Anak Kembar Tuan Muda

Anak Kembar Tuan Muda
Pernikahan


__ADS_3

Anna yang baru saja bangun tidur tampak kebingungan melihat keadaan mansion benar-benar sepi seperti tak berpenghuni.


Bukan hanya orang-orangnya saja yang tidak ada, tetapi semua perabotan mewah yang ada di tempat itu pun turut menghilang.


Anna tidak ingat dengan apa yang terjadi pada dirinya, tiba-tiba saja dia merasakan kantuk yang luar biasa seperti seseorang sengaja membuatnya tertidur. Dan ketika Anna bangun, seluruh penghuni rumah beserta isinya sudah menghilang entah kemana.


"Apa yang terjadi di sini?! Kemana perginya semua orang di rumah ini?" ucap Anna kebingungan.


Anna pergi keluar dan mendapati dirinya berada di tempat yang asing. Bukan lagi jalanan beraspal yang ada di depan matanya, melainkan hutan belantara. Terdengar deburan ombak yang tak terlalu jauh dari tempatnya berdiri saat. Dan di sekelilingnya hanya ada pohon-pohon besar, tak ada bangunan lain lagi ditempat ini. Karena yang Anna tempati adalah bangunan satu-satunya.


Dan Anna baru sadar jika dirinya berada di tempat lain, bukan Mansion mewah yang ia tempati selama ini. Bagian dalamnya memang sama persis sehingga Anna berpikir jika dirinya masih berada di tempat yang sama. Padahal ia telah berada di tempat berbeda.


"Aaarrrkkhhh!!! Sial!! Ternyata mereka membuangku ke tempat terpencil ini!! Li, aku tidak akan memaafkanmu!!"


.


.


Di sebuah ruangan yang didominasi warna putih. Terlihat seorang wanita cantik dalam balutan gaun pengantinnya.


Wajahnya di make up sederhana namun tak mengurangi sedikitpun kecantikannya. Natural namun tetap elegan.


Berkali-kali wanita itu mengambil nafas panjang dan membuangnya. Dan hal tersebut sudah dia lakukan selama berulang-ulang, tak hanya sekali dua kali saja.


Gugup terlihat jelas di raut wajah cantiknya, hari ini adalah hari pernikahannya. Hari yang akan menjadi awal baru dalam perjalanan hidupnya.


Entah dia harus merasa bahagia atau tidak dihari spesialnya ini, mengingat jika pria yang menikah dengannya bukanlah orang yang dia cintai. Tak ada cinta dalam pernikahan mereka, tetapi dia berusaha percaya pada pria yang telah membuatnya menjadi seorang ibu.


"Kau sudah siap?" wanita itu menoleh kebelakang. Dan mendapati Zian berjalan menghampirinya.

__ADS_1


Nara memperhatikan penampilannya. Tuxedo hitam dengan kemeja putih di dalamnya tak lupa dasi pun melekat di lingkaran kerah kemeja. Celana bahan hitam dengan alas kaki sepatu kulit berwarnakan sepadan, benar-benar sangat cocok dipakai. Wajah yang tampan dengan rahang yang tegas membuatnya terlihat seperti pengantin lelaki yang gagah.


Melihat seberapa tampannya Zian saat ini, membuat Nara menjadi gugup setengah mati. Lelaki itu terus menatapnya dan itu membuat nyawa Nara seperti tercabut dari tubuhnya. Kemudian Zian mengangkat tangannya dan mengarahkan pada wajah si wanita.


"Apa yang membuatmu terlihat begitu gugup, hm?" tanya pria itu penasaran.


Wanita itu menggeleng. "Tidak ada," Nara tersenyum, mencoba menyembunyikan kegugupannya. Dia tidak ingin jadi bahan olok-olokan karena kegugupannya itu.


"Kau sudah siap?" tanya Zian sekali lagi. Nara mengangguk. Kemudian Zian mengulurkan tangan padanya. "Ayo, semua orang sudah menunggu kita."


Nara tak langsung menerima uluran tangan Zian. Dia menatap laki-laki itu dengan pandangan tak terbaca. Zian mengangguk, mencoba meyakinkan Nara. Dengan ragu dan tak yakin, Nara pun menerima uluran tangan itu. Keduanya kemudian tinggalkan ruang male up dan menuju tempat resepsi.


Rasanya Nara ingin menangis melihat orang-orang yang sudah menunggu kedatangannya.


Ayah Zian terlihat bangkit dari kursinya lalu berjalan menghampiri calon menantunya.


Sudut bibirnya tertarik ke atas bentuk senyum tipis di bibir yang mulai memiliki banyak kerutan itu. Tuan Li mengulurkan tangannya pada Nara lalu menuntunnya menuju altar.


"Mama, kau sangat cantik hari ini. Kau seperti Dewi." teriak Lea dengan hebohnya. Gadis kecil itu terkagum-kagum melihat Ibunya yang sangat cantik hari ini.


"Tidak Bisakah kau diam saja?! Kau terlalu berisik, Lea!!" Ucap Leon dengan nada sinis.


Lea menolak dan menatap segala saudara kembarnya itu. "Dasar bocah kutub!! Kenapa semakin hari mulutmu semakin menyebalkan saja, jika tidak suka sebaiknya kau diam tidak perlu didengarkan!!" jawab Lea tak mau kalah.


Leon mendengus, berbicara dengan Lea terkadang memang membutuhkan kesabaran. Saudari kembarnya itu memang sangat menyebalkan. Begitulah menurut Leon.


Tak banyak yang hadir di pernikahan mereka, hanya orang-orang terdekat mereka saja. Sunny sampai tidak bisa menahan air matanya melihat sahabatnya akhirnya menikah.


"Nona, ini saputangan untukmu." Seseorang tiba-tiba memberikan sapu tangannya pada Sunny. Meminta perempuan itu agar menyeka air matanya.

__ADS_1


Sunny tersenyum. "Terimakasih, Tuan." Ucapnya dengan senyum yang sama. Pria itu mengangguk.


Keduanya kemudian diam dalam keheningan. Acara telah dimulai dan mereka berdua sedang mengikat janji untuk sehidup semati.


Sebagai sahabat Nara dan satu-satunya orang yang mengetahui jalan hidupnya tentu merasa bahagia sekaligus terharu melihat sahabatnya itu akhirnya menemukan kebahagiaan dalam hidupnya.


"Mulai hari ini, kalian berdua dinyatakan telah resmi menjadi suami istri. Tuan Li, silahkan mencium pengantin, Anda."


Jantung Nara berdegup dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Ketika melihat Zian mengangkat kedua tangannya untuk membuka tudung pengantinnya. Wanita itu gugup setengah mati terlebih-lebih ketika melihat senyum dibibir lelaki yang telah resmi menjadi suaminya tersebut.


Zian memiringkan kepalanya dan mengarahkan bibirnya menuju bibir Nara. Buru-buru Tuan Li menutup mata kedua cucunya. Dia tidak ingin jika mata suci cucunya sampai ternodai oleh Apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.


Lihat pasangan baru itu yang saling berciuman membuat beberapa orang berteriak dengan heboh. membuat wajah Nara semakin memerah karena menahan malu. Ciuman itu tak berlangsung lama, hanya beberapa detik saja.


Zian menjauhkan wajahnya dari wajah Nara sambil tersenyum tipis.


"Bibirmu sangat manis, mulai detik ini bibirmu akan menjadi candu bagiku."


Seketika Nara menatap suaminya itu dengan sebal. Dengan kesal cara memukul pelan dada Zian. Bukannya marah dan tersinggung, laki-laki itu justru tertawa.


Kedua mata Nara membelalak seketika ketika Zian menciumnya untuk kedua kalinya, kali ini lebih dalam dan lebih lama. Bukan lagi ciuman lembut dan diangkat seperti sebelumnya.


Melihat orang berciuman membuat Sunny merasa iri. Bagaimana tidak, dia yang mendapatkan julukan jomblo abadi pun merasa sedih. Padahal Sunny juga ingin memiliki pasangan kemudian berciuman seperti itu.


Jika saja dia tidak menolak setiap pria yang coba mengejarnya, mungkin saat ini dia tak sendirian seperti ini. Sunny mungkin telah memiliki pasangan hidup yang tepat seperti Nara.


-


-

__ADS_1


Bersambung.


.


__ADS_2