
Proses pelantikan Rektor dan para pejabat di bawahnya berlangsung secara cepat, satu bulan sebelum masa jabatan Rektor berakhir. Publik dibuat tanda tanya, dan yang paling mengenaskan adalah tidak ada sedikitpun rasa penghargaan bagi para pejabat yang mendampingi pak Umam sebelumnya. Pada saat pelantikan, mereka tidak diundang, sehingga mereka juga tidak memiliki surat pemberhentian sebagai seorang pejabat. Jadi.., jika orang-orang di UP itu berontak dan melakukan protes, maka pelantikan itu sebenarnya bisa digagalkan. Tetapi tidak tahu kenapa, semua orang dari unsur bawah sampai unsur puncak mengalami kebungkaman, tidak ada satupun yang protes atau mencapaikan kekecewaan atas protes itu.
Untungnya setelah melihat perkembangan yang tidak bagus itu, satu bulan sebelumnya Renita sudah menyiapkan segalanya. Semua berkas sudah dikumpulkan menjadi satu, fasilitas kerja seperti laptop, sudah dibersihkan dari data maupun pekerjaan-pekerjaan pribadinya. Bahkan pada satu hari sebelum pelantikan, semua sudah dilakukan serah terima jabatan dengan Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum dan Pengembangan SDM. Dan di hari Jum'at, ketika Rektor melantik para pejabat baru, Renita sengaja tidak datang ke kampus.
"Kring-- kring.." tiba-tiba ponsel Renita berbunyi. Padahal saat ini, Renita sedang berada di CGV Transmart Maguwo untuk melihat film kesukaan bersama anak-anak dan suaminya. Perempuan ini memang merupakan fans atau penggemar Marvel, jadi jika ada film baru, mereka sekeluarga pasti akan menontonnya.
"Siapa yang menelponku.." dengan penuh tanda tanya, Renita melihat panggilan masuk itu. Terlihat nama Ahmad Wakil Rektor yang saat ini menggantikan posisinya sedang memanggilnya. Dengan cepat Renita me reject panggilan tersebut, kemudian masuk ke aplikasi whattsapps.
"Klip.." melalui kamera pada aplikasi whattsapps, Renita mengambil gambar di screen.
"Sorry Boss.. aku baru di dalam bioskop sedang nonton. Kita komunikasi disini saja.. Whats happend?" Renita mengirimkan pesan singkat pada pak Ahmad. Perempuan itu seperti sudah bisa menebak apa yang ingin disampaikan oleh laki-laki temannya dari Fakultas Bisnis itu. Memang beberapa waktu yang lalu, Renita juga pernah menyampaikan pada pak Umam, mengusulkan agar laki-laki itu menggantikan posisinya, duduk sebagai WR II pada periode masa jabatan ini.
"Telpon dari siapa ma..., di silence saja ponselnya.." dari samping tempat duduknya, Andri bertanya pada istrinya, karena merasa khawatir panggilan itu akan mengganggu pengunjung yang lain.
"Dari pak Ahmad yah.. sudah kok. Mamah sudah kirim pesan kepadanya, untuk komunikasi via chat.." Renita menanggapi keberatan suaminya.
__ADS_1
Perempuan itu kembali melihat ke layar ponsel, dan mengirimkan pesan pada pak Ahmad. Sebenarnya bukan alasan karena sedang menonton, tetapi memang pada faktor kemalasan, untuk berhubungan dengan para pejabat di kampus lagi.
"Ya sudah bu.. sebenarnya tadi saya dan teman-teman di Biro ingin melakukan perpisahan dengan Bu Renita, kita makan-makan di luar. Tapi ya sudah, dibatalkan saja karena bu Sapta sedang sibuk dengan keluarga.." ternyata pejabat baru itu ingin mengajaknya makan-makan.
"Oh iya.. sorry ya boss. Ga pa pa.. Sudah ya..:, khawatir mengganggu pengunjung yang lain, dengan sinar flash dari ponselku." dengan alasan tidak mau mengganggu, akhirnya Renita mengakhiri chat tersebut.
Terdengar getaran ponsel yang menandakan ada pesan yang masuk, namun perempuan itu tidak mengindahkannya. Renita kembali mengarahkan pandangannya ke depan, ke arah layar cinema yang sedang menayangkan film Marvel kesukaannya.
*********
Senin hari berikutnya
"Dalam keadaan apapun, aku tidak akan membantu lagi tentang pengelolaan keuangan di UP. Toh, WR yang menjabat sekarang, memiliki bidang ilmu yang sama denganku, jadi dia juga seharusnya pintar seperti diriku juga dong.." dengan gayanya yang sedikit sombong, Budi berbicara pada segerombolan anak muda UP yang sedang nongkrong di warung.
"Ha.. ha.. ha.., sombong sekali bro.. janganlah begitu.." Jojo merespon perkataan Budi. Jojo memang termasuk orang terdekat dari pak Uman dan pak Yayak. Setiap omongan ataupun usulannya pasti akan ditindak lanjuti oleh dua orang yang memiliki kekuasaan besar di UP itu.
__ADS_1
"Bukannya sombong pak.. ya harus dilihat dulu, bagaimana kompensasinya. AKu itu kalau diundang perusahaan atau Dinas, setiap kali datang minimal 2.500.000 pasti aku pegang, ketika aku pulang. Lha.. disini, sudah otakku jadi blur.. paling diberi honor paling tinggi hanya 500 ribu. Yah.. mikirlah sekarang. Biar WR II sendiri sekarang yang mengerjakan, kan bidang ilmunya sudah sama denganku." Budi menanggapi.
"Tumben kali.. sekarang ini jadi perhitungan kau pak boss..." dari samping, Hengky ikut menimpali.
"Lha kata orang, pengalaman itu merupakan guru yang paling baik broo.. Aku sudah mendengar ada perkataan yang begini.. untuk periode ini Budi, Renita, dan Nancy kita kotakkan dulu. Akan bahaya jika ketiga orang itu bersatu, dan tetap berada dalam periode kepemimpinan saat ini. Bisa hancur semua konsep kita.. Ha.. ha.. ha.., begitu bro aku mendengarnya.." Budi malah tanpa sadar melepaskan apa yang menjadi sumber kekecewaannya.
Orang-orang yang pada nongkrong di Warmindo itu, seketika mereka terdiam. Beberapa di antara mereka, masih ada beberapa orang yang ikut dalam kabinet saat ini. Mereka betul-betul merasa terkejut, dengan perkataan Budi, dan seperti tidak percaya jika omongan itu betul-betul ada dan beredar,
"Silakan kalian percaya atau tidak, tetapi aku mendapatkan informasi ini dari sumber yang terpercaya. Bahkan notulen hasil pembicaraan itu aku juga melihatnya sendiri. Makanya untuk kalian semua nanti, sebagai generasi penerus kepemimpinan di UP, jika kalian memimpin itu gunakan hati dan empati. Target boleh, tetapi juga harus melihat jika masing-masing orang itu punya kelebihan dan kelemahan masing-masing.." lanjut Budi.
"Maksudnya gimana pak..?" salah satu yang duduk disitu, menanggapi.
"Contoh saja ya biar lebih mengena, tukang pacul kok diminta untuk operasionalkan mesin, ya sampai terjungkal-jungkal kita melatihnya ya akan tetap kesusahan mereka. Tetapkan target sesuai dengan kapasitas masing-masing orang, jangan digebyah uyah.. atau digeralisasi itu jika bahasa penelitian.." ucap Budi memperkuat statement nya.
"Ha.. ha.. ha.. benar juga pak apa yang kamu katakan. Jadi intinya, pada era kepemimpinan saat ini, empati sudah mati ya. Berbeda dengan masa dimana bu Renita masih memegang jabatan sebagai WR II.." Hengki menyahuti kata-kata itu.
__ADS_1
Diskusi panas itu terus bergulir, dan disambung dengan gelak tawa dari para pengunjung Warmindo. Warung ini memang termasuk rame, karena dimiliki oleh dari UP, sehingga memiliki target konsumen tersendiri.
***********