Ambisi Dan Sihir

Ambisi Dan Sihir
Chapter 60 Reaksi


__ADS_3

Satu persatu Nara sumber dari pihak yayasan menyampaikan papara.Renita sama sekali tidak tertarik untuk memperhatikan materi, karena hanya berisi tentang pressure target yang harus diselesaikan dosen yaitu publikasi pada jurnal bereputasi. Namun, meskipun tidak menyetujuinya apa yang dikatakan pimpinan, Renita tidak membantah sedikitpun, karena yakin jika pimpinan ada alasan tersendiri dengan membuat target-target seperti itu.


"Mbak Renita... nanti kalau merasa pusing atau tidak nyaman, aku sarankan mbak Renita segera keluar dari ruangan ini ya. Karena mbak Renita aku lihat tidak boleh memaksakan diri, jadi harus ada netralisasi. Benar yang dikatakannya Mak Noncy tadi, mungkin bisa pergi ke masjid Al Ikhlas sebentar, baru nanti kembali ke auditorium lagi." tiba-tiba Dhani menyampaikan beberapa kata pada Renita.


"Sudah aku bilang mbak Dhani... tapi kata nyonyahe panas ." Noncy menimpali.


"He . he.. he.. ya mbak Inshaa Allah." sahut Renita sambil tersenyum.


Tiba-tiba tanpa bisa dicegah, dari belakang Renita Kiki berdiri dan mengacungkan jari untuk bertanya ketika Ketua yayasan selesai bicara. Karena tidak ada satupun yang mengajukan pertanyaan, akhirnya waktu diberikan pada perempuan itu.


"Silakan Bu Dhani ." ucap mbak Nur admin Fakultas Bisnis yang kebetulan menjadi MC.


Bagian sarpras kemudian memberikan microphone ke arah Kiki, dan langsung diterima oleh perempuan itu.


"Terima kasih pak atas perkenannya. Ada dua hal yang perlu untuk saya sampaikan. Yang pertama adalah, kenapa sejak tadi yang dibicarakan malah kenaikan tunjangan dan lain sebagainya hanya dosen saja, tidak ada satupun yang diberikan untuk karyawan. Bagaimana keadilan bagi mereka, siapa yang akan memperjuangkannya?" dengan lantang dan tegas, Kiki menyampaikan pertanyaan. Renita hanya mengambil nafas panjang, karena merasa ada sesuatu yang tidak wajar pada dirinya. Renita hanya menundukkan kepala ke bawah sambil melihat ke arah ponselnya.


"Yang kedua, apa yang disampaikan oleh Sekretaris Yayasan tadi sangat bertolak belakang dengan yang disampaikan oleh bapak Rektor. Jika sekretaris yayasan mengatakan bahawa kesejahteraan kita selalu ditingkatkan, namun Rektor berbicara yang sebaliknya. Kesejahteraan kita yang selama ini tanpa suara, menjadi dibebani dengan kewajiban yang bermacam-macam, tanpa melihat bagaimana kapasitas dan kemampuan dari dosen. Semua diperlakukan sama, menurut saya ini bukan penting namun sebuah penurunan kesejahteraan. Terima kasih." lanjut Kiki. Beberapa orang hanya merasa jika suara mereka terwakili, namun mereka malah berpikir jika perempuan itu kurang kerjaan dan cari muka.

__ADS_1


Noncy menggenggam erat tangan Renita, seperti mengalihkan energi pada perempuan itu. Semua yang duduk di sekitar Kiki, menjadi terlihat panik karena merasa khawatir akan ditandai oleh yayasan dan Rektor.


Setelah Kiki selesai bicara, Rektor langsung mengambil alih microphone kemudian menjadi orang pertama yang menyampaikan tanggapan.


"Saya mau tanya, dari sekitar tiga ratusan orang di ruangan ini, siapa yang tidak setuju dengan apa yang tadi saya sampaikan. Jadi orang itu jangan hanya berpikir untuk diri sendiri, berpikirlah untuk pengembangan lembaga. Di UP ini, selama saya menjabat hanya beberapa orang saja yang menyumbangkan kontribusi besar untuk peningkatan peringkat UP dalam kancah pendidikan nasional." dengan kata pedas dan penuh emosi, Rektor menanggapi ketidak setujuan Renita.


Suasana di auditorium kembali hening, semua yang duduk di auditorium tertunduk, tidak mau melakukan protes tetapi juga tidak mau menyetujui ucapan Rektor. Setelah Rektor selesai bicara, Ketua Yayasan mengambil microphone dan akan menjawab pertanyaan dari Kiki.


"Kita diam saja nyah.., Bu Kiki memang tidak pernah belajar dari pengalaman. Apakah dia berpikir dengan bicara seperti itu, kemudian akan mendapatkan dukungan. Nol besar, malah hampir sua orang mencibir dan berpikir sebagai orang yang kurang kerjaan." Noncy kembali berbisik di telinga Renita. Tetapi Renita hanya tersenyum tidak menanggapinya.


"Kita contohkan Bu Renita ini sebagai orang yang luar biasa'. Pada masa jabatan ini, Bu Renita tidak mau menjabat apapun, dengan alasan mulia memilih untuk menyelesaikan studinya. Ayo kita kasih tepuk tangan untuk Bu Renita.." dengan pongahnya ketua yayasan malah membandingkan antara Kiki dan Renita.


Tepuk tangan bergemuruh di dalam ruangan auditorium. Banyak orang melirik ke tempat duduk perempuan itu. Tetapi Renita bukannya merasa bangga, namun Malah merasa jengkel. Dan tiba-tiba perempuan itu merasakan pusing, dan sesuatu seperti masuk ke dalam tubuhnya. Sampai apa yang diucapkan Ketua yayasan, Renita sudah tidak lagi mendengar dengan baik. Tetapi untungnya, waktu istirahat siang sudah berakhir.


"Ayo nyah, kita segera keluar saja dari ruangan ini untuk netralisir tubuhmu." Noncy yang sangat memahami kemampuan dan kekuatan Renita segera mengajaknya keluar.


Tanpa bicara, Renita mengijinkan Noncy berjalan keluar dari dalam auditorium. Jadi ketika orang yang lain, pada antri untuk mengambil makan siang, kedua perempuan itu malah melangkahkan kaki keluar auditorium.

__ADS_1


"Bu Renita.. bagaimana dengan perasaan Bu Renita tadi, ketika mendapatkan sebuah kehormatan dengan mendapatkan tepuk tangan dari semua orang di dalam auditorium Bu ." tiba-tiba di teras auditorium, Ghifar teman satu prodi meledek perempuan itu.


"Iya Bu ., betapa terhormatnya. Aku tadi tepuk tangannya kencang banget lho." Naya yang merupakan adik kandung dari Ketua Yayasan Ikut berkomentar.


"Asem kok.., aku duduk diam, anteng . eh... ternyata masih terkena abu hangat.." tanpa sadar Renita berkeluh kesah.


"Ha.. ha.. ha..itu malah membantu mengangkat nama Bu Renita. Kan sekarang banyak dosen baru, karyawan baru yang belum kenal Bu Renita. Dengan seperti tadi, nama Bu Renita menjadi terangkat tinggi. He..he.." celetuk Ghifar sambil berjalan meninggalkan Renita.


"Nyah.. ayo kita harus segera pergi dari sini. Itu ada mas Cahyono turun ke bawah. Mungkin mau ke mushola, kita ikut saja." untuk mencegah semakin banyak orang mendekati Renita, Noncy menarik tangan perempuan itu dan mengajaknya ke mushola.


Renita hanya diam, dan mengikuti ajakan Renita untuk menuju musholla yang ada di depan gedung FST. Begitu sampai di mushola, ternyata Cahyono tidak mampir di mushola melainkan lurus ke warung burjo yang ada di Utara kampus. Renita dan Noncy ambil air wudhu dan segera mengenakan mukena.


Noncy kemudian menimbulkan sholat dhuhur secara berjamaah karena kebetulan tidak ada jamaah lain disitu. Pada saat Renita melakukan sholat, perempuan itu sudah merasakan ada yang tidak beres dalam tubuhnya. Namun perempuan itu masih terus memaksa diri untuk menyelesaikan sholat. Setelah selesai sholat, Noncy masih melakukan dzikir, tetapi Renita sudah merasa jika tubuhnya bereaksi.


"Yaasiin.., Wal Qur'anil hakim...": untuk mencoba menstabilkan kondisinya, Renita mencoba membaca surat Yassin. Beberapa ayat, dibaca Renita dengan tidak jelas dan Noncy membetulkannya. Sampai pada satu ayat, Renita sudah tidak mampu menguasai dirinya dan ponsel tergeletak kemudian Noncy melanjutkan membaca sampai dengan selesai.


*******

__ADS_1


__ADS_2