
Senin pagi
Seperti hari-hari biasanya, setiap pukul 03.30 wib, Renita selalu bangun untuk melakukan mandi pada waktu sepertiga malam. Selesai mandi akan dilanjutkan dengan sholat tahajud dan sholat witir. Begitu juga dengan pagi ini, setelah mandi Renita segera mengambil air wudhu dan kemudian mengerjakan sholat tahajud. Ketika melakukan sujud, Renita mendadak merasakan rasa sakit dan kepala pusing tetapi hanya di mata sebelah kiri ke bawah sampai di bawah pipi. Perasaan Renita menjadi tidak nyaman. Namun Renita kemudian melakukan istighfar seperti biasanya.
"Ya Allah.. beri hamba kesembuhan dari rasa sakit ini ya Allah. Meskipun hamba ingin meragukan dan tidak meyakini, jika rasa sakit ini karena disebabkan oleh makhluk-Mu yang bernama jin, dan karena ridho-Mu pula bisa masuk ke dalam tubuh hamba. Namun rasa ini sangat jelas dan aneh ya Allah, berilah hamba kesembuhan. Aamiin." Renita berdoa dalam hati setelah melakukan sholat shubuh.
Setelah selesai melakukan sholat Shubuh, Renita segera menyalakan laptop untuk menyalakan you tube Muzammil Hasballah, untuk bersama-sama melakukan dzikir pagi. Masih mengenakan mukena, Renita duduk dengan menghadap laptop, karena selain melakukan dzikir pagi, Renita juga membaca arti dari ayat-ayat dzikir yang dibacanya. Ayat demi ayat dibaca Renita dengan diawali dengan membaca ayat kursi satu kali, kemudian dilanjutkan dengan Al ikhlas, Al Falaq, dan An Naas masing-masing tiga kali. Tiba-tiba..
"Aduh.. ya Allah.. rasa sakit apa lagi ini ya Allah. Pedih.. aakh.." Renita merintih kesakitan sambil memegangi alat *********** dari luar. Tiba-tiba Renita merasakan rasa pedih di dalam alat ***********, rasanya seperti disayat dengan menggunakan silet.
"Astaghfirullahaladzim; Aku memohon ampunan kepada Allah yang Maha Agung." bibir Renita memohon ampunan kepada Allah, sambil meniup dan mengusap beberapa kali tempat yang sakit.
Syukurlah beberapa saat Renita bisa menguasai keadaannya, kemudian melanjutkan kembali membaca dzikir pagi sampai dengan selesai. Kira-kira hampir empat puluh lima menit kemudian, akhirnya dzikir pagi sudah selesai dibaca oleh Renita. Menggunakan telapak tangannya, Renita mencoba mengusap mata kirinya yang masih terasa pusing, dan melakukan pijatan-pijatan ringan di area alis dan sekitar matanya.
"Kenapa belum hilang ya, atau aku pakai tiduran dulu.." Renita bergumam sendiri.
Perempuan itu kemudian berjalan menuju ke atas ranjang, kemudian membaringkan tubuhnya di atas ranjang sambil terus melakukan dzikir. Untungnya tidak lama kemudian, Andri naik ke lantai atas, Melihat istrinya yang sedang melakukan dzikir sambil tiduran, muncul keheranan pada laki-laki itu.
"Ada apa ma, apakah ada yang sakit lagi.." tanya Andri lirih, karena sudah terbiasa menghadapi kesakitan yang dialami oleh Renita.
__ADS_1
"Iya yah.. coba ayah pegang area mata turun ke kiri ya.. rasanya seperti pusing gabung dengan rasa nyeri. Tetapi anehnya hanya sebagian saja." Renita meminta tolong suaminya untuk membacakan surat-surat pendek, dan mengusap serta meniup area sekitar mata kirinya.
"Tunggu sebentar mah, ayah tak pakai baju dulu.." Andri kemudian mengambil kain sarung, dan mengganti kaos yang dikenakannya kemudian.
Beberapa saat kemudian, seperti biasanya Andri berdiri di depan Renita yang duduk di tepi ranjang. Laki-laki itu kemudian membacakan surat-surat pendek sampai beberapa kali.
"Sakit... panas... panas... aaaghh..." tidak diduga, ketika Andri membacakan surat-surat pendek, tubuh Renita bereaksi. Mulut Renita terus merintih merasa panas dan kesakitan. Andri tidak terpengaruh laki-laki itu terus mengulang-ulang bacaannya. Setelah selesai, Andri mengusapkan tangannya pada mata istrinya, kemudian meniup perlahan.
"Terima kasih yah.. mamah tak pejam mata sebentar ya. Nanti ada kelas jadwal mengajar jam 07.30 wib." Renita meminta ijin pada suaminya untuk pergi mengajar.
**********
Satu jam kemudian
"Okay.. kita mulai saja ya pelajarannya, semua sudah datang kan..?" Renita kemudian memulai pembelajaran.
Beberapa mahasiswa tampak antusias mengikuti proses pembelajaran, dan jika ada yang belum mereka pahami, mahasiswa tidak sungkan untuk mengajukan pertanyaan. Ketika Renita memberikan contoh soal hitungan untuk dikerjakan mahasiswa, tiba-tiba Renita teringat jika ada undangan rapat pada jam 09.00 oleh WR I.
"Aku tidak mau, hanya gara-gara rapat harus mengosongkan kelasku selanjutnya. Aku akan ijin saja, lagian untuk apa melibatkan aku dalam kegiatan-kegiatan di UP." Renita berpikir sendiri, dan akhirnya muncul keinginan untuk tidak menghadiri rapat di ruang sidang rektorat.
__ADS_1
Selama menjabat menjadi WR II, Renita memang akrab dengan admin dan sekretariat di Rektorat. Dan mas Andi mengetahui juga jika dirinya sering mendapatkan gangguan metafisik, dan akhirnya Renita memutuskan untuk mengirimkan ijin tidak menghadiri rapat melalui laki-laki muda itu.
"Assalamualaikum mas Andi, terkait undangan jam 9,
1. saya pas ngjar
2. Secara psikis saya hari ini agak oleng(😭😭😭). Saya ga boleh memaksakan diri untuk rapat mas\, nanti saya drop
3. Saya dimintakan ijin ya mas\, atau pakai zoom saya malah mau 🙏🙏🙏
Terima kasih.."
Setelah pesan terkirim, Renita melanjutkan kuliahnya. Perempuan itu berjalan ke belakang, melihat kerjaan yang dikerjakan oleh para mahasiswanya. Tiba-tiba ponselnya membunyikan notifikasi jika ada pesan masuk, dan Renita segera mengambil ponsel dan membukanya.
"Waalaikum salam, ..Baik bu saya sampaikan pak Adi bu izinnya." ternyata mas Andi membalas pesan yang dikirimkan kepadanya.
Dengan perasaan senang, Renita kembali melanjutkan memberikan materi kuliah, dan tidak ada kendala apapun. Bahkan setelah kelas ini selesai, dan kemudian dilanjutkan dengan kelas lainnya, Renita bisa menangani pembelajaran dengan sangat baik. Rasa pusing, rasa nyeri yang sejak tadi pagi dirasakannya, ternyata malah menjadi hilang dan tidak terasa lagi.
"Terima kasih ya Allah.., atas nikmat sehat yang Engkau berikan ya Allah. Atas kuasa-Mu.. hamba-Mu ini bisa dengan cepat mendapatkan kesembuhan. Puji syukur selalu hamba panjatkan hanya kepada-Mu ya Allah.." dalam hati Renita mengucap rasa syukur, karena rasa nyeri dan rasa sakit yang diirasakannya sejak pagi tiba-tiba hilang tak berbekas. Bahkan Renita seperti merasakan sebuah semangat dan tenaga baru.
__ADS_1
"Memang hanya Engkau Yang Maha Pencipta, yang bisa membolak-balikkan hati manusi. Hanya dengan membatin saja, Engkau bisa mengatur semua yang ada di dunia ini atas kehendak-Mu ya Allah," merasa bersyukur, hati dan bibir Renita tidak berhenti mengucap syukur, dan bermunajat kepada Allah.
*********