
Setelah melakukan pembimbingan skripsi pada dua mahasiswa, akhirnya Renita memutuskan untuk kembali pulang ke rumah. Tanpa beban, Renita keluar dari dalam gedung C dan menuju ke arah mobilnya yang kali ini sengaja diparkirkan di dalam halaman kampus. Tiba-tiba saja, muncul pikiran untuk menemui Kepala BAUK selaku pihak yang mengedarkan undangan, dan akan menemui pak Adi selaku WR I yang memberikan undangan kepadanya. Tanpa berprasangka apapun, Renita tidak jadi mampir ke mobil namun langsung menuju dan masuk ke Gedung A. Melihat pIntu BAUK terbuka, Renita masuk ke dalam dan ketemu dengan karyawan BAUK yang masih muda-muda.
"Wey ada bu Renita.. bagaimana bu .. sehat..?" Renita memang sangat familiar dengan anak-anak di unit kerja ini. Selama Renita menjadi WR II selama dua periode, anak-anak ini memang satu jalur koordinasi dengannya, sehingga terjalin keakraban dengan mereka.
"Alhamdulillah.. mas, mbak.. selalu sehat selalu. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" Renita menanggapi sapaan dari anak-anak muda itu.
"Benar bu.. yang penting masih bisa healing, refreshing.. pasti semua masalah akan pergi dengan sendirinya." mbak Risma menyahuti perkataan Renita.
Karyawan muda lainnya saling menanggapi perkataan Risma dan Renita, dan ruangan yang biasanya sepi itu, tiba-tiba menjadi gayeng dan hidup karena kedatangan Renita ke ruangan itu.
"Mas Ronn... by the way pak Ibnu kemana ya mas.. kenapa bisa-bisanya menyampaikan undangan kepadaku. Seperti tadi yang sudah aku katakan di atas, hidupku sudah nikmat, jangan libatkan aku dalam intrik, dalam permainan yang tidak ada manfaat untuk diriku. hidupku hanya untuk mencari kemaslahatan, bukan untuk mencari mudharat mas..." Renita menyela percakapan anak-anak muda itu.
"Ha.. ha.. ha.. pasti karena Pengadaan Barang dan Jasa Hibah MBKM ya bu.. Mbak Risma bu Ren.., yang mengundangnya." Ronny menyebut nama Risma.
"Bukan saya bu yang punya ide, mas Andi bu.. yang meminta saya untuk menyampaikan undangan ke ibu.." Risma berteriak membela diri. Kembali ruangan BAUK menjadi hidup dan heboh karena kedatangan Renita ke tempat itu.
"Aku itu sudah gantung sepatu, sudah tidak mau terlibat lagi dalam urusan seperti ini. Apalagi masalah pengadaan barang dan jasa, urusannya sama pemerintah bukan secara internal." Renita tanpa sadar mengemukakan pendapat.
"Iya bu.. dananya diatas 400 juta lebih. Itu harus tender bu.. kalau hanya sedikit saja, teman saya bisa menggarapnya, UP hanya terima beres saja.." mendengar perkataan arogan Ronny, Renita hanya tersenyum kecut. Tetapi ketika akan menjawab dan memberikan pelajaran pada anak muda itu, untungnya Renita mengingat posisinya sekarang.
__ADS_1
"Renita.. kendalikan dirimu, sudah bukan menjadi urusanmu lagi. Jangan ikut campur.." sisi hati Renita seakan berbisik memberikan peringatan kepadanya. Akhirnya perempuan itu hanya menghela nafas untuk menetralisir perasaannya kembali.
"Saya malah ga tahu mas, proposal seperti apa saya juga tidak tahu, dan juga tidak mau tahu berapa jumlah dananya. Hanya mau memprotes, jangan pakai dan libatkan nama saya lagi, itu saja." Renita menanggapi perkataan Ronny dengan berada di tengah-tengah, terkesan netral.
"Saya tahunya bu.., karena kemarin bu Rina datang ke ruangan ini sampai menangis-nangis bu.. Bilang sama pak Ibnu.. katanya sudah terlanjur dibelanjakan dananya, atau gimana saya malah tidak tahu bu.." Ronny masih terus melanjutkan obrolan tentang pengadaan yang mengundang Renita itu.
Tidak mau banyak terlibat dengan urusan kata-kata Ronny, akhirnya Renita memutuskan untuk segera beranjak pergi dari ruangan itu. Perempuan itu segera berpamitan, dan berpindah ke lantai dua untuk menemui pak Adi.
********
Sebelum masuk ke ruang Rektorat. Renita membaca Al Fatehah sebanyak tiga kali, untuk mencegah aura negatif masuk dan membuatnya tidak seimbang. Sebenarnya selama ini, perempuan ini selalu membatasi dirinya untuk tidak masuk ke ruangan itu, namun karena ingin mencabut namanya agar tidak dilibatkan dalam Tim pengadaan barang dan Jasa, akhirnya Renita harus ke ruangan itu.
"Wa alaikum salam.. ada bu Renita, sini bu.." dengan ramah Mas Andi memberi sapaan balik pada perempuan itu. Tampak rasa senang terlihat di wajah Andi, ketika bertemu dengan Renita. Bagaimanapun selama delapan tahun mereka bekerja bersama, dalam ruangan yang sama pasti akan meninggalkan banyak kenangan pada mereka.
"Pak Adi ada mas Andi.." Renita kemudian masuk ke dalam ruangan, kemudian duduk di samping laki-laki muda itu.
"Waduh.. baru saja berangkat ke Griya Persada Kaliurang bu Ren.. Ibu terlambat, ada apa bu.. apakah ada yang bisa saya bantu untuk menggantikan pak Adi.." mas Andi mencoba mengajak Renita bercanda.
"Hanya mau konfirmasi saja mas Andi.. minta tolong untuk tidak melibatkan nama saya dalam pekerjaan-pekerjaan penting UP. Mas Andi paham maksud perkataanku kan, karena hanya aku yang merasakannya mas. Semakin aku masuk ke dalam, semakin aku merasakan kesakitan mas.." tanpa sadar Renita malah curcol pada anak muda itu.
__ADS_1
"Iya bu.. saya juga paham dengan kondisi yang dialami bu Renita. Saya juga ikut merasa prihatin bu, tapi yah.. bagaimana lagi saya juga tidak bisa ikut membantu menyelesaikannya bu." ucap Andi tulus.
Renita terdiam dan hanya bisa tersenyum kecut. Tiba-tiba pintu ruang kerja pak Sukekh terbuka, dan laki-laki yang juga cukup kenal dekat dengan Renita itu terlihat bahagia bertemu dengan Renita.
"Ternyata ada kakakku disini.. ayo bu mampir ke ruanganku.." Sukekh mengajak Renita untuk masuk ke dalam ruangannya.
"He.. he.. he.. maaf ya pak, aku ada kode etik untuk tidak boleh masuk ke ruangan pak Ukekh. Ada yang menjaga di dalam ruangan pak Ukekh, hanya saja itu bukan penunggu asli, melainkan dipasang untuk membungkam pak Sukekh agar menurut, dan tidak bicara banyak." karena memang akrab dengan laki-laki itu, Renita dengan polosnya mengatakan firasat yang dirasakannya.
Andi melihat ke arah Renita sambil tersenyum, dan ternyata ekspresi berbeda dirasakan Sukhekh. Tampak perubahan ekspresi di wajah laki-laki itu.
"Yang benar bu Renita.. wah kalau begitu aku harus menelpon guruku di Brebes nih." Sukekh terlihat panik.
Tiba-tiba dari luar ruangan, Renita melihat kelebatan mas Cahyono. dan Renita langsung memanggilnya dan memintanya masuk ke dalam ruangan.
"Masuk mas Cahyo.. tidak ada orang kok.. aman.." Renita meminta Cahyono masuk.
Laki-laki muda itu kemudian masuk ke dalam, dan seperti biasa tatapan tajam dari laki-laki itu seakan menembus ke dalam hati Renita. Sukekh kemudian mendekati Cahyono, kemudian menanyakan apa yang tadi disampaikan Renita kepadanya.
"Ha.. ha.. ha.., ibu tadi membilangi apa sama pak Sukekh bu Ren.." Cahyono malah tertawa dan balik bertanya pada Renita.
__ADS_1
**********