
Di ruang sarana prasarana, terlihat Tommitius Sahari sedang berbincang berdua dengan keponakannya, yaitu Wanto. Apalagi yang akan mereka bicarakan, kecuali tentang bagaimana membungkam atau menghabisi orang-orang yang dianggap mereka menghalangi jalan ambisi mereka. Jika kedua orang itu sudah berkumpul, rekan-rekan satu unit dengan mereka lebih baik menyingkir, takut dikira menguping pembicaraan antara kedua pria itu.
"Gimana paklik.. apa yang perlu kita bicarakan.." sambil mengetik, Wanto bertanya pada laki-laki tua itu.
"Hari Sabtu kemarin aku kesakitan Want..., tiba-tiba tubuhku seperti dirajam. Dan tadi malam, sepertinya ada yang menghalangi jalanku, mau turut campur dengan urusanku. Aku harus memberinya pelajaran, agar tidak turut campur dalam urusan ini. Puluhan juta uangku sudah keluar untuk menghabisi Renita, aku tidak mau rugi. Entah bagaimana caranya, Renita harus habis, harus mati atau celaka." dengan berapi-api. tanpa sebab Tommitius menyampaikan kekesalannya.
"Itu paling belum saja paklik.. dukun yang terakhir kali kita kesana, itu sudah merupakan dukun yang ampuh paklik. Sudah banyak terbukti, orang-orang celaka. Bukankah paklik juga tahu kan, sudah berapa korban karyawan UP yang menjadi tumbal dalam aksi kita." Wanto menyampaikan ulasan.
Tommitius Sahari terdiam, laki-laki itu sepertinya belum puas dengan banyaknya korban yang sudah jatuh di UP. Menurutnya, orang-orang yang sudah jatuh itu tidak sesuai dengan yang diinginkannya, Orang-orang berbahaya seperti Kiki, Noncy, dan Budi, serta Renita menjadi target utama. Untuk Kiki sudah tidak terdengar lagi gaungnya di UP. Orang-orang yang belum mengenalnya, masih melihat Kiki sebagai trouble maker. namun, nama Renita semakin harum di UP, bahkan dari tukang sapu, pantry sampai pengurus besar di Jakarta memiliki hubungan akrab dengan perempuan itu. Sedangkan Budi, dengan sikap temperamennya, menjadikan laki-laki sudah terdegradasi sendiri.
"Aku belum puas Wanto.., kekuasaan penuh harus sepenuhnya aku miliki. Ketua Pengurus Yayasan, itu yang aku inginkan. Aku tidak mau, hanya menjadi bayangan dari Yayak, orang yang hanya punya omongan besar, padahal kepintarannya nol." Tommitius tanpa sadar mengemukakan ambisinya. Untung tidak ada orang lain di tempat itu, sehingga hanya Wanto yang masih memiliki hubungan kerabat dengannya, yang mendengar perkataan itu.
"Iya paklik,.. saya juga sudah mendengarnya berkali-kali dari paklik. Tapi ini masih banyak pekerjaan dari pak Yayak, yang harus segera saya tangani paklik. Pengadaan barang dan jasa, karena akan segera digunakan di masing-masing unit kerja." Wanto membuat alasan. Sebenarnya laki-laki muda masih menggunakan akal sehatnya. Kiriman santet yang dikirimkan pakliknya pada Renita, tanpa ada latar belakang yang jelas, sudah keterlaluan. Tetapi laki-laki muda itu tidak berani banyak bicara, karena dirinya yang membawa pakliknya ke tempat dukun yang dibayar untuk mengirimkan santet pada perempuan itu.
__ADS_1
"Belanja.., belanja terus..., kalau aku tidak ACC, uang untuk pembayaran juga tidak akan cair. Uang besar hanya diacak-acak saja, kan setiap pengeluaran uang yang dilakukan bendahara harus dengan sepersetujuanku. Tanpa aku bilang ok, dan aku tanda tangan maka uang tidak akan cair." lanjut Tommitius dengan raut wajah yang tidak enak dilihat.
"Baik paklik, nanti akan aku coba mendapatkan informasi di kalangan teman-temanku." selain bekerja di UP, Wanto memang memiliki sejumlah project yang dijalankan dengan teman-temannya. Dalam pekerjaan itu, Wanto memiliki banyak informasi tentang orang pintar, atau dukun yang sering mereka gunaka untuk membantu memperlancar urusan mereka.
************
Meskipun malam harinya kesakitan, Renita tidak mau menunjukkan pada orang-orang jika dirinya lemah. Di dalam rumah, perempuan itu biasa menangis, merintih kesakitan. Namun ketika berada di kantor, dengan mudah rasa sakit itu akan menyingkir karena ditahan oleh perempuan itu. Renita selalu berusaha menunjukkan kinerja prima, meskipun dia sudah tidak lagi menjabat. Treatment wajah dengan make up mahal, sepatu branded, tas branded maupun baju berkelas selalu dikenakan oleh perempuan itu. Renita tidak mau, menjadi bahan cibiran orang-orang yang tidak menyukainya, dikatakan tidak mampu lagi untuk berpenampilan,
"Mas Hanafi.. ingat posisi dan struktur organisasi ya. Boss mas Hanafi itu masih bu Ana dan pak Sukekh.. sudah bukan aku.." dengan ramah, Renita berusaha meluruskan panggilan itu.
"Wah tidak bu Boss.., bagi kami sampai kapanpun Boss kami tetap bu Renita. Mereka hanya Boss di atas kertas, bukan Boss yang sebenarnya. Kerja saja tidak bisa, sok merasa pintar, tahu-tahunya hanya menyuruh akhirnya." tidak sadar, Hanafi malah melakukan curcol.
Anak muda itu memang sering berbenturan dengan atasannya, karena kebetulan laki-laki itu merupakan lulusan Sarjana Akuntansi, sedangkan atasan langsungnya lulusan dari mahasiswa Keguruan. Pada kabinet kepemimpinan kali ini, memang banyak pejabat yang diangkat bukan karena kapabilitasnya, namun hanya berdasarkan kemampuan mereka untuk menjilat, dan ada hubungan keluarga dengan para pejabat yang sudah ada. Sedangkan pada masa Renita menjabat, hal itu tidak akan pernah disetujuinya.
__ADS_1
"Hush tidak boleh seperti itu mas.. Sudah ya, aku mau ke prodi, ada jadwal mengajar, tidak bagus juga ntar dikira orang kita ngerumpi pagi-pagi mas.." ucap Renita sambil berlalu dari hadapan karyawan yang bertugas sebagai admin di Biro Administrasi keuangan itu.
"Oh iya bu Boss.. silakan.." sambil mengacungkan ibu jari, Hanafi juga berlalu dari tempat itu.
Sambil geleng-geleng kepala, Renita segera berjalan menuju ke gedung C lantai dua, tempat kantornya sekarang berada. Di dalam ruang dosen prodi manajemen, Renita merasa tenang, karena memiliki banyak teman di ruangan itu. Bahkan beberapa mahasiswa yang dekat dengan perempuan itu, juga sering main ke ruangannya.
"Pagi bu Renita.., sehat bu.." baru saja Renita akan melangkahkan masuk ke gedung C, terdengar panggilan untuknya. Renita menoleh, dan terlihat mas Mus pegawai cleaning service sedang mengepel menyapanya.
"Pagi mas Mus.. alhamdulillah nikmat sehat selalu mas. Kita harus selalu sehat mas, hanya itu yang perlu kita panjatkan dalam setiap doa-doa kita." dengan ramah, Renita menanggapi sapaan dari petugas cleaning service itu.
Renita memang dikenal sebagai seorang pegawai yang ramah, meskipun ketika perempuan itu masih duduk di Wakil Rektor II. Dari karyawan di level rendah sampai level tinggi, menyukai keramahannya. Hal itulah yang memicu satu opini, jika keramahan itu dilakukan karena mengincar satu posisi. Padahal bukan karena itu, Renita memang termasuk sebagai orang yang supel, bahkan pernah mendapatkan penghargaan dari mahasiswa sebagai dosen terhumble.
***********
__ADS_1