
Sudut ruang yayasan
Dari tempat duduk di ruangannya, Hani melihat Tommitius Sahari sedang berbicara serius dengan keponakannya yaitu Wanto, yang pada era kepemimpinan Prof. Dahlan dan Renita, pernah diberikan SP III, dan juga dikeluarkan dari Universitas. Namun.., karena sebagai keponakan orang di yayasan, laki-laki itu masih dipertahankan di yayasan. Sudah berkali-kali laki-laki sombong itu berurusan dengan Renita ketika perempuan itu menjabat. Pernah diberhentikan gajinya karena lebih satu tahun tidak pernah datang ke kantor, dan juga pemanggilan secara berkali-kali. Alasan untuk menyelesaikan urusan yang tertunda, selalu disuarakan oleh laki-laki itu. Tetapi sedikitpun Renita tidak pernah lagi mempercayainya.
Bahkan kerena juga memiliki ijazah S2, laki-laki itu pernah mendaftar sebagai dosen di program studi Pendidikan Sejarah. Dengan alasan, usianya melebihi 40 tahun, Renita tidak segan-segan tidak meloloskannya sebagai kandidat pada saat seleksi adminitrasi. Dendam Wanto pada perempuan itu semakin bertubi-tubi, namun ketika berjumpa atau berkesempatan bertemu dengan Renita, Wanto tetap bersikap baik dan ramah. Akhirnya untuk membalaskan rasa sakit hatinya, bermainn klenik dengan perantara dukun menjadi media sehari-hari untuk menyakiti Renita,
"Want... apakah kamu sudah menemukan dukun yang lebih sakti,. dari dukun terakhir untuk mengakhiri perempuan itu. Beberapa kali aku melihatnya, jangankan sakit, perempuan itu masih segar bugar dan terlihat sehat. Bahkan aku mendengar, dan beberapa kali melihat dengan mata kepala sendiri, semakin banyak orang yang mengidolakannya, padahal dia sudah tidak menjabar lagi." merasa tidak ada orang di sekitarnya, Tommitius membicarakan masalah Renita pada keponakannya itu.
"Iya paklik.. aku juga heran dan geregetan. Sudah lebih lima dukun yang kita gunakan untuk membunuh perempuan itu, tapi jangankan mati, sakitpun sepertinya tidak pernah dirasakannya. Padahal jika dilihat, perempuan itu juga tidak memiliki pendamping yang menjaganya. Tetapi kenapa kebal sekali, padahal beberapa sudah meninggal." Wanto juga terheran menanggapi perkataan pakliknya itu.
"Terus apa rencanamu ke depannya, beberapa kali di hari Sabtu, aku merasakan sakit yang tidak tertahankan dalam tubuhku. Seperti ada serangan yang aku dapatkan, tetapi ketika aku menghubungi dukun yang kita gunakan, ternyata diapun merasakan hal yang sama. Apakah Renita melakukan serangan balik kepada kita.." Tommitius menceritakan apa yang dialaminya.
Wanto melihat dan memperhatikan pakliknya itu, memang paklik Tommitius akhir-akhir ini sering mengalami stamina drop, dan bahkan beberapa kali terlihat tidak datang ke kampus. Padahal sebelumnya, laki-laki tua itu meskipun sudah berumur di atas tujuh puluh tahun itu tetap terlihat enerjik, dan selalu dalam keadaan sehat. Bahkan, tidak jarang pakliknya itu masih mengikuti turnamen pertandingan tenis lantai.
"Nanti coba Wanto pikirkan caranya paklik. Sepertinya beberapa waktu lalu, teman Wanto mengatakan ada dukun ampuh di Purwodadi, dukunnya perempuan dan tinggal di tengah alas jati daerah tersebut. Kapan-kapan jika ada kesempatan, Wanto tak pergi ke sana paklik. Apa paklik mau ikut sekalian, nanti berdua kita sampaikan apa yang menjadi keinginan kita, dan minta agar disegerakan.." Wanto menyampaikan sebuah usulan,
__ADS_1
"Baiklah aku setuju.. tunggu setelah awal bulan saja, karena kita harus siap dana banyak, aku kemarinĀ mendengar untuk membunuh seseorang tarif yang diminta dukun di atas tiga puluh juta. Aku akan menunggu bunga deposito cair dulu, nanti kita bawa untuk ke Purwodadi." tidak diduga, Tommitius tanpa berpikir langsung mengiyakan. Kedua laki-laki non muslim itu memang lebih dekat ke kejawen, dan segala informasi tentang dunia klenik, sangat dikuasai oleh mereka.
********
Hani saat ini lebih berhati-hati dalam bertingkah laku di yayasan, setelah mendengar cerita Renita tentang siapa yang diindikasikan telah mengirimkan sesuatu kepada perempuan itu. Selain Tommitius, ternyata dari beberapa kali rukiyah, indikasi jika Hajah Andini turut mengirimkan sesuatu yang buruk pada Renita juga terjadi. Untuk itu, Hani lebih suka menghindari perempuan tua itu, Tetapi.. karena berada dalam satu unit kerja, perempuan muda itu merasa kesulitan untuk menghindari dari Andini.
"Hani.. uang yang aku berikan kepadamu bulan kemarin masih ada berapa..?" tiba-tiba saja, Hani dikejutkan oleh suara Hajah Andini. Perempuan muda yang sedang fokus di depan laptop itu, mengangkat wajahnya ke atas dan beradu pandang dengan perempuan tua itu.
"Masih ada tiga ratus ribu bu.. gimana. Apakah ada sesuatu yang harus saya beli sekarang bu..?" Hani menjawab pertanyaan perempuan tua itu.
"Aku pinjam dulu uangnya satu juta, aku harus menemui tamu yang dibawa Umam. pasti mereka nanti akan mengajak makan siang.." padahal Hani menjawab jika uang tinggal 300,000, tetapi bendahara yayasan itu malah meminta untuk meminjam satu juta.
"Bu Hajah.., masa ibu tidak mendengar kata-kata Hani. Uangnya hanya 300.000 ribu bu, masak bu Hajah mau pinjam satu juta, lha mau pakai uang siapa buuuu..." merasa jengkel, Hani berbicara dengan nada sedikit tinggi.
"Aku tidak mau tahu.. pokoknya aku pinjam dulu satu juta." seperti orang yang tidak punya perasaan, Hajah Andini terus meminta.
__ADS_1
"Tidak ada buuuu.... masak harus pakai uang pribadi saya. Ya tidak bisa begitu bu.., ini itu kampus bu, yayasan bu.., masa ibu tega meminjam uang pribadi Hani.." Hani terus mempertahankan diri.
"Ini ada apa to ini, dari tadi.. saya mendengar dari ruang sebelah bu Hajah dan mbak Hani ribut terus.." dari belakang Hajah Andini, Dodo tiba-tiba bertanya.
Hajah Andini terkejut, merasa kaget karena tidak sadar jika di belakangnya ada orang yang mendengar pertengkaran kecilnya dengan Hani. Namun.. karena dari segi umur sudah banyak pengalaman, sedikitpun tidak ada kekhawatiran pada diri perempuan itu.
"Tidak apa-apa, wis sana mas Dodo kembali ke ruangan saja, Ini urusan ibu dengan mbak Hani, cukup berdua saja." dengan nada datar, Hajah Andini malah mengusir pergi sekretaris yayasan dari tempat itu.
"Lha itu pak, masak bu Hajah mau pinjam uang satu juta dari saya. Padahal uang kas, tinggal tiga ratus ribu, masak harus pakai uang pribadi daya dulu, kan ga benar kan pak." Hani seperti mendapat kesempatan. Perempuan muda itu mengadukan apa yang dikatakan Hajah Andini kepadanya,
"Benarkah Bu Hajah..., ya ga bisa begitu kan bu.. Harusnya ibu ini yang malah meminjami mbak Hani, bukan malah kebalikannya. Bu Hajah kan bisa membuka pintu brankas, jika saya tidak lupa, sepertinya minggu ini saya melihat ada pencairan seratus juta untuk operasional khusus yayasan. Masa uang itu sudah habis.." terdengar Dodo membela hani.
"Tidak ikut campur kamu mas Dodo, anak kecil tidak tahu urusan orang tua.." tidak diduga, Hajah Andini berjalan meninggalkan ruangan itu.
Hani dan Dodo terhenyak melihat pemandangan itu, Dodo tidak habis pikir, dengan apa yang sudah dilakukan oleh Hajah Andini.
__ADS_1
"Mbak Hani.. nanti kalau ada apa-apa, mbak Hani omongi saya ya. tidak benar itu semua.." Dodo berjalan meninggalkan ruangan Hani juga akhirnya.
*******