Anak Kembar Tuan Muda

Anak Kembar Tuan Muda
Tidak Bisa Hamil Lagi!!


__ADS_3

"Nara, apa kau hamil lagi?!"


Gerakan tangan wanita itu terhenti setelah mendengar pertanyaan Zian. Nara memicingkan matanya dan menatap Zian penuh tanya.


"Hamil?! Siapa yang hamil? Aku tidak hamil, dan tidak mungkin bisa hamil. Saat melahirkan Lea dan Leon, mengalami pendarahan hebat. Karena ada suatu problem, rahim ku harus diangkat yang membuatku tidak bisa hamil lagi." ujarnya menuturkan.


Zian memicingkan matanya. "Diangkat?!" dia mengulangi kata-kata Nara, dan wanita itu menganggukkan kepala.


"Ya, dan aku muntah-muntah dari pagi bukan karena hamil melainkan sedang masuk angin. Jadi Jangan berpikir yang tidak-tidak, dan kita tidak akan memiliki anak lagi selain mereka berdua!!"


Seketika Zian terdiam mendengar apa yang Nara katakan. Cobaan seorang wanita adalah tidak bisa memiliki anak lagi.


Meskipun mereka sudah memilikinya satu ataupun dua, tapi tapi terkadang mereka juga ingin memiliki anak lagi. Sedangkan Nara tak mungkin bisa memilikinya lagi. Dan Zian yakin, di balik senyumnya ada luka tersayat yang menganga.


Zian maju satu langkah lalu membawa Nara kepelukannya. "Tidak apa-apa. Bukankah kita sudah memiliki dua, bagiku itu sudah lebih dari cukup. Kita besarkan mereka dengan penuh kasih sayang dan perhatian yang lebih, agar mereka tak pernah merasa kekurangan kasih sayang segitiga pun." Ucap Zian sambil mengusap kepala Nara naik turun.


Wanita itu tersenyum kemudian mengangguk. "Ya," ucapnya lalu membalas pelukan suaminya.

__ADS_1


Jauh di dalam lubuk hatinya, sebenarnya Nara juga ingin memiliki anak lagi. Dia ingin memiliki seorang bayi yang menggemaskan, tetapi dia juga tidak bisa memaksakan diri karena Tuhan tak menghendakinya. Dan yang bisa Nara lakukan hanyalah pasrah dan menerima.


Zian melepaskan pelukannya pada Nara sambil mengukir senyum tipis di bibirnya. "Kau adalah wanita yang kuat, dan aku bangga memiliki istri sepertimu. Terima kasih telah memberikan dua malaikat kecil yang cantik dan tampan." ucapnya dengan Senyum merekah.


Nara tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Kemudian Nara mendekati Zian dan memeluknya dengan erat. "Terimakasih karena sudah menerima kekuranganku, aku sungguh-sungguh bahagia memiliki suami sepertimu." Ucap Nara setengah berbisik.


Zian lagi-lagi tersenyum tipis. Dia mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Nara. "Sama-sama, Sayang."


Kebahagiaan Zian terletak pada Nara dan kedua buah hati mereka, dari semua harta berharga yang dia miliki, tetapi hanya mereka bertiga harta paling berharga yang akan selalu Zian jaga dengan segenap jiwanya. Karena mereka bertiga tak akan pernah terganti apapun yang terjadi.


.


.


"Giselle, cepat buka pintunya. Sampai kapan kau akan mendukung dirimu di kamar?! Jangan hanya karena kehilangan rambutmu, kau jadi frustasi seperti ini!!"


"Mama, diamlah!!"

__ADS_1


Wanita itu terlonjak kaget akibat ulah putrinya, Giselle melempar sesuatu ke pintu hingga menimbulkan suara dentuman yang sangat keras.


Dan jika orang yang memiliki riwayat penyakit jantung, bisa dipastikan orang itu akan meninggal detik itu juga.


"Giselle, kau ingin membunuh mama ya?!" bentak wanita itu dengan emosi.


"Apa Mama tuli, bukankah aku sudah meminta Mama untuk tidak menggangguku?! Tetapi kenapa Mama masih terus saja datang dan memintaku untuk keluar?! Aku tidak akan keluar, tidak akan!!" teriak Giselle dengan suara meninggi.


"Terserah!!"


Tak tahu lagi Bagaimana harus menghadapi putrinya, akhirnya wanita itu pun memilih menyerah. Karena berbicara dengan Giselle sudah tidak ada gunanya. Dia juga tak akan mendengarkannya, dan Langkah terakhir yang bisa diambil adalah membawa Giselle ke rumah sakit jiwa.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2