
Beberapa saat Farhan masih terlihat berdoa untuk Renita, dan Bayu berdiri di samping laki-laki itu. Berkali-kali Renita berusaha meminta kedua laki-laki itu untuk pergi dengan alasan, jangan turut campur dalam masalah mereka. Namun keduanya tetap bertahan, dan terus berusaha untuk kesembuhan perempuan itu. Cahyono terlihat masih duduk dalam posisi dzikir dan membaca wiridan.
Diluar mushola, terlihat Inda menangis terharu melihat banyak orang peduli terhadap kondisi Renita.. Tetapi perempuan itu merasa ragu untuk masuk ke dalam, hanya melihat dari luar mushola. Mbak Dhenok mendekati Inda dan berdiri di sebelah kirinya.
"Mbak Dhenok.. aku terharu melihat suami Bu Renita. Pak Andri ternyata sangat menyayangi dan perhatian pada Bu Renita, padahal bukan orang Jawa. Aku terharu mbak, aku dan suamiku yang sama-sama orang Jawa saja tidak pernah diperlakukan seperti itu sama ayahnya anak-anak." Inda malah terharu sambil menunjuk ke dalam musholla.
"Iya mbak.. ya Allah kenapa sampai bisa segitunya ya pak Andri.. Aku sampai merinding." Mbak Dhenok ikut berkomentar.
"Lihatlah mbak, Bu Renita didekap, dipeluk dan diperhatikan seperti itu. Suami dunia akhirat itu, tampak pasrah menerima istri yang sedang sakit." Inda terus menangis sambil melihat ke arah dalam.
"Mbak Renita itu orang baik, jadi tidak minta pertolongan, orang-orang datang memberikan pertolongan. Kok ya tega, orang yang punya niat jahat padanya." ucap Dhenok.
Beberapa saat kedua perempuan itu tidak mau beranjak dari tempat itu, mereka masih terpaku melihat orang-orang yang berdatangan untuk memberikan pertolongan. Tiba-tiba..
"Mbak.. ayo kita ke auditorium dulu, nanti bisa-bisa kita dipanggil yayasan jika membolos." Dhenok seperti mengingat sesuatu.
"Ayo.. semoga Bu Renita segera mendapatkan pertolongan, dan cepat pulih kondisinya." sahut Inda.
Keduanya perempuan itu segera bergegas meninggalkan tempat tersebut. Beberapa orang yang lain juga mengikuti kedua perempuan itu dan segera menaiki anak tangga untuk menuju ke auditorium.
Di dalam musholla, masih terlihat Gita dan Kiki serta Noncy mendampingi Renita yang masih diupayakan agar sadar oleh Farhan dan Gita.
"Terima kasih pak Farhan...," tiba-tiba Renita seperti tersadarkan kembali.
"Coba kalau sudah sadar, siapa aku kalau tahu?" dari sisi sebelah timur, teman Renita dari fakultas yang sama, bertanya pada perempuan itu.
__ADS_1
"Pakde Pur..." ucap Renita.
Melihat Renita sudah tersadar, satu persatu pergi dan kembali bergabung dengan acara di auditorium. Tetapi orang-orang dekat Renita, tetap berada di tempat itu untuk menjaga perempuan itu.
"Ayah.... ayo pulang, kita kembali ke rumah." Renita berbisik mengajak pulang suaminya.
Tetapi Andri dan juga Noncy merasa jika Renita belum tersadar sepenuhnya. Mereka masih keukeuh bertahan di mushola.
"Ayo yah... mamah malu, lihat itu banyak orang melihat mamah dari luar mushola." Renita terus merajuk.
"Mereka cuma numpang duduk saja, mereka tidak melihat ke dalam sini." Noncy terdengar menenangkan.
Renita terus merajuk, dan Andri malah berbicara serius dengan Cahyono. Tiba-tiba masuk Hastho, laki-laki yang memang dekat secara emosi dengan keluarga Renita itu tampak turut duduk dan membacakan doa-doa untuk perempuan itu.
"Kita pindah ke masjid Al Ikhlas saja pak di unit dua.." akhirnya Cahyono mengambil jalan tengah.
Akhirnya Renita berdiri, dan ketika melihat Cahyono, tanpa sadar Renita mengacungkan genggaman tangan kemudahan memukul dada laki-laki itu. Terlihat Cahyono tampak kelelahan dan juga menahan rasa sakit.
*****
Masjid Al ikhlas
Baru saja Renita turun dari mobil, perempuan itu sudah berteriak-teriak ketakutan. Namun sama Andri, perempuan itu dipaksa masuk ke dalam masjid. Ada dua mahasiswa yang sedang sholat Dhuhur di tempat itu, tapi untungnya mereka segera menyingkirkan diri melihat Renita masuk dan rombongan.
Andri dan Hastho memegangi Renita, dan mas David petugas cleaning service yang dekat dengan mereka, juga tampak duduk mendampingi perempuan itu di dalam masjid. Tidak lama menunggu tiba-tiba Cahyono datang dengan ditemani satu dosen dari prodi PGSD yaitu Faizal
__ADS_1
"Mas.. pulang saja ya, anak dan istrinya ditemani. Tidak perlu turut campur dalam urusan ini. Kalian tidak akan bisa membuatku keluar, aku ini tidak akan keluar sebelum ibunya ini mati." Renita meminta Faizal untuk kembali.
"Mati .. mati . memang siapa yang kamu inginkan mati. Kata mati itu rahasia Allah, semua makhluk tidak boleh berusaha mengetahuinya." Faizal menyangkal perkataan yang keluar dari bibir Renita.
"Diam kamu, karena kamu ngeyel sejak tadi, maka jangan salahkan kami. Diminta diam, sudah sanggup malah kembali berbuat onar." kembali Cahyono terlihat marah. membentak makhluk itu.
Kedua laki-laki itu kembali membaca doa, dan Cahyono duduk di depan Renita sedangkan Faizal duduk di belakang perempuan itu. David ikut mendoakan demikian juga dengan Andri dan Hastho. Tetapi sampai Faizal kehabisan nafas, laki-laki muda itu mencoba mengeluarkan makhluk itu, tetap tidak mau keluar. Sampai akhirnya Faizal yang bertubuh gemuk itu kehabisan nafas dan tersengal-sengal.
"Bentar pak, tak telpon masuk dulu." akhirnya tidak lama kemudian, Faizal melakukan panggilan kepada kakaknya yang berada di Demak. Laki-laki itu mengatakan jika atasannya saat ini sedang membutuhkan bantuan. Terdengar kakaknya menyampaikan hal-hal yang harus dilakukan.
Tidak lama kemudian kedua laki-laki itu kembali membaca doa, dan dengan sekuat tenaga berusaha untuk mengeluarkan jins yang selalu mengganggu Renita. Namun sampai keduanya terengah-engah kehabisan tenaga, Renita masih belum bisa untuk dikendalikan.
"Aku menyerah pak Cahyo, energiku sampai tersedot habis tapi belum bisa menarik keluar." akhirnya Faizal tidak sanggup lagi untuk meneruskan.
"Padahal tubuhnya sudah remuk redam, terpotong-potong tapi tetap saja bertahan. Aku penasaran pak Faizal, suka ngelantur, berbohong sana sini." Cahyono terus berkomentar.
Melihat kedua laki-laki yang berusaha keras membantu istrinya, Andri sampai muncul rasa kasihan. Laki-laki itu masih terus memeluk istrinya, dan tiba-tiba Andri menatap ke arah jam dinding.
"Mas Cahyo.., mas Faizal dan yang lainnya. Waktu Ashar sudah mau datang, tidak etis jika banyak jamaah masjid melihat keadaan istri saya. Mau saya ajak pulang saja mas.." akhirnya Andri mengambil keputusan tegas.
"Iya pak... perbanyak baca An Nas ya pak, sekuatnya." Cahyono menanggapi.
Akhirnya Renita berdiri dan dengan dipegangi Cahyono segera dibawa menuju ke dalam mobil.
"Bu Renita.., baca sebanyak-banyaknya surat An Naas ya Bu ._ " Cahyono terus berbisik di telinga perempuan itu.
__ADS_1
"Ya mas.., Inshaa Allah.." terdengar lirih bacaan surat An Naas dilantunkan oleh Renita sampai perempuan itu masuk ke dalam mobil.
*******