Ambisi Dan Sihir

Ambisi Dan Sihir
Chapter 42 Istighfar


__ADS_3

Perlahan Renita meneteskan ruqyah sidr ke mata sebelah kiri, dan perempuan itu langsung merintih kesakitan. Air mata dengan deras mengalir keluar dari kelopak mata Renita, dan mulutnya terus merintih. Tidak berupaya untuk berhenti dan membiarkan mata kirinya kembali normal, Renita malah juga meneteskan di mata sebelah kanannya. Tiba-tiba saja, Mona terkejut melihat Renita tiba-tiba membaca ayat-ayat Al Qur'an, dan terlihat tubuh dosennya itu seperti kejang di depannya.


"Mona.. kirim Al Fatehah untuk ibu ya.." setengah berbisik, Renita meminta doa pada gadis di depannya.


Mona merasa panik, tatapan mata pada layar laptop di depannya tiba-tiba buyar. gadis itu membaca Al fatehah sambil terus memandangi dosennya yang tampak berjuang di depannya. Tiba-tiba tubuh Renita bergerak seperti binatang ular, dan mulutnya mengeluarkan desisan.


"Ada apa mbak...?" rupanya dari kursinya, Shuman mendengarkan apa yang terjadi pada rekan saru profesi dengannya itu.


Laki-laki itu segera beranjak dan datang ke meja Renita, dan melihat bagaimana Renita berjuang mengucapkan beberapa potongan ayat Al Qur'an. Tampak di belakang Shuman, mahasiswa laki-laki mengikuti dosen pria itu, dan terlihat Mona semakin panik.


"Mbak Mona.. tolong pintu ruangan di tutup ya. agar bu Renita tidak menjadi tontonan. Saya akan mencari bantuan.." untungnya Shuman segera bertindak melihat kondisi Renita yang semakin tidak terkendali. Terlihat jika Renita berjuang, seperti terus berusaha untuk mengucapkan ayat-ayat, tetapi sedetik kemudian perempuan itu tidak terkendali.


"Renita... Renita bin   Cokro Negoro.. kamu kuat, kamu kuat Renita.. Kamu lebih mulia, dari makhluk jahat yang ada dalam tubuhmu itu. Kamu kuat Renita bin Cokro negoro..." keluar suara Renita yang mendesis, seperti ingin mempertahankan kepemilikan atas sukmanya,


Dua mahasiswa itu merasa merinding, merasa ngeri melihat apa yang terjadi di depan mereka. Renita seperti orang yang kesakitan, namun tidak terlihat ada ketakutan. Hanya saja, sebentar-sebentar mereka seperti melihat Renita kembali, sebentar-sebentar sepertinya jin yang berbicara pada mereka.


"Kita harus bagaimana pak.." Mona dengan panik bertanya pada pak Shuman.


"Tenanglah mbak Mona, bantu saya dengan doa-doa yang dikirim untuk bu Renita ya. Saya juga sedang mencari pertolongan, saya sudah menghubungi orang yang biasa menolong Bu Renita, jika sedang mengalami hal seperti ini." Shuman mencoba menenangkan dua mahasiswa yang ada di ruangan itu.


"Baik pak.." kedua mahasiswa itu mencoba menenangkan diri. terdengar Shuman melantunkan ayat-ayat rukiyah untuk membuat Renita tersadar, namun perempuan itu malah semakin bereaksi.

__ADS_1


Tiba-tiba ketiga orang itu terkejut, melihat Renita mengambil ponsel dan terlihat sedang menelpon seseorang.


"Assalamu alaikum.. mah.. gimana.." sepertinya suara laki-laki, suami Renita yang menjawab panggilan.


"Ayah.. mamah tidak kuat.. Vian.. Vian.." dengan merintih dan suara tidak jelas, Renita berbicara pada suaminya,


"Iya mah.. istigfar.. istigfar, ayah akan menghubungi Vian untuk menjemput mamah.." dengan suara gemetar, Andri menjawab kata-kata istrinya. Saat ini Andri memang sedang tidak berada di Yogyakarta, laki-laki itu sedang bersama dengan mitra, untuk melayani event Jarum di Jakarta selama sepuluh hari.


Begitu Renita meletakkan ponsel, perempuan itu kembali terlihat kejang. Ceracauan tidak jelas keluar dari bibir perempuan itu, dan ketiga orang yang bersamanya juga terlihat semakin panik.


"Kring.., kring..." tiba-tiba ponsel Shuman mendapat panggilan masuk. Shuman langsung menerima panggilan tersebut, karena tenyata Cahyono yang melakukan panggilan. Shuman mengetahui, jika Cahyono menjadi orang yang pertama kali akan dimintai bantuan Renita, jika terjadi sesuatu padanya di kampus, Makanya tadi, Shuman mengirimkan pesan pada laki-laki itu.


"Okay.., pak Shuman tolong tenang ya. Ambilkan air minum ya.. jangan dari galon kampus, Beli di luar minumannya, aku akan membantu mengobati bu Renita dari sini pak, Kita sama-sama berusaha, semoga bu Renita segera sadar kembali.." dari seberang ponsel, Cahyono memandu Shuman,


"Carikan air minum di luar UP.." Shuman segera memerintah pada dua mahasiswa itu untuk mencarikan air mineral. Kedua mahasiswa itu langsung berlari keluar, dan tinggallah Renita hanya berdua dengan Shuman,


Shuman menatap Renita yang tampak berjuang untuk membuat kesadarannya kembali, laki-laki itu terus membaca surat-surat pendek yang diketahuinya. Tiba-tiba pintu ruangan dibuka dari luar, dan terlihat ada seorang laki-laki bertubuh besar masuk dan langsung menuju ke kursi tempat Renita duduk.


"Maaf pak, saya Ali keponakannya Bu renita.." Ali langsung memeluk dan menciumi kepala Renita.


"Mbak Ren.. mbak Ren.., sadar mbak. Ini aku Ali keponakanmu, aku tidak suka jika mbak Reni seperti ini terus. Sadar mbak.. mbak.." tanpa henti, Ali berusaha untuk menyadarkan Renita.

__ADS_1


Tiba-tiba dari luar, pintu kembali terbuka, dan terlihat dua mahasiswa sudah datang membawa masing-masing satu botol air mineral di tangannya.


"Bawa kesini mbak.., aku akan kembali menghubungi pak Cahyono..." setelah dua botol air mineral datang, kembali SHuman melakukan panggilan pada Cahyono.


"Aku akan mendoakan dari sini pak Shuman.., tolong tutup botol dibuka. Tunggu sekitar lima menit pak, nanti baru airnya dipaksakan untuk diminum bu Renita ya pak.." dari seberang telpon, Cahyono membuat arahan pada pak Shuman.


Beberapa saat, Renita berusaha terus mengendalikan dirinya. Keponakannya masih terlihat memeluk dan menyadarkan perempuan itu. Sedangkan Shuman dan kedua mahasiswa terlihat turut berdoa untuk kesembuhan Renita, sambil botol air mineral dibiarkan terbuka. Tidak lama kemudian...


"Bu Ren.. mohon minum beberapa teguk air mineral ini ya.." terlihat Shuman mengangkat botol air mineral, dan mencoba meminumkannya pada perempuan itu.


Tetapi Renita malah melotot dan menolak untuk minum air tersebut. Namun tiba-tiba muncul kesadaran dari sisi Renita yang lain, dan ketika Shuman menyodorkan botol ke bibirnya, tiba-tiba Renita meminum beberapa teguk air tersebut, Namun di luar dugaan, begitu air minum itu terteguk, tiba-tiba tubuh Renita dari pinggang ke atas, bergerak seperti seekor ular yang sedang menari.


"Sadarlah bu... istigfar.. Bismillahirrohmanirrohim..." kembali Shuman mengucap doa melihat reaksi Renita.


Tiba-tiba pintu kembali didorong dari luar, terlihat Vian putra sulung Renita memasuki ruangan dengan menatap tajam mata Renita. Melihat kedatangan laki-laki itu, Renita mengangkat kedua tangannya, dan membuat gerakan untuk membuat Vian tidak datang mendekat kepadanya.


"Mamah.. istigfar mah.. istigfar..." hal yang sama dilakukan Vian, anak itu juga meminta mamanya untuk mengucap istigfar.


Terdengar Renita berusaha keras untuk mengucapkan kalimat istigfar itu. "astagfirullah hal adzim..." tetapi suara perempuan itu seperti ada pemberat. Dengan terbata-bata, Renita berusaha mengucapkan kata istigfar yang memiliki arti Aku memohon ampun kepada Allah.


**********

__ADS_1


__ADS_2