Ambisi Dan Sihir

Ambisi Dan Sihir
Chapter 46 Tulus dan Menerima


__ADS_3

Renita kembali menceritakan apa yang terjadi tadi siang pada Noncy, tetapi pada saat Renita bercerita, Noncy menangkap ada sesuatu yang berbeda pada diri perempuan itu. Noncy langsung berdiri dan lebih mendekat pada Renita. Dari samping Noncy, Wati merasa merinding melihat apa yang terjadi di dekatnya. Perempuan itu hanya wiridan dan dzikir dalam hati, untuk menenangkan dirinya.


"Keluar.. kamu bukan Renita ini.., keluarlah.." tiba-tiba Noncy bersuara dengan nada lebih keras.


Renita membuat gerakan seperti orang yang sedang ketakutan. Perempuan itu duduk lebih mundur ke arah kursi, bahkan hampir terjepit. Noncy terus mengejar perempuan itu, padahal perempuan saat ini sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Tetapi melihat keadaan teman baiknya seperti itu, Noncy juga tidak bisa hanya berdiam diri melihat saja. Perempuan itu terus berdoa mengucapkan hafalan surat-surat pendek.


Di luar rumah terdengar suara sepeda motor berhenti, dan setelah dilihat ternyata Vian dan Zidan putra Renita, sudah pulang ke rumah. Melihat mamanya seperti itu, Vian segera mencari tas kresek dan memberikan pada mamanya.


"Istighfar mah.. istighfar.." Vian meminta mamanya untuk selalu ingat kepada Allah.


"Astaghfirullahaladzim .. " Renita berhasil mengucap kata yang memiliki arti meminta maaf dan ampunan kepada Allah. Noncy memijat punggung kemudian naik ke arah leher Renita dari arah belakang.


"Kamu disini ya.. ayo keluar, jangan bisanya hanya bersembunyi dan menyakiti manusia. Keluar.." Noncy seperti berbicara dengan seseorang. Pandangan mata perempuan itu sangat tajam, seperti bisa menembus apa yang ada di dalam tubuh Renita.


"Kring.., kring.." tiba-tiba ponsel Zidan berdering, dan setelah dilihat di layar ponsel ternyata Andri ayahnya Zidan sedang melakukan panggilan kepada anak bungsunya itu.


"Assalamu alaikum ada apa yah, ini mama baru reaksui.." Zidan langsung menceritakan kondisi mamanya,

__ADS_1


"Wa alaikum salam, adik buka lemari besi, ambil air dalam botol air mineral. Itu sudah ayah doain, sudah ayah rukiyah, berikan pada mama. Sekarang mamah sama siapa.." dengan sedikit menyembunyikan rasa panik, Andri memberikan arahan pada putra bungsunya.


"Sama bu Noncy dan  kakak ya.." Zidan langsung berjalan menuju lemari besi, kemudian mengeluarkan botol air mineral, seperti yang tadi dikatakan oleh ayahnya.


Noncy memberi isyarat pada Zidan untuk mengantarkan air mineral tersebut, kemudian menuangkan ke tangan dan menggunakan air tersebut untuk membasuh wajah Renita, Selain wajah, ubun-ubun Renita, leher dan di pusar perempuan itu juga dibasuk air mineral oleh Noncy. Dari depan mereka, tampak Wati melihat semuanya dengan tatapan prihatin, tanpa berhenti terus mengucapkan kata-kata dzikir.


Tubuh Renita semakin menggeliat, dan mulutnya mengeluarkan desisan seperti seekor ular yang sedang merasa kesakitan serta merasakan panas. Noncy tidak berhenti, meskipun tubuh Noncy sendiri juga sudah merasa lemas, tetapi perempuan itu teris memijat leher belakang dan punggung Noncy. Tanpa mereka ketahui, Cahyono dari rumahnya di Grabag Magelang, juga sedang berdoa untuk Renita. Laki-laki itu tidak tahu sebabnya, tubuhnya merasa panas, dan setelah terdiam sebentar, baru tahu jika Renita sedang dalam keadaan kambuh,


"Ibu ini siapa to.., kenapa banyak orang yang ikhlas menolong dan bahkan berkorban untuk ibu ini. Benci aku.." tiba-tiba Renita kembali berbicara ngelantur, seperti bukan dirinya yang bicara.


"Aku juga tidak mau menyakiti ibu ini, tetapi aku disuruh untuk membuat ibu ini mati. Kalau ibu ini mati, aku akan keluar.." kembali Renita berbicara.


Mendengar kata-kata yang keluar sendiri dari mulut Renita, Wati merasa merinding dan ketakutan. Perempuan itu kembali mengucap lafadz doa dan dzikir. Sedangkan Noncy kembali memijat tengkuk Renita dengan keras, dan tanpa henti mengucapkan doa-doa. Tiba-tiba tangan kiri Noncy menarik tangan kanan Vian, seperti meminta dukungan energi dari putra sulung Renita. Hal itu berlangsung untuk beberapa saat.


"Hoek... hoek..." tiba-tiba setelah dipijat dengan keras oleh Noncy, Renita mengalami muntah-muntah. Hal itu terus berlangsung, sampai tubuh Renita merasa lemas.


Beberapa saat kemudian, Renita kembali tersadar tetapi Noncy terus menatap mata perempuan itu. Tiba-tiba mata Renita dengan sinis menatap botol madu dari Ustadz Muhammad Faizar, madu Benmari. Tidak diduga Renita langsung begidik, seakan takut dengan botol madu tersebut.

__ADS_1


"Vian.. Zidan.. botol kaca itu berisi apa..?" Noncy langsung tanggap, dan bertanya pada putra Renita.


"Itu madu dari ustadz untuk membantu penyembuhan mamah. Tapi mamah akan kesakitan jika minum madu itu, sekali minum dua sendok makan. Sehari diminum tiga kali, biasanya pagi mamah diminumkan madu itu oleh ayah. Tapi karena ayah di Jakata, tidak ada yang membantu mamah minum. Zidan kalau pagi sudah berangkat magang, kakak masih tidur, dibangunkan tidak mau." Zidan menjelaskan.


"Ambilkan sendok.." Noncy langsung bersikap tanggap. Vian berlari mengambilkan sendiok, dan menyerahkan pada Noncy. Tanpa kata, Noncy menuangkan madu ke atas sendok.


"Jangan... jangan.. aku tidak mau. Tubuhku terasa panas, seperti disayat-sayat jika aku minum madu itu.. Jangan.." tiba-tiba Renita berteriak ketakutan menolak madu itu. Noncy dan Wati mendekat kemudian memegangi tubuh perempuan itu, dan dengan segera memasukkan madu itu ke mulut Renita.


Tiba-tiba Andri kembali menghubungi  Zidan,. dan meminta untuk mendekatkan ponsel ke telinga istrinya. Noncy meraih ponsel, kemudian memasang speaker dan mendekatkan ponsel ke telinga Renita. Dari seberang ponsel, Andri membaca ayat kursi satu kali, Al Ikhlas, AL Falaq dan An nas juga Al Fatehah masing-masing tiga kali. Pada awalnya Renita masih bersikap seperti orang kesurupan, tetapi lama kelamaan reaksi Renita sudah kembali sadar. Suara Andri di seberang telpon seperti orang panik, dan mengandung tangis dalam suaranya.


"Ternyata pak Andri sendiri yang bisa menenangkan nyonyahe. Aku jadi terharu, ternyata kepasrahan dan kecintaan pak Andri betul-betul tulus, dan menerima kondisi istrinya apa adanya." tanpa sadar, air mata meleleh di pipi Noncy, melihat bagaimana sahabat baiknya ini, betul-betul dicintai dan diterima oleh suaminya tanpa syarat.


Tanpa sadar Wati juga merasakan hal yang sama. Melihat bagaimana kekompakan keluarga Renita, dari kedua putra dan juga suaminya menghadapi ujian seperti itu. Ternyata mereka bersatu padu, dan tetap kompak saling menguatkan. Beberapa saat kemudian..


"Nyah.. sudah malam. Aku mau pulang dulu, karena dari pagi aku ke UGM, dan langsung kesini tadi. Jadi belum sempat pulang. Jika ada apa-apa, telpon saja aku, Inshaa Allah aku akan bantu doa.." setelah melihat Renita sudah kembali pada kondisi stabil, akhirnya Noncy dan Wati berpamitan.


********

__ADS_1


__ADS_2