Ambisi Dan Sihir

Ambisi Dan Sihir
Chapter 25 Jaga Lisan


__ADS_3

Akhirnya hari pelaksanaan Istighosah datang, tetapi ada beberapa hal yang membuat kecewa di hati Renita dan para pemimpin lainnya. Ternyata tidak semua pegawai datang ke auditorium, hanya datang beberapa kemudian pergi lagi. Namun.. sebenarnya semua pegawai menepati undangan yang diberikan, hanya saja mereka tidak bisa datang bersamaan. Jadi hanya, penanggung jawab kegiatan yang berada di lokasi Istighosah yang tetap bertahan.


Di ruang pengurus yayasan, seperti yang sudah pada ditebak penyelenggara, orang-orang yang menjadi pengurus yayasan merasa gerah dengan adanya pengajian tersebut. terlihat. berkali-kali Tommitius Sahari keluar masuk dari dalam ruangan, tetapi tidak berani mengungkapkan rasa kesalnya. Laki-laki itu seperti merasa kepanasan, dan tidak nyaman di tempat. Hal itu juga terlihat pada bu Andini, seorang wanita tua yang menduduki jabatan sebagai Bendahara Yayasan, dan sudah beberapa kali ke tanah suci itu seperti salah tingkah.


"CItra.. acara di auditorium itu sampai jam berapa, mana speaker nya keras banget itu.." sambil menggerutu perempuan tua itu bertanya pada pegawai administrasi di ruang yayasan,


"Ibu ini gimana to.. yang namanya istighosah ya pasti sampai sorelah, Karena mereka sampai khatam membacanya, mereka itu hafidz lho bu. Kita bisa minta berkah padanya, minta didoakan, lha ini kok ibu malah seperti kepanasan.." Citra menggoda perempuan tua itu.


"Wah.. kamu itu sok tahu saja.., pokoknya Ibu tidak suka Citra, Banyak cara untuk melakukan pengajian, cukup mengundang ustadz diminta ceramah, tidak dengan cara seperti ini. Mengganggu orang kerja saja.." perempuan tua itu tetap berbicara sesuai apa yang ada di pikirannya.


Citra terdiam, perempuan muda itu hanya melirik partner kerjanya pak Radi.., dan laki-laki itu hanya tersenyum sambil menutup mulutnya. Mungkin merasa jengkel dengan jawaban Citra, Bu Andini kembali masuk ke dalam ruang kerjanya, dan terlihat pak Tommitius juga tidak merasa nyaman duduk di kursinya.


"Kenapa pak Tomm, apakah bapak sakit. Muka pak Tomm merah, terlihat seperti demam.." Bu Andini merasa heran dengan wajah Tommitius, dan spontan langsung menanyakan pada laki-laki itu.


"Iya ini bu.. tidak tahu kenapa, Ini saya akan segera pulang saja, tadi sudah pesan mas Tinus untuk mengantarkan pulang ke rumah. Bu Andini sendiri bagaimana, masih mau disini sampai sore, atau mau pulang mengikuti saya.." merasa kepanasan, Tommotius berniat untuk pulang ke rumah.

__ADS_1


"Sama pak, aku juga mau pulang. Ya sudah, kita barengan saja pulangnya, mas Tinus mengantar saya dulu, baru mengantar pak Tomm pulang ke rumah." seperti gayung bersambut, akhirnya Andini membersamai Tommitius untuk pulang.


Kedua orang itu kemudian berjalan beriringan untuk keluar dari ruangan. Sebelum mereka melangkahkan kaki ke arah basement, bu Andini mampir terlebih dahulu ke ruang kerja Citra untuk berpamitan.


"Mbak Citra.. aku sama pak Tomm mau pulang lebih dulu ya.. Nanti jika akan ada yang mencariku, bilang saja untuk bertemu denganku besok. AKu disini merasa bising dengan pengajian itu, tidak nyaman, mengganggu orang bekerja saja.." tanpa sadar, kembali bu Andini berkeluh kesah pada Citra.


"Wah ibu ini.., kayak banyak jin di tubuhnya saja, Dengar ayat-ayat AL-Qur'an kok malah mabuk dan lemas. Malah terus pamitan pulang.." tanpa takut, Citra meledek perempuan tua itu.


"Terserah omonganmu Citr.. yang pasti aku mau pulang.." Andini tidak merespon perkataan Citra. Perempuan itu segera pergi meninggalkan Citra dan pak Radi di ruangan.


********


"Bagaimana pak ustadz, apa ada yang akan disampaikan kepada kami..?" untuk mempersingkat pertemuan, Renita mengawali pembicaraan.


"Iya bu begini.., kami hanya mau berpesan saja. Saya dan beberapa santri tadi, hanya mendoakan dan mencoba berkomunikasi dengan makhluk lain yang ada di lingkungan bangunan unit 1, minus tempat yang sedang dibangun. Jika ada sesuatu, atau secara periodik, air dalam botol ini bisa bapak/ibu siramkan di beberapa tempat, yang terlihat wingit/seram." ustadz Muhadjir menanggapi perkataan Renita.

__ADS_1


"Mmm.. memang ada ya ustadz, sudah berapa lama, para jin itu bertempat tinggal disini.." dengan perasaan ingin tahu yang besar, Renita bertanya pada ustadz Muhadjir.


Kedua laki-laki itu tersenyum dan saling berpandangan, sebelum salah satu dari mereka menganggukkan kepala. kemudian ustadz Muhadjir kembali menatap Renita dan rekan-rekannya.


"Begini Bu.., tapi kami tidak meminta bapak/ibu yang ada di ruangan ini untuk percaya dengan perkataan saya. Berdasarkan penglihatan kami, dan beberapa kami sempat berkomunikasi, ada jin yang memang sudah tinggal sangat lama di tempat ini, bahkan sebelum gedung ini dibangun. Makanya jika tidak salah, ada tumbal kepala kerbau untuk dipendam di bawah pondasi." ustadz Muhadjir menerangkan.


"Tetapi asalkan kita tidak memiliki itikad buruk di gedung ini, mereka tidak akan mengganggu bapk ibu, dan mereka juga tidak mau jika disuruh untuk pindah dari tempat ini. Namun.. yang perlu menjadi perhatian, adalah ternyata ada segolongan jin yang rupanya itu masih baru, yang sengaja didatangkan di gedung ini, dengan tujuan untuk mengganggu orang yang ditengarai akan menghambat seseorang. tetapi saya tidak akan menyebutkan, siapa yang sudah membawanya. Hanya pesan saya, berhati-hatilah, sebelum masuk lingkungan kampus, sempatkan untuk membaca Al-Fatehah. Bahkan jika bisa, gantunglah wudhu.. karena itu merupakan cara terbaik untuk menghindar dari makhluk astral." ustadz Muhadjir meneruskan.


Mendengar penjelasan laki-laki itu, tuba-tiba saja sekujur tubuh Renita merasa merinding. Tetapi, keanehan yang dirasakannya, tubuhnya merasa ringan dan tenang saat ini. Seperti tidak ada yang mengganggunya seperti biasa. Saef dan Jack juga turut menganggukkan kepala, menyetujui apa yang diucapkan oleh kedua ustadz disitu.


"Apa lagi yang bisa kami lakukan ustadz, untuk menghindari agar pasangan orang-orang jahat itu tidak kena kepada kami.." seperti mewakili apa yang ada dalam pikiran orang-orang yang berada di ruang sidang, Saef mengajukan pertanyaan. Terlihat laki-laki itu menghela nafas panjang, kemudian menghembuskannya lagi secara perlahan.


"Berhati-hati saja dalam bergaul pak. Jika tidak pada sesama rekan yang sudah biasa bercanda dengan kita, tahan lisan kita, jangan sampai kesalahan lisan kita bisa menyebabkan masalah, yang akhirnya diselesaikan dengan cara seperti itu. Karena biasanya orang yang sudah terbiasa terhubung dengan jin, maka setiap permasalahan akan selalu diselesaikan dengan cara itu. Seperti sudah ada ketergantungan, dan akan sulit untuk terlepas, karena jinnya tidak akan mau dengan mudah melepaskan," ustadz Muhadjir memberikan nasehat pada semua yang duduk di ruangan.


*********

__ADS_1


__ADS_2