
"Aku masih di rumah orang tuaku. Apa kau ingin datang dan membuat pertunjukan yang lebih menyenangkan atau sekedar menonton saja? Aku akan menunggumu disini!!"
Kemudian Nara memutuskan sambungan telfonnya begitu saja. Dia menghubungi seseorang yang sangat penting. Mungkin saja orang itu mau membantunya atau sekedar menjadi penonton saja.
Wanita itu kemudian mengangkat wajahnya dan menatap sinis pada sepasang ibu dan anak yang duduk di depannya sambil menatapnya dengan sinis dan tajam.
Nara mengangkat bahunya acuh. Kemudian dia kembali menikmati wine miliknya.
"Sampai kapan kau mau berada disini? Pergi dan angkat kaki dari rumah ini!!" teriak Amber menuntut.
Nara membalas tatapan wanita itu dengan sinis. Dia menggerakkan gelas berkaki tinggi berisi cairan merah itu sambil menatap Amber. "Kenapa harus aku yang pergi? Kenapa tidak kalian saja yang pergi!!" jawab Nara menimpali. Wanita itu tersenyum sinis.
"Kau~!!" Amber menuju Nara dengan marah. Rasanya dia ingin sekali mencabik-cabik mukanya. "Ma!! Jangan diam saja cepat Lakukan sesuatu!! Buat dia pergi dari rumah ini!! Aku tidak ingin dia ada di sini!!"
"DIAMLAH!!" bentak Nyonya Agnes. "Jangan membuat Mama semakin pusing!! Kau pikiran, hanya dirimu saja yang ingin Wanita itu pergi dari sini?! Mama juga, karena aku sudah muak melihatnya!!"
Nara mengabaikan obrolan ibu dan anak tersebut, yang menurutnya tidak penting sama sekali. Masa bodoh dengan mereka berdua. Mau kesal kek, mau marah kek, itu bukan urusannya. Nara tak peduli.
Deru suara mobil yang memasuki halaman mewah tersebut mengalihkan perhatian ketika perempuan itu.
Tahu siapa yang datang, Agnes pun buru-buru lari keluar. Sementara Amber menatap Nara dengan senyum penuh kemenangan. Iya yakin setelah ini pasti Nara akan menangis seperti bayi dan Meraung.
"Mampus kau perempuan jalan*. Habis sudah dirimu!!" ucap Amber lalu beranjak dari hadapan Nara. Dan sepertinya Nara sudah tahu siapa yang datang, mungkin itu adalah ayahnya. Karena hanya pada dia mereka bisa berlindung.
Nara menyeringai. "Percaya diri sekali kau, kita lihat saja apa yang akan terjadi setelah ini. Kalian masih bisa tertawa atau tidak?!" Ucap Nara dengan seringai yang sama.
Dia bangkit dari duduknya dan melenggang keluar. Ternyata di luar Agnes sedang menangis-nangis di pelukan suaminya yang tak lain dan tak bukan adalah ayah Nara. Wanita itu tersenyum meremehkan. Sungguh drama yang sangat menarik.
__ADS_1
Prokk.. Prokk... Prokk...
Suara tepuk tangan dari dalam rumah mengalihkan perhatian mereka berdua. Terlihat Nara yang dengan anggunnya menghampiri ayah dan ibu tirinya. Dan laki-laki paruh baya itu begitu terkejut melihat siapa yang saat ini berdiri dihadapannya.
"Nara?"
"Apa kabar, Papa. Lama tidak bertemu." Nara menghampiri sang ayah dan menyapanya. Seringai masih tampak nyata di bibirnya.
Tuan Garcia tampak tertegun melihat kedatangan Nara. setelah tujuh tahun, Ini pertama kalinya putrinya pulang setelah ia mengusirnya karena hamil diluar nikah. "Nara, sedang apa kau disini? memangnya siapa yang mengizinkanmu untuk menginjakkan kaki di rumah ini?!"
"Ini adalah rumahku!!! Jadi kenapa aku harus meminta izin untuk masuk ke rumahku sendiri?!" jawab Nara tak mau kalah.
"Omong kosong apa yang kau katakan?! Memangnya sejak kapan rumah ini menjadi milikmu?! Bahkan disurat tertera namaku, bukan namamu!! Jadi jangan mengada-ada kau!!"
Kemudian Nara menunjukkan sesuatu pada Tuan Garcia. "Baca dan lihat baik-baik!! siapa sebenarnya pemilik rumah ini dan seluruh harta kekayaan keluarga Garcia. Aku atau kau?!"
Tuan Garcia menggeleng. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihat oleh matanya, bagaimana bisa semua kekayaan milik keluarga Garcia malah jatuh ke tangan Nara. Jelas-jelas dia telah membalik nama semua kekayaan keluarga itu atas namanya.
"Sepertinya aku telah melewatkan pertunjukan yang sangat menarik," ucap seseorang dari arah belakang.
Seorang pria tampan dengan tatapan super dingin dan tajam menghampiri mereka berempat. Dan kedatangannya tentu saja mengejutkan semua orang terkecuali Nara, karena memang dia yang memintanya untuk datang.
"Tu...Tuan Li, sedang apa anda di sini. Rasanya begitu terhormat Anda mau berkunjung ke rumah kami. Sebelumnya kami minta maaf atas ketidaknyamanan dilakukan oleh putri kami yang tak tahu diri ini, pasti Anda sudah mendengar semuanya. Untuk itu tolong jangan masukkan ke dalam hati, mari silakan masuk." tuan Garcia mempersilakan Zian untuk masuk ke rumahnya.
Dia benar-benar merasa tidak enak pada Zian. Nara baru saja mempermalukan nama baik keluarga Garcia di depan orang penting seperti Zian.
"Kau tidak perlu memberikan penjelasan apapun padanya, Pa. Karena dia datang bukan untukmu, tapi untukku!!" ucap Nara seraya menghampiri Zian.
__ADS_1
"Maaf, Sayang. Aku datang terlambat, apa mereka menyusahkanmu sebelum aku datang?"
Nara mengangguk. "Ya, sangat-sangat menyusahkan sekali. Bahkan mereka ingin mengusirku keluar dari rumah ini, jelas-jelas rumah ini adalah milikku!!!" Jelasnya.
"Mami, apa perlu kami berdua turun tangan juga?!" dua bocah, laki-laki dan perempuan menghampiri Zian dan Nara. Siapa lagi mereka berdua jika bukan Lea dan Leon. "Apa yang telah mereka lakukan pada, Mami?"
"Siapa anak itu, Nara?! Jangan bilang jika mereka berdua adalah anak haram yang kau kandung 7 tahun yang lalu? Sudah aku duga, pasti kau menggunakan Tuan Li untuk menutupi aib-mu kan?!"
"Tuan Li, sungguh sangat disayangkan. Bisa-bisanya, anda yang seorang terpelajar malah diperalat oleh wanita jalan* seperti dia!! Bahkan kami semua juga tidak tahu, bajinga* seperti apa yang telah menidurinya malam itu."
"Wow, Bibi. Mulutmu sungguh pedas sekali!! Apa kau tidak tahu? Kau itu sedang dalam masalah besar sekarang." Ucap Lea menyahuti.
"Diamlah, Bocah!! Memangnya siapa yang bicara denganmu? Aku sedang berbicara dengan Tuan Li!! Tuan Li, saya beritahu Anda. Wanita ini, dia itu bukanlah perempuan baik-baik. Dia telah tidur dengan banyak pria di luaran sana, sampai akhirnya dia hamil dan Papa Tiriku kemudian mengusirnya pergi dari rumah ini. Jadi sebaiknya kalau mencari wanita untuk dinikahi, pilih dulu bibit, bebet dan bobotnya agar tidak salah pilih!!" Ucap Amber sambil bergelayut manja di lengan terbuka Zian.
Merasa tidak nyaman dengan apa yang wanita itu lakukan. Zian pun menyentak tangan Amber dan menghempaskannya dengan kasar. "Jangan sembarangan menyentuhku, Nona!! Dan asal kau tau saja, bajinga* yang kau maksud itu adalah aku!! Karena orang yang menghamili Nara apa aku, dan aku adalah ayah biologis dari anak-anak ini!!"
Dan pengakuan Zian tentu saja mengejutkan semua orang, terutama Tuan Garcia. Dia sungguh tidak menduga jika ternyata ayah dari kedua anak Nara adalah Zian Li, seorang pebisnis muda yang memiliki kekuasaan di tiga benua. Itu artinya dia memiliki menantu yang kaya raya.
Sikap Tuan Garcia pun berubah 180°,dia menjadi sangat baik pada Nara. "Nara, Kenapa tidak pernah memberitahu Ayah jika sebenarnya Ayah dari anak yang kau kandung pada saat itu adalah Tuan Li. Dasar anak nakal, tau begitu Papa kan tidak mungkin mengusirmu. dan asal kau tahu saja, Nak. Alasan Papa mengusirmu hari itu demi kebaikanmu. Orang-orang pasti akan berpikir buruk tentangmu, Sayang."
Nara tersenyum miring. "Terimakasih atas perhatianmu, Papa. Tapi sayangnya aku tidak pernah membutuhkannya!! Aku tidak akan basa-basi lagi, segera kemasi barang-barang kalian dan tinggalkan rumah ini, karena mulai besok rumah ini akan di tempati oleh pemilik barunya. Aku sudah menjualnya!!"
Kedua mata Tuan Garcia pun membelalak sempurna. "APA?! KAU MENJUALNYA?!"
.
.
__ADS_1
Bersambung.