
Kehangatan sang mentari telah memasuki celah jendela kamar dua anak manusia yang sedang terlelap itu. Matahari yang memberikan kehangatan di penghujung musim dingin ini tak membuat kedua orang itu merasa terusik, justru mereka semakin terlelap dalam mimpi indah mereka.
Cukup lama keduanya masih dalam keadaan terlelap, dan kini tampak salah satu dari mereka yang ternyata adalah sang Istri terjaga lebih dulu. Ia mengerjapkan matanya perlahan guna menyesuaikan cahaya yang
masuk ke kamarnya.
Cukup lama mata indahnya itu bisa menyesuaikan keadaan, saat sudah terbiasa dengan cahaya mentari, ia melihat ke sekelilingnya hingga berakhir menatap seorang pria yang berbaring di sampingnya sedang terlelap dengan wajah damai.
Wanita itu tersenyum saat melihat wajah pria yang berstatus sebagai suaminya itu sedang terlelap.
"Tampan," Satu kata yang cukup sederhana namun memiliki sebuah arti yang dalam.
Sebuah pujian yang ia lontarkan untuk sang Suami. Bukan karena ia adalah Suaminya sehingga ia memuji ketampanan pria itu, tapi karena sebuah kenyataan sehingga ia bisa menilai seperti itu.
"Hn, aku tau." Dan wanita itu seperti mendengar sebuah jawaban dari Suaminya yang sedang terlelap, tapi ia tak cukup tangkas melihat gerakan bibir dari Suaminya saat mengucapkannya.
Wanita itu yang pastinya adalah Nara memiringkan badannya menghadap sang Suami untuk memastikan kalau dirinya tidak salah dengar. Bahkan kini ia semakin mendekatkan kepalanya dan memperhatikan dengan serius kalau saat ini Zian masih terlelap.
Sebuah kecupan kilat sudah menyambar bibir mungil yang berwarna merah jambu itu. Nara yang memang tidak menyadari kalau ia akan mendapatkan perlakuan tiba-tiba seperti itu hanya membulatkan matanya karena terkejut. Namun detik berikutnya dia menarik sudut bibirnya keatas.
Ketika ciuman itu terlepas, Nara segera mengambil inisiatif untuk membalas ciuman suaminya.
Berbeda dari biasanya, dimana Nara sebagai orang yang menerima ciuman tersebut, pagi ini keadaan justru berbanding balik. Zian-lah yang menerimanya, dan dia tak bisa menolaknya.
Tetapi ciuman itu tak lebih dari 30 detik, Nara yang memang sangat payah tentu tak mampu melanjutkannya.
"Sudah tau payah, tetapi tetap memaksakan diri!!"
Wanita itu merenggut kesal. "Dasar menyebalkan!! Kau pikir hanya kau saja yang bisa menginvasi bibirku, aku juga ingin menginvasi bibirmu, agar lebih adil!!" ucap Nara tak mau kalah.
__ADS_1
Zian tertawa mendengar ucapan istrinya. Dengan gemas Zian menjitak kepala wanitanya. "Dasar kau ini, selalu saja tak mau kalah!! Nanti aku akan mengajarimu bagaimana caranya ciuman yang benar. Sekarang aku mandi dulu," Zian mengusap kepala Nara lalu pergi begitu saja.
Wanita itu menghela nafas berat. Kemudian Nara meninggalkan kamarnya dan pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
Lagi-lagi rumah terasa sepi karena anak-anak sedang berada di rumah kakeknya. Mereka menjadi tawanan Tuan Li untuk kesekian kalinya. Dia tak membiarkan cucu-cucunya itu berada jauh darinya
.
.
"Omo, Omo, Omo!! Siapa yang datang dengan, Bos besar?!"
"Mereka lucu sekali,"
"Jangan-jangan itu adalah cucu Bos besar? Lihat saja wajah mereka yang mirip dengan, Tuan Muda Zian."
"Bisa jadi, bisa jadi,"
Bagaimana tidak, karena Ini pertama kalinya Tuan Li membawa cucu-cucunya datang ke kantor.
Berbeda dengan Lea yang terlihat begitu gembira karena diajak ke kantor oleh kakeknya, leon justru menunjukkan sikap yang sebaliknya. Ya sama sekali tak menikmatinya. Leon terus menekuk mukanya, tempat keramaian adalah musuh terbesarnya.
Leon adalah tipe anak yang menyukai kesendirian dan membenci keramaian. Leon adalah tipikal anak yang dingin, cuek dan cenderung tak memperdulikan apa yang ada di sekitarnya.
Sifatnya sangat berbanding balik dengan Lea. Jika diibaratkan, mereka berdua seperti siang dan malam, hangat dan dingin.
Sifat Zian menurun pada Leon, sementara sifat Nara menurun pada Lea.
"Apa ruangan kakek masih jauh? Tatapan mereka membuatku tak nyaman." ucap Leon yang merasa risih dengan tatapan para karyawan yang bekerja di kantor kakeknya.
Tuan Li menggeleng. "Kita sudah hampir sampai, itu di depan sana adalah ruangan kakek." ucapnya menimpali pertanyaan Leon.
__ADS_1
"Leon, berhentilah menekuk wajahmu seperti itu. Senyum sedikit, apa kau tidak sadar jika kita sudah seperti artis kecil. Orang-orang disini menatap kita dengan penuh kekaguman," ucap Lea panjang lebar.
Lea terus menebar Senyum manisnya. Berbeda dengan Leon yang terus menekuk wajahnya. Lea memang menyukai suasana ramai seperti ini, berbanding balik dengan Leon yang tidak menyukai keramaian.
Tuan Li tidak merasa heran apalagi terkejut dengan sifat cucunya, karena saat kecil Zian juga memiliki sifat seperti Leon.
Bisa dibilang jika sifat Leon adalah faktor turunan dari ayahnya.
"Maya, tolong belikan makanan yang enak-enak untuk kedua cucuku ini," pinta Tuan Li ada sekretarisnya.
Wanita bernama Maya itu mengangguk. "Baik, Presdir."
Mendengar Tuan Li menyebut Lea dan Leon sebagai cucunya, seketika membuat Maya patah hati. Bagaimana tidak, selama ini diam-diam dia menaruh hati pada Zian.
Dia jatuh pada pesona pria itu. Memangnya siapa yang bisa menolak pesona seseorang Zian Li, meskipun sifatnya dingin tetapi itu merupakan daya tariknya.
"Jangan lupa ice cream juga, Lea sangat menyukai es krim rasa coklat," ucap Lea dan dibalas anggukan oleh Maya.
"Baik, Nona muda." Ucapnya dan pergi begitu saja.
Ada sedikit tidak rela di hati Maya mengetahui fakta jika Zian telah beristri dan memiliki anak sebesar mereka berdua.
Dia pikir selama ini pria itu belum menikah, tetapi ternyata dugaannya salah. Zian telah menikah dan memiliki dua orang anak.
"Sambil menunggu makanannya datang, sebaiknya kalian bermain dulu saja ya. Tapi tidak boleh keluar, harus di ruangan kakek saja. Kakek, kerja dulu." Ucap Tuan Li dan dibalas anggukan oleh di kembar.
.
.
Bersambung.
__ADS_1