
Setelah menenangkan Ara, Dito langsung menidurkan Ara kembali, ia mengelus kepala Ara lembut hingga tak lama terdengar suara nafas Ara yang kembali teratur, semua perlakuan Dito itu di lihat langsung oleh Leo, entah kenapa Leo merasa kesal dan marah, apalagi disaat Dito memeluk Ara tadi.
"Bisa jelaskan apa sebenarnya yang terjadi Dit,"tanya Leo dingin menatap tajam ke arah Dito.
"Huff baiklah, mari kita bicara tapi tidak di sini melainkan taman belakang,"ajak Dito menghela nafas berat, percuma menyembunyikan tentang Ara pada Leo pikirnya.
Leo melihat suasana rumah yang nampak sangat sunyi, berbeda dengan kemarin yang lumayan ramai, bahkan orang tua Ara tak nampak batang hidungnya.
Leo dan Dito duduk di sebuah kursi taman, Dito menatap sayu ke arah depan.
"Ara bukan perawan lagi,"ucap Dito pelan.
"Aku sudah tahu itu, dan kenapa kau tidak memberitahukan itu kepada ku,"sentak Leo menatap kesal ke arah Dito.
"Kau marah?"tanya Dito tersenyum sinis.
"Tidak, aku tidak marah namun aku kecewa saja kepada mu, kenapa kau tidak memberitahukan hal tersebut kepada ku, apa mentang mentang aku seorang cassanova dan bukan perjaka lagi, makanya kau menikahkan ku dengan Ara yang tidak mempunyai perawan lagi,"sarkas Leo.
"Benar."Leo langsung bungkam disaat mendengar jawaban Dito, ia tak menyangka bahwa gelar cassanova nya membuat dirinya menikah dengan wanita yang bukan lagi perawan, mungkin benar kata orang kalau seorang laki laki merusak wanita, maka bersiaplah laki laki tersebut karena wanita nya juga akan dirusak.
"Tapi itu hanya alasan pertama ku."
Leo menatap Dito dengan penuh tanda tanya, kalau itu alasan pertama pasti akan ada alasan lainnya.
"Karena alasan ku yang kedua adalah kau bisa membawa jauh Ara dari keluarga Sanjaya, aku tidak sanggup melihat Ara di maki oleh Tante Tante ku yang lainnya, sudah cukup gadis kecil itu menderita, dan aku yakin setelah kau menikahi nya tidak akan ada lagi yang berani memaki nya lagi,"jelas Dito menatap sendu ke arah Leo.
"Siapa yang melakukannya pada Ara,"tanya Leo penasaran.
"Dia di perkosa dalam keadaan tidur."
"Bukankah dia bisa terjaga dan melihat pelakunya,"tanya Leo heran.
"Saat itu Ara di pengaruhi oleh obat tidur,"jawab Dito menggeleng lemah.
"Apa pelakunya yang memberikan obat tidur tersebut, lalu dimana kejadiannya, apakah tidak ada orang yang melihat pelakunya, jelaskan semuanya Dit jangan bertele-tele,"tegas Leo membuat Dito menghela nafas berat.
"Saat itu kami sekeluarga Sanjaya berlibur ke Bali, Ara sakit demam karena cuaca buruk dan kurang istirahat, jadi aku memberi nya obat penurun demam serta obat tidur agar ia bisa tidur dengan nyenyak, kami meninggalkan dia sendirian di hotel, karena kami semua ingin jalan jalan menuju tempat wisata Bali, dan bodohnya saat kami kembali ke hotel kami semua tidak memeriksa Ara di kamar nya.
Hingga keesokan harinya...."
flashback.
__ADS_1
"Ara kemana Tan, apa dia tidak ikut sarapan,"tanya Dito pada mama nya Ara.
"Enggak tahu, mungkin dia masih sakit,"jawab mamanya Ara acuh, ia sibuk sarapan dan memainkan ponselnya membuat Dito menghela nafasnya kasar, karena kesal melihat tingkah laku mama Ara yang tidak peduli sedikit pun pada anaknya yang sakit.
Dito bangkit ingin memanggil Ara untuk sarapan namun...
"Selamat pagi,"sapa Ara dengan suara yang ceria nya.
"Pagi sayang,"balas Dito tersenyum lembut, karena yang lainnya seakan acuh terhadap kehadiran Ara.
"Kamu kenapa, kok jalannya seperti orang yang di sunat,"tanya Dito mengernyitkan dahinya.
"Gak tahu kak, 'itu' nya Ara sakit waktu Ara jalan,"jawab Ara polos duduk di samping Dito.
Mendengar hal tersebut Dito merasa heran, ia tak mungkin bertanya lebih karena itu adalah hal yang privasi bagi Ara, namun karena khawatir ia meminta mama Ara agar mau memeriksa Ara.
"Tan...Ara sedang sakit,"panggil Dito pada mama nya Ara.
"Sakit tinggal minum obat Dit, kamu kan ada di sini jadi ngapain ribut ribut sih,"ketus mama Ara membuat Dito menggertak gigi nya, kemudian ia beralih menatap paman Malik ayah nya Ara, yang sibuk berbicara dengan papa nya Dito, padahal jelas jelas ayah Ara mendengar ucapan Dito tadi bahwa Ara sakit, namun ia masih bersikap acuh.
"Yasudah nanti kakak beri salep nya yah, biar kamu sakit nya kurang,"ujar Dito lembut mengelus kepala Ara.
"Iya kak, sekalian sama salep penghilang bekas gigitan serangga yah,"balas Ara tersenyum manis.
"Iya kak."
"Dimana di gigit nya, coba kakak lihat,"tanya Dito khawatir.
"Di dada Ara kak, sangat banyak bekas nya, apa di hotel ini banyak serangga yah kak?"jawab Ara polos sekaligus bertanya pada Dito.
Mendengar bahwa bekas gigitan serangga nya berada di dada Ara membuat Dito menghela nafas panjang.
"Mungkin itu kamu alergi saja makanya bisa merah merah, karena tidak mungkin ada serangga di hotel ini, nanti kakak beri salep nya yah,"bantah Dito lembut membuat Ara mengangguk kepalanya.
Hingga 1 bulan berlalu, Ara melakukan aktivitas nya seperti biasa, namun aneh nya hari ini ia merasa tubuhnya sangat lemas, namun dia harus bangun karena ada ujian matematika, ia harus bisa ke sekolah pikir nya.
Ia menyelesaikan ujian nya dengan lancar, karena memang Ara adalah murid yang terbilang genius, ia keluar dari kelas dan berjalan di koridor sekolah, namun tiba tiba pandangan nya buram, kepalanya terasa pusing, ia tak sanggup lagi berdiri hingga ia jatuh pingsan.
Para sahabat Ara langsung membawa Ara ke UKS, dokter yang memeriksa Ara membelalakkan matanya, ia segera menyuruh sahabat Ara keluar dari UKS, dan ia memberitahukan kepala sekolah tentang diagnosanya terhadap Ara.
Kepala sekolah langsung menghubungi orang tua Ara, Dr Malik yang mendengar Ara pingsan langsung mengajak istrinya ke rumah sekolah untuk menjemput Ara.
__ADS_1
"Putri saya sakit apa pak,"tanya Dr Malik khawatir pada kepala sekolah.
"Anda bisa memeriksa nya sendiri tuan,"balas pak kepsek datar.
Dr. Malik langsung memeriksa Ara, tiba tiba matanya melotot tak percaya, nafasnya tercekat, dada nya terasa sesak.
brukk
"Sayang,"panggil mama Ara memapah tubuh Dr Malik bangun.
"Saya mohon maaf tuan, meskipun Ara adalah murid yang terbilang genius, saya selaku kepala sekolah harus bertindak tegas atas kasus ini, mulai hari ini saya dan pihak sekolah mengeluarkan Ara dari sekolah, kami tidak bisa menerima Ara lagi,"tegas pak kepsek membuat Dr Malik mengangguk kepalanya lemah.
Ia segera menggendong Ara membawa pulang, selama perjalanan mama Ara bertanya apa yang terjadi pada Ara namun dr Malik bungkam.
Hinga sampai ke rumah, Dr Malik langsung menggendong Ara membawa nya ke kamar, ia menggosokkan minyak angin di perut Ara dan ke hidung Ara.
"Eughhh."
"Kamu sudah bangun?"tanya Malik dingin.
"Ayah, kok Ara sudah pulang kan Ara tadi di sekolah,"tanya Ara polos mencoba bangkit, ia duduk bersandar di tepi ranjang.
"Siapa laki laki itu?"tanya Malik dingin, ia tak menjawab pertanyaan Ara.
"Laki laki siapa ayah, Ara gak ngerti apa maksud ayah,"jawab Ara polos.
"Siapa laki laki yang telah menghamili kamu,"tanya Malik meninggikan suaranya.
deggg
"Ha..mil"lirih Ara terkejut menutup mulutnya.
**bersambung
hai hai kakak
author up lagi nih..
hayoo yang mau triple up..mana hadiah dan vote nya🥰🤗💐😚
jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah.
__ADS_1
salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏🥰👍**