
"Sena,"pekik Dito khawatir disaat Sena terjatuh saat berlari, dengan segera Dito menghampiri Sena dan memeriksa kaki Sena.
"Hiks hiks hiks."
"Kenapa kamu tidak hati hati saat berlari hah, lihat ini kaki kamu jadi bengkak,"sentak Dito khawatir membuat Sena semakin menangis karena mengira Dito marah padanya.
"Huwaaa hiks maaf, hiks hiks,"tangis Sena semakin pecah membuat Dito langsung merengkuh tubuhnya.
"Maafkan aku Se, bukan maksud ku ingin memarahi mu, tapi aku khawatir kalau kamu terluka,"ucap Dito lembut mencium hangat kening Sena.
Om Yogi berlari menghampiri Sena, ia langsung khawatir disaat melihat kaki Sena biru karena terkilir.
"Apa ini sakit?"tanya om Yogi memegang kaki Sena yang biru, namun dengan cepat Sena menepis tangan om Yogi.
"Jangan sentuh Sena hiks hiks,"ucap Sena berderai air mata, karena bagaimanapun ia tak bisa langsung memaafkan om Yogi.
"Sena, kakak bisa jelaskan alasan kakak tidak bisa menemui mu,"balas om Yogi berbicara lembut membuat Dito sedikit terkejut karena baru kali ini dia mendengar om Yogi berbicara lembut, bahkan dengan Bilqis pun om Yogi tetap berbicara ketus, datar dan dingin.
"Jangan sebut oom kakak, karena oom bukan kakak Sena hiks hiks, Sena benci itu,"teriak Sena menangis mendorong tubuh ok Yogi.
"Se, tenanglah biarkan dia menjelaskan semuanya, kamu tidak boleh egois begini,"ucap Dito lembut menggenggam tangan Sena guna untuk meredamkan amarah Sena.
"Tinggalkan kami berdua,"pinta om Yogi menatap Dito dengan penuh harap.
"Jangan coba coba pergi dari sini om, karena kalau sampai oom pergi hubungan kita selesai,"ucap Sena memeluk erat tubuh Dito seolah-olah tak ingin lepas.
Dito memejamkan matanya, karena ini adalah pilihan yang sangat berat baginya, ia tahu bagaimana sifat Sena yang selalu menepati perkataannya, tapi dia juga tahu kalau om Yogi butuh waktu berdua dengan Sena agar bisa meluruskan kesalahpahaman antara mereka berdua.
Aku tidak boleh egois batin Dito.
"Om hiks hiks jangan pergi,"tangis Sena kembali pecah terdengar memilukan disaat Dito melepaskan paksa pelukan mereka.
"Bagaimana pun dia adalah kakak mu Se, jadi kamu tidak boleh egois,"ucap Dito lembut membelai pipi Sena.
"Tidak, itu belum tentu benar karena kami belum melakukan tes DNA,"bantah Sena.
Om Yogi langsung mengeluarkan amplop berwarna putih berlogo rumah sakit, dan memberikan nya pada Sena.
"Pak Danang telah melakukan tes DNA nya, dia mengambil sehelai rambut mu disaat itu,"ucap om Yogi membuat Sena langsung membuka amplop tersebut, ia langsung merobek kertas tersebut.
__ADS_1
"Tetap saja Sena tidak punya kakak dan tidak akan pernah memiliki kakak,"sentak Sena langsung memeluk tubuh Dito namun Dito langsung bangkit membuat Sena terperangah.
"Luruskan kesalahpahaman kalian Se, nanti aku akan menjemputmu bila sudah selesai,"ucap Dito tersenyum lembut dan langsung pergi masuk kedalam mension keluarga Lemos.
"Sena benci om Dito, Sena minta putus,"teriak Sena marah namun tak di gubris oleh Dito.
Om Yogi langsung menggendong tubuh Sena ala bridal style, Sena memukul tubuh om Yogi kencang namun tak membuat si empunya marah.
"Lepaskan,"teriak Sena marah.
"Ternyata kamu lebih berat daripada nona Bilqis,"ucap Om Yogi tersenyum lembut dengan berani mencium kening Sena.
"Jangan cium cium Sena,"sentak Sena menangis langsung menghapus jejak bibir om yogi di kening nya.
"Tapi kakak suka,"balas om Yogi santai masuk kedalam mobil seraya memeluk erat tubuh Sena yang berada di pangkuannya.
"Turunkan Sena,"ucap Sena kesal.
"Bawa kami ke jalan xy nomor 12,"titah om yogi pada anak buah nya.
Selama perjalanan Sena memberontak ingin melompat dari mobil namun om Yogi berhasil mengunci tubuh Sena.
"Lepasin oom gila,"teriak Sena.
Entah mengapa Sena merasa tak tega memberontak lagi disaat merasakan sesuatu yang basah mengalir di lehernya, ia tahu kalau itu adalah air mata om Yogi.
"Maafkan aku,"lirih om Yogi dengan suara yang serak membuat Sena memejamkan matanya agar air mata tak luruh kembali, entah dorongan apa yang membuat tangannya terangkat mengelus punggung om Yogi yang bergetar.
"Kita sudah sampai tuan."
Om Yogi langsung menggendong Sena keluar dari mobil, terlihat jalan tersebut sangat sepi, tidak ada kendaraan yang berlalu-lalang.
"Disini aku di buang oleh ayah dulu,"ucap om Yogi membuat Sena tersentak.
"Saat itu, ayah mengajak ku untuk keluar membeli mainan baru, aku sangat senang karena itu kali pertama ayah berbicara lembut kepada ku, di hari itu kami menghabiskan waktu dengan bersenang senang di taman bermain, dia membelikan ku mainan yang sangat banyak, aku benar benar merasa bahwa hari itu akan menjadi awal yang bahagia di dalam hidup ku.
Namun itu semua hanya cara ayah membuat ku lalai, hari berubah menjadi malam saat itu, ayah membawa ku kesini, senyuman dan nada bicara yang lembut saat aku bermain dengannya hilang begitu saja saat itu, ia menatap ku dengan tatapan penuh kebencian."
Flashback.
__ADS_1
"Siapa nama mu?"tanya Ayah Sena.
"Nama ku Yogi ayah,"jawab ok Yogi kecil dengan ceria karena itu pertama kalinya ayah Sena bertanya namanya.
"Yogi apa julukan mu?"tanya ayah Sena membuat om Yogi kecil menunduk mencengkram baju nya.
"Kata ibu julukan ku anak haram ayah,"jawab om Yogi menggigit bibir bawahnya.
"Kau tahu kenapa aku membenci mu Yogi?"tanya ayah Sena membuat om Yogi kecil mendongak menatap wajah ayah Sena dengan bola mata yang berkaca-kaca.
"Karena kau lahir di luar nikah, karena kau penyebab aku bangkrut, karena kau anak haram Yogi, karena julukan mu itulah membuat aku dan Nana (ibu om Yogi) di usir oleh keluarga kami, jadi sekarang kau harus pergi jauh dari kehidupan kami, agar kehidupan kami kembali menjadi baik seperti dulu,"tegas ayah Sena dengan suara yang serak menahan tangis.
"Ayah,"lirih om Yogi memeluk kaki ayah Sena.
"Menjauh lah dari hidup kami,"ucap ayah Sena mendorong tubuh om Yogi hingga terjatuh ke tanah, ayah Sena langsung mengemudikan motor matic nya meninggalkan om Yogi kecil yang menangis sesenggukan mengejar nya.
"Ayah hiks hiks, jangan tinggalkan Yogi,"teriak om yogi menangis.
flashback off.
Sena yang mendengar cerita om Yogi air matanya langsung luruh begitu saja, ia tak menyangka ayah nya sejahat itu.
"Kau tahu betapa takut nya aku disaat mendengar bahwa aku punya adik, aku takut kalau ayah menelantarkan mu di jalanan sama seperti ku, aku pernah ke rumah lama mu untuk mencari mu dan ibu mu namun sayang, ternyata kamu sudah pindah saat itu." Om Yogi pun menceritakan semuanya tentang bagaimana kehidupan nya di pinggir jalan, semua lika liku yang om Yogi alami, dari di kejar preman, mengemis, memungut makanan dalam Ting sampah agar bisa makan, hingga ia di angkat menjadi anak sekaligus tangan kanan oleh Chen yang ternyata mempunyai kehidupan yang hampir sama dengan nya.
"Sekarang setelah aku menceritakan semuanya pada mu, apakah kamu masih membenci ku sebagai kakak mu,"tanya om Yogi dengan mata yang memerah.
Sena dapat melihat jelas bahwa ada kesedihan, ketakutan, kesepian, amarah, kecewa bercampur menjadi satu dalam mata om Yogi.
**Bersambung
hai kakak author balik lagi nih...
Author mewek nulis part ini😭😭😭😭
Tisu mana Tisu🤧🤧🤧
jangan lupa like coment vote dan beri rating 5..
salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🥰❤️
__ADS_1
Mampir juga ke novel author yang baru**..