dan meniup pinggang istrinya.
"Mamah istighfar mah... istigfar.. Astaghfirullahaladzim ..." Andri terus memandu istrinya. Renita dengan tubuh membuat gerakan-gerakan menari, tetapi bibirnya terus mengucapkan lafadz ayat-ayat Al Qur'an.
Andri terus melanjutkan memberi pijatan pada pinggang istrinya, dan terus melantunkan ayat-ayat pendek. Tidak hanya gerakan tangan, tapi bibir Renita terasa kesulitan dan sangat susah untuk meneruskan membaca ayat-ayat Al Qur'an. Tapi Andri tidak menyerah, laki-laki itu malah mengeraskan suara dan mendekatkan telinga istrinya ke arah bibirnya. Tubuh Renita malah terlihat semakin kesakitan , semakin bergerak-gerak kesana kemari. Tetapi dengan telaten dan dengan sabar, Andri malah mendekap tubuh istrinya untuk menghentikan gerakannya,
"Renita bin Mardi Siswoyo... sadar mam... kendalikan tubuh mama. Ini sukma mamah, sukma Renita bin Mardi Siswoyo, mamah kuat.. mamah lebih hebat dari makhluk jahat dan dhalim itu.." Andri terus membisikkan kata-kata afirmasi ke telinga istrinya.
Beberapa saat kemudian, Renita terlihat sudah agak bisa mengendalikan dirinya, Andri bergegas melepaskan dekapannya, dan laki-laki itu kemudian mengambil air putih dari galon. Laki-laki itu membacakan Al fatehah sebanyak tujuh kali, ayat kursi, dan surat Al ikhlas, Al Falaq, dan An naas. Tidak lama kemudian, Andri membawakan air putih itu dan meminumkannya ke mulut istrinya. Tidak lama kemudian setelah Renita meminum air mineral itu, dirinya lebih bisa mengendalikan dirinya,
"Sudah mamah tidur saja sekarang, tubuh mamah masih lemah, harus segera dikembalikan lagi energinya dengan istirahat." terdengar Andri meminta istrinya tidur. Tanpa menjawab, Renita langsung kembali membaringkan tubuhnya di datas ranjang.
__ADS_1
***********