Arrabella Twice Lives

Arrabella Twice Lives
Bab 10 Teman pertama Aiden


__ADS_3

Di sebuah taman bunga yang indah di kerajaan Clarines, seorang gadis kecil dengan rambut pirang dan mata biru nya yang indah, nampak sedang menikmati melihat bunga-bunga disana.


" Abel, kau tunggu dulu disini sebentar ya? ayah akan berbicara dulu dengan Viscount Benedict " kata Duke Reese pada gadis kecil itu.


Rupanya gadis kecil itu adalah Arabella Naomi De Reese, putrinya.


" Baik ayah " Arabella tersenyum senang


Arabella sendirian dan berjalan jalan di taman bunga, tak sengaja ia mendengar suara gaduh seperti sebuah pertengkaran.


" Ada seseorang disini juga?" gumam Arabella kecil sambil melihat-lihat ke sekitarnya


Dari balik semak-semak, ia melihat seorang anak pria sedang di pukuli oleh 3 orang lainnya.


" Anak haram, kau bahkan tidak selevel dengan putra mahkota ! " seru pria kecil 1


" Lihat saja penampilanmu, jelek sekali !" seru Pria kecil 2 tidak suka


" sudahlah kau kembali saja, jangan mimpi menjadi selevel dengan putra mahkota! kau itu hanya anak kampungan !" kata Pria 3 meledek


" Hey mana boleh kalian seperti itu !" seru Arabella yang tiba-tiba muncul di depan pria kecil yang di pukuli itu.


Mata pria kecil itu terlihat tidak asing, mata kuning kecoklatan adalah ciri khas keturunan keluarga kerajaan. Mata itu menatap Arabella dibalik rambutnya yang panjang, namun raut wajahnya menunjukkan ketidaksukaan terhadap orang-orang di sekitarnya.


" Siapa kau? berani beraninya menganggu kami !" tanya Pria 1 kesal


" Aku adalah orang tidak mau melihat orang lain ditindas. Bagaimana bisa kalian memukuli teman kalian seperti ini?" tanya Arabella kecil geram


" Teman? dia bukan teman kami! " jawab Pria 2 kesal


" Kalian benar-benar jahat !" seru Arabella mendorong salah satu pria kecil itu dengan berani. Pria kecil itu terjatuh dan mendorong balik Arabella.


" AKH.." kata Arabella


" Haha.. makanya jangan suka ikut campur urusan kami !" seru Pria 3 sambil tersenyum puas


Anak yang di pukuli itu membantu Arabella berdiri dan melihatnya dengan mata kuningnya. Arabella tersenyum cerah melihat anak kecil itu.


" Kakak tidak apa? kakak sepertinya terluka ya?"tanya Arabella dengan lembut dan mengulurkan tangannya. Pria kecil itu membalas uluran tangan Arabella dan tersenyum tipis.


" Aku.. aku.." pria kecil itu gugup


Saat Duke Reese datang menghampiri putrinya, ketiga anak pengganggu itu pergi dan langsung ketakutan.


" Abel ada apa nak? siapa anak ini?" tanya Duke Reese sambil melihat Aiden kecil yang penampilannya acak-acakan dan wajahnya tertutup rambut panjang.


" Ayah, ketiga anak bangsawan jahat itu menganggu kakak ini. " kata Arabella kecil dengan polos nya


" Nak, kau tidak apa-apa kan?" tanya Duke Reese ramah


" Aku baik-baik saja, tuan " jawab Aiden kecil


Setelah itu Arabella kecil mengobati luka-luka di wajah Aiden.


" kenapa kakak diam saja di pukuli seperti itu? kenapa bukannya melawan? kalau aku sudah pasti akan membalasnya " kata Arabella kesal


" Kalau melawan juga untuk apa, mereka sudah sering berbuat seperti ini padaku. Aku sudah terbiasa sejak tinggal disini " kata Aiden pasrah


" Mereka memang anak-anak jahat, walaupun kau anak seorang pelayan tapi mereka tidak boleh menganggumu begitu kak " kata Arabella kesal


" Bahkan dia saja mengira aku seorang anak pelayan, padahal mereka aku seorang pangeran di sini. Tapi, mereka selalu mengangguku meskipun tau begitu " batin Aiden kecil sedih


Setelah itu Aiden dan Arabella semakin akrab dan setiap berada di lingkungan istana, Arabella selalu berinsiatif mengajak Aiden yang penyendiri bermain bersama. Hari-hari itu adalah hari yang indah untuk Aiden karena ia menghabiskan waktunya dengan Arrabella. Dan saat itu Arabella tidak tahu, bahwa teman kecil nya itu adalah seorang Pangeran terbuang dan putra pertama Raja dari istri pertamanya.


" Kakak, kenapa kau berkata seperti akan pergi jauh saja?" tanya Arabella dengan mata polosnya dan penuh kesedihan


" Aku juga tidak tahu, tapi ini untukmu " kata Aiden sambil menyerahkan kalung kristal berwarna perak pada Arabella.


" Aku tidak tahu setelah ini kita akan bertemu lagi atau tidak " batin Aiden sedih


" Kalung ini indah sekali " kata Arabella sambil memegang kalung itu dengan senang


" Ini adalah hadiah pertemanan kita dariku, aku harap kau menjaganya baik-baik. Ini adalah kalung yang berharga untukku " kata Aiden mengingatkan


" benarkah? kalau ini berharga untukmu kenapa kau memberikan ini padaku?" tanya Arabella heran


" Karena kau adalah teman pertamaku, kau juga berharga untukku " jawab Aiden malu-malu


" Ah.. benarkah? kau juga teman pertamaku" kata Arabella sambil tersenyum


" Senang mendengar nya. Oh ya kalung itu adalah kalung milik mendiang ibuku, ibu ku berpesan kalau kalung itu sangat istimewa. " terang Aiden


" Terimakasih kakak, kau sudah memberikan kalung yang sangat berharga ini padaku. Aku janji akan selalu memakainya dan menjaganya dengan baik. " kata Arabella senang


" Baiklah " Aiden tersenyum


" Jadi, kakak bisa bilang padaku kan kalau kakak mau kemana?" tanya Arabella


" Sebenarnya aku mau pamit padamu, aku akan pergi mengunjungi keluargaku di tempat yang jauh " terang Aiden


" Lalu, apa kau akan kembali kesini?" tanya Arabella polos


" Jika kau ingin aku kembali, aku akan kembali " jawab Aiden sambil tersenyum


" Jadi semua tindakan mu tergantung jawabanku?" tanya Arabella sambil cemberut


Aiden mengusap-usap kepala Arabella dengan lembut.


" Aku akan kembali secepatnya, tenang saja " kata Aiden


" Janji?" tanya Arabella


" Aku janji " jawab Aiden


Arabella dan Aiden mengikat janji kelingking dan saling tersenyum satu sama lain.


Sejak saat itu, Aiden kembali ke rumah bibi nya di daerah Londo dan tidak pernah terlihat lagi di istana maupun di negeri Clarines.


Arabella mencari-cari nya dan merindukannya, tapi Aiden seolah hilang ditelan bumi dan tidak ada kabar, terlebih lagi Arabella tidak tahu nama Aiden selama ia berteman dengannya.


***


Aiden terbangun dari tidurnya, dan tubuhnya berkeringat banyak.


" Kenapa aku memimpikannya lagi setelah sekian lama ? apa karena aku terlalu merindukannya ? Bagaimanapun juga itu mimpi yang indah, tapi kau mungkin tidak ingat denganku, Bella " gumam Aiden sambil tersenyum pahit.


Saat itu Arabella tidak tahu, bahwa uluran tangan kecil nya yang sederhana itu saat ia menolong Aiden, senyuman yang ia tunjukkan di depan Aiden, dan tatapan nya yang polos, membuat hati Aiden yang beku dan dingin perlahan mencair. Hal yang dilakukan Arabella adalah hal yang sederhana, tapi berarti banyak untuk Aiden yang tidak punya teman dan tidak menerima cinta dari kedua orang tuanya. Sejak saat itu, Aiden bersumpah dalam hatinya bahwa ia akan melindungi gadis yang memberinya Cinta, dan perlahan membuatnya jatuh hati itu dengan cara apapun.


***


Pagi-pagi sekali, Arabella sudah bangun dan mandi. Ia terlihat bersemangat untuk segera pergi ke pesta di rumah keluarga Benedict, padahal pesta itu akan di lakukan sore hari.


" Kenapa kau terlihat semangat begitu sepagi ini?" tanya Peter heran

__ADS_1


" Tentu saja, bukankah hidup itu harus semangat. " jawab Arabella sambil tersenyum


" Apa ada sesuatu yang baik terjadi?" tanya Ethan penasaran


" Sebenarnya banyak sih hal baik yang terjadi " jawab Arabella senang


" Apa ini tentang guru pedangmu itu?" tanya Peter


" Iya ini juga tentang dia " jawab Arabella


" Kau serius mau berlatih pedang?" tanya Peter tak yakin


" Kenapa kakak bertanya begitu? kalian sudah sepakat untuk setuju ya kemarin, tidak boleh menarik kembali ucapan kalian !" seru Arabella mengingatkan


" Ya baiklah, tidak kok " kata Ethan


" Kami hanya ingin kau selalu berhati-hati dan jangan memaksakan dirimu " kata Peter lembut


" Iya kakak tenang saja " kata Arabella


" Kami mungkin tidak akan sering bertemu denganmu dalam satu minggu ini, karena kami ada urusan di perbatasan. Aku, Peter dan ayah, kau tidak apa kan disini dengan Felix, Layla dan Daisy?" tanya Ethan


" Iya, tidak apa-apa kakak. Kalian tidak usah cemas " jawab Arabella


" Adik kita rupanya sudah mulai dewasa ya " kata Peter


(" Ah ya aku baru ingat, ada masalah pembajakan kereta pedagang di perbatasan Clarines, Di masa lalu ayah dan kedua kakak ku adalah prajurit yang sangat diandalkan dan paling kuat , maka dari itu mereka selalu ditugaskan dalam tugas-tugas penting dan aku memang selalu ditinggalkan pergi. Dan sejak itu aku suka bermain ke istana hanya untuk bertemu dengan si Eugene sialan itu, bodohnya aku ") batin Arabella kesal pada dirinya sendiri


Sementara duke Reese dari tadi tidak bicara dan hanya tenggelam dalam lamunannya.


" ayah? ayah apa ada yang kau pikirkan?" tanya Ethan cemas melihat Duke Reese melamun


" Ah.. tidak apa-apa " jawab Duke Reese


" Ayah ada apa?" tanya Arabella cemas


" Haa.. seperti nya ayah memang harus mengatakan nya pada kalian. Terutama kau Abel " Duke Reese menghela napas


" Aku ? apa yang ayah pikirkan berhubungan dengan ku?" tanya Arabella


" Iya " jawab Duke Reese


#FLASHBACK


Saat rapat di istana selesai, Raja memanggil Duke Reese secara pribadi.


" Hormat saya yang mulia raja !" kata Duke Reese memberi hormat


Raja menatap duke Reese dan tersenyum perlahan-lahan.


" Boleh saya tau apa alasan yang mulia Raja memanggil saya?" tanya Duke Reese


" Ini soal putrimu " jawab Raja


" Putri saya? apakah itu rumor tentangnya yang tersebar?" tanya Duke Reese berhati-hati


" Ini juga berhubungan dengan itu, tapi Duke Reese apa kau tidak berencana memasukkan nama putrimu sebagai putri mahkota?" tanya Raja serius


Duke Reese tercekat dan terkejut mendengar nya.


" Yang mulia raja, putri saya memiliki banyak kekurangan, dia juga ceroboh dan manja, jika dia menjadi kandidat putri mahkota, itu sangat tidak mungkin yang mulia Raja " kata Duke Reese


" Sayang sekali, padahal aku menyukai putrimu. Dan sepertinya putra mahkota juga tertarik secara pribadi dengan putrimu, duke. " Raja tersenyum


" Yang mulia Raja, putri saya.." duke Reese gugup


" Yang mulia raja, saya tidak akan berani menentang permintaan yang mulia Raja " kata Duke Reese sambil menunduk hormat


" Jadi kau setuju kan? Putrimu hanya akan menjadi kandidat putri mahkota saja, tentang dia menjadi putri mahkota atau tidak, aku serahkan pada putra mahkota dan rakyat sendiri untuk memilihnya " kata Raja sambil tersenyum


" Baiklah yang mulia hamba setuju " kata Duke Reese dengan terpaksa


#ENDFLASHBACK


Arabella begitu syok ketika mendengar cerita ayahnya dan Raja itu.


" Kenapa ayah lakukan itu? bukankah aku sudah bilang aku tidak mau terlibat dengan keluarga kerajaan !" tanya Arabella kesal


(" Tidak, aku tidak mau alur hidupku seperti di masa lalu ! tidak !") batin Arabella ketakutan


" Abel, kau sudah dengar penjelasan ayah barusan kan? dia juga terpaksa mendaftakan namamu dalam pemilihan putri mahkota " kata Ethan tegas


" Kau tenang lah dulu, kau hanya masuk daftar nama kandidat putri mahkota. Bukan nya menjadi putri 👑 kan?" tanya Peter santai


" Benar juga, aku belum menjadi putri 👑! ini hanya kandidat saja kan ? itu artinya baru calon? Haha.. " Arabella tertawa tidak karuan


Ayah dan kedua kakaknya kaget melihat perubahan ekspresi Arabella yang begitu cepat.


" Kau kenapa?" tanya Ethan


" Apa dia salah makan?" tanya Peter heran


" Abel, kau baik-baik saja? seperti nya kau terlalu syok ya?" tanya Duke Reese cemas


" Aku baik-baik saja ayah, kalau begitu aku pergi dulu ya. Aku mau menemui guru pedang ku " kata Arabella ceria


" Sepagi ini?" tanya Duke Reese


" Iya, soalnya nanti siang aku ada urusan,nanti sore aku harus menghadiri pesta " jawab Arabella sambil tersenyum


Arabella pergi secepat mungkin.


" Dia bersemangat sekali " kata Peter


" Belum lama dia terlihat syok mendengar kata putri mahkota, dia merubah ekpresi nya dengan cepat " kata Ethan


" Ya itu bagus kita tidak terlalu mencemaskan nya. Toh, ayah juga yakin dia tidak akan menjadi putri mahkota " kata Duke Reese yakin


" Benar-benar, tidak ada yang perlu kita cemaskan. Abel kita yang kecil sudah mulai tumbuh dewasa " kata Peter setuju


" Ayah baru ingat, bukankah ini sudah saat nya memilih pasangan untukmu Ethan?" tanya Duke Reese


" Hah? ayah, Peter, kita harus cepat pergi nanti telat " kata Ethan mengalihkan perhatian


" Kakak ini selalu mengalihkan pembicaraan ketika ditanya tentang pernikahan " kata Peter heran


" Berisik kau !" seru Ethan


***


Arabella dan Felix pergi ke tempat latihan pedang dan melihat latihan pedang, tapi belum ada siapapun yang berlatih pedang disana. Demian melihatnya dan terlihat terkejut.


" Selamat pagi Felix, nona Naomi " kata Demian menyapa

__ADS_1


" Selamat pagi juga Demian " kata Arabella dan Felix


" Kalian datang sepagi ini ?" tanya Demian heran


" Iya, aku ingin melihat latihan pedangnya lebih awal karena siang nanti aku ada kepentingan. Tapi, ternyata aku datang terlalu pagi " kata Arabella merasa kecewa


" Iya, latihan pedang baru mulai jam 9 pagi " kata Demian memberitahu


" Bagaimana ini nona? apa kau akan kembali atau tetap berada disini? " tanya Felix cemas


" Kita sudah jauh-jauh kesini, mana bisa pulang begitu saja. " jawab Arabella


" Lalu apa yang akan kita lakukan disini?" tanya Felix


" maaf tuan Demian, apa disini ada perpustakaan?" tanya Arabella


" perpustakaan?" gumam Demian


Demian mengantar Arabella pergi ke perpustakaan, dan Arabella terpesona melihat banyak buku disana.


" Aku tidak percaya bahwa perpustakaan kecil seperti ini, juga memiliki buku-buku yang lengkap. Kalian seperti nya para prajurit suka membaca juga?" tanya Arabella sambil mengambil salah satu buku


" Hanya sedikit beberapa orang dari kami yang membaca buku. Tapi, guru cedric lah yang sering membaca buku. " jawab Demian


" Oh jadi begitu, guru bertopeng rajin juga " kata Arabella memuji


" Apakah itu pujian?" tanya Aiden yang tiba-tiba muncul dari lantai atas


" Guru? selamat pagi guru Cedric !" seru Arabella semangat


" Kau bersemangat sekali, datang sepagi ini. " kata Aiden heran


" sebenarnya aku kesini ingin meminta izin padamu, karena mungkin tidak sempat melihat latihan pedang mu hari ini " kata Arabella


" Kenapa? apa kau merasa tidak sehat?" tanya Aiden cemas


" Ah tidak, itu karena aku ada kepentingan untuk sore nanti dan siang nya aku harus pergi ke toko di pusat kota" jawab Arabella


Arrabella mengabiskan sedikit waktunya untuk membaca buku disana, Aiden juga membaca buku di sana, dan diam-diam ia tersenyum saat memperhatikan Arabella.


" Aku mulai merasa tidak nyaman dengan topeng ini " batin Aiden yang mulai merasa risih


Tak terasa waktu berlalu dengan cepat, hari itu matahari sudah terik dan Arabella berpamitan pada Aiden. Tapi, ia melihat Aiden juga sedang bersiap-siap pergi.


" Guru, kau mau pergi keluar juga?" tanya Arabella heran melihat Aiden menungganggi kudanya


" Iya, guru mau pergi ke pusat kota " jawab Demian memberi isyarat


" Si bodoh ini, kenapa dia memberitahu nya?" batin Aiden kesal


" yang mulia, anda tidak perlu berterimakasih pada saya" batin Demian senang


" Jadi, guru juga mau ke pusat kota?" tanya Arabella


" Iya , aku mau membeli beberapa barang " jawab Aiden cuek


" Kalau begitu bagaimana kalau guru ikut saja denganku, kita kan searah. " kata Arabella senang


" Tidak perlu, aku bisa membawa kudaku " kata Aiden menolak


" Guru, bagaimana kau bisa ke pusat kota dengan cepat kalau dengan menunggang kuda. Nanti kuda mu akan kelelahan di jalan, jika kau ikut nona Naomi kan akan lebih cepat " kata Demian memberi saran


Aiden tersenyum " Sialan, kau Demian !" batin Aiden kesal


" Demian benar, guru " kata Lorenzo membenarkan


" Karena kau tidak bergerak dengan cepat, kau butuh dorongan yang mulia " batin Lorenzo


" Bahkan Lorenzo pun ikut-ikutan !" batin Aiden kesal


" Iya, benar. Tidak apa-apa kau bisa ikut dengan kereta ku guru " kata Arabella dengan senang hati


" Ah.. ya baiklah kalau kau tidak keberatan " jawab Aiden akhirnya


" Aku sudah menciptakan kesempatan untukmu yang mulia, selamat bersenang-senang, ah ini berkat kerja kerasku, Demian kerja bagus !" batin Demian membanggakan dirinya sendiri


Aiden dan Arabella masuk ke kereta bersama, Aiden kelihatan canggung dan gugup di dekat Arabella. Disisi lain, Arabella juga melihat Aiden yang wajahnya memerah.


" Guru, apa kau tidak sehat?" tanya Arabella cemas


" Tidak, kenapa?" jawab Aiden cuek


" wajahmu terlihat memerah, apa kau demam?" tanya Arabella cemas


" Aku ? memerah? tidak !' seru Aiden


" Bagaimana ini? aku tidak bisa tidak gugup di depannya? ini pertama kalinya aku sedekat ini dengannya lagi " batin Aiden merasa malu


" Orang yang cuek seperti nya, mana mungkin mengaku kalau dia sakit. Orang seperti dia pasti pura-pura kuat " batin Arabella


" Baiklah, jika ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman kau bisa bicara padaku " kata Arabella


" Oh ya, untuk apa kau pergi ke pusat kota?" tanya Aiden


" Aku .. itu untuk membeli gaun baru " jawab Arabella gugup


" Tidak usah gugup seperti itu. " kata Aiden santai


" Bagaimana bisa aku tidak gugup? kau selalu saja memiliki aura menyeramkan itu " batin Arabella


" Oh ya, kalau guru mau membeli barang apa ke kota?" tanya Arabella


" Aku ingin membeli beberapa baju " jawab Aiden cuek


" Pesta kedewasaan Putra mahkota akan di mulai 3 hari lagi, dan aku harus menyiapkan baju untuk datang kesana. Meskipun sebenarnya aku malas, Arabella pasti datang kesana juga. Aku berharap saat itu dia tidak mengenaliku " batin Aiden


" Dasar pria berdarah dingin, dia selalu menjawab dengan dingin semua pertanyaanku. Memang pantas di sebut guru pedang legendaris, sikapnya saja seperti ini " batin Arabella merasa kesal


" Kalau kau ingin membeli baju, ayo kita belanja bersama. Kebetulan aku juga akan ke toko baju" kata Arabella ramah


" Baiklah " kata Aiden setuju-setuju saja


" Akan lebih baik kalau kau mengingatku, Bella. Tapi, aku tak bisa berharap banyak darimu. Aku hanya berharap pada Tuhan, bahwa di kehidupan kali ini kau akan bahagia, karena aku yang akan membuatmu bahagia " batin Aiden berharap


Mereka pun sampai di pusat kota, dan turun dari kereta. Arabella memerintahkan agar Felix tidak mengikutinya, Felix bersikeras ingin ikut tapi Arabella tetap melarangnya karena ia merasa aman bersama dengan Aiden. Aiden dan Arabella berjalan menuju ke toko langganan Arabella membeli baju.


" Nah ini toko nya, mari kita masuk " kata Arabella


" Oke " jawab Aiden


Arabella dan Aiden masuk ke toko baju itu dan ia kaget melihat ada seseorang yang mereka kenal disana.


" Hai singa kecil, kita bertemu lagi " kata pria itu dengan senyuman di wajahnya

__ADS_1


" Kenapa dia bisa ada disini?" batin Aiden terdengar kesal


" Kau !" seru Arabella terkejut


__ADS_2