Ambisi Dan Sihir

Ambisi Dan Sihir
Chapter 44 Tamu


__ADS_3

Renita segera beristirahat dan duduk di sofa ruang tamu begitu sampai di rumah. Vian ke dapur dan menjerang air, untuk membuatkan teh manis panas untuk mamahnya. Anak itu memang tahu kebiasaan dan kesukaan Renita, yang selalu mengandalkan teh manis panas untuk mengembalikan keseimbangan otaknya. tampak Ali masih menemani gadis itu dengan duduk di depan Renita.


"Mam.. kata ayah.. mas Cahyo mau mampir ke rumah. Barusan ayah kirim pesan via whattsapps.." sambil menjaga air panas, Vian memberi tahukan isi chat dari ayahnya yang saat ini masih ada di Jakarta.


"Kalau mau ada tamu, ya mamah dibantu beres-beres rumah dong. Masak mau ada tamu, rumahnya terlihat berantakan." sahut Renita. Perempuan itu memang memiliki alergi terhadap debu, jadi selalu menghindari bersih-bersih rumah.


Jika Renita memaksakan diri untuk bersih-bersih rumah, maka di wajah dan seluruh tubuhnya akan muncul bentol-bentol kemerahan. dan harus ke dokter kulit untuk penyembuhannya. Hal itu sudah terjadi beberapa kali, sehingga suami dan putra-putranya sudah memaklumi dan harus rela bersih-bersih rumah,


"Iya mah.. ini nunggu airnya mendidih dulu. Kalau teh manis panasnya sudah jadi, nanti Vian yang beres-beres." sahut putra sulung Renita dari dapur.


Beberapa saat kemudian, setelah teh manis panas tersaji, Vian melakukan apa yang diucapkan tadi. Anak muda itu dengan cekatan menyusun rapi tumpukan pakaian bersih, yang baru saja diambil dari laundry kiloan, kemudian menyusunnya di dalam lemari. Tetapi belum sempat Vian menyapu, Renita melihat Cahyono dan salah satu dosen baru di UP yang bernama Bayu datang, dengan mengendarai motor NMax.


"Itu temannya mbak Ren ya.. aku masuk ke kamar Zidan saja kalau begitu.." melihat ada tamu, bukannya ikut menemui, ALi malah kabur dan masuk ke kamar Zidan. Kebetulan Zidan sedang tidak ada di rumah, putra bungsu Renita itu sedang menjalani masa magang di salah satu perusahaan besar, yang ada di daerah Kalasan, wilayah paling timur propinsi DIY.


Setelah memarkir motor, terlihat Cahyono menatap rumah dari utara sampai arah selatan. Kemudian laki-laki itu diikuti Bayu temannya berjalan masuk menuju ke arah pintu masuk.

__ADS_1


"Assalamu alaikum.." di depan pintu, Cahyono dan Bayu mengucapkan salam,


"Wa alaikum salam, masuk mas Cahyo.. mas Bayu... ayo masuk ke dalam. Mohon dimaafkan ya, rumahnya masih berantakan. belum sempat disapu karena tadi mengajar pagi jam tujuh.." Renita segera meminta kedua tamunya untuk masuk ke dalam.


Kedua laki-laki muda itu kemudian melepas sepatu, dan masuk ke dalam kemudian duduk di depan Renita. terlihat Cahyono menatap tajam ke wajah Renita, seperti ingin menembus ke alam lain di dalam perempuan itu.


"Bagaimana tadi bu.. maaf ya tadi kebetulan saya dan pak Bayu ini sedang keluar dari kampus. Mas Bayu mengajak saya untuk melihat pameran buku, dan untungnya saya tadi pas ibu reaksi, duduk di parkiran, dan mas Bayu yang masuk ke dalam." Cahyono membuka pembicaraan.


"Iya mas.. maaf ya selalu merepotkan. Saya juga ga tahu, ga paham kenapa tadi saya kok merasa lemah. Sebenarnya sudah dari hari Jum.at mas, saya merasa tubuh saya seperti ada sesuatu. Bahkan di malam minggu kemarin mas, saya sampai tidak berani tidur. Pukul lima pagi, saya baru berani tidur, hanya gara-gara saya mimpi buruk, tapi tidak jelas mimpinya. Terbangun, saya sudah baca ayat-ayat doa, tidur lagi lha kok mimpi buruk lagi. Akhirnya karena takut mas.. akhirnya saya tidak berani tidur.." Renita menceritakan apa yang dialaminya selama satu minggu yang lalu.


Renita terdiam, berusaha mengingat apa yang telah dilakukannya selama satu minggu, tetapi perempuan itu sama sekali tidak mampu mengingat apa yang telah terjadi.


"Maaf mas Cahyo.. sepertinya saya tidak melakukan apa-apa ki mas.. Hari Jum.at saja saya ga ke kampus, terus ga pernah ngerumpi juga. Dimana saya menyinggung tentang kepemimpinan UP dan yayasan.." Renita mengatakan apa yang diingatnya.


"DIingat-ingat lagi bu.. mungkin tanpa sadar bu Renita terpeleset, karena kontrak antara yang merasa punya masalah dengan ibu itu dengan dukunnya, jika bu Renita mencampuri atau membicarakan urusan UP, maka jin yang ada di tubuh ibu akan menyerang dengan sendirinya." sambil tersenyum, Cahyono menjelaskan apa maksud dari pertanyaannya.

__ADS_1


Perempuan itu kembali berpikir dan mencoba mengingat-ingat apa yang dilakukannya pada minggu lalu. Tiba-tiba perempuan itu teringat, jika hari Kamis, Renita berbicara dengan pak Dar dan bu Marni tentang kinerja Rektor dan juga yayasan.


"Oh apakah itu ya mas.. kebetulan di hari Kamis itu, saya ngobrol dengan pak Dar dan Bu Marni. Apakah itu yang menyebabkan saya jadi begini.." Renita mulai menjelaskan,


"Tapi bukan itu bu.. sepertinya bu Renita menyinggung kepemimpinan.." sahut Cahyono mempertegas.


"Iya mas.. pada awalnya memang hanya ngobrol biasa, tapi akhirnya saya memang terpancing membuka semuanya mas. Karena pertanyaan pak Dar yang menanyakan tentang kabinet, pada saat saya masih menjadi Wakil Rektor.. akhirnya saya ceritakan semuanya. Saya masuk di Rektorat, kabinet sudah jadi dan disiapkan Pak Umam, sepertinya yang menyusun waktu itu dengan pak Budi, karena harapan Rektor dan yayasan kala itu, pak Budi yang akan menduduki sebagai Wakil Rektor. Tetapi karena pak Umam sudah terlanjur koar-koar, dan mengatakan bahwa suara terbanyak yang akan duduk sebagai WR, maka akhirnya saya  ditetapkan." Renita melanjutkan penjelasan,.


"Setelah itu mas.. pak Dar dan bu Marni bicara kemana-mana, dan apesnya waktu itu saya itu mengiyakan. Yah.. bicara tentang dhalim, otoriter dan lain sebagainya. Kemudian juga, di waktu paginya, saya itu mengajar dan bicara tentang kepemimpinan, terus saya waktu itu nyeletuk, jika kepemimpinan di UP saat ini berbeda dengan kepemimpinan di masa lalu. Pendekatan tidak lagi menggunakan hati... mungkin itu mas yang menjadi triggernya.." Renita mengakhiri penjelasannya.


"He.. he.. he.. tidak masalah bu.., masak bu Renita mau dibungkam. Ya sangat sulit, yang penting bu Renita itu sabar saja, karena ada kekhawatiran, jika bu Renita selesai S3, maka bu Renita akan naik.. bisa menjadi Rektor di UP, atau sebagai WR lagi..": Cahyono menanggapi,


"Oh no.. kapok mas. Menjabat di UP, hasilnya harus berurusan dengan jin dan dukun. Kalau hanya fisik mas, seperti ditusuk-tusuk atau rasa nyeri, aku masih bisa menahan mas. tetapi.. jika sudah mengambil alih pikiran, aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa.." sahut Renita,


"Iya bu.." sahut Cahyono.

__ADS_1


*********


__ADS_2