
Dengan berusaha sekuat tenaga, Renita berusaha menyebut asma Allah. Siapapun yang melihat reaksi Renita, mereka akan melihat jika perempuan itu bersuara seperti tercekat, seakan ada yang menghalanginya untuk mengucap ayat-ayat Al-Qur'an. Semakin Vian putra sulungnya mendekat, Renita semakin ketakutan seperti ingin menjauh, namun Ali keponakannya malah semakin erat memeluk dan mencium kepala perempuan itu. Dengan mata tajam, Vian menatap wajah mamanya dari depan. Kedua mahasiswa yang masih menunggu, dan berada di depan Renita, menatap dengan rasa panik serta takut,
"Kring.., kring.." tiba-tiba ponsel Ali berdering.
Dengan cepat, Ali mengambil ponsel kemudian melihat jika Om Andri melakukan panggilan masuk. Dengan cepat, anak laki-laki muda itu menerima panggilan tersebut,
"Assalamu alaikum, ya om.." Ali menyapa terlebih dahulu.
"Bagaimana keadaan mbak Renita Al.., apakah sudah membaik?" dengan panik dan suara yang hampir menangis, Andri bertanya tentang keadaan Renita.
"Masih seperti tadi waktu Ali datang Om.. Ini Vian juga suddah datang. Teman-teman mbak Ren juga masih disini kok, mereka semua turut mendoakan agar mbak Renita segera pulih kembali." Ali melaporkan keadaan tantenya.
"Ya makasih, sampaikan ucapan terima kasih dari Om ya untuk mereka, Ini mas Cahyo juga sudah om hubungi, dan akan mendoakan mbak Renita. Sekarang, ponselnya ditempelkan di telinga mbak Renita ya, Om mau kirim doa dari sini, Inshaa Allah akan sampai." Andri meminta Ali menempelkan ponselnya di telinga Renita.
Ali kemudian melakukan apa yang diminta oleh Om-nya, anak muda itu meletakkan ponsel yang masih dalam keadaan menyala, di samping telinga kanan Renita,
"Mamah... mamah.. sadar mah, istighfar,.., ayah yakin mamah kuat. Istighfar mah..." Andri membacakan ayat kursi, Al Fatehah. Al Ikhlas, Al Falaq, dan An naas masing-masing tiga kali, dan dengan jelas suara itu masuk ke telinga Renita.
"Aaaakhhh... aku tidak mau keluar.., aku ingin ibu ini mati... ibu ini harus mati.. Ibu ini membahayakan..." tiba-tiba tubuh Renita kembali seperti kejang, perempuan itu berteriak dan merintih kesakitan.
__ADS_1
Melihat reaksi perempuan itu, semua semakin keras berdoa. Mata Renita sudah tidak bisa dilihat lagi, perempuan itu kemudian menangis..
"Sakit.., sakit.., sakit.., hentikan. Tubuhku panas, hentikan... Tomm... Tomm... tarik aku Tomm..." dengan jari telunjuk menunjuk ke arah ruang yayasan, Renita terus merintih kesakitan.
"Kuasai diri mam... mamah lebih kuat, mamah lebih mulia dari makhluk jahanam itu. Renita bin Cokro negoro.., sadarlah, kendalikan dirimu Renita bin Cokro Negoro.." dari seberang ponsel, Andri terus berusaha menguatkan istrinya. Suara laki-laki itu sudah tidak jelas terdengar, seakan mengandung jeritan dan tangisan dari dalam hatinya, Seorang laki-laki manapun, yang sangat mencintai istrinya pasti tidak akan tega melihat apa yang dialami istrinya, sedangkan saat ini dia tidak berada di dekatnya.
Sesaat kesadaran Renita sudah pulih, kemudian Shuman menyodorkan botol air mineral ke dekat bibir perempuan itu. Tetapi perempuan itu masih menutup bibirnya dengan rapat..
"Bu Ren.. buka mulutnya sebentar ya bu, ini saya diminta pak Cahyo untuk meminumkan air ini pada ibu.." dengan hati-hati Shuman mencoba meminumkan air mineral itu. Dengan cepat, Vian mengambil alih botol minuman itu, kemudian memaksa mamanya untuk meminumnya beberapa teguk.
"Pulang ke rumah yuk mbak Renita.., jangan suka seperti ini lagi ya. Ali jadi sedih mbak, jika melihat mbak Renita seperti ini terus..": dari belakang, Ali terus mengajak bicara perempuan itu.
"Pak Shuman,.. mbak Muna.. maafkan bu Renita ya. Saya tidak bisa melanjutkan bimbingan ini, dan terima kasih pak Shuman, telah membantu saya.." dengan suara pelan, Renita meminta maaf dan juga mengucapkan terima kasih pada Shuman.
"Sama-sama bu Renita, kita kan memang harus saling membantu. Tidak mungkin kan, saya meninggalkan dan tega melihat bu Renita seperti ini. Saya yakin, semua orang pasti akan melakukan hal yang sama." ucap Shuman.
"Untuk mbak Muna.. pelajari artikel jurnal yang sudah didownload dari Google Cendekia. Nanti dibuat meta analysis, kira-kira variabel mana yang masih lack atau langka. Nanti bisa kamu jadikan sebagai variabel penelitianmu." sambil berdiri, Renita masih sempat memberikan arahan pada mahasiswa yang dibimbingnya.
"Baik bu.." sahut Muna lirih, Ali segera membawa Renita keluar dari ruang dosen., dan Vian bergegas untuk mengambil mobil.
__ADS_1
*******
Vian dan Ali datang ke kampus, masing-masing membawa sepeda motor, sehingga mereka harus menitipkan motor terlebih dahulu pada petugas jaga. Mereka bergantian berjaga menunggu Renita, dan setelah motor dititipkan pada petugas, keduanya segera menuju ke dalam mobil. Vian di belakang kemudi untuk menyetir, dan Ali meminta tantenya untuk duduk di depan, sedangkan dirinya duduk di kursi belakang.
"Mbak.. mbok mbak Renita tuh jangan seperti itu lagi.. Kendalikan diri mbak, tunjukkan jika mbak Renita itu kuat.." dari belakang, Ali menasehati tantenya.
"Mauku juga begitu Al.., tapi siapa yang bisa menyangkal dan menolak jika sudah seperti itu. Mbak Renita itu juga sudah berusaha istighfar, membaca surat-surat pendek yang mbak Ren bisa. Tapi yah.. qodarullah.. semua tetap terjadi seperti tadi.." Renita menanggapi perkataan Ali.
Dari samping, Vian menatap mamahnya, dan anak muda itu melihat ada sesuatu pada diri mamanya. Tetapi dari pada membuat panik, Vian diam dan lanjut mengemudikan mobilnya. Beberapa saat, mereka dalam keheningan, tiba-tiba Vian dari sudut matanya melihat seperti ada penampakan ular dalam tubuh mamanya, ular itu meringkuk di perut bagian kanan bawah tubuh mamanya.
"Istighfar mah..., istighfar..:" melihat tiba-tiba Renita menggeliat seperti membuat sebuah tarian ular, Vian berbisik dari samping perempuan itu,
"Astaghfirullahaladzim..." dengan suara tercekat, Renita terus berusaha mengendalikan gerak tubuhnya.
Dari arah belakang, kedua tangan ALi memegang bahu perempuan itu, dan menahannya agar tantenya tidak melakukan gerakan, mengikuti arah gerakan setan.
"Mbak Renita kuat, lebih kuat dari jin, setan yang berniat buruk pada mbak Ren.. Ayo mbak Renita harus tetap bertahan, jangan mau ditipu, dibujuk, apalagi disakiti oleh mereka. Kita ini lebih mulia dari mereka mbak Ren.., mereka hanya makan sampah atau sisa-sisa tulang, tidak seperti kita.." Ali dengan tatapan prihatin, terus berusaha membuat tantenya terjaga.
Beberapa saat kemudian, masih dengan mengucap ayat-ayat Al Qur-an, akhirnya Renita bisa menguasai tubuhnya kembali. Dari kursi belakang, Ali mengambil nafas kemudian melepaskan pegangan di bahu perempuan itu. Vian bernafas lega, dan anak muda itu kembali menyetir dengan fokus ke depan.
__ADS_1
********