Ambisi Dan Sihir

Ambisi Dan Sihir
Chapter 48 Menjelang 1 Muharram


__ADS_3

Begitu Cahyono keluar dari ruang kerjanya, Renita berjalan keluar dari ruangan, untuk menunggu Noncy yang mengajak pergi ke cafe. Malas menunggu di ruang dosen, Renita mendatangi pak Adi yang sedang duduk di bawah pohon sawo beludru yang tumbuh di pojok halaman kampus.


"Heh duduk sini bu Ren.. lama kita tidak mengobrol.." melihat kedatangan Renita, pak Adi meminta perempuan itu duduk. Karena tidak tersedia tempat duduk di lokasi itu, mereka duduk di pinggir pembatas taman, sambil melihat mobil yang lalu lalang keluar masuk halaman.


"Dari mana pak, kok pakai seragam batik koperasi." melihat pak Adi mengenakan seragam batik koperasi, Renita bertanya pada laki-laki itu.


"Lha.. masak lupa sih, ini kan hari Koperasi to ndhuk.." sejak dulu memang pak Adhi sering memanggil Renita dengan sebutan ndhuk, menunjukkan keakraban mereka sebagai teman, Memang kedua orang itu, sama-sama berasal dari daerah Klaten.


"Oh iya benar.. sorry lupa pak boss. Jadi ini tadi pak Adhi habis upacara di lapangan Paseban Bantul.." Renita mengalihkan pembicaraan.


"Benar.. kita satu mobil tadi yang kesana, delapan orang pengurus koperasi semuanya datang menghadiri upacara. Rektorat sepi mbak.., pak Rektor sedang pergi dengan pak Yayasan ke Surabaya, katanya mau ke Fakultas Kedokteran Unair. Pak Septta yang join dengan mereka, pak Sukhi semula mau ikut, tapi anaknya ga mau ditinggal. Akhirnya hanya pak Septta dari wakil rektor,.." Adhi menjelaskan.


"Upps bagus dong.. kelasnya Septta memang tahu apa pak tentang Kedokteran, Lha dirimu pinter, bisa ngeles so.. ga ikut ke Surabaya, melarikan diri dari tanggung jawab." dengan berani, Renita mengolok-olok laki-laki itu.


"Weh ya gitu dong, aku kan sudah punya perjanjian dengan pak Rektor, ketika beliau memintaku menjadi Wakil Rektor lagi, Aku bilang, jika aku hanya ingin kuliah, sudah tidak mau menjabat lagi. Akhirnya pak Rektor tetap memintaku, dan aku bersedia tapi dengan catatan. Jika aku memiliki urusan terkait perkuliahan, mau ada hujan angin, mau ada apapun yang menurutnya penting, aku dibebaskan untuk terlibat." Adhi membuat pembelaan,


"Good job pak,.. doaku cepat lulus deh.." tiba-tiba pandangan Renita menangkap pemandangan yang tidak asing di matanya. Terlihat pak Tommitius turun dari koperasi, kemudian berjalan melalui tempatnya dan pak Adhi duduk.

__ADS_1


"Kita lihat.. laki-laki itu akan menyapa kita atau tidak..?" Renita berpikir sendiri, ingin mencocokkan apa yang pernah dikatakan Cahyono kepadanya. Kata Cahyono, pak Tommitius dilarang oleh dukunnya untuk mengajak bicar Renita duluan.


Renita dan pak Adhi kompak melihat pak Tommitius yang menuruni tangga kecil disamping pos satpam. Ternyata persis dengan yang diperkirakan Renita, laki-laki tua sama sekali tidak menegur Renita dan juga pak Adi, Tetapi untuk basa basi, Renita tersenyum dan menganggukkan kepala. Sepeninggalan laki-laki tua itu,


"Wah UP tambah remuk sekarang mbak, tidak ada lagi yang berani berbicara tentang kebenaran, semua hanya opportunis mencari kemenangan untuk dirinya sendiri." tanpa sadar, pak Adi melakukan curcol pada Renita.


"Hmm.. iya pak, beberapa orang juga sudah pada cerita menyampaikan pada saya. Tapi aku no comment pak, takut keliru, yang penting aku masih terima gaji setiap bulan, masih bisa ngopi. He.. he.. he.." sahut Renita menanggapi,


"Aku maunya juga begitu mbak.., tetapi kadang kayak ada beban moral yang menghantui. Ya sudah akhirnya aku harus berdamai dengan keadaan, mencoba hanya urusi semua pekerjaan yang menjadi  ranah tanggung jawabku sendiri, mengabaikan kerjaan bidang lain.." lanjut pak Adhi.


***********


Menjelang adzan Maghrib, Renita merasa ada yang aneh pada tubuhnya. Tanpa disadari beberapa anggota tubuhnya merasa gerak sendiri. Andri yang sudah hafal dengan apa yang terjadi pada istrinya tanpa berkedip melihat perubahan ekspresi dan reaksi pada tubuh Renita. Tiba-tiba laki-laki itu berdiri, kemudian melalui pintu garasi, Andri mengambil air wudhu.


"Kakak.., adik.., mamah.. hari ini ayah tidak sholat jamaah di masjid. kita jamaah di rumah, ayo semua segera ambil air wudhu. Sesudah sholat, semua doain mamah, ada sesuatu dalam tubuh mamah saat ini. Hanya dengan doa, kita akan dapat mengusir dan menjaga mamah." Andri berteriak mengajak anak dan istrinya,


Zidan dan Vian segera menuju ke tempat mengambil air wudhu, begitu juga dengan Renita. Sambil berjalan seperti orang bingung dan oleng, Renita berjalan dari tempat wudhu menuju ke ruang tengah. Tidak lama kemudian, terdengar Vian membaca iqamah, dan segera Andri memimpin jamaah sholat.

__ADS_1


Renita merasa tidak bisa menguasai dirinya, tubuhnya tiba-tiba bergerak untuk melakukan sholat. Dengan mengucap istighfar dalam hati, perempuan itu terus berusaha menapakkan kaki di lantai, mengikuti gerakan sholat yang dipimpin suaminya. Pada saat mereka melakukan gerakan sholat berdiri, tiba-tiba kaki Renita berjinjit sampai tinggi, seakan-akan kakinya akan terbang meninggalkan sholat. Renita terus berusaha menahan kakinya sampai tubuh perempuan itu merasa lelah.


Perempuan itu terus bertahan, meskipun dengan penderitaan dimana hanya dia yang bisa merasakan, perempuan itu terus berusaha menjalankan kewajiban. Tidak lama kemudian, akhirnya Andri sudah mengucapkan salam, sebagai tanda jika sholat Maghrib sudah selesai. Begitu Renita mengucapkan salam, tubuh perempuan itu tiba-tiba terkulai lemas. Kesadaran mulai hilang dari tubuhnya.


"Mam.. mamah istighfar mah..." dari sampingnya, Vian memegang kedua pergelangan tangan perempuan itu, dan memandu untuk selalu mengingat Allah.


"Mmmm... takut.. pergi.., pergi.. pergi.. takut..:" melihat tatapan Vian yang dengan tajam menatapnya, Renita histeris ketakutan.


"Istighfar mah.. istighfar.." Vian terus menggenggam tangan Renita semakin erat, dan akhirnya perempuan itu kembali terkulai lemas, tidak tahan beradu pandang dengan putra sulungnya.


"Kakak jagain mamah  dulu ya, ayah mau buatkan air rukiyah untuk mamah." ucap Andri yang langsung mengambil air mineral, kemudian duduk menghadap ke arah kiblat.


Melihat mamahnya reaksi, dengan muka sedih Zidan keluar dari dalam kamar, dan duduk di samping kakaknya melihat wajah Renita. Hal yang memang patut diacungi jempol dari keluarga ini adalah, kekompakan mereka ketika menghadapi Renita reaksi. Dengan taat dan patuh, semua berdoa untuk kesembuhan Renita. Sama sekali tidak pernah terlintas dalam pikiran mereka untuk balas dendam, atau mendoakan hal yang jelek pada oknum terindikasi sebagai pengirim santet itu.


"Minum airnya mah.." tidak lama kemudian, Andri sudah datang membawa satu gelas air putih, dan meminta istrinya untuk meminum air itu.


Renita kemudian meminum air yang sudah dirukiyah, dan Andri terus membisikkan memanggil nama lengkap Renita, termasuk nama ayah perempuan itu. Beberapa saat, Renita mulai bisa mengendalikan diri, nafasnya sudah mulai teratur. Andri langsung memegang pundak istrinya, kemudian meletakkan kepala Renita dengan menyandarkan di dadanya.

__ADS_1


********


__ADS_2