
Renita terpekur mendengarkan kata-kata tausiyah dari ustadz, dan air matanya mengalir deras. Perempuan itu menangis terisak-isak, menyadari betapa dirinya akhir-akhir ini telah jauh dari Allah. Jika ada perintah atasan, atau tanggung jawab yang harus segera diselesaikan, Renita bergegas untuk menyelesaikannya. Namun, untuk urusan kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan kepada Allah dalam sholat lima waktunya, sering hanya dilakukan seperti sebagai penggugur kewajiban saja. Dosa-dosa saat ini terasa mentertawakan Renita, dan membuat perempuan itu semakin terisak.
"Bulik.. yang sabar ya, ini ujian. Inshaa Allah pada saatnya bulik akan bisa sembuh seperti sedia kala, hanya ini memang membutuhkan waktu. Sepertinya bulik Ren,, ini belum menyadari Ustadz.. jika kiriman itu sudah sangat lama berada di tubuh bulik. Baru akhir-akhir ini bulik Ren menyadarinya.." Wulan yang sejak tadi diam, turut memberikan komentar.
"Iya bulik.. yakin saja sama kebesaran Allah. Manusia diciptakan Allah lebih mulia dari makhluk itu, dan hilangkan dendam pada orang yang disinyalir telah membayar dukun untuk menyakiti bulik. Pasti akan sembuh, itu juga terjadi pada kakak ipar saya, kakaknya Wulan. Padahal kakak ipar saya orang yang salah, tetapi disini bulik kami lihat dalam posisi benar.." Anton menambahkan.
Semua terdiam, dan hanya isakan tangis Renita yang masih terdengar. Ustadz terlihat menghela nafas, kemudian memandang wajah Andri suaminya Renita.
"Pak Andri.. perlu dipahami bersama, jika saya bukan penyembuh. Yang Maha menyembuhkan hanya satu, yaitu yang memiliki hidup semua makhluk di bumi ini. Untuk proses penyembuhan bu Renita, ini tidak bisa berlaku secara instan pak, semuanya membutuhkan proses. Jadi ibarat lapisan-lapisan, maka lapisan yang paling atas yang keluar terlebih dahulu. baru nanti lapisan-lapisan di bawahnya akan mulai terusik dan bangun.. Pak Andri bisa memahami apa yang saya katakan.." dengan penuh asih, ustadz menyampaikan pemahaman pada Andri. Renita ikut mendengarkannya.
"Paham ustadz, sejak awal kami memutuskan untuk sowan kepada ustadz, kami menyadarinya ustadz. bahkan istri saya, berkali-kali mengatakan jika dia ridho dengan ketentuan Allah yang saat ini sedang diterimanya. Inshaa Allah akan sebagai penggugur dosa-dosanya. Hal ini membutuhkan proses.." sahut Andri sambil menoleh pada istrinya.
"Iya ustadz, bahkan saya saat ini tidak bisa merasakan apa yang saya rasakan ustadz. Benci, dendam, ataupun apa perasaan itu saya rasakan tidak ada. Atau bisa dikatakan saya sudah mati rasa ustadz, hal ini secara nyata kami rasakan sudah selama tiga tahunan. Mungkin sudah jauh sebelum itu, hanya saja karena masih mengejar ambisi duniawi, semuanya tidak terasa." akhirnya Renita selaku topik pembahasan turut bicara,
"baiklah pak Andri, bu Renita.. mungkin cukup untuk rukiyah hari ini. Jika diteruskan, saya malah khawatir dengan kondisi bu Ren.. karena energinya seperti sudah tersedot habis. Lain waktu Inshaa Allah kita lanjutkan lagi.." akhirnya ustadz Abdurrahman mengakhiri proses rukiyahnya.
"Semangat bulik, nanti akhirnya akan terbuka dengan sendirinya. Begitupun yang terjadi pada kakak saya, siapa yang mengirim, motifnya apa.. yang penting bulik harus sabar.." Anton dan Wulan menambahkan.
__ADS_1
Andri dan Renita hanya menganggukkan kepala, tidak menanggapi pasangan suami istri itu. Terlebih Renita, saat ini bahkan perempuan itu tidak bisa merasakan apa yang ada di hatinya. Shock, cemas, was was, berharap sembuh semua menjadi bercampur baur menjadi satu. mereka akhirnya segera membereskan air minum yang sudah didoakan oleh ustadz, dan bersiap untuk pulang.
******
Hari-hari selanjutnya
Setelah melakukan theraphy rukiyah, Renita menjadi semakin bertambah cemas. Tanpa diketahui suaminya, Renita sering terlihat melamun sambil menerawang. Perempuan itu hanya berpikir, kenapa dirinya yang menjadi target pengiriman santet. Padahal, sedikitpun dia tidak berpikir untuk menguasai atau membuak aib seseorang di UP. Hanya saja, memang Renita juga sadar, dirinya jika sudah berbicara kadang un loose control. Dan tanpa dia ketahui, apa yang dikatakannya sering dipatuhi atau didengarkan oleh orang-orang.
"Mau kemana mah.. apakah mau ke kantor?" Renita tersentak, tiba-tiba suaminya sudah ada di belakangnya.
"Bagus mah.. ayah antarkan saja. kebetulan hari ini ayah tidak ada kerjaan, nanti seperti biasa ayah akan menjemput." masih merasa khawatir dengan kondisi fisik dan psikis istrinya, Andri menawarkan bantuan.
"Thanks. yah.." sahut Renita singkat.
Tanpa diminta, Andri kemudian membantu istrinya bersiap. Dengan cekatan, Andri menutup laptop kemudian memasukkan ke tas back pack, merapikan mouse, dan kabel charger. Setelah menutup tas, laki-laki itu mendahului turun ke lantai bawah dan memasukkan semua perlengakapan Renita ke dalam mobil.
"Brooom.., brooom..." terdengar suara mobil dipanasi oleh Andri di garasi.
__ADS_1
Renita mempercepat proses make upnya, dengan cepat karena merasa kasihan jika suaminya lama menunggu, perempuan itu segera berganti pakaian dan memasang kerudung segi empat di kepalanya. Tidak lama kemudian, perempuan itu turut turun ke bawah.
"Kakak. kakak ke kampus jam berapa. Mamah mau berangkat ke kantor, ayah juga mau pergi mengantarkan mamah.." sebelum keluar rumah, seperti biasa Renita melihat anak sulungnya yang masih tidur di kamarnya. Anak itu memang memiliki kebiasaan tidur larut malam, sehingga susah untuk bangun pagi. begitu dibangunkan untuk sholat shubuh, dia mengerjakan tapi kembali lagi untuk tidur.
"Apa mah.. Vian masih ngantuk.." anak itu membuka matanya sebentar. dan seperti orang bingung bertanya lagi kepada Renita.
"Kamu ada kuliah jam berapa, bangun sekarang. Mamah dan ayah sudah akan berangkat, nanti tidak akan ada yang membangunkan kamu.." masih dengan sabar Renita mengingatkan putranya. Anak memang merupakan sebuah ujian, dan bahkan juga menjadi sebuah fitnah untuk kedua orang tuanya. Hal itu jelas tertulis dalam Al-Qur'an.
"Sudah mamah berangkat saja, Vian sudah pasang alarm. Kapan harus bangun, kapan harus kuliah.." tidak diduga, Vian malah berbicara tinggi terhadap mamanya.
Renita tersentak, namun dengan cepat perempuan itu berusaha menguasai dirinya. Dari luar, terlihat Andri berjalan masuk dan akan mendatangi kamar anaknya. melihat hal itu, kedua tangan Renita mendorong dada suaminya, dan mengajak Andri keluar dari rumah.
"Mamah itu selalu begitu, melindungi anak-anak. Mereka itu harus dilatih, diarahkan sejak dini, biar tidak ngelunjak dan berani pada kedua orang tua." seperti yang sudah diduga, suaminya akan marah melihat putranya berani berbicara sedikit keras pada mamanya.
"Iya yah.. ikhlasin saja. Inshaa Allah pada masanya, mereka akan sadar sendiri. Maklum usia-usia segitu, masih usia penantangan yah. Kita sebagai orang tua hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk anak-anak kita. Aamiin.." Renita segera masuk ke dalam mobil.
*******
__ADS_1