Ambisi Dan Sihir

Ambisi Dan Sihir
Chapter 59 Pembinaan Pegawai


__ADS_3

Selama tinggal di hotel, Renita tidak begitu mengalami rasa sakit. Hanya sedikit rasa nyeri tetapi masih bisa ditahannya. Berada di hotel tanpa ada aktivitas apapun, memang menjadi waktu untuk healing. Semua skripsi mahasiswa bisa dikoreksi dengan lebih cepat, dan mahasiswa yang melakukan bimbingan bisa datang ke hotel dan bimbingan di tempat tersebut.


"Besok jadi ke kampus mah.," malam hari Senin atau Minggu malam, Andri bertanya pada istrinya.


"Iya yah, ga enak saja jika ga datang. Masak mamah akan dipanggil ke yayasan hanya karena ga datang acara pembinaan pegawai saja. Lagian surat cuti juga baru mau mamah kumpulkan besok, jadi mulai Selasa samapta Selasa depan, mamah full istirahat di rumah." Renita menanggapi pertanyaan suaminya.


"Yah ga pa pa, benar pendapat mamah. Apalagi dulu mamah WR II, masak kegiatan SDM malah mau ga berangkat. Bismillah saja mah, tetap berangkat. Nanti mamah antar ke kampus." Andri menimpali.


"Ya yah..., mamah rencana mau puasa saja. Kebetulan besok barengan pas hari Senin Wage, pas hari weton lahir mamah. Kata Om Hao... pada saat hari weton itu pas lemah-lemahnya kondisi tubuh seseorang, dan saat paling mudah kiriman santet masuk ke tubuh kita. Kalo Kejawen puasa di hari Sabtu dan Seninnya. Tapi mamah pas hari Seninnya saja." Renita menjelaskan.


"Mah.. kalau mau puasa ya puasa saja. Niat puasa Senin Kamis, ga usah bawa nama-nama Om Hao." Sergah Andri tidak sependapat.


"Iya yah..., kan mamah juga cuman ngomong saja. Tidak perlu ayah pikir dalam-dalam. Mamah tetap niat puasa Senin Kamis. Sudah mamah mau lanjut koreksi skripsi mahasiswa ya." Renita mengakhiri pembicaraan.


Andri akhirnya diam, kembali melihat ponsel yang ada di tangannya. Tapi tidak lama kemudian, laki-laki itu berdiri dan keluar kamar untuk melihat Zidan.


******


Keesokan harinya


Pukul 05.30 wib, Renita keluar kamar untuk membangunkan Zidan karena harus berangkat magang. Andri tidak terlihat, mungkin baru keluar untuk membeli sarapan pagi. Sedangan Renita sudah mengatakan jika akan puasa, jadi tadi sempat melakukan sahur dengan roti tawar dan air putih.


"Tok.. tok.. tok.. dik.. adik.. bangun sayang sudah hampir jam enam pagi. Adik harus segera bersiap.." Renita memanggilnya Zidan.


Setelah menunggu beberapa saat, Zidan membuka pintu kamar dan masih mengucek mata melihat ke arah mamahnya. Renita mengikuti Zidan masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Lha kakak kemana dik, tidak datang to semalam." melihat hanya ada bantal dan selimut di atas bed, Renita bertanya.


"Ga... semalam Zidan sendiri. Kata kakak tidur di tempat temannya karena ada event di kampus." sambil berjalan ke kamar mandi, Zidan menjawab pertanyaan Renita.


Tidak lama kemudian Andri datang membawa tiga bungkus makanan. Kemudian meletakkan di atas meja di kamar Zidan.


"Yang bungkus itu kering mah, tadi lauknya kering tempe, mie sama ayam dan tahu. Untuk bekal ke sekolah, sedangkan yang satunya basah untuk sarapan. Yang satu bungkus lagi, untuk ayah sarapan." Andri menjelaskan.


Renita kemudian berdiri dan menyiapkan bekal untuk Zidan, dan memasukkan pada tas kresek. Satu botol air mineral juga ikut disiapkan dan diletakkan tepat di samping makanan yang digunakan untuk bekal. Tidak lama kemudian, Zidan keluar dari kamar mandi untuk bersiap-siap mengenakan pakaian seragam.


"Dik nasi bungkus yang ada air mineral untuk bekalnya ya. Tetapi yang dekat televisi untuk makan pagi adik. Mamah akan balik ke kamar." Renita memberi tahu putranya, kemudian berjalan untuk kembali ke kamarnya sendiri.


*******


"Mas.. minta tolong kamar saya dan depannya dibersihkan ya." ucap Renita sambil menyerahkan kunci kamar.


"Ya Bu.., nanti kami bersihkan." ucap pelayan laki-laki.


Setelah menyerahkan kunci, Renita kemudian keluar meninggal lobby. Ternyata Andri sudah menunggunya di depan pintu lobby, sehingga Renita langsung masuk ke dalam mobil. Perlahan mobil berjalan meninggalkan hotel.


"Gimana mah... merasa cocok dengan hotelnya?" tanya Andri dalam.perjalanan.


"Cocok yah, mamah merasa adem disitu. Juga masih ada sih rasa nyeri sedikit-sedikit, tapi mamah masih kuat menahannya." sahut Renita sambil meluruskan kaki, dan menurunkan sandaran kursi ke belakang.


"Syukurlah.. terus bagaimana mau diperpanjangnya lagi sampai genap satu Minggu, atau nanti pindah hotel lagi." sambil menyetir, Andri kembali bertanya.

__ADS_1


"Lihat besok saja yah, untuk suasana dan ketenangan , jujur yah mamah yess. Tempatnya sepi dan tenang,. hanya saja harus berhati-hati dengan tamu hotel yang sepertinya bukan pasangan baik-baik. Muda-muda tapi beda jenis yang banyak datang ke tempat itu." Renita menyampaikan tanggapannya.


Andri terdiam, dan tetap fokus mengendarainya mobil. Jalan Solo sampai dengan area Janti memang terkenal dengan kemacetan yang sangat padat. Baru setelah bisa melewati Sosro baju di jembatan Janti, baru bisa terlepas dari kemacetan. Tidak sampai satu jam perjalanan, akhirnya mobil yang dikendarai Andri sudah memasuki halaman kampus UP.


"Sudah sampai mah.., nanti ayah jemput jam berapa." sambil menghentikan mobil, Andri bertanya pada istrinya.


"Sore yah.. karena lihat run down acara sampai jam empat sore. Nanti mamah telpon atau kirim pesan saja kalau sudah selesai." sahut Renita sambil membuka pintu mobil.


Begitu Renita keluar dari dalam mobil, terlihat sahabat baiknya Noncy menuruni tangga auditorium menjemput kedatangannya. Melihat kedatangan Noncy, Andri turun kemudian berbicara beberapa patah kata pada perempuan itu. Setelah selesai, laki-laki itu kembali masuk ke dalam mobil. Kemudahan Noncy mendatangi Renita dan keduanya naik ke tangga auditorium bersama-sama.


"Kok harus dijemput Bu Ren.?" di pintu masuk auditorium, terlihat Ana Kepala Biro Keuangan yang baru bertanya pada Renita.


"Iya mbak, soalnya ada sesuatu yang tadi perlu untuk disampaikan." ucap Renita.


Mereka kemudian masuk, dan menuju ke tempat presensi kehadiran. Terlihat Rani tersenyum kepada mereka berdua.


"Bu Renita langsung duduk saja Bu, nanti aku tanda tangani presensinya." Rani sudah memberi isyaratkan akan mengisi daftar hadir Renita.


"Okay mbak, nanti kalau ada amplop panjang, aku minta ya. Untuk pengajuan cuti ." sambil berbisik Renita minta tolong Rani.


"Baik Bu . nanti tak ambil di yayasan." sahut Rani tegas


Noncy segera menarik tangan Renita, dan membawa ke tempat duduk yang sudah disiapkan untuk mereka berdua. Sebelum duduk, Renita kaget ternyata Kiki duduk tepat di belakangnya. Tapi karena melihat ke sekitarnya berisi teman-teman baiknya, akhirnya Renita memutuskan untuk duduk di sebelah tengah.


*******

__ADS_1


__ADS_2