
Pagi hari Renita sudah bersiap untuk berangkat..Tapi tiba-tiba perempuan itu merasakan ada yang nyeri dalam mata dan alisnya. Rasa nyeri tidak mau pergi, meskipun perempuan itu sudah minum obat penghilang rasa nyeri. Hanya memijit dengan menggunajan jari telunjuknya sambil membaca doa yang dihafalnya, Renita bisa mengurangi rasa nyeri, meskipun belum bisa hilang sepenuhnya.
"Mamah dalam keadaan seperti ini akan tetap berangkat ke kantor..?" dengan tatapan khawatir, Andri bertanya pada istrinya.
"Benar yah, kalau mamah tidak berangkat, pasti teman-teman mamah akan datang kesini yah untuk menjenguk mamah. Malah tidak enak, bagaimana nanti mamah menceritakan apa yang dirasakan pada bapak-bapak. Mending sekuatnya, mamah tetap berangkat, dan jika nanti tidak kuat, mamah bisa segera kembali pulang." merasa beban moral, dengan pekerjaan yang ditinggalkan tanpa persiapan, Renita membuat alasan pada suaminya.
Andri terdiam, kemudian menghela nafas panjang. Laki-laki itu sudah sangat mengetahui bagaimana watak dan karakter istrinya, yang tidak akan mudah untuk menurut pada arahannya. Tetapi karena sudah belasan tahun, mereka membangun rumah tangga, Andri memaklumi sifat istrinya.
"Ya sudah mah, ayah antar saja. Jujur mah, sebenarnya ayah tidak tega melihat keadaan mamah. Seharusnya mamah lebih banyak beristirahat, agar staminanya tetap sehat." merasa khawatir, Andri masih berusaha untuk mempengaruhi istrinya.
"Tanggung jawab yang harus mamah selesaikan itu besar yah, lagian di kampus dari hari kemarin ada rangkaian International Conference, Selain sebagai steering commitee, mamah juga sebagai presenter dalam acara itu. Jadi bagaimanapun, mamah harus tetap berangkat yah.." Renita tetap bertahan pada pendiriannya.
Tanpa menanggapi perkataan istrinya, Andri segera berdiri kemudian mencari kunci mobil. Setelah didapatkan, laki-laki itu bergegas keluar dan mulai memanasi mobil. Beberapa saat kemudian, dengan membawa sarung bali, dan menyimpan dalam tas, Renita segera keluar mengikuti suaminta. karena di rumah kosong, karena anak-anak mereka pada sekolah, perempuan itu mengunci pintu, kemudian segera masuk ke dalam mobil.
Andri dalam diam, mulai menjalankan mobil dan meninggalkan rumah, untuk menuju ke kampus UP yang hanya butuh waktu 15 menit dengan berkendara mobil. Dalam perjalanan, sedikitpun Andri tidak mengajak istrinya berbicara. Renita malah menggunakan kesempatan itu untuk berbaring dengan merendahkan sandaran kursi, dan tidak lama kemudian perempuan itu mulai memejamkan matanya.
**********
__ADS_1
Sesampainya di kampus, Renita bergegas masuk ke ruang kerjanya, tidak mampir kemana-mana. Terlihat gedung A sepi, karena para pejabat pergi ke lantai 5 ruang Multimedia di gedung baru. Tidak menghiraukan yang lain, perempuan itu terus masuk ke ruang, dan duduk di kursi karena mengurangi gerakan. Begitu Renita banyak bergerak, akan semakin deras darah mengalir dari **** *************.
"Sudah sembuh bu Ren.. padahal tadi aku sama mas Hanif dan mbak Rani mau ke Kasihan je, mau bezoek bu Renita. Ternyata bu Renita sudah masuk ke kantor." dari arah pintu ruang kerja, terlihat karyawan administrasi keuangan, menanyakan kabar Renita.
"Iya ini mbak Yani, karena doa dari teman-teman semua, Gusti Allah mengasih kesehatan, sehingga saya bisa cepat sampai ke kampus kembali." tidak kalah ramah, Renita menanggapi mbak Yani.
"Njih bu, kita saling mendoakan saja ya bu, semoga kita dan teman-teman selalu dilindungi oleh Gusti Allah. Saya kembali ke ruangan ya bu.." Mbak Yani minta maaf.
"Iya mbak.." Renita segera menyalakan laptop, kemudian melakukan setting perangkat untuk masuk ke zoom meeting. Melihat schedull, Renita dijawalkan akan melakukan presentasi pada pukul sepuluh pagi. Perempuan itu melihat penunjuk jam di sudut layar laptop, dan jam masih menunjukkan pukul 08.30.
"Masih ada waktu untuk berisitirahat dulu.." Renita menjadi sedikit santai melihat jam yang masih awal.
Renita meletakkan pulpen, kemudian mengangkat ponsel untuk melihat siapa yang mengirimi pesan. Terlihat nama mas Cahyo muncul di layar ponsel, dengan segera Renita melakukan pengecekan.
"Assalamu alaikum ibu.., apakah bu Renita saat ini sedang baik-baik saja ibu.." tiba-tiba tidak diduga, Cahyono bertanya tentang kesehatannya.
"Wa alaikum salam mas Cahyo..." sahut Renita.
__ADS_1
Perempuan itu mengambil nafas panjang, dan setelah berpikir beberapa saat, Renita kemudian mulai membalas pesan yang masuk tersebut. Tanpa ada yang ditambah dan dikurangi, Renita menceritakan apa yang saat ini dirasakannya, Meskipun pendarahan masih terus berlangsung, yang menjadi keanehan, stamina Renita tetap segar, sedikitpun tidak ada rasa lemas karena sudah kehilangan banyak darah.
"Hmm.. ijin ya bu saya membantu dengan cara saya. Tidak tahu kenapa bu Ren, di hari Selasa kemarin tiba-tiba ada yang berbisik pada saya untuk menolong bu renita. Tetapi siapa orangnya saya juga tidak tahu, karena begitu saya tengok tidak siapa-siapa disitu. Kemudian saya mencoba masuk untuk melihat ibu, sepertinya ada sesuatu yang masuk ke tubuh ibu. Inshaa Allah, nanti malam saya akan coba temui ibu." Cahyono mengatakan penyebab menanyakan kondisi Renita.
"Iya mas Cahyo.., aku sendiri juga bingung. Kenapa ada orang yang sangat dan begitu jahat kepadaku, memangnya saya ini apa pernah menyakiti mereka atau bagaimana.." tanpa sadar Renita berkeluh kesah.
"Ha.. ha.. ha.., sabar bu. Saat ini ibu sedang diuji, tapi Inshaa Allah dengan kehendak Allah ibu pasti akan sembuh. Seperti anak kecil bu, mau mendapatkan nilai bagus atau naik tingkat, harus diuji dulu." Cahyono menanggapi keluh kesah Renita sambil bercanda.
"By the way.. mas Cahyo mau menemuinya nanti malam, Memang mas Cahyo sudah bertemu orang atau jin yang mengganggu saya mas.." kembali pada perkataan awal yang diucap Cahyono, Renita mengejar laki-laki itu.
"Heh.. maaf bu, saya sudah mendatanginya tadi malam bu. Bentuknya ular besar bu warna hitam yang sebenarnya membelit tubuh bu Renita. Tadi malam kita sempat mengobrol, dan jika masih tidak mau mendengarkan saya, Inshaa Allah nanti malam akan saya ajak bertarung., Mohon ijin njih bu, tapi jika bu Renita todak berkenan atau tidak membolehkannya, maka saya akan batalkan." Cahyono menceritakan asal mula, laki-laki muda itu tahu.
Tubuh Renita seketika merasa geli dan merinding. Rasa nyeri tiba-tiba saja semakin mendera tubuhnya, dan perempuan itu hanya bisa mengucapnya dengan membaca ayat-ayat pendek yang diingatnya.
"Inshaa Allah mas, saya berkenan. Masa mau dibantu, saya menolak penawaran itu. terima kasih ya mas Cahyo, saya tidak bisa membalas apa-apa. Semoga Allah yang akan mencatat amal kebaikan mas Cahyo dan keluarga." Renita mengucapkan terima kasih pada laki-laki itu.
"Siap bu, aamiin.." sahut Cahyono.
__ADS_1
************