Ambisi Dan Sihir

Ambisi Dan Sihir
Chapter 92 Genting


__ADS_3

Rapat segera dipimpin oleh WR I, dan seperti yang sudah menjadi niatnya, Renita terdiam selama kegiatan rapat berlangsung. Padahal dalam hati Renita ingin sekali mengutarakan pendapatnya, karena UU No., 12 tahun 2021 tentang pengadaan barang dan jasa, menjadi pegangannya. Sedangkan ternyata Tim pengadaan barang sudah membelanjakan sebanyak 149 juta, tanpa menggunakan rekanan. Secara aturan, tim sudah menyalahi aturan pengadaan dan barang. Apalagi Ketua Tim terlihat tidak mengeluarkan kata-kata sepatahpun, dan malah bersikap tidak pernah melakukan kesalahan apapun,


"Selamat datang bu Renita, jadi begini bapak ibu .. bu Renita ini mau berkenan hadir untuk menghadiri rapat pada siang hari ini, karena tadi malam beliau saya japri bapak ibu. Jadi saya harap jangan berpikiran buruk dengan ibu Renita. Karena posisi bu Renita saat ini, sudah berada dalam zona nyaman, hanya memenuhi kewajiban kantor selama tiga jam, dan menghabiskan waktunya untuk menjadi penulis novel." WR I menyampaikan latar belakang keberadaan Renita di ruang itu.


Semua yang berada dalam ruangan itu terdiam, dan sedikit banyak yang ada dalam ruangan itu sudah mengenal dan merasakan pola kepemimpinan dari perempuan itu. Renita memang orangnya ceplas ceplos, dan tidak akan mentolerir kesalahan yang dilakukan tanpa dasar.


"Jadi sekarang ini saya persilakan bu Renita untuk memberikan wejangan, masukan dan melaksanakan kegiatan pengadaan barang dan jasa yang sudah tertunda." lanjut Wakil Rektor I.


"Mohon maaf pak WR I, apakah saya diperbolehkan untuk menyela terlebih dahulu..?" Renita mengajukan pertanyaan.


"Iya.. silakan bu Renita.. sekalian dipersilakan waktu dan kesempatan untuk paparannya." WR I yang sudah terbiasa bekerja dalam satu tim dengan perempuan itu, mengalihkan waktu bicara pada Renita.


"Terima kasih pak WR I, dan juga bapak ibu yang lain. Jika tadi pak WR I sudah mempersilakan saya untuk melakukan pengadaan barang dan jasa, saya malah menjadi bingung. Untuk apa saya diundang ke ruangan ini. dan disuruh membelanjakan barang apa, dananya berapa, dan kenapa tiba-tiba dilimpahkan kepada saya. Apakah memang sebelumnya ada masalah..?" Renita pura-pura bersikap bodoh.


"Masak bu Renita belum tahu.. Bu Rina.. apakah bu Renita belum diinformasikan, dan diberikan mekanisme dan rancangan barang dan jasa yang akan diadakan. Harusnya ini kan tanggung jawab bu Rina yang menjelaskan, karena Ketua Tim Hibah adalah ibu.. Coba dijelaskan bu Rina.." tiba-tiba WR I berbicara dengan nada tinggi


"Lha belum pak, saya pikir bapak yang menyerahkan pada bu Renita.. " sahut bu Rina.

__ADS_1


"Ya bu Rina to yang menyerahkan, masak WR I yang harus menyerahkan dan menjelaskannya." WR I mengembalikan pembicaraan pada Rina.


"Baik pak.. begini bu Renita dan bapak ibu yang lain. Jadi tim hibah MBKM itu memiliki kegiatan pengadaan barang dan jasa, yang jika dirupiahkan itu sebesar 400 juta lebih dananya. Tapi sama tim pengadaan sudah dibelanjakan secara mandiri sebanyak 149 juta. Tapi ternyata pada saat kita kemarin diundang untuk breafing, ternyata membelanjakan barangnya tidak boleh sembarangan." akhirnya Rina menjelaskan,


Semua yang duduk di dalam ruangan itu, yang kebetulan memang sudah sering menjadi Tim pengadaan barang sebelumnya, hanya senyum-senyum mendengar penjelasan Rina, Mereka sangat paham , bagaimana sangat beresikonya mengelola dana yang bersumber dari pemerintah. Dimana kegiatan pengadaan barang dan jasa, dan Pejabat Pembuat Komitmen harus sudah lulus sertifikasi pengadaan barang dan jasa. Tetapi ternyata panitia hibah sudah membelanjakan barang senilai Rp. 149 juta tanpa melalui prosedur resmi pengadaan barang dan jasa.


"Itu tadi bu Renita.. mohon untuk arahan dan wejangannya, dan bapak ibu ini diajari bagaimana melakukan kegiatan pengadaan barang dan jasa yang benar." sahut WR I yang mengembalikan pembicaraan pada Renita.


"Okay pak WR I, saya hanya akan berbicara sepanjang yang saya mau dan ketahui berdasarkan peraturan pemerintah. Tetapi mohon jangan disikapi jika saya yang akan memimpin pengadaan barang dan jasa. Bu Rina .. jika boleh saya tahu, berapa total dana hibah yang diperoleh UP..?" Renita balik bertanya.


"Mohon maaf bukan hanya pengadaan barang dan jasanya saja, tetapi total dana hibah yang diperoleh.." sahut Renita,.


"2 milliar bu.." jawab Rina dengan lesu.


"Wow.. banyak sekali. Dana diatas satu milliar, auditnya bukan hanya dari Inspektorat Jenderal, tetapi juga dari BPKP. Jika orang-orang dari Inspektorat, yang menjadi ranah audit adalah lembaga pemberi hibah, tidak begitu fokus pada penerima hibah. Namun jika BPKP.. langsung pada pelaksana hibahnya. Ini harus tender pak.. dan silakan diperkirakan dalam waktu dua bulan ini, bisa tidak kegiatan tender dilaksanakan.." Renita menyampaikan sorotannya.


"Jika begitu yang sudah keluar 149 juta bagaimana bu Renita.., padahal uang itu sudah dikeluarkan.." Kepala BAUK mengajukan pertanyaan.

__ADS_1


"Hmm.. ya anggap saja uang itu hilang. Yang saya tanyakan, pada saat belanja sampai habis 149 juta itu pakai proses tidak, apakah hanya seperti transaksi jual beli lombok di pasar. Jika tidak; itu akan beresiko besar bapak ibu.. dan jangan pernah sampaikan pada Inspektorat jika bapak ibu tidak mau untuk bunuh diri." lanjut Renita.


Semua terdiam mendengar kata-kata Renita, tapi sangat terlihat Ketua Hibah, Ketua Pengadaan dan Kepala PPTIK yang membelanjakan barang terlihat panik. Tetapi yang terlihat aneh, WR II yang seharusnya menjadi pelaksana dan pengkoordinir kegiatan malah terlihat santai.


":Ya sudah kita abaikan saja.. dana yang sudah berhasil dikeluarkan. Anggap saja itu sebagai sebuah pembelajaran untuk kita semua." sahur WR I sambil melirik ke arah WR II.


"Saya tidak mau disalahkan lho pak, beberapa kali saya bertanya dalam rapat koordinasi, kita memerlukan tender tidak, atau paling tidak memanggil rekanan. Tapi Ketua pengadaan barang selalu bilang tidak perlu, langsung belanja langsung saja." Adit membela diri.


"Tenang mas Adit.. saya tidak akan menyalahkan. Karena disini mas Adit bukan sebagai pelaksana, tetapi diminta tolong untuk membelanjakan." ucap WR I.


Semua terdiam dalam pikiran mereka masing-masing, berusaha untuk mencari jalan keluar, Berkali-kali Kepala BAUK, bertanya dan meminta pendapat Renita. WR I terlihat pusing, dalam hati saat ini membutuhkan Renita untuk menyelesaikan permasalahan. Namun laki-laki itu juga tahu sendiri bagaimana penguasa saat ini memperlakukan Renita dengan adil dan malah sangat kejam. Tetapi jika Renita tidak ikut turun tangan, maka pengadaan barang dan jasa tidak berani untuk dilakukan.


"Atau kita minta bantuan dari pihak LLDIKTI Wilayah V saja untuk membantu pengadaan barang." tiba-tiba WR II menyampaikan sebuah usulan.


"Ya akan terlihat aneh kan pak.. seperti di kampus kita tidak ada yang memiliki sertikat PBJ saja. Di kampus kita, ada tiga orang yang memiliki sertifikat PBJ,. lha itu kita butuh treatment untuk mengelolanya, tidak malah kita membuka aib ke lembaga di atas kita.." kembali WR I menyoroti pernyataan WR II.


*********

__ADS_1


__ADS_2