
Karena sudah diberitahu suaminya Andri jika sudah boleh kembali ke rumah, akhirnya Renita tidak memperpanjang masa tetirah di hotel, Dengan bahagia, setelah mereka melakukan breakfast di restoran, Vian dan Zidan membantu mamanya berbenah dan bersiap. Beberapa barang yang berat, diantarkan kedua anak laki-laki itu ke basement dan dimasukkannya ke dalam bagasi mobil., Jam sepuluh, akhirnya Renita mengajak dua putranya itu untuk check out, karena jika tadi check out pagi, mereka akan kesulitan untuk keluar dari dalam hotel. Karena selain basement, parkiran hotel juga sampai memenuhi halaman hotel, dan bahkan beberapa di antaranya sampai parkir di bahu jalan yang ada di depan hotel.
"Selamat pagi mbak, mau check out.." Renita mengembalikan kunci kamar dan menyiapkan satu lembar uang lembar seratusan ribu rupiah.
"Baik kak, tunggu sebentar ya akan kita check lebih dulu oleh room service.." petugas receptionis meminta Renita untuk menunggu.
Renita yang didampingi Vian dan Zidan masih menunggu dengan berdiri, dan setelah beberapa saat kemudian..
"kakak.. ini ada tambahan breakfast untuk dua pax ya, apakah benar. jika benar, berarti ada tambahan charge sebesar tujuh puluh ribu rupiah," petugas memberi tahu sejumlah uang yang harus dibayarkan oleh Renita,
"Ini mbak.., ambil saja kembaliannya." ucap Renita.
"Baik kak.. terima kasih.."
Renita dan kedua putranya kemudian menuju ke lahan parkir yang ada di belakang hotel. Terlihat motor Vario Vian terlihat berdebu, karena sudah beberapa hari tidak dibersihkan.
"Dik.. coba dipanasi dulu motornya, siapa tahu mesinnya ngadat. Karena spedometer motor itu mati, dicek sekalian tankinya, masih ada tidak bahan bakarnya, Jika kosong, nanti adik mampir dulu ke SPBU, diisi full," Renita membuat arahan.
__ADS_1
"Masih full mah... kemarin sebelum berangkat ke hotel, Vian sudah isi full tank. Baru digunakan untuk perjalanan dari Jalan Magelang kesini.." sambil memanasi mobil yang sudah lima hari tidak keluar dari hotel, Vian menjelaskan,
"Aamiin alhamdulillah... mah Zidan tak langsung dolan ya mah. Mau ke tempat pacar Zidan, kan dekat kalau sama hotel ini. Boleh ya mah..?" tidak tahunya Zidan malah minta ijin untuk pergi apel ke pacarnya.
Renita tersenyum sambil geleng-geleng kepala, tetapi akhirnya tidak tega juga untuk tidak mengijinkannya.
"Ya boleh pergi, tapi ingat waktu. Jangan biasakan dik, melebihi waktu adzan maghrib, ingat rumah pacar adik itu melebihi hutan kan. Bahaya, ada binatang buas, ada jin, atau ada orang-orang jahat yang lewat di tempat itu. Mereka sebenarnya tidak niat untuk mengganggu seseorang, tetapi melihat kesempatan akhirnya bisa timbul niat jahat." Renita kembali menasehati putra bungsunya itu.
"Iya mamah sayang.. Zidan berangkat dulu.." akhirnya, Zidan mulai menjalankan motor Vario punya Vian. Putra bungsu Renita dan Andri yang memiliki tinggi badan melebihi kakaknya itu, perlahan keluar meninggalkan hotel lebih dulu.
"Kita berangkat juga mah sekarang.., ini mesinnya sudah panas kok." akhirnya Vian juga segera mengajak mamanya untuk meninggalkan hotel.
**********
Sesampainya di rumah, keharuan menyeruak dan menyergap perasaan Renita. Ternyata berpisah dengan rumah kecilnya selama sepuluh hari membuatnya merasa kangen dengan setiap sudut rumahnya, Semua barang masih terletak sama pada posisi awal ketika ditinggalkan, malah terlihat lebih bersih karena sebelum berangkat event, suaminya Andri membersihkan rumah tersebut.,
"Mah.. trollynya Vian letakkan di dalam kamar mamah di lantai atas, atau ditaruh disini saja mah..?" Vian yang mengeluarkan semua barang dari dalam bagasi bertanya pada mamanya.
__ADS_1
"Di bawah saja kak, nanti kalau di atas malah wira wiri naik turun trollynya. Lagian itu banyak berisi pakaian kotor kan, karena beberapa belum sempat mamah cuci. Biasanya yang ngurusi ayah, begitu ayah ga pulang hotel, mamah malas ngurusinya." sambil berjalan ke lantai dua, Renita menjawab pertanyaan anak sulungnya.
Tanpa disuruh, Vian memisahkan pakaian yang kotor, kemudian memasukkannya ke mesin cuci. Sedangkan yang bersih dan sudah disetrika disusun ke lemari. Ternyata sebengal apapun seorang anak, ketika dihadapkan dengan kondisi orang tua yang sedang sakit, mesti akan tergerak untuk membantu meringankan pekerjaan orang tuanya.
Begitu membuka kamarnya di lantai dua, Renita menutup pintu kemudian menyalakan pendingin ruangan. Perempuan itu kemudian menggeletakkan tubuhnya di atas ranjang, dan merentangkan kedua tangannya ke kanan dan ke kiri. Tidak terasa, karena keharuan sudah beberapa hari meninggalkan rumah dengan alasan untuk upaya penyembuhan, air mata menitik dari sudut mata Renita. Tidak lama kemudian, perempuan itu menangis secara tergugu sendiri dalam ruangan.
"Kamu tidak boleh lemah Renita, segera persiapkan dirimu. Esok hari kamu harus kembali bekerja, masa cutimu sudah habis. Aku yakin akan banyak pertanyaan tentang kejadian terakhir yang kamu alami, ketika dirimu reaksi di kampus. akan menjadi bahan pertanyaan dari rekan-rekan kerjamu.." Renita tersentak., perempuan itu teringat dengan kejadian yang dialaminya terakhir.
"Hmm.. benar juga, ada konsekuensi rasa malu yang harus aku tanggung. Bahkan tatapan sinis dari orang yang mengirimkan sesuatu kepadaku, juga harus aku terima. Tetapi kamu tidak boleh terlihat kalah Renita, kamu harus tetap bersemangat kembali.." satu sudut hati perempuan itu, kembali mengalirkan semangat pada perempuan itu.
Perlahan Renita bangkit dari posisi berbaringnya, kemudian berjalan mengambil tas punggung yang digunakan untuk menyimpan laptopnya. Dari dalam tas tersebut, Renita mengeluarkan laptop kemudian membuka laptop tersebut perlahan, dan meletakkannya di atas meja. Setelah memasang charger dan menghubungkannya dengan sumber daya, juga memasang mouse, Renita mulai menyalakan laptop.
Notifikasi email masuk di email kampus banyak memenuhi layar laptop, dan Renita hanya tersenyum melihatnya. ternyata memutuskan untuk cuti, sama dengan menunda banyak pekerjaan.
"Untung hanya email-email dari mahasiswa saja, Juga informasi terkait jurnal internasional dari luar negeri, Alhamdulillah.. ternyata dengan memegang jabatan beberapa tahun lalu itu, waktuku banyak tergadai hanya untuk mengurusi orang lain. Pekerjaan pribadiku selaku dosen banyak terkesampingkan, dan kini saatnya aku harus bersaing dengan dosen yang lain." Renita berbicara dengan hatinya,
"Artikel yang aku kirimkan ke beberapa jurnal ilmiah nasional terakreditasi Sinta, sudah banyak yang menunjukkan hasil. Meskipun ada revisi, aku bisa membenahinya dengan cepat, karena hanya beberapa saja. Aku akan segera menuntaskannya." Renita kemudian membuka email-email penting yang terkait dengan pengembangan dirinya, dan mengabaikan email masuk yang dirasanya tidak penting.
__ADS_1
**********