Ambisi Dan Sihir

Ambisi Dan Sihir
Chapter 91 Di ruang Rapat


__ADS_3

Baru mengajar beberapa saat, Renita mengucap kalimat istighfar beberapa kali. Tiba-tiba perempuan itu merasakan, jika alat *********** terasa seperti disayat dengan menggunakan silet, rasanya nyeri dan perih. Renita terdiam dan menahannya, kemudian mengusap bagian yang sakit secara perlahan sambil membacakan kalimat istighfar tiga kali. Untungnya meja dosen memiliki penutup di depan sampai ke bawah, sehingga tidak terlihat oleh mahasiswa apa yang dilakukan oleh Renita. Beberapa saat kemudian rasa perih itu hilang, tetapi sangat terasa ada yang mau keluar dari dalam ********, tapi perempuan itu hanya menahannya.


"Mungkin ini yang menjadi gejala akan adanya menopause, kan usiaku sudah 49 tahun bulan ini. Setiap wanita di usia 45 tahun harus sudah berpikir tentang menopause, mungkin gejalanya memang terasa sakit seperti ini." Renita membatin sendiri, dan mencoba mengalihkan perasaan sakitnya dengan siklus seorang perempuan.


Renita kemudian mengambil nafas panjang, kemudian berdiri lagi untuk melanjutkan materi yang tadi sudah dijelaskan di awal.


"Bagaimana.. apakah ada yang merasa kesulitan dengan cara menggambarkan kurva permintaan, jadi pada sumbu vertikal itu menunjukkan price atau harga barang, sedangkan di sumbu horisontal akan menunjukkan quantity atau jumlah barang yang dibeli konsumen." lanjut Renita.


"Tidak bu.. sudah paham. Materi bisa dilanjutkan.." Bagas yang bertanggung jawab sebagai Ketua Kelas menanggapi pertanyaan Renita.


"Baiklah.. jika untuk kurva tidak ada masalah. Kita akan lanjut pada perbedaan permintaan dengan perbedaan jumlah yang diminta." Renita kemudian melanjutkan lagi materi selanjutnya. Diskusi dua arah antara Renita dan mahasiswa terjalin secara aktif, dan jika ada mahasiswa yang tidak paham, Renita akan mendatangi mahasiswa tersebut kemudian memandunya secara langsung.


.


Tetapi ketika Renita sudah menjelaskan materi permintaan pasar, tiba-tiba perempuan itu harus menghentikan penjelasannya. Tanpa ada sebab, tiba-tiba mata sebelah kiri dari alis turun sampai ke pipi terasa nyeri yang teramat sangat. Kemudian juga masih di sebelah kiri, kepala bagian depannya juga terasa nyeri. Renita menghentikan aktivitasnya, kemudian perempuan itu duduk  di kursi dan untungnya kali ini Renita membawa air rukiyah dari Ustadz. Renita segera mengambil air rukiyah dan diletakkan di telapak tangannya, kemudian diusapkan pada wajah serta kepalanya yang terasa nyeri, sambil membaca ayat-ayat Al-Qur'an.


"Bu Renita sakit.." tiba-tiba Bagas mewakili teman-temannya di belakang yang melihat bagaimana reaksi perempuan itu, menanyakan keadaan Renita.


"Tidak apa-apa mas, beri saya waktu untuk memanjatkan doa sebentar, jika saya sudah membaik nanti akan kita lanjutkan lagi penjelasannya." sambil menundukkan wajahnya ke bawah, Renita menanggapi pertanyaan mahasiswa.

__ADS_1


"Baik bu.." sahut Bagas, dan suasana kelas mendadak terasa hening, tidak ada suara.


Beberapa saat kemudian, tampaknya Renita bisa menguasai kembali dirinya. Perempuan itu kemudian berdiri, dan menghadap ke arah mahasiswa.


"Para mahasiswa semuanya, jika nanti suatu saat melihat kondisi saya drop, dan saya seperti tidak kuat lagi karena kehilangan keseimbangan, tolong jangan panik ya. Kirim saya bacaan Al fatehah, dan pintu ditutup. Karena saya memang terkadang akan mengalami hal-hal seperti ini, karena ketidak seimbangan asupan energi ke otak saya." Renita kemudian menjelaskan kondisinya kepada mahasiswa.


"Baik bu.. Inshaa Allah nanti kami akan menyesuaikan.." sahut Bagas mewakili teman-temannya.


Setelah beberapa saat, dan Renita sudah bisa kembali menguasai dirinya, akhirnya perempuan itu kemudian melanjutkan materi pelajarannya. Semua mahasiswa tampak antusias mendengarkan penjelasan, dan kelas itu diadakan sampai pada pukul sembilan pagi.


************


"Selamat siang bu Renita.., monggo sudah ditemu oleh teman-teman lainnya." dengan senyum khas, Andi menggoda Renita.


"Alhamdulillah bu Renita bisa rawuh..." Krisna ikut menanggapi,


Tiba-tiba pintu ruang kerja WR II terbuka, dan muncul Sukekh yang keluar dari dalam ruangan. Laki-laki itu tersenyum dan memang sengaja keluar karena mendengar suara Renita.


"Aku tadi samar-samar mendengar suara Bu Renita.., makanya aku keluar, dan ternyata benar. Kangen Rektorat kan bu.., makanya kesini lagi.." Sukekh menggoda Renita. Di luar hubungan atasan bawahan, Renita dan Sukekh memang memiliki hubungan yang dekat sebelumnya.

__ADS_1


"Nha.. jangan ge er ya pak boss. Aku kesini untuk datang di rapat karena menghargai ada japri dari pak WR I. Jika tidak ada, aku ogah berpikir serius. Pikirannya sudah melupakan pekerjaan di luar tugas tanggung jawab sebagai seorang dosen. Meneliti, mengabdi, pertemuan ilmiah, dan mengajar itu menjadi rutinitasku sekarang.." Renita menimpali perkataan Sukekh.


"Walah.., aku sudah ge er nih, aku pikir karena kemarin sempat berjumpa denganku di ruangan ini, terus siang ini berniat lagi untuk main kemari. Malah ternyata pak WR I yang dicari bu Renita.."  WR II ikut berseloroh.


"Sudah ayo.. keburu sore segera dimulai rapatnya. Karena undangan rapat jam dua siang itu, aku harus mengorbankan waktu tidurku lho ya. Harusnya aku alokasikan waktu untuk tidur siang, waktu beribadah dan waktu untuk menulis novel, jadi bubar agendaku." Renita pura-pura memprotes.


"Ya sudah.. ayo aku temani ke dalam. Tapi tunggu sebentar.., aku akan membereskan urusan dulu, karena di ruangan ada pak Ahmad dan istrinya, baru melakukan tugas audit eksternal." Sahut SUkekh yang kemudian meninggalkan Renita, dan masuk ke ruang kerjanya untuk berpamitan pada tamunya.


Tidak lama kemudian, Sukekh keluar dan mengajak Renita untuk masuk ke ruang sedang. Sebelum masuk ke ruang sidang, Renita membuka pintu ruang kerja pak WR I, karena mereka juga merupakan teman akrab, Renita juga tidak sungkan untuk melihatnya ke dalam.


"Ayo pak Adi.. sudah jam dua lewat lima belas menit, keburu Ashar karena aku harus segera pulang ke rumah." dari arah pintu, Renita memanggil WR I dengan akrab.


Ternyata WR I sedang melakukan zoom meeting, laki-laki itu hanya tersenyum menanggapi ajakan Renita. Tapi akhirnya tidak lama kemudian, pak Adi mengikuti Renita dan Sukekh untuk masuk ke ruang rapat. Renita merasa terasing di dalam ruang sidang, karena memang tim hibah itu sedikit memiliki hubungan yang kurang akrab dengan Renita sebelumnya. Bahkan ada dua orang di antaranya, dulu pernah berurusan secara privat dengan Renita ketika dia masih menjabat sebagai WR II.


"Mom.. duduk sini Momm.." Adit Kepala PPTIK, yang di luar pekerjaan, juga memiliki hubungan yang relatif dekat dengannya, memintanya untuk duduk mendekat,


"Eh ada mas Adit juga.., okay." Renita segera menghampiri Adit dan kemudian duduk di sampingnya.


***********

__ADS_1


__ADS_2