
Suasana di meja yang berada di paling sudut restaurant samping UP sangat mengharukan, bahkan beberapa pengunjung lainnya tampak memperhatikan mereka dari tempat mereka duduk. Namun Renita seperti tidak bisa mengendalikan air matanya. Noncy dan Kiki sampai ikut terharu melihat reaksi yang ditunjukkan sahabat mereka itu. Kali ini Renita tidak hanya menangis terharu, tetapi menangis seperti menyadari dan dilihatkan semua dosa-dosanya, sampai tergugu seru.
"Cobalah nyah.. minta maaf sama mas Andri. Aku yakin jika itu adalah jalanmu untu sembuh dan juga jalan untuk menuju ke surga." Kiki terus membujuk.
"Suamimu mas Andri memang layak dan pantas untuk kamu mintai maaf. Jadi kalau dirimu minta maaf setiap akan rukiyah, itu karena tuntutan oleh ustandz yang memandu. Namun kali ini, diharapkan itu permintaan maaf yang tulus dari dalam lubuk hatimu. Lakukanlah nyah.., memang berat sih, aku ngerti bagaimana dirimu, tingkat gengsimu terhadap mas Andri. Dari dulu saja aku yang sering marahi kamu kan jika kamu buat salah pada mas Andri, dan kamu tidak pernah mau minta maaf." lanjut Noncy.
"Tapi suamiku itu selalu memaafkanku mak, bu .. selalu ridho. Aku dengar sendiri, ketika berbincang dengan pak ustadz. Aku rela melakukan apapun, dan aku juga mau minta maaf sama Allah seperti yang sudah sering aku lakukan. Tapi kalau minta maaf secara langsung sama mas Andri.." Renita masih terlihat berat, beratnya itu bukan karena tidak mau minta maaf. Hal itu dikarenakan tidak akan keluar kata-kata dari bibirnya.
Kiki terus bercerita, mencontohkan dirinya ketika tanpa sadar kelakuannya menyakiti ibunya, dan bagaimana dia harus meminta maaf. Noncy hanya memperhatikan mereka berdua.
"Bahkan aku tidak bisa membayangkan jika pada saatnya nanti, ternyata Allah berkehendak lain. Dalam artian, Allah mencintai suamiku, dan ternyata beliaulah yang diambil duluan oleh Allah, Aku merasa aku akan kehilangan penerangku, lenteraku dan tongkat penyanggaku. Aku selalu berharap dan berdoa agar akulah nantilah yang diambil Allah duluan." Renita masih terus menangis.
"Ya nyah.. semua sudah aku lihat. Karena urusan kecil dalam rumah tanggaku, semua ada epran suamimu mas Andri. Sampai isi BBM saja, apakah dirimu pernah. Hal yang mudah dan kecil seperti itu saja harus menjadi urusan mas Andri, menyapu dan lain-lain." ucap Noncy.
Perkataan Noncy menjadikan Renita semakin terisak, terbayang lagi bagaimana suaminya tidak akan segan mau membantunya, mencuci piring, menyapu, mengepel, dan masih banyak pekerjaan yang harusnya dikerjakan oleh seorang perempuan. Namun, dengan sabarnya Andri melakukan itu semua, tanpa ada keluhan. Terlihat sekali jika Andri sangat menyayangi dan menjaga keluarganya.
"Sudahlah nyah.. banyak cara kok untuk menyampaikan permintaan maaf. Jika memang dirimu tidak bisa menyampaikan lewat kata-kata secara langsung, kamu bisa menggunakan perangkat ponsel untuk meminta maaf. Tapi menurutku lakukan secepatnya, jangan ditunda lagi." Kiki menambahkan.
__ADS_1
"Ya bu.. Inshaa Allah nanti aku coba. Doakan aku diberikan kekuatan ya, untuk menjemput surgaku, dan juga bisa menjadi jalan untuk kesembuhanku. " Renita meminta dukungan.
"Tentu saja nyah.. Inshaa Allah.." Kiki dan Noncy hampir bersamaan menanggapi Renita,
Beberapa saat. ketiga perempuan itu seperti disadarkan, karena ternyata waktu untuk sholat Ashar sudah lewat, dan mereka belum ada yang mengerjakannya. Namun karena melihat jarum jam, mereka masih bisa untuk sampai ke rumah mereka masing-masing, akhirnya mereka memutuskan untuk mengerjakan sholat di rumah.
***********
Dalam perjalanan pulang menuju ke rumah, sambil menyetir Renita teringat dengan apa yang tadi dilakukannya di dalam restaurant. Dengan tangan ada di atas setir kemudi, Renita kembali menangis meraung-raung, teringat kembali kesalahan-kesalahan kecil dan kesalahan besar yang sering dilakukannya pada suaminya. Meskipun terkadang pernah suaminya juga tidak bisa menahan diri, namun suaminya sering menahan diri dan menghindari Renita untuk sementara waktu.
"Aku harus melakukannya, aku tidak bisa terlalu sombong dengan keluargaku sendiri." akhirnya Renita bertekad.
Pikiran Renita di sepanjang perjalanan menuju rumah betul-betul tidak bisa fokus. Untung saja kali ini, jalanan yang dilewatinya sedang tidak begitu ramai, dan juga kebetulan tidak hujan, sehingga meskipun menyetir mobil sambil melamun, Renita bisa menempuh perjalanan sampai di rumah. Seperti biasanya, rumah Renita terlihat sepi dan lengang, karena suaminya Andri ada kerjaan hari ini, sedangkan Vian masih kuliah, begitu juga Zidan masih menjalani kegiatan magang sekolah di Kalasan.
Setelah memarkirkan mobil di carport, perlahan Renita membuka pintu rumah bagian depan, kemudian mendorongnya pelan. Tidak tahu kenapa, baru saja Renita masuk rumah, dada perempuan itu tiba-tiba merasa sesak, dan bahkan perempuan itu tidak bisa menahan rasa sakitnya. Perlahan setelah melepas sepatu dan menyimpannya di rak sepatu, Renita kemudian mencuci tangan dan kaki.
"Aku akan mandi sekalian saja, kemudian lanjut untuk sholat Ashar. Apalagi sekarang sudah akan hampir pukul empat sore." gumam Renita sendiri sambil matanya melihat ke arah jam yang ada di dinding.
__ADS_1
Renita kemudian naik ke tangga lantai dua, untuk menyimpan tas kerja dan laptop yang sejak pagi sudah dibawanya. Tidak lama kemudian, Renita sudah kembali turun ke bawah dan langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Air mata kembali mengalir bersamaan dengan air yang mengguyur tubuh dan membasahi wajahnya.
"Renita.. kamu harus kuat Renita. Singkirkan keangkuhanmu, kesombonganmu.. ingat di mata Allah.. kamu itu hanya butiran debu yang tidak terlihat ada. Tidak akan ada yang bisa kamu banggakan.." untuk menguatkan hatinya, Renita melakukan afirmasi pada dirinya sendiri.
Tidak lama kemudian Renita sudah menyelesaikan ritual mandinya, kemudian keluar carport untuk mengambil air wudhu. Perjalanan dari carport menuju ke lantai dua, seperti sebuah perjalanan panjang untuk Renita, karena perempuan itu sudah membulatkan tekad untuk meminta maaf pada suaminya.
Dalam sholat, Renita tersungkur di atas sajadah, betul-betul meresapi setiap doa yang dia panjatkan kepada Allah, dan berharap Allah dengan tangannya akan memberikan pertolongan kepadanya. Kembali Renita menangis tersedu--sedu dan tidak bisa mengendalikan tangisnya..
"Ya Allah.. beri hamba kekuatan ya Allah, untuk mengakui semua salah dan dosaku di hadapan suami hamba ya Allah, Lancarkan lidah hamba, hanya untuk sekedar meminta maaf kepada mas Andri.." setelah selaesai sholat, untaian doa dilantunkan Renita sambil air mata masih terus mengalir.
Akhirnya masih dengan mengenakan mukena, Renita mengambil ponsel dan akan menuliskan permintaan maaf pada suaminya.
"Assalamu alaikum, Yah.. mamah tidak tahu kenapa habis dzikir sore tiba-tiba teringat, apa ada yang salah dalam diri mamah ya. Inshaa Allah tuntunan dalam Al Qur,an untuk menghilangkan efek sihir sudah mamah lakukan. Tapi kok mamah masih seperti ini ya, disertasi juga ga mau jalan.🥹🥹
Mamah introspeksi, ternyata banyak hal mamah berbuat salah, dan menyakiti ayah sama anak-anak. Mungkin itu menjadi penghambat dosa mamah tidak tembus ke langit.
Mamah minta maaf ya yah, maafkan, ikhlaskan semua kesalahan mamah selama ini ya yah.😔😔😔😭😭😭" menggunakan tiga kali pengiriman, akhirnya Renita berhasil juga mengirimkan pesan kepada Andri, sambil terus menangis terisak.
__ADS_1
***********