Ambisi Dan Sihir

Ambisi Dan Sihir
Chapter 94 Ke Baki


__ADS_3

Seperti yang sudah dikatakan pada beberapa orang, akhirnya tepat di hari Kamis, pada pukul tujuh pagi, Renita dengan suaminya Andri berangkat ke Baki Sukoharjo untuk bertemu dengan ustadz Abdurahman. Tanpa Renita tahu, ternyata suaminya sudah mengatur janji dengan ustadz itu pada hari kamis. Padahal biasanya mereka pasti akan mengambil hari libur, jika mengatur janji untuk rukiyah, karena selain mereka berdua, Zidan dan Vian juga akan ikut dirukiyah sekalian.


"Sudah siap belum mah, jika sudah segera berangkat saja. Ayah atur janji dengan ustadz pukul sepuluh kita ketemuan." melihat Renita yang masih mengusapkan bedak di wajah, Andri bertanya pada istrinya.


"Sebentar yah, mamah pakai bros dulu. Ayah dinginkan mobil dulu saja, mamah tak kasih tahu Vian dulu, biar ga kaget kalau bangun tidur." Renita memberi tahu suaminya.,


Andri segera turun dari lantai dua, kemudian mempersiapkan barang yang akan dibawanya untuk berobat ke Solo. Tissue kebutuhan pokok proses rukiyah dimasukkan pertama kali di dalam mobil, mukena dan baju ganti sudah dimasukkan Andri ke dalam mobil. Karena tanpa sadar, dalam proses rukiyah, Renita sering mengamlami buang air kecil di celana. Untungnya perempuan itu selalu mengenakan pembalut wanita, jika pergi kemanapun. Hal itu dilakukan, ketika beberapa waktu lalu, tanpa dikertahui sebabnya, Renita sering mengalami pendarahan hebat.


"Kak.. bangun.. ayah akan mengantar mamah ke Baki, mau ke tempat ustadz. Bangun dan jaga rumah sendirian.." Andri membangunkan putra sulungnya.


"Hmm.. bentar.." Vian yang memang sangat susah untuk diminta bangun tidur, terlihat menjawab ayahnya dengan malas-malasan.


"Kak.. bangun, ini ayah dan mamah sudha akan berangkat.." dengan nada tinggi, Andri meminta Vian untuk segera bangun.


"Nggih..." akhirnya dengan perasaan malas, Vian segera bangun kemudian berjalan keluar kamar dengan malas. Anak muda itu kemudian masuk ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya, dan duduk di kursi sofa yang ada di ruang tamu.


Tidak berapa lama, Renita terlihat dari lantai dua dengan membawa tas tangannya. Melihat istrinya sudah siap, Andri segera berjalan masuk ke dalam mobil dengan membawa beberapa air mineral bersamanya. Setelah berpamitan dengan putra sulung mereka, pasangan suami istri itu kemudian berjalan keluar dan masuk ke mobil.


"Untuk oleh-oleh pak ustadz, mau dibelikan apa mah..?" sebelum menginjak pedal gas, Andri bertanya pada istrinya.


"Apa ya yah.. atau kita mampir di toko kue Basuki di Klaten, tapi terakhir kali kita ke sana, kita sudah belikan oleh-oleh itu." Renita menjawab pertanyaan itu.

__ADS_1


"Kalau bisa ya jangan sama mah.. kita belikan yang beda dan cepat. Jadi kita bisa menghemat waktu." Andri turut berpikir.


"Atau kita belikan bakpia Song Mo saja yah.. sambil berangkat kita mampir di belakang rumah,. Semoga saja, masih ada dua box saja." akhirnya muncul ide membeli bakpia di belakang rumah mereka.


"Oh iya mah,, benar, kita malah belum pernah beri ustadz oleh-oleh bakpia. Padahal itu malah makanan khas dari kota kita Yogyakarta." Andri segera menginjak pedal gas, perlahan mereka meninggalkan rumah mereka.


Sekitar lima menit berkendara, Andri menghentikan mobil di depan kios pembuat bakpia yang ada di belakang rumah mereka. Renita segera membuka pintu mobil, kemudian masuk ke kios yang sudah dibuka oleh pemiliknya. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya penjual yang perempuan berjalan ke luar.


"Ada apa bu Andri..?" tanya penjual perempuan tersebut dengan ramah.


"Mau minta bakpia kacang hijau dan bakpia keju masih ada ga mbak.." Renita menjawab pertanyaan penjual tersebut.


"Sudah habis semua bu.. yang untuk hari ini kita belum membuatnya, Jam sepuluh, biasanya kita baru akan melakukan proses pembuatan. Bikinan kemarin sudah dibawa semua oleh bapaknya anak-anak, dan sebagian sudha disetorkan di toko yang membuat pesanan." penjual itu menjelaskan,


"Gimana mah.. ga ada.. Jika tidak ada, nanti kita beli ayam kampung goreng, di tempat yang pernah kita datangi dulu." melihat istrinya tidak membawa barang yang mereka inginkan, Andri membuat usulan yang lain.


"Iya yah.. itu saja. Sepertinya kita sampai Baki, warungnya pas buka.." akhirnya Renita menyepakati usul istrinya.


**********


Dalam perjalanan sepanjang Yogyakarta sampai di kota Delanggu, beberapa kali Renita seperti kehilangan kesadaran. Jin  dalam tubuhnya mulai bergerak-gerak, dan Renita berusaha mengendalikan kesadaran dan keseimbangannya. Andri yang sudah bisa membaca gerakan istrinya, mengetahui jika istrinya sedang dalam pengaruh jin. Namun sambil menyetir, Andri hanya bisa membantu istrinya dengan membacakan ayat-ayat Al Qur'an pendek.

__ADS_1


"Sudah sampai mana yah.." tiba-tiba Renita bertanya pada suaminya, dan rupanya perempuan itu sudah bisa kembali menguasai dirinya.


"Sampai Pakis mah.., sebentar lagi kita akan belok kanan. Mamah tiduran saja kalau lelah, atau kalau tidak bisa tidur, bacaan dzikir, istighfar.." seperti biasa, Andri hanya bisa menyarankan kata-kata itu pada istrinya.


Renita tidak menjawab, karena perempuan itu merasa sudah sejak tadi dirinya melakukan dzikir di sepanjang perjalanan.  Karena memang di beberapa tempat, tubuh Renita memang menolak untuk dibawa ke tempat ustadz, dan selalu bergerak-gerak sendiri, bahkan kadang menimbulkan rasa nyeri, pegal. Tetapi tidak mungkin jika gadis itu harus berteriak memberi tahu suaminya.


Kira-kira dalam perjalanan Pakis Delanggu ke selatan, melewati daerah Wanasari klaten, ketika melihat ada sebuah toko dengan tulisan Toko Cahyono. Tiba-tiba bagian tubuh Renita bereaksi, dalam pikirannya entah itu halusinasi ataukah itu memang jin yang melakukannya, berteriak.


"Mas Cahyo... tolong aku mas Cahyo... Mas, tolong ..." dalam pikiran kosong Renita, perempuan itu berteriak-teriak minta pertolongan Cahyono.


Andri hanya diam, laki-laki itu tetap fokus dan konsentrasi menyetir. Beberapa saat kemudian, laki-laki itu menghentikan mobil di depan warung ayam goreng kampung.


"Ayah tinggal sebentar ya mah.. mamah di dalam mobil saja dan terus lakukan dzikir mah.." Andri membuka pintu mobil, kemudian segera masuk ke dalam warung. terlihat penjaga warung sedang bersiap-siap, karena sepertinya warung belum lama mereka buka.


Karena masih menunggu beberapa saat untuk proses penggorengan, Andri menggunakan waktu menunggu untuk melakukan sholat dhuha. Sedangkan Renita masih berusaha untuk mengendalikan dirinya, dari reaksi jin dalam tubuhnya. Hal itu berlangsung untuk beberapa saat.


"Ayo mah.. ini ayamnya sudah siap.." tiba-tiba Andri sudah kembali masuk ke mobil.


Laki-laki itu kemudian meletakkan ayam goreng di kursi belakang, kemudian membuka jendela mobil. Andri hafal jika istrinya Renita tidak akan tahan dengan bau gorengan di dalam mobil, hal itu sudah berlangsung lama.


"Ya yah.. mamah terus bereaksi terus yah. Rasanya malas banget mau diajak rukiyah, sampai tubuh mamah merasa lemas sejak tadi.." ucap Renita.

__ADS_1


"Sabar mah.. terus saja baca istighfar, nanti pasti akan membaik.." hanya kata-kata itu yang selalu bisa disarankan untuk mengendalikan istrinya.


***********


__ADS_2