Anak Kembar Tuan Muda

Anak Kembar Tuan Muda
Benar-Benar Keterlaluan


__ADS_3

"Segera kemasi semua barang-barangmu dan angkat kaki dari rumah ini. Karena rumah ini tidak bisa menerima wanita seperti ini!!"


Keputusan Zian sudah final. Kesabaran kali ini benar-benar sudah habis untuk Ibunya. Anna semakin menjadi saja. Dan yang membuat Zian tidak terima adalah perbuatan Anna pada Nara, dia berencana untuk menyingkirkannya!! Jika Anna tetap dibiarkan tetap di rumah ini, bukan hanya keselamatan Nara yang terancam, tetapi si kembar juga.


"Zian, aku ini Ibumu!! Ibu yang melahirkanmu, tapi kenapa kau malah mengusirku keluar dari rumah ini hanya demi orang asing?!"


"DIA BUKAN ORANG ASING!!" Zian meninggikan suaranya dan membuat Anna terkesiap. Ini pertama kalinya Zian berteriak dan membentaknya. Tak hanya Anna yang terkejut, tetapi Nara juga.


"Zian, kenapa kau malah membentak, Mama?"


"Dengar ya, Nyonya Anna Wilson. Wanita yang kau sebut sebagai orang asing ini adalah Nyonya yang sebenarnya di rumah ini. Dia adalah calon istriku dan juga ibu dari anak-anakku!! Sebelum aku semakin hilang kesadaran dan tak terkendali lagi, sebaiknya segera angkat kakimu dari sini dan tinggalkan rumah ini!!"


"Aku tidak mau!! Sejak awal akulah Nyonya di rumah ini. Dan hanya aku yang layak berada disini, bukan dia!!" Anna menunjuk Nara sambil menatapnya tajam.


Anna sungguh tidak terima jika dirinya yang keluar dari kediaman Li, karena sejak awal dialah yang menjadi nyonya besar bukan orang lain. Anna memang pernah melakukan sebuah kesalahan besar dengan meninggalkan Zian dan Tuan Li. Tetapi sekarang dia telah kembali, dan sudah seharusnya posisi nyonya besar kembali ke tangannya.


"Baiklah kalau kau tetap bersikeras, aku akan membiarkanmu tetap tinggal di sini, tetapi bukan sebagai nyonya besar melainkan sebagai pelayan!!" keputusan Zian sudah final.


Dan jangan pernah menyebutnya sebagai anak durhaka, karena ibunya yang lebih dulu menelantarkannya ketika siang masih membutuhkan kasih sayang dan kehangatan dari sosok wanita yang telah melahirkannya itu. Tetapi Anna malah kabur dengan sopir pribadinya dan meninggalkan keluarganya.


"Apa kau bilang? Kau menjadikanku sebagai pelayan? Zian, Apa kau bercanda? Aku ini Ibumu, Ibu kandungmu!! Dan kau ingin menjadikanku sebagai pelayan di rumahmu sendiri, apa menurutmu itu pantas?!"


"Tentu saja pantas, dan itu setimpal dengan apa yang telah kau lakukan padaku di masa lalu!! Dan berhentilah bersikap jika kau yang paling tersakiti, karena sebenarnya kaulah penyebab dari kehancuran keluarga kita!! Nara, pergilah ke kamarmu untuk istirahat. Ini sudah larut malam!!" pinta Zian dan pergi begitu saja.


Selepas kepergian Zian dan Nara, di dapur hanya menyisakan Anna seorang diri. Anna berteriak dan menghancurkan apapun yang ada di dekatnya, dia benar-benar marah dan emosi atas keputusan Zian yang menurutnya sangat tak masuk akal.

__ADS_1


"Zian, kau benar-benar keterlaluan!!"


.


.


Nara masih tetap terjaga meskipun waktu sudah lewat tengah malam. Jam dinding telah menunjuk angka 01.00 diri hari. Tetapi dia belum juga bisa memejamkan matanya, meskipun sebenarnya rasa kantuk telah menyerangnya sadari tadi.


Dia masih belum terbiasa berada di tempat yang asing. Bersama orang-orang baru dan asing, dan itu yang membuatnya merasa kurang nyaman. Namun Nara tetap harus bisa menyesuaikan diri mulai dari sekarang. Karena dia akan tinggal di rumah ini untuk seterusnya.


"Kenapa kau masih belum tidur?"


"Omo!!"


Nara terlonjak kaget mendengar suara seseorang yang bertanya padanya. Sontak ia menoleh dan mendapati Zian berjalan menghampirinya. "Zian, kenapa kau mengejutkanku?! Apa kau sengaja ingin membuatku terkena serangan jantung dadakan ya?!" sebuah nada protes Nara layangkan pada lelaki itu.


"Ti..Tidak perlu, aku bisa tidur sendirian tidak perlu ditemani. Kau pergilah ke kamarmu sendiri. Aku mau tidur!"


Zian menarik lengan Nara dan menghimpitnya ke tembok. matanya mengunci mata Hazel milik wanita itu. Jantung Nara berdegup kencang ketika mata mereka berdua bertemu pandang. Seperti orang yang baru saja mengikuti lari maraton.


"Kenapa kau masih malu-malu begitu? Bukankah kita berdua sudah pernah melewati one night stand bersama? Apa kau tidak ingin mengulanginya sekali lagi?" Zian tersenyum miring.


"jangan coba-coba, lagi pula kejadian malam itu juga karena kecelakaan. Jika bukan karena kecelakaan satu malam, aku tidak mungkin melewati one night stand denganmu!!" jawab Nara menimpali.


Zian terkekeh mendengar jawaban wanita di depannya ini. Zian kemudian mendekatkan wajahnya dan menarik tengkuk Nara lalu mencium bibirnya. Membuat kedua mata Nara membulat sempurna karena terkejut. Tak hanya sekedar menempel saja, Nara mulai merasakan pagutan-pagutan kecil yang semakin lama berubah menjadi sebuah ciuman yang menuntut.

__ADS_1


Perlahan tapi pasti Nara menutup kedua matanya dan mulai menikmati ciuman Zian. Meskipun dirinya ingin menolak ciuman tersebut namun tidak dengan hatinya, dan akhirnya Nara pun mengikuti kata hatinya untuk membalas ciuman Zian.


Zian menuntun tangan Nara untuk memeluk lehernya. Zian menekan bagian tengkuk Nara agar ciuman mereka tak mudah terlepas. semakin lama ciuman Zian semakin dalam dan semakin menuntut, bukan lagi ciuman lembut seperti sebelumnya melainkan sebuah ciuman panas yang syarat akan hasrat untuk melakukan lebih.


"Eeeghhhh .."


Lenguhan panjang keluar dari bibir Nara ketika lidah Zian menelusup masuk ke dalam mulutnya. Tak ada lagi ciuman lembut seperti sebelumnya.


Dan ciuman itu baru terlepas ketika Zian merasakan pukulan pada dadanya. Nara mulai kehabisan nafasnya.


"Kenapa kau sangat payah sekali, Sayang?" ucap Zian sambil menyesal sisa liur di bibir Nara.


"itu karena aku tidak berpengalama!! Dan sejak memiliki si kembar Aku tidak pernah berhubungan lagi dengan siapapun dan laki-laki manapun, Aku tidak ingin membagi cintaku dengan orang lain dan mengabaikan mereka berdua!!"


"Lalu apakah itu artinya tidak ada cinta juga untukku yang notabennya adalah Ayah biologis dari anak-anakmu?" Zian menatap Nara penuh penasaran.


Nara mengangkat bahunya. "Aku tidak tahu, lagipula aku dan kau belum saling mengenal. Bukankah seharusnya kita saling mengenal terlebih dahulu?"


Zian mengangguk. "Ya, benar yang kau katakan. Aku akan memberimu waktu untuk lebih mengenalku lagi, tapi bukan berarti aku akan menunda pernikahan kita. Aku tidak ingin orang lain memandangmu rendah karena kau tinggal satu atap dengan laki-laki yang bukan suamimu!! Dan aku sudah membicarakannya dengan papa pernikahan kita akan dilakukan akhir pekan ini!!"


Sontak Nara menatap Zian. "Akhir pekan ini? Tapi apakah itu tidak terlalu terburu-buru?"


Zian menggeleng. "Tidak, karena lebih cepat lebih baik. ya sudah, cepatlah tidur ini sudah larut malam. Aku keluar dulu, good night." Zian mencium kening Nara dan pergi begitu saja.


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2