
Sore harinya
Setelah mengisi perut sesuai dengan keinginan Zidan, Andri segera melajukan mobil menuju ke desa Karangasem, Dengkeng. Sebuah desa yang memiliki pemandangan yang indah karena seperti berada di tengah-tengah sebuah
gunung. Di pinggir desa, Ketika memandang ke selatan barisan pegunungan seribu tampak hijau memanjakan mata. Begitu melihat ke arah timur, terlihat bukit Gunung Bayat juga terlihat hijau dan indah. Tetapi Ketika menghadap ke utara, Gunung Merapi tinggi menjulan menunjukkan kegagahannya.
Butuh waktu hampir satu jam untuk menempuh perjalanan menuju desa tersebut, dan setelah mereka mengisi perut, mereka tidak mampir lagi dalam perjalanan. Tidak lama kemudian, mobil yang dibawa Andri sudah memasuki jalan kampung menuju rumah kakak Renita.
“Ternyata pesta besar ma, lihat tarub bleketepe yang dipasang di depan rumah itu. Seperti pintu gerbang yang menyambut kedatangan para tamu.” Andri mengomentari tarub yang menandakan adanya hajatan pengantin.
“Iya.. ternyata. Parkir di depan rumah pakdhe Uyo saja yah, hanya ada satu mobil punya pakde Uyo.” Renita menunjuk ke arah rumah yang ada di sebelah barat tempat dilangsungkannya hajatan.
Andri mengikuti arah yang ditunjukkan Renita. Laki-laki itu segera memarkir mobil, dan Ketika mereka keluar dari dalam mobil, saudara sepupu Vian dan Zidan sudah tersenyum menyambut mereka. Karena mereka memang tidak membawa barang apapun, mereka langsung masuk ke dalam, melewati bleketepe yang terbuat dari janur pohon kelapa.
“Yah.. tubuh mama sakit banget yah, nyeri kayak ditusuk-tusuk.” Begitu melewati bleketepe, tiba-tiba Renita merasakan kesakitan di sekujur tubuhnya.
Paham dengan apa yang diderita oleh istrinya, Andri hanya membacakan ayat kursi dan dibisikkan ke telinga istrinya.
“Sabar mah.. ini kebetulan kan hari libur. Mungkin yang kirim ke mamah itu lagi libur juga, jadi punya waktu luang untuk pergi ke dukun.” Dengan suara lirih, Andri menanggapi perkataan istrinya.
Dari arah pintu depan, kakak kandung dan kakak ipar Renita keluar dan menyambut keluarga adiknya itu.
__ADS_1
“Dhik Atik mana dhik.. ga barengan apa?” mbak Win bertanya tentang kakak perempuan Renita, yang sama-sama tinggal di Jogja.
“Ga tahu mbak, malah kami pikir mbak Atik sudah sampai duluan. Karena kami tadi harus nunggu Zidan dulu pulang sekolah. Kalau Vian, kebetulan sih pas tidak ada kuliah siang, jadi langsung bisa kita ajak.” Renita menanggapi perkataan kakak iparnya itu, sambil mereka berjabat tangan.
“Oh ya sudah, duduk dulu dik. Biar dibuatkan minuman oleh Tutut..” mbak Win meminta Renita untuk segera duduk di kursi.
Sambil memijat-mijat dan membaca ayat-ayat pendek, Renita duduk di kursi Panjang untuk pelaminan besok pagi. Tempat itu sepi, jadi tidak ada yang mengganggu perempuan itu sambil membuka-buka ponselnya.
Tiba-tiba Renita merasa ada yang melihatnya sejak tadi, perempuan itu memberanikan diri untuk menatap balik orang yang memandangnya. Seorang perempuan cantik berkulit putih, tampak beradu pandang dengan Renita, dan perempuan itu tidak mengenalnya. Tetapi begitu dipandang, dengan cepat perempuan itu mengalihkan pandangan dan bergegas pergi dari tempat itu. Karena merasa tidak kenal dan juga tidak tahu siapa dia, Renita mengabaikan penglihatannya itu.
Renita kembali membuka media sosial grup wa dengan teman-teman kuliah S3 nya, karena kebetulan pada minggu lalu, perempuan itu dijadwalkan untuk melakukan seminar kolokium, tentang rencana studi ke depan. Untuk itu, Renita tidak bisa main-main, dia harus betul-betul mempersiapkan materi yang akan dipresentasikan.
"Wulan, wulan siapa Tut??" merasa bingung, Renita kembali bertanya. Tetapi karena sejak tadi juga merasa nyeri, akhirnya Renita berpindah tempat duduk.
"Mbak Wulan itu istrinya mas Anton bulik, kebetulan di tubuh mbak Wulan itu kan ada khodam, jadi bisa melihat. Tadi mbak Wulan sengaja menyingkir, tidak mau bertemu dengan bulik. Karena mbak Wulan sedang menstruasi, dan yang ada di tubuh bulik mau masuk ke tempat mbak Wulan. Merasa tidak bisa mengontrol dirinya, akhirnya mbak Wulan sengaja menyingkir." Tutut menceritakan tentang siapa Wulan,
Renita terdiam tidak menanggapi perkataan keponakannya, karena rasa nyeri di tubuhnya semakin nyeri. Apalagi, Renita memiliki keyakinan, jika hanya orang memberi tahu dirinya sedang sakit, diapun bisa merasakan sendiri. Yang dibutuhkan adalah orang yang bisa membantu untuk menyembuhkannya.
******
Perjalanan menuju hotel
__ADS_1
Untuk menjaga kondisi istrinya, sebelum Maghrib Andi mengajak istri dan putra-putranya untuk kembali beristirahat di hotel. Ternyata mbak Nur dan Ali keponakan Renita, juga mengikuti mereka untuk kembali ke hotel. Kebetulan kakak Renita membawa mobil sendiri.
"Yah.. tadi mamah dibilangi mbak Win sama Tutut, tapi mamah tidak begitu paham ." dalam perjalanan pulang, di mobil Renita bercerita tentang kejadian di rumah kakaknya.
"Kenapa, minta bantuan apa?" tanya Andri sambil melihat ke wajah istrinya, tetapi kemudian kembali memegang setir kemudi.
Renita kemudian menceritakan kejadian tadi siang, tetapi renita juga mengatakan jika dia kurang memahami apa yang diucapkan oleh Tutut. Apalagi keadaan tadi, berada di keramaian jadi lebih baik untuk mengerem suasana.
"Hmm.. siapa tadi mah namanya saudara ipar sepupu Tutut tadi..?" rupanya Andri tertarik.
"Wulan atau siapa tadi, mamah lupa. Katanya Wulan bisa lihat, trus penyebabnya apa juga bisa menerawang." Renita menanggapi perkataan suaminya.
"Besok ayah carinya saja mah.. Ayah akan bertanya, sebenarnya seperti apa yang dialami mamah. Siapa tahu perempuan tua itu tahu dimana mamah akan mendapatkan kesembuhan. Kita harus ikhtiar mah, tidak boleh hanya pasrah dengan hal buruk ini. Allah kan juga memerintah hamba-Nya untuk berikhtiar, masalah hasilnya nanti kita kembalikan lagi kepada Allah." Renita mendengarkan ucapan suaminya, tetapi dia tidak ikut berkomentar.
"Mbak Wulan itu siapa to mah, Zidan kok tidak tahu. Harusnya mamah itu besok cariin yang namanya mbak Wulan, trus nanya-nanya., siapa itu jalan mamah untuk bisa sembuh," dari kursi belakang, putra bungsu Renita dan Andri bertanya. Anak itu memang sangat dekat pada mamahnya, dan hatinya sangat sensitif, dibanding dengan kakaknya. Kalau anak yang besar, dia hanya mendengarkan, terus berpikir tapi jika masih bisa menyelesaikan, tidak akan menyampaikan pada orang lain.
"Mamah juga tidak tahu dhik.. itu ayah mau besok mau cari tahu. Kemungkinan mbak Wulan itu anaknya kakak bude Win yang tinggal di Bekonang itu lho." Renita menjawab pertanyaan Zidan.
"Iya dik, besok pagi ayah mau cari tahu yang mana orangnya, tanpa mamah." sambil menyetir, Andri mengiyakan.
*******
__ADS_1