
Informasi adanya korban yang jatuh di lokasi pembangunan gedung baru ditutup secara rapat di UP. Banyak karyawan maupun mahasiswa yang tidak mengetahui berita tersebut. Tetapi berita simpang siur beredar di lingkungan sekitar kampus, dan bahkan menyebutkan sudah ada tiga orang tukang yang bekerja sebagai buruh bangunan, dinyatakan meninggal. Omongan tentang tumbal pembangunan beredar luas, dan tidak ada yang mampu untuk mencegahnya.
"Bu Ren.. apakah informasi tentang tiga korban pembangunan itu benar bu." ketika Renita sedang berjalan masuk ke lobby gedung A, seorang karyawan perempuan bertanya padanya.
Renita menghentikan langkahnya, kemudian menengok ke belakang. Melihat bu Titik, Renita tersenyum kemudian berjalan di samping perempuan itu.
"Maaf ya Bu Titik.., untuk informasi itu, mohon maaf sekali, saya malah tidak mengetahuinya bu. Saya takut salah bicara, nanti malah mengarah pada timbulnya fitnah. Maaf ya, kita ganti pembicaraan lain ya.." karena memang tidak tahu kejadian persisnya, Renita menolak untuk membahas masalah itu.
"Saya pikir bu Ren tahu.., karena setahu saya pembangunan itu kan menjadi ranah dari bidang 2, dan itu bidang tugasnya bu Renita. Makanya saya mencari tahunya dari ibu.. maaf ya bu.." Bu Titik membela diri.
"Benar bu Titik.. tapi pembangunan gedung prasarana bukan sarana. Dalam statuta dimunculkan, jika prasarana menjadi kewenangan dari pihak yayasan untuk mengaturnya. Sedangkan kalau pengadaan sarana, itu menjadi ranah dari pekerjaan bidang 2." sambil tersenyum, Renita menjelaskan pada perempuan itu.
"Okay.., okay.. saya jadi tahu dan paham bu Ren.. Terima kasih ya, sekalian saya pamit ya. Mau kembali ke kampus unit 2, karena ada jadwal mengajar lagi." sahut Bu Titik, sambil mengulurkan tangan mengajak Renita berjabat tangan.
"Baik bu Titik.. hati-hati ya.." Renita juga bergegas menyambut uluran tangan tersebut, kemudian masuk ke dalam ruangannya sendiri.
**********
Hari masih siang, tapi Renita sudah merasa tidak nyaman berada di ruang kerjanya. Tiba-tiba saja, perempuan itu merasakan tubuhnya sakit semua tidak ada sebab. Semakin dirasakan, malah rasa sakit semakin bertambah dan berpindah-pindah tempat. Pikiran jika ada gangguan jin dalam tubuhnya sempat datang, tetapi Renita tiba-tiba menganulir perkataannya sendiri. Perempuan itu berpikir jika badannya terasa sakit beneran.
__ADS_1
"An.., Nik.. aku akan pulang lebih dulu ya. Ga tahu kenapa, apa mungkin tekanan darahku naik, atau mungkin kolesterol naik. Badanku sakit semua, terutama di lengan kiri bagian atas terasa nyeri, kayak ditusuk-tusuk." Renita bersiap pulang, perempuan itu memberi tahu Andi dan Niken.
"Iya bu.., dipakai istirahat saja, mungkin bu Renita kelelahan. Hari ini juga tidak agenda penting kok, rapat koordinasi juga tidak ada. Tadi kami melihat pak Rektor pergi diantar driver, tidak tahu akan pergi kemana." Andi menanggapi.
"Okaylah kalau begitu.., aku akan pulang dulu. Nanti kalau pak Adi sama pak Faiz nyariin, bilang aku sedang ada urusan ya mas, mbak. Jangan bilang sakit, ntar aku malah sakit beneran." sebelum keluar, Renita meninggalkan pesan.
"Baik bu, nanti kami sampaikan." sahut Andi dan Niken bersamaan,
Renita kemudian segera berjalan keluar dari ruang Rektorat meninggalkan Andi dan Niken. Setelah melakukan presensi dengan finger print, perempuan itu bergegas keluar dari gedung A. Tetapi baru sampai di teras, Renita berpapasan dengan mas Yanto security yang bertugas di kampus unit 2.
"Hei ada bu Renita.. hati-hati ya bu. Di ruangan ibu itu, saya menerawang ada ular melingkar disana. Ularnya ada dua bu, hanya ruangan pak Adi yang aman bebas dari gangguan ular itu." mas Yanto memang sering memposisikan diri seperti orang tua yang punya kelebihan. Bahkan laki-laki itu memiliki banyak pengikut, yang sangat mempercayai kata-katanya.
"Halah mas.. mbok ga usah nakut-nakutin saya. Ini saya mau pulang, badan saya sakit semuanya." Renita mengabaikan perkataan dari laki-laki itu.
Tidak mau menanggapi perkataan yang ngelantur itu, Renita berjalan semakin cepat, dan menuruni teras untuk menuju ke lahan parkir. Tidak diduga, ternyata mas Yanto juga mengimbangi kecepatan cara berjalan Renita, bahkan mengikutinya sampai membuka mobil.
"Bentar bu.., jangan masuk mobil dulu. Saya bantu untuk bersihkan bu, ternyata ular itu juga mengikuti ke mobil bu Renita.." tanpa disuruh, mas Yanto melakukan gerakan tiba-tiba. Mas Yanto mengangkangkan kaki seperti mengambil kuda-kuda, kemudian mengangkat kedua tangannya ke atas. Beberapa saat kedua tangan itu dibiarkan di atas, kemudian menggerak-gerakkanya seperti orang menari. Setelah kurang lebih lima menit, laki-laki itu mengambil nafas dalam, kemudian menahannya beberapa saat, dilanjutkan dengan menghembuskan secara perlahan. Tidak lama kemudian, mas Yanto membuka matanya dan kembali menegakkan posisi berdirinya.
"Sudah bu.. sudah aman. Saya sudah bantu bu Renita membebaskan diri dari pengaruh ular siluman itu bu. Silakan masuk ke dalam mobil, dan saya pastikan jika bu Renita akan sampai di rumah kembali dengan aman," Renita hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Makasih ya mas," Renita segera mengaktifkan central lock, dan mobilnya segera dijalankan meninggalkan halaman kampus unit 1. Mas Yanto tersenyum sambil memandang mobil Renita keluar dari dalam kampus.
**********
Andri melihat ke arah tembok untuk melihat jam. Laki-laki itu heran, karena tidak biasanya istrinya Renita pulang di jam-jam segitu, karena paling cepat biasanya pukul 16.00 paling cepat Renita sampai di rumah. Tapi laki-laki itu tidak banyak bicara, malah membukakan pintu dapur agar istrinya masuk ke dalam rumah.
"Assalamu alaikum.." seperti biasa sebelum masuk ke dalam rumah, Renita mengucapkan salam,
"Wa alaikum salam, tumbeh mam.. jam segini dah sampai rumah.." ucap Andri sambil membantu membawakan tas laptop istrinya, naik ke lantai atas.
"Ga tahu yah, dari tadi badan mamah sakit semua, kadang kayak ada jarum yang nusuk-nusuk. Apa kolesterol ya yah.." sambil menaiki tangga menuju ke lantai dua, Renita berbicara.
Andri terdiam, dan perasaan laki-laki itu tiba-tiba merasa tidak enak. Mengingat kejadian akhir-akhir yang selalu menghantui istrinya, membuat Andri lebih hati-hati.
"Mamah sudah tanya mas Cahyo belum, siapa tahu ada kaitannya dengan itu.." Andri mengingatkan istrinya, akan adanya pengaruh dunia lain yang membuatnya sakit.
"Ah ngga yah.. ini mungkin karena faktor capai saja, atau faktor makanan." Renita terus mengalihkan pikiran tentang ada gangguan jin dalam tubuhnya.
Andri hanya diam tidak menanggapi perkataan istrinya, tetapi tidak tahu kenapa hatinya terus berpikir jika ada sesuatu yang menyebabkan sakit istrinya. Tetapi laki-laki itu hanya terus berdiam, kemudian duduk dan mengambil air putih satu gelas. Andri duduk, kemudian membacakan Al Fatehah, Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Nas. Setelah meniup beberapa kali, Andri berdiri dan menyerahkan gelas itu pada istrinya,
__ADS_1
"Minum mah, sudah ayah doain. Semoga hilang rasa sakitnya.." tanpa membantah, Renita segera mengambil gelas itu, kemudian meminumnya.
**********