
Renita dengan cepat menggulir ponsel, dan membuka chat yang dikirimkan Suryo. Ternyata Suryo menanyakan bagaimana kabar kesehatannya. Renita terdiam dan berpikir, kenapa kalau bukan Suryo, pasti Cahyono, begitu dia mendapatkan rasa sakit, salah satu dari kedua anak muda itu selalu mengirim pesan kepadanya. Renita berpikir seperti relate antara yang dia rasakan dengan keduanya.
"Alhamdulillah mas... secara keseluruhan kami sekeluarga sehat mas, dan kami juga sudah melakukan tetirah meninggalkan rumah untuk sementara waktu. Hanya saja, pas sekarang ini rahang, telinga, dan sampai alis kiri saya rasanya nyeri sakit banget sejak tadi pagi." tanpa menutupi keadaannya, Renita menceritakan apa yang dirasakannya saat ini.
"Cari air putih satu gelas ya mbak. Kemudian bacakan Al Fatehah, ayat kursi, Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas masing-masing tiga kali, juga sholawat nabi sebanyak tujuh kali. Setelah itu ditiup airnya sebanyak tiga kali, kemudian diusapkan di tempat yang sakit, dan ubun-ubun serta pusar mbak Renita. Untuk sisanya, air tadi diminum ya mbak." dengan runtut Suryo memandu Renita,
"Baik mas.. akan aku coba lakukan. Terima kasih ya mas, semoga mas Suryo dan keluarga selalu dalam keadaan sehat, salam untuk Nyonya ya.." Renita membalas pesan yang dikirimkan Suryo.
"Sama-sama mbak, semoga mbak Renita sekeluarga selalu dalam lindungan-Nya, dan segera disehatkan dari penyakit-penyakit tak terlihat. Aamiin. Sudah ya mbak, assalamu alaikum.." Suryo mengakhiri chatnya.
"Wa alaikum salam.." Renita segera meletakkan ponselnya, karena ponselnya sudah akan habis baterainya.
"Apa mah.. yang dikatakan mas Suryo." Andri bertanya pada istrinya, sambil menyesap minuman yang baru saja diantarkan oleh pelayan.
Renita kemudian menceritakan apa yang disarankan oleh Suryo tadi pada suaminya. Andri manggut-manggut, dan kemudian berdiri.
"Ayah mau kemana.., nanti saja kalau kita sudah di hotel melakukannya. Masak di tempat ini, mamah mau membasahi ubun-ubun dengan air putih, kemudian mencuci muka, bisa-bisa diketawain orang.." Renita meminta suaminya untuk menunda untuk membuat ramuan itu,
__ADS_1
"Halah mah.. itu kan masalah teknis. Setelah air putihnya didoai, mamah bisa ke kamar mandi untuk mengusapkan air di ubun-ubun dan pusar, juga ke wajah mamah yang sakit itu. Orang kok sukanya memelihara rasa sakit, sudah dikasih tahu jalan, masih saja bersembunyi." sambil bergumam, Andri berjalan meninggalkan Renita sendiri.
Renita hanya tersenyum kecut, karena baginya rasa sakit yang saat ini terjadi masih bisa dia tahan. Rasa sakit yang melebihi kali ini, sudah sering dia rasakan dan derita sendiri. Tidak lama kemudian, Andri sudah kembali ke depan Renita, dan meletakkan air mineral ke depan meja perempuan itu. Andri memang selalu perhatian, dan melakukan hal-hal kecil seperti yang kadang malu dilakukan oleh laki-laki lain. Namun.. bagi Andri asalkan itu untuk kebaikan keluarganya, semua akan dilakukannya,
Andri kemudian kembali duduk sambil mengawasi Renita. Perempuan itu kemudian mengambil air mineral, kemudian membacakan doa-doa seperti yang diinformasikan oleh Suryo. Kurang lebih lima menit, akhirnya Renita sudah selesai membacakan doa-doa itu, kemudian perempuan itu meniup ke arah air minum sebanyak tiga kali.
"Mumpung kamar mandinya kosong mah.., sekarang saja diusapkan biar cepat sembuh.." Andri memerintah istrinya, karena melihat Renita tidak bergerak cepat.
Tidak mau ribut dengan suaminya, akhirnya Renita membawa gelas berisi air putih itu ke arah kamar mandi, dan tidak menghiraukan tatapan tanda tanya dari pengunjung lainnya. Tidak sampai lima menit, Renita sudah berhasil mengusapkan air ke tempat yang ditunjukkan Suryo tadi, kemudian meminum sisa air minum tersebut. Tidak lama kemudian, perempuan itu kembali ke tempat duduknya.
*******
Setelah melakukan booking room dengan mempertimbangkan lokasi magang Zidan, Renita bersama dengan Andri segera melakukan check in di hotel tersebut. Lokasi hotel itu sangat strategis, berada di akses pinggir jalan besar, dan banyak kuliner yang bisa dipilihnya. Ada rumah makan padang Giwangan, soto sulung ex pindahan stasiun,. bakmi godok, bebek goreng, ayam goreng Suharti dan lain-lain, semua terletak tidak jauh dari hotel yang dibooking Renita. Ternyata hotel itu merupakan hotel yang dimiliki oleh Air Asia yaitu Tune Hotel, sehingga fasilitas yang tersedia, meskipun harganya miring sangat lengkap sesuai standar luar negeri.
"Cepat banget check in nya mah, ini belum genap jam dua siang, kita sudah diperbolehkan masuk." Andri berkomentar tentang cepatnya proses check in.
"Iya yah.. mungkin karena bukan week end jadi cepat prosesnya. Hanya tadi dicek, ternyata mamah salah booking yah. Harusnya mamah booking queen bed, malah keliru twin bed. Untungnya receptionis kreatif, yang meminta room service untuk menggabungkan dua bed menjadi satu, jadi nanti kamar yang kita pesan menjadi lebih luas.." ucap Renita.
__ADS_1
"Baguslah, tidak mengecewakan customer.." sahut Andri.
Pasangan suami istri itu kemudian menuju ke arah pintu lift, dan langsung menekan ke tujuan kamar mereka yaitu di lantai lima. Mereka berada di lantai paling atas sendiri, dan ternyata non smoking room, jadi mereka tidak terganggu dengan asap rokok. Begitu pintu lift terbuka, pasangan suami istri itu segera bergegas menuju ke kamar mereka.
"Luas mah.. ternyata bed nya. Jadi jika mamah bertiga dengan Zidan dan Vian, bisa untuk bertiga. Besok ayah ada rentalan mah, jadi ayah tidak bisa menemani mamah. Nanti anak-anak saja yang diminta untuk tidur disini.." Andri mengomentari suasana kamar.
"Iya yah, padahal untuk ukuran bintang tiga, hotel ini malah lebih bagus dari Ibis budget luasnya. Mamah puas sekali yah dapat kamar ini.." Renita turut berkomentar.
Setelah meletakkan semua barang bawaan, dan mencuci tangan dan kaki, Renita kemudian mengenakan daster dan bersiap naik ke atas bed. Andri tersenyum melihat sikap dan kelakuan istrinya..
"Kenapa yah.. mau apalagi, kalau bukan tidur dan makan. Mau jalan-jalan belum berani, ya sudah di kamar saja tiduran, dan nanti kalau bored keluar cari makan. Nikmat mana yang akan didustakan yah.." sambil tersenyum, Renita menanggapi sikap suaminya.
"Terserah mamah saja.. yang penting mamah bahagia. Itu sudah kebahagiaan untuk ayah mah.." Andri merespon perkataan istrinya.
Seperti biasanya, Andri kemudian menyalakan televisi untuk melihat tv kabel. Laki-laki itu memang sebenarnya penggemar movie, tapi karena waktu sering hobbynya itu tidak tersalurkan. Untuk itu, ketika mereka menginap di hotel, hobby Andri tersalurkan. Ketika istrinya tidur, atau melakukan kegiatan yang lain, Andri akan mengisi waktu dengan melihat acara film di tv kabel. Yang perlu disyukuri dari pasangan itu, meskipun mereka pergi dalam pengungsian, namun mereka tidak menganggap hal itu sebagai sebuah kemalangan. Mereka tetap mensyukuri sebagai cara Allah untuk membuat keluarga mereka menjadi lebih dekat kembali.
**********
__ADS_1