Ambisi Dan Sihir

Ambisi Dan Sihir
Chapter 56 Masih Menunggu


__ADS_3

Beberapa saat menunggu, Suryo masuk ke dalam, namun kemudian keluar lagi. Tidak lama kemudian, seorang perempuan paruh baya yang rupanya istri dari pak Kiyai keluar mengikuti Suryo, kemudian turut duduk bergabung di tikar. Namun, anehnya perempuan itu tidak mau menatap wajah Renita, padahal secara logika mereka sama-sama seorang perempuan, sedang yang kelima lainnya laki-laki.


"Siapa yang sakit..?" dengan suara pelan sambil tersenyum, Nyai bertanya pada Suryo dan Cahyono yang lebih dahulu mengenal beliau.


"Beliau Nyai.. bu Renita.." Suryo dan Cahyono menunjuk ke arah Renita. Tidak diduga, tubuh Renita bereaksi, dan Nyai hanya melihat sekilas  Terkesan jika perempuan paruh baya itu tidak mau melihat sesuatu, sehingga mengalihkan pandangan dari Renita.


"Mohon maaf ya mas Suryo untuk disampaikan pada keluarga ibu, Bapak sampai tanggal 11 Muharam tidak bisa menerima tamu, karena sedang menjalani thariqot. Siapapun tidak bisa menemui bapak, dan mungkin bapak setelah tanggal 11 Muharram, ya sekitar tanggl 12 - 14 Muharram bisa, Nanti mas Suryo kembali datang kesini, nanti Inshaa Allah bapak akan bisa bertemu.." sambil tersenyum dan merasa sungkan, Nyai mengarahkan Suryo dan Cahyono.


"Ya Nyai.. tidak apa-apa, Inshaa Allah nanti kita sowan lagi kemari besok sekitar tanggal 11 Muharram." Suryo segera menanggapi perkataan Nyai.


Setelah mendengar persetujuan Suryo, perempuan paruh baya itu kemudian berpamitan untuk kembali masuk ke dalam ruangan.


"Mbak Ren sudah mendengar sendiri kan, jadi pak kiyai belum bisa bertemu mbak, nanti setelah acara Thoriqot baru bisa menjanjikan." Suryo kemudian kembali menyampaikan informasi pada Renita. Renita tersenyum, dan terlihat ada kegembiraan di wajahnya.


"Tidak apa-apa mas, mungkin kita kali ini belum berjodoh saja, Kita Inshaa Allah akan sabar dan menunggu mas.." Andri mewakili Renita menanggapi perkataan Suryo.


"Baik.. sekarang kita kembali saja. Mau kemana, mau ke rumahku atau ke rumah Cahyo dulu mbak..?" Suryo bertanya.


"Biar adil, karena tadi kita sudah ke rumah mas Cahyo.., mungkin sekarang kita mampirnya ke rumah mas Suryo ya mah.. Masak kakak adik, tidak dikunjungi semuanya.." Andri meminta pendapat Renita.


"ikut yah.." sambil berjalan dan masih didampingi Cahyono, Renita menjawab pertanyaan suaminya.


"Baik mbak, mas.. kalau ke tempatku. Kita nanti ngobrol disana saja.." akhirnya Suryo segera mengambil motor. Cahyono mengantarkan Renita kembali ke mobil, dan akhirnya mereka segera berangkat meninggalkan padhepokan pak kiyai.


**********

__ADS_1


Sekitar tiga puluh menit perjalanan, akhirnya Andri dan keluarga sampai di rumah Suryo. Sudah beberapa kali, Andri dan keluarga silaturahmi ke rumah ini. Karena Renita memang sudah terlebih dulu mengenal Suryo beserta keluarganya, jika dibandingkan dengan Cahyono. Bahkan Suryo dan keluarga juga pernah silaturahmi ke Kasihan, tempat tinggal Andri dan Renita.


"Assalamu alaikum... mas kok mata saya silau ya masuk ke rumah mas Suryo.. Tidak bisa melihat.." sambil mengucap salam, Renita tiba-tiba memejamkan matanya.


Suryo dan Cahyono tanpa bicara saling berpandangan, dan rupanya mereka seperti menangkap sesuatu.


"Wa alaikum salam, masuk dulu mas,., mbak.. semuanya.." cahyono dan Suryo mendahului masuk dan menjawab salam Renita.


Seperti berada di rumah sendiri, Vian dan Zidan langsung membaringkan tubuh di tikar yang sudah digelar di ruang tamu. Bahkan tanpa rasa sungkan sedikitpun, Zidan langsung mengambil toples kemudian mengambil keripik slondok yang disajikan di dalam toples.


"Maaf ya mas Suryo.. anak-anak saya terlalu agresif, dipikirnya seperti di rumah sendiri saja.." Andri merasa tidak enak, kemudian memintakan maaf untuk sikap anak-anaknya.


"Tidak apa-apa pak Andri, malah bagus kok ya mas.." Cahyono menanggapi.


Tanpa bicara apa-apa Suryo masuk ke dalam ruang tengah, kemudian diikuti oleh Cahyono. beberapa saat kemudian, Cahyono kembali keluar menemui Renita dan Andri.


"Iya mas.. ga pa pa.." Renita menanggapi perkataan Cahyono dengan singkat, karena sebenarnya tidak paham minuman apa yang dimaksud oleh laki-laki itu.


Tidak lama kemudian, putra sulung mas Suryo keluar dengan membawakan minuman teh hangat untuk mereka. Vian dan Zidan juga tanpa merasa malu, langsung mengambil gelas tersebut, dan langsung meminumnya.


"Maaf ya mas.. Vian dan Zidan kehausan sepertinya.. Ini putra sulung mas Suryo yang saat ini kuliah di UIN ya?" Renita kembali meminta maaf untuk kedua anaknya.


"Iya bu.. kebetulan ini pas libur.." laki-laki muda itu menjawab pertanyaan Renita kemudian kembali masuk ke dalam rumah.


Beberapa saat mereka berada di ruang tamu dalam diam, Andri akhirnya bersandar pada dinding kemudian mengikuti kedua anaknya memejamkan mata. tidak lama kemudian, Cahyono dan Suryo keluar sambil membawa setengah gelas air putih bersamanya,

__ADS_1


"Mbak Ren.. diminum dulu ya sampai habis.." ucap Suryo memberi arahan,


Tanpa berprasangka apapun, Renita menerima gelas kemudian meminum air putih itu sampai habis. Betapa terkejutnya semua yang duduk disitu, begitu gelas diletakkan, kembali tubuh Renita bereaksi, dan perempuan itu kembali berteriak-teriak. Suryo sendiri sampai kaget melihat reaksinya, dan Cahyono segera tanggap, laki-laki itu kemudian menutup pintu dan jendela serta gordyn yang melapisinya,


"Arrghh... sakit.., sakit.., panas.. panas..." kembali Renita meraung-raung.


Cahyono segera mendekat ke depan dan kembali memegangi bahu perempuan itu, sedangkan Suryo masuk ke dalam, kemudian kembali keluar dan duduk di sebelah kanan Renita. Dengan sorot mata tajam, Suryo menatap Renita, namun perempuan itu memejamkan mata tidak berani memandang laki-laki itu. Tiba-tiba tangan Suryo memegang telapak tangan yang sebelah kanan dari Renita, kemudian dengan menggunakan garam dapur, memijat sela-sela di antara ibu jari dan jari telunjuk.


"Jangan.., jangan... hentikan sakit...: kembali Renita berteriak kesakitan.


"Kalau ga mau merasakan sakit, ya keluar dari tubuh ibu ini. Bu Renita itu tidak bersalah, orang yang menyuruhmu itu yang bersalah. Mau-maunya disuruh oleh dukun yang hanya memberimu kemenyan dan bunga saja." Suryo mengajak berkomunikasi.


"Aku tidak mau keluar, jika ibu ini mati.. aku akan keluar dengan sendirinya. Hentikan sakit..." kembali Renita berteriak, ketika tangan Suryo semakin menekan telapak tangannya.


Tidak lama kemudian, Renita mengucapkan Al fatehah, tiga surat Qul, dan ayat kursi masih sambil menangis seperti kesakitan dan kepanasan.


"Terus.., baca dan lanjutkan masih kurang sholawat." Suryo seperti memandu Renita membaca ayat-ayat Al-Qur'an itu. Kejadian itu terjadi untuk beberapa saat. tampak Suryo dan Cahyono sampai berkeringat untuk mengeluarkan jin, namun tetap saja jin itu tidak mau keluar.


"Atau kita paksa keluar saja gimana mas.." Cahyono mengajak kakaknya untuk memaksa keluar jin itu.


"Jangan.. nanti malah para tetangga tahu dan datang kesini. Sampai sekarang, para tetangga tidak ada yang tahu jika aku bisa seperti ini." Suryo menolak dan menggelengkan kepala.


"Kita sadarkan dulu mbak Ren.. sambil nanti kita mencari jalan yang lain." lanjut Suryo.


Kedua laki-laki kakak beradik itu, ditambah dengan Andri dan kedua putranya kembali membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an, dan tidak lama kemudian Renita sudah kembali sadar.

__ADS_1


*********


__ADS_2