Ambisi Dan Sihir

Ambisi Dan Sihir
Chapter 86 Undangan Rapat


__ADS_3

Di ruang sidang rektorat


Kepala Biro Administrasi Umum dan Kepegawaian menghadap Wakil Rektor I, dengan ditemani oleh Kepala LPP. Mereka menghadap WR I, karena mereka sedang terhimpit masalah pelaksanaan hibah MBKM yang berhasil didapatkan oleh task force. Tanpa sepengetahuan WR I, ternyata secara sepihak Kepala LPP yang juga sebagai Ketua pelaksana Hibah, sudah menginstruksikan pembelanjaan barang-barang, tanpa melihat aturan tentang Pengadaan Barang dan Jasa. Ternyata ketika dihadapkan pada pertanggung jawaban, tidak ada dokumen yang bisa mereka gunakan untuk pelaporan.


"Bu Rina.. apakah sebagai ketua Pelaksana, bu Rina tidak melakukan pemantauan dan evaluasi. Hal ini berbahaya bu, apalagi dana untuk pembelanjaan dengan nilai di atas 500 juta rupiah. Ada aturan dan ketentuan yang mengaturnya, tidak seenaknya kita belanja seperti belanja cabai di pasar." WR I bicara agak keras. karena bertahun-tahun menjadi pejabat, baru kali ini menghadapi masalah yang sangat mengkhawatirkan itu.


Ditanya dengan  nada sedikit tegas dari WR I, Ketua LPP tiba-tiba menangis terisak. WR I dan Kepala BAUK saling berpandangan, merasa bingung dengan reaksi yang ditimbulkan oleh perempuan itu.


"Tidak mempan pak.., saya dan beberapa teman sudah memberi tahu sama Ketua Pengadaan Barang dan Jasa yaitu pak Firman, Tetapi semuanya tidak ada yang didengar pak, bahkan sekretarisnya bicara juga tidak didengarkan, Lha saya berpikirnya juga sudah on the track, ternyata tidak ada dokumen dalam pelaksanaan pembelanjaan ini. Kita tahunya baru ketika mau menyiapkan bukti-bukti untuk mengahdapi Tim Inspektorat hari jum.at depan.." Rina kembali menangis terisak, dan menyampaikan alasan kekeliruan tim task force.


WR I menghela nafas, merasa bingung untuk mencari penyelesaian atas masalah yang menjadi tanggung jawabanya itu.


"Pak Ibnu.. apakah ada solusi, bisa tidak melanjutkan pengadaan barangnya.." Pak WR I mengalihkan fokus pembicaraan pada Kepala BAUK.


"Mohon maaf pak WR I, melihat dananyam kita akan terkena masalah pak oleh Tim dari Inspektorat. Dana ini besar pak, harusnya menggunakan sistem tender dan dilakukan secara terbuka, bukan melalui pengadaan langsung. Selain itu pak, harus dipimpin oleh orang yang sudah memiliki Sertifikat kompetensi sebagai Pelaksana pengadaan barang. Di UP, saat ini yang sudah memiliki sertifikat itu hanya ada tiga orang, yaitu Bu Renita, pak Abdul, dan bu Kiki.. Tidak bisa dilakukan pengadaan jika tidak dipimpin oleh orang yang sudah bersertifikat." Ibnu menjelaskan.


"Jadi usul saya pak, bu Renita dan pak Abdul diundang untuk dimintai masukan, dan jika beliau berkenan diminta untuk mengadakan pembelanjaan barang." lanjut pak Ibnu.


"Sebenarnya uang sudah dibelanjakan dan sudah dikeluarkan pak, sebanyak seratus empat puluh jutaan, Terus itu nanti gimana pak.." masih sambil terisak, Rina menanyakan,

__ADS_1


"Kenapa itu ditanyakan kepada saya bu Rina, seharusnya itu menjadi tanggung jawab dari tim. Kita sudah kasih kepercayaan dan tanggung jawab sepenuhnya kepada tim hibah, tetapi kenapa ending akhirnya malah menjadi kacau seperti ini. Pak Ibnu.. Senin jam 09.00 undang pak Abdul dan bu Renita untuk menelaah hal ini." WR I yang sudah merasa jengkel, memutuskan untuk mengundang yang sudah memiliki sertifikat pengadaan barang dan jasa,.


"Baik pak, sore ini juga dipastikan undangan sudah terkirim. begitu bu Rina.. semuanya ternyata tidak sama dengan yang kita bayangkan bukan. Berusahalah untuk mencari tahu, jika kita memang tidak tahu. Jangan berpura-pura tahu hanya karena malas bertanya. Dalam hal ini, bu Rina tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pak Firman, karena harus dikontrol oleh bu Rina sebagai Ketuanya." akhirnya pak Ibnu turut menyampaikan pendapatnya pada perempuan itu.


*********


Renita yang sedang berebah di  dalam kamarnya sambil membuka Instagram, tiba-tiba mendengar ada notifikasi pesan masuk. Perempuan itu segera keluar dari aplikasi Instagram, kemudian masuk ke whatsapp untuk membaca pesan yang masuk. Terlihat yang mengirimkan pesan adalah dari grup BAUK, dan dahi Renita kemudian berkerut.


Undangan


Dengan hormat, dimohon kehadiran Bapak/Ibu pada:


waktu : 09.00 WIB - selesai


tempat : Ruang Sidang Rektorat


agenda : Persiapan Pengadaan Hibah  MBKM


Demikian undangan kami sampaikan, atas kehadirannya diucapkan terima kasih.

__ADS_1


Ttd


Wakil Rektor 1


"Apa lagi ini... bisa-bisanya masih mengundangku untuk agenda seperti ini. Orang lega cari pekerjaan namanya jika aku sampai datang ke undangan ini.." membaca pesan yang baru masuk tersebut, Renita berbicara pada dirinya sendiri,


"Aku harus membuat alasan, dan memberi tahu jika aku tidak akan datang saja. lagian di hari Senin, aku ada kelas jam tujuh pagi sampai jam sebelas siang.." kembali Renita mengingat jadwal mengajarnya.


Tidak mau terlalu menghabiskan energi untuk mengurusi masalah undangan, Renita mengabaikan undangan itu. Perempuan itu kembali pada posisi terakhirnya yaitu membuka aplikasi Instagram untuk melihat reels  dan cerita dari followernya. Baru saja Renita melihat dua reels, tiba-tiba perut kanan bagian bawah mengalami nyeri hebat.


"Bismillah (3 kali); A'udzu billahi wa qudratihi min syarri ma ajidu wa uhadziru (tujuh kali)." untuk meredakan rasa sakit, Renita mengucap ayat-ayat di atas, sambil meniupkan udara di telapak tangannya kemudian diusapkan ke perut yang terasa nyeri itu.


Beberapa saat kemudian, rasa nyeri itu hilang. Renita kembali fokus pada aktivitasnya terakhir. Tetapi baru beberapa saat, Renota kembali membuka aplikasi di ponsel, mata kirinya kembali merasakan nyeri yang hebat. Kembali Renita mengusap mata sebelah kirinya perlahan, sambil membaca istighfar beberapa kali. Hanya menyebut ayat-ayat Al Qur'an, dapat menjadikan hati Renita menjadi tenang.


Perlahan Renita bangkit dari posisi berbaring, kemudian mencari obat tetes mata Ruqyah Sidr, obat tetes mata yang terbuat dari madu Yaman, yang diproduksi oleh sebuah perusahaan yang ada di kota Sokaraja, Banyumas. Mengetahui efek yang akan ditimbulkan dari tetes mata tersebut, Renita sudah menyiapkan beberapa lembar tissue. Setelah semuanya siap, Renita menumpuk sebuah guling di atas bantal, kemudian perlahan perempuan itu berbaring di atasnya.


"Ya Allah.. niat saya berobat untuk kesembuhan ya Allah. Semoga tetes mata ini bisa menjadi sarana bagi kesembuhan mata hamba ya Allah.." Renita mengucap doa dalam hati.


Renita kemudian meneteskan obat tetes tersebut ke mata sebelah kanan, kemudian membiarkan madu tersebut terserap. Tanpa menunggu mata sebelah kanan sembuh, Renita meneteskan satu tetes ke mata sebelah kirinya. Tidak diduga, begitu obat tetes mata itu meresap, Renita merasakan rasa sakit yang sangat besar. Matanya seperti mau melompat keluar, bahkan di mata sebelah kirinya, Renita merasakan seperti ada butira-butiran pasir yang keluar dari dalamnya. Padahal jika diusap dengan tissue, tidak ada pasir. Air mata mengalir deras keluar dari mata Renita, sampai perempuan itu menggerakkan tubuh dan kakinya di atas bed.

__ADS_1


***********


__ADS_2