
Renita termenung duduk seorang diri, perempuan itu mencoba melakukan evaluasi terhadap dirinya. Dosa-dosa fatal yang pernah dilakukannya, kesalahan-kesalahan yang mungkin tidak termaafkan yang pernah dilakukannya, yang sampai bisa menimbulkan rasa sakit hati pada orang-orang itu. Selain itu, Renita juga membuat pemetaan upaya-upaya baik, yang dianjurkan oleh para ustadz yang sudah diamalkannya. Perempuan itu merasa sudah mengamalkannya semua, namun akhirnya Renita hanya tersenyum kecut.
"Ya Allah.. apa lagi yang harus hamba lakukan ya Allah, untuk mengetuk pintu-Mu, untuk membuka pintu maaf-Mu? Sholat malam, mandi di waktu sepertiga malam, dzikir pagi, dzikir sore, membaca Al Baqarah beserta artinya, sholat dhuha, sholat tahajud. Inshaa Allah semua sudah hamba lakukan ya Allah, bahkan kurma Ajwa Aliyah tujuh butir selalu hamba konsumsi setiap pagi. Namun ternyata semua belum bisa membuka pintu maaf-Mu untuk hamba ya Allah. Hamba ingin disembuhkan ya Allah.." Renita tanpa sadar meratap dan berkeluh kesah kepada Allah. Air mata tampak menggenang di kelopak matanya.
Tanpa sadar, Renita kemudian membuka internet dan masuk ke you tube channel. Selama terkena ujian sakit non medis ini, Renita memang menjadi follower dari berbagai ustadz yang menjalankan rukiyah syari'i. Melalui channel you tube itu, Renita merasa bergabung dan memiliki komunitas sesama penderita penyakit psikhologis tersebut. Dan terkadang muncul rasa syukur, ternyata pihak lain mengalami hal yang melebihi apa yang kala ini sedang dideritanya. Dari hal itu, muncul semangat dan motivasi dari dalam diri Renita.
"Salahkah aku meminta Ruqyah.., sebuah judul Live Kajian dari Muhammad Faizar Official menarik perhatian Renita." perempuan itu teringat dengan pembicaraan beberapa waktu yang lalu dengan Bu Kiki.
Kala itu Kiki mengatakan." Nyah.. apa dirimu tidak takut kalau menjalani rukiyah. Karena aku pernah ikut pengajian, dan ustadz mengatakan jika orang minta dirukiyah, maka akan tidak mendapatkan syafaat di hari kiamat.."
Waktu itu, karena Renita yang merasakan bagaimana rasa sakit, seperti tiba-tiba tangan atau lengan sakit, kaki tidak bisa berjalan, dan wajah rasanya mati rasa dan nyeri, hanya dia yang merasakannya. Orang lain hanya bisa melihat dan menilai. Tidak tahu kenapa..
"Jadi menurut njenengan (kamu dalam bahasa krama halus), saya ini tidak pasrah, tidak tawakal. Atau ustadz njenengan itu ustadz mana, namanya siapa. AKu akan ajak debat dan adu argumentasi dengannya. Saya merasa akan mati, kesakitan, jika saya hanya diam tanpa ikhtiar, itu namanya saya akan mati konyol bu.." dengan nada tinggi, Renita menanggapi kata-kata bu Kiki waktu itu.
"Bukan seperti bu.., buktinya hal itu tidak pernah surut atau berhenti bukan? Masih terus mengganggu, dikirim santet terus.." nada bicara bu Kiki sudah agak turun, mungkin kaget melihat respon yang disampaikan Renita,
__ADS_1
Waktu itu terlihat Noncy.. matanya sudah mendelik melihat keberanian Bu Kiki bicara seperti itu pada Renita. Perempuan itu seperti ingin mengumpat dan mendamprat Bu Kiki, tetapi untungnya Renita segera mereda, dan Kiki kemudian diam tidak melanjutkan masukannya.
Melihat judul kajian live, itu Renita kemudian mengklik channel youtube tersebut, dan ternyata apa yang dilakukannya bukan sebuah kekeliruan. Karena setiap manusia memang diwajibkan untuk ikhtiar, dan sebenarnya kalimat yang disampaikan Kiki itu hanya sepotong, masih ada sambungan kalimat di belakangnya, Setelah kajian itu usai, rasa tenang kembali melingkupi hati Renita dan berusaha menerima dengan ikhlas keadaan yang masih memberinya ujian.
********
Keesokan Harinya
Renita kembali masuk ke kantor seperti hari-hari biasa, beberapa teman Renita menganjurkan agar Renita mengurangi hari-hari di kantor, dan bahkan menyarankan untuk melakukan kuliah dengan online menggunakan Zoom meeting. Tetapi hati kecil Renita tidak menyetujui usulan itu, dan bahkan seperti ada tantangan yang ingin membuktikan jika dirinya masih bisa menghadapi serangan-serangan metafisik yang dikirimkan kepadanya.
"Sehat bu Renita..." mbak Cici admin prodi Manajemen menyapa Renita, ketika perempuan itu akan masuk ke dalam kelas.
"Oh iya benar bu Ren.. harus sehat ya. Apalagi kalau kita sebagai perempuan ya bu, kita merasa tidak enak badan saja belum sakit, rumah jadi kacau. Anak rewel, beda kalau yang sakit itu laki-laki.." tanpa sadar, mbak Cici malah melakukan curcol.
"Ha.. ha.. ha.. benar mbak Cici sip.. Aku masuk dulu ya mbak, mahasiswa sudah pada nunggu dari tadi soalnya." karena sudah masuk jam mengajar, akhirnya Renita pamitan pada mbak Cici.
__ADS_1
"Ya bu.. maaf malah saya ganggu ibu mau masuk kelas ya.. He.. he.." mbak Cici kemudian bergegas masuk ke dalam ruang admin prodi, dan Renita segera masuk ke dalam kelas.
Tapi baru beberapa langkah masuk ke dalam kelas, Renita merasakan sesuatu yang beda di ruangan itu. Nafasnya sedikit merasa sesak, tapi Renita kemudian membaca doa dalam hati, dan menghentikan waktunya beberapa saat. Renita kemudian mengambil air zamzam yang selalu ada di dalam tasnya, sebagai ganti jika tidak ada air rukiyah, kemudian dikeluarkan sedikit ke telapak tangan, dan disebarkan ke sekitar kursi tempat duduknya. Dari belakang, mahasiswa melihat apa yang dilakukan oleh perempuan itu, tetapi mereka hanya membatin dan berbisik-bisik dengan teman yang duduk di sampingnya.
"Okay.. untuk materi minggu lalu kita bahas tentang apa ya.. Ini mata kuliah Bank dan Lembaga Keuangan lainnya bukan.." Renita akhirnya memulai waktu perkuliahan.
"Iya bu... kita sudah masuk materi Deregulasi perbankan. Dan sekarang materi bahas yang tertulis di Rencana Pembelajaran Semester kita kan masuk pada materi Bank Indonesia bu.." beberapa mahasiswa menjawab apa yang ditanyakan oleh Renita.
Karena sering memberikan kuis secara mendadak, mahasiswa di kelas yang diampu Renita, mereka sudah mempersiapkan diri dengan mempelajari materiĀ sebelumnya. Sehingga begitu Renita mengajukan pertanyaan, para mahasiswa akan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh perempuan itu.
"Alhamdulillah ternyata mahasiswa di kelas A2 ini sangat luar biasa, sampai hafal materi yang akan kita bahas hari sudah sampai dimana. Okay.. sekarang kita keluarkan tentang UU No. 23 tahun 1999 tentang bank Indonesia. Dimana dalam UU ini, juga dibahas tentang Independensi Bank Indonesia. Apakah yang dimaksud dengan independensi.." Renita mencoba memancing diskusi mahasiswa.
"Bebas bu;.." salah satu mahasiswa mencoba menjawab.
"Tidak terikat bu.." sahut yang lain.
__ADS_1
"Mmm.. benar yang kalian katakan semuanya. Makna dari independensi adalah, menunjukkan jika BI dalam kegiatan operasionalnya adalah bebas dari segala bentuk intervensi dari pihak manapun. Bahkan anggota DPR, presiden, pejabat pemerintah juga tidak memiliki hak untuk melakukan pressure pada pemerintah, terkait dengan independensi tersebut." Renita mulai menjelaskan,
**********