Arrabella Twice Lives

Arrabella Twice Lives
Bab 13 Kalung Kristal dan masa lalu


__ADS_3


Setelah selesai berlatih, Arabella membeli minuman untuk semua pria di camp itu dan membagi-bagi kan nya.


" Nona baik sekali " kata Pria 1 memuji


" Terimakasih nona cantik " kata Pria 2 sambil tersenyum


" Iya iya.. silahkan dinikmati ya " kata Arabella


Arabella menghampiri Aiden dan memberikannya 1 botol minum.


" Guru, ini untukmu " kata Arabella


Aiden mengambil botol air minum itu lalu meneguk minumannya.


" Guru bagaimana latihan ku?" tanya Arabella


" Kau harus banyak belajar lagi mengatur pernapasan mu, dan juga kuda-kuda mu masih kaku " kata Aiden dingin


" Baiklah guru, saya akan semangat. Oh ya guru, bolehkah saya bertanya sesuatu?" tanya Arabella


" mau tanya apa?" tanya Aiden


" Apa mungkin kau tau tentang pangeran Aiden?" tanya Arabella


Aiden terkejut mendengar nya sampai-sampai ia tersedak oleh air.


" uhuk uhuk "


" Kenapa dia menanyakan tentangku? bukankah dia harusnya tidak mengingat ku? menurut buku suci, dia tidak akan ingat orang yang memberikan kalung kristal itu padanya, saat ia menggunakan kekuatan kristal itu " batin Aiden kaget


" Guru, kau kenapa? minumnya hati-hati " kata Arabella mengingatkan


" Kenapa wajah nya seperti melihat hantu begitu? " batin Arabella heran


" Kenapa kau menanyakan soal dia?" tanya Aiden


" Itu karena.. aku penasaran tentangnya " kata Arabella gugup


" Mana mungkin dia akan percaya jika aku bilang aku mengenalnya dari kehidupan yang lalu, dan aku ingin mengenalnya lebih dekat, lalu mendukungnya menjadi putra mahkota " batin Arabella bingung


" Penasaran? kenapa?" tanya Aiden heran


" Aku dengar dia adalah anak pertama dari yang mulia Raja, dan aku penasaran tentangnya. Itu saja " terang Arabella


" Lalu kenapa kau bertanya tentang nya padaku?" tanya Aiden semakin bingung


" Karena kau bilang kau berasal dari Londo, mungkin kau juga mengenalnya. Jadi, kau mengenalnya atau tidak?" tanya Arabella


" Aku tidak mengenalnya " jawab Aiden tegas


" Baiklah, kalau begitu aku tidak akan bertanya lagi " kata Arabella


" Bohong, jelas-jelas aku tau kalau kau tau tentang pangeran Aiden. Kenapa kau menyembunyikan nya ?" Kata Arabella kesal di dalam hatinya


" Kenapa dia menanyakan tentangku? apa dia ingat padaku? tidak mungkin.. jelas-jelas.. " batin Aiden kaget


Aiden menatap gadis yang ia sukai itu dalam-dalam dan berfikir keras. Namun gadis itu tak menyadari Aiden sedang menatapnya.


#FLASHBACK


Aiden kecil sedang bermain dengan Lorenzo kecil di rumah bibi nya ( Yurian ).


Yurian terlihat menyiapkan makanan enak dan juga kue-kue untuk dimakan.


" Yang mulia pangeran, bagaimana keadaan di istana? apa istana itu benar-benar besar?'" tanya Lorenzo penasaran


" Benar-benar besar, namanya juga istana " jawab Aiden malas


" kenapa kau tidak senang tinggal disana bersama yang mulia raja?" tanya Lorenzo dengan wajah polos


" Aku tidak nyaman berada disana, dan aku tidak punya teman " jawab Aiden sedih


" Benarkah? bukankah kau seorang pangeran? pasti banyak yang mau bermain dan berteman dengan yang mulia " tanya Lorenzo heran


" Karena aku bukan pangeran sesungguhnya. " jawab Aiden sedih


" Bukankah yang mulia bilang mempunyai satu teman? siapa dia? apa dia anak laki-laki?" tanya Lorenzo mengalihkan pembicaraan


" Dia seorang gadis, usianya 3 tahun lebih muda dariku, dia teman pertamaku di istana " kata Aiden senang


Aiden sangat bersemangat menceritakan tentang Arabella kepada Lorenzo. Tak lama kemudian Yurian dan Albert ( paman Aiden ) memanggil Aiden dan Lorenzo untuk masuk ke dalam rumah.


Mereka pun makan bersama, tiba-tiba Yurian terlihat kaget melihat Aiden.


" Aiden dimana itu? kenapa kau tidak memakainya?" tanya Yurian sambil melihat leher Aiden


" Ada apa bibi?" tanya Aiden bingung


" Kalung kristal pemberian ibumu, kenapa kau tidak memakainya?"tanya Yurian panik


" Aku memberikan nya pada Arabella " jawab Aiden polos


" Apa ? kenapa kau berikan?" tanya Yurian panik


" Istriku, kenapa kau sepanik itu? " tanya Albert bingung


Aiden dan Albert melihat kepanikan Yurian tentang kalung kristal itu.


Yurian menceritakan pada Aiden bahwa itu adalah sebuah kalung pelindung, pemberian seorang saint kepada Canaria sebagai hadiah, karena telah banyak membantu orang-orang yang kesulitan. Di dalam kalung itu terdapat kekuatan yang sering disebut gadis pelindung, dan Canaria mengatakan bahwa Aiden bisa meminta satu permintaan pada kalung itu, tapi sebagai balasannya ingatan masa kecil nya akan terhapus oleh kekuatan kalung itu.


" Bibi, kenapa bibi percaya hal seperti itu?" tanya Aiden tak percaya


" Aiden, bibi serius. Kenapa kau tidak menjaga kalung itu baik-baik ? ibu mu berpesan pada bibi agar kau menjaga kalung itu, dan kau malah memberikan nya pada orang lain " kata Yurian kesal


" Bibi tenang saja, kalung itu .. Dia akan menjaganya dia sudah berjanji padaku. " kata Aiden tenang


" Siapa dia? siapa yang kau beri kalung itu? ibu mu bilang jika kalung itu harus diberikan, maka harus kau berikan kepada orang yang berharga untukmu " tanya Yurian


" Dia berharga untukku bi " jawab Aiden sambil tersenyum


#END FLASHBACK


Setelah mendengar cerita Yurian tentang kalung kristal itu, awalnya Aiden tak mempercayai nya dan mengatakan bahwa itu adalah takhayul. Tapi, Aiden percaya saat ia sendiri merasakan kekuatan dari kalung kristal yang dipakai oleh Arabella untuk memohon reinkarnasi. Namun, pertanyaan terbesar nya adalah kenapa ia ikut merasakan kekuatan itu? dan kenapa ia ikut bereinkarnasi, dan tidak lupa dengan kejadian masa lalu, termasuk perasaannya pada Arabella yang masih ada. Pertanyaan besar itu masih belum terjawab? dan masih menjadi misteri di dalam hidupnya. Satu hal yang ia tahu, bahwa kembalinya Arabella dalam hidupnya adalah bukti yang NYATA dari kekuatan kristal itu.


" Kita hanya bertemu saat masih kecil, itulah sebabnya kau tidak ingat padaku. Apakah kita pernah bertemu saat kita dewasa? kenapa aku tidak tahu? Tapi aku bersyukur, karena kau hidup, ya itulah yang penting " batin Aiden bertanya-tanya dan bingung


" Guru ! guru !" Arabella setengah berteriak


Aiden masih tenggelam dalam lamunannya dan tak mendengar kan Arabella.


" Guru, apa kau sakit?" tanya Arabella sambil menyentuh pipi Aiden dengan lembut


Aiden kaget dan langsung memalingkan wajahnya.


" Maaf guru, kau kaget ya. Jangan salah paham, aku memegang pipimu karena seperti nya kau kepanasan, aku hanya ingin memastikan kau demam atau tidak " Arabella terlihat canggung


" La..lain kali jangan lakukan ini !" seru Aiden kesal


" Lagi-lagi aku membuat dia marah.. huu " batin Arabella merasa bersalah


" Baiklah, aku minta maaf guru.. " Arabella menyesal


***

__ADS_1


Di istana kediaman putra mahkota, ia masih sibuk di ruang kerjanya mengurusi dokumen menumpuk di mejanya.


" Aku harus menyelesaikan ini semua dalam waktu 2 hari, sebelum pesta kedewasaan ku dimulai " gumam Eugene yang merasa lelah


Suara orang membuka pintu terdengar oleh Eugene.


" KLAK "


" Selamat siang yang mulia " kata Liam sambil membungkuk kan badannya sebagai tanda hormat


" Ada apa Liam?" tanya Eugene


" Seseorang dari kediaman Duke Reese datang kemari, untuk menemui yang mulia " Liam menginfokan


" Apa?" Eugene agak kaget mendengar nya


" Apa dia datang? sudah kuduga, dia akan datang padaku cepat atau lambat " gumam Eugene dalam hatinya merasa senang


" aku akan menemuinya " kata Eugene


" Maksud yang mulia?" tanya Liam tak mengerti


" Aku akan menemui nya sendiri, kau tidak dengar?" jawab Eugene kesal


" maksud saya, apa yang mulia akan menemui pelayan itu sendiri ?" tanya Liam


" Pelayan? pelayan siapa?" tanya Eugene


" Pelayan keluarga Duke Reese yang datang kemari, yang mulia " jawab Liam


" Apa?" Eugene terdengar marah


" Yang mulia pasti berharap nona Arabella yang datang, tapi nyatanya bukan. Oh, dia kelihatan marah. Orang selembut yang mulia, jika marah akan sangat menyeramkan. Haa.. sebenarnya aku tidak mau bicara lagi, tapi aku harus tetap bicara.." batin Liam merasa takut


" Katakan ! untuk apa pelayan duke Reese kemari? Apa kau bisa katakan yang JELAS HAH??? " tanya Eugene marah


" Dia datang membawa pesan untuk yang mulia putra mahkota, dan juga ada beberapa kereta yang datang dari kediaman duke Reese. " terang Liam mulai takut


" Beberapa kereta? untuk apa ? membawa apa kereta-kereta itu?" tanya Eugene dengan nada mengintrogasi


" I..itu.. mereka membawa baju baju gaun wanita yang sangat banyak" jawab Liam ketakutan


" APA???!" Eugene terkejut mendengar nya dan terlihat kesal.


" Beraninya wanita itu, menolak ku lagi. Benar-benar keterlaluan! dia pikir dia siapa berani menolak perhatian ku yang langka ini, aku akan membuatmu berada di genggamanku Tunggu saja, Arabella " batin Eugene penuh kemarahan


Eugene membaca surat dari Arabella, dan ia terlihat semakin kesal ketika membacanya.


" Benarkah dia membenciku?!! apa kurangnya aku, dengan pria yang dia sukai? aku adalah pria no 1 di negeri ini. Kenapa dia menolak pria sesempurna diriku? DIA pikir siapa DIRINYA?!!" teriak Eugene sambil merobek robek surat nya


***


Sore itu, Arabella dan Felix berpamitan pada semua orang di camp karena mereka sudah selesai latihan dan hari sudah sore.


Aiden dan Arabella menjadi canggung satu sama lain ketika mereka bicara dan membuat orang-orang di sekitar mereka curiga.


" sa..saya akan pulang dulu guru " kata Arabella terlihat malu-malu dan bicaranya jadi gagap


Di pikiran mereka masih melayang kejadian tadi pagi saat Arabella terjatuh menimpa badan Aiden dan ketika ia menatap Aiden.


" Ba..baiklah.. kau berhati-hati.." Aiden terlihat gugup


" mengapa kejadian tadi masih terngiang ngiang di otakku? gawat aku takut meledak " batin Aiden panik


" Gu..guru.. sampai ketemu besok" kata Arabella


" Ini memalukan, kenapa aku teringat lagi kejadian tadi sih?" batin Arabella panik


" Iya.. ce..cepatlah pergi" kata Aiden


" apa yang terjadi dengan yang mulia dan nona Naomi ya?" bisik Demian pada Lorenzo


" Kalau itu aku tidak tahu, tapi pasti ada yang terjadi saat kita tidak ada " jawab Lorenzo pelan dan ikutan penasaran


" Kali ini kita se frekuensi ya, Lorenzo " Demian tersenyum


" Baiklah, hanya kali ini saja aku setuju denganmu. Aku juga penasaran " kata Lorenzo sambil tersenyum


" wah wah.. kau terlihat manis saat tersenyum Lorenzo, aku selalu melihatmu tanpa ekspresi. Baguslah sekarang aku bisa melihat wajah tampanmu tersenyum " kata Demian terpesona


" Menjijikan ! jangan bicara padaku dengan nada seperti itu, aku ini laki-laki dan normal !" seru Lorenzo kesal


" Menurutmu aku ini tidak normal gitu? wah wah.. Lorenzo, kau ngajak ribut ya?" Demian merasa sebal


Arabella dan Felix berjalan pergi, lalu Aiden menyusulnya sambil membawa kotak kue yang tidak asing.


" Nona Naomi, tunggu !" seru Aiden


" ada apa guru?" tanya Arabella


Tanpa bicara banyak, Aiden menyerahkan kotak kue itu pada Arabella. Arabella tersenyum melihat di dalam kotaknya ada kue coklat.


" Pia bakery? wah.. ini adalah kue kesukaanku.." kata Arabella senang


" Aku membeli kue di toko itu dan tidak menghabiskan nya karena terlalu banyak. " Aiden cuek


" Padahal bilang saja langsung kau mau memberikan nya untukku. Pakai alasan kue nya tidak habis segala, aku tahu ini masih baru " batin Arabella senang


" Terimakasih guru, ini kue favoritku " kata Arabella senang


Tanpa sadar Aiden tersenyum senang, Arabella kaget melihatnya.


" Dia tersenyum lembut seperti ini. Ini adalah pertama kalinya, dan dia terlihat sangat tampan, dan bibirnya pun seksi. Meskipun wajahnya tidak kelihatan sekalipun. Haa.. kenapa aku jadi berfikiran mesum seperti ini? " Arabella panik di dalam hatinya


" Nona, ayo kita pergi" kata Felix mengingatkan


" Ah..iya.. " Arabella berjalan pergi sambil membawa kue nya


Felix merasakan bahwa Arabella mulai memiliki perasaan pada Aiden, ia merasa cemburu tapi dalam hatinya ia berkata bahwa cinta nya untuk Arabella akan ia simpan untuk dirinya sendiri. Ia tahu bahwa ia tak mungkin memiliki Arabella, namun ia bertekad untuk selalu berada disampingnya dan melindunginya.


***


Arabella dalam perjalanan pulang menuju rumahnya, secara mendadak kereta yang ia naiki berhenti.


" Felix, kenapa berhenti? " tanya Arabella


" Nona , seperti nya itu kereta dari keluarga Collete " jawab Felix


" Keluarga Count Collete?"


" itu pasti Claire, mau apa dia menghalangi jalanku?" Arabella bertanya-tanya dalam hatinya


" Nona, apa saya harus mengatakan sesuatu pada pelayan Count Collete?" tanya Felix


" Tidak perlu. Aku akan turun " jawab Arabella tegas


Arabella turun dari kereta nya, ia melihat Claire sudah ada di depannya dengan seorang pelayan disampingnya. Mereka memberi hormat pada Arabella. Sudah tradisi setiap kerajaan, bahwa mereka harus memberi hormat dan menyapa terlebih dulu kepada orang yang status keluarganya lebih tinggi. Arabella yang berasal dari keluarga Duke, yang artinya yang posisinya hanya dibawah kaisar 1 tingkat harus mendapatkan penghormatan dari keluarga Collete yang bersatus Count.


Arabella menjawab hormat dan sapaan dari Claire dan juga pelayannya. Mata mereka saling bertemu, aroma persaingan mulai tercium dari dua wanita yang pernah jadi musuh di masa lalu ini, atau mungkin musuh di masa depan juga.


" Maafkan atas ketidaksopanan saya nona Arabella " kata Claire sambil tersenyum


" sebaiknya kau punya alasan kuat kenapa kau menghadang ku di tengah jalan seperti ini " kata Arabella dengan nada yang tajam


" Haha.. sebenarnya saya tidak berniat menghadang anda. Saya juga sedang dalam perjalanan, saya ingin menyapa anda dan juga mengundangmu ke suatu tempat " Claire mempertahankan senyuman itu

__ADS_1


" Mengundangku? dengan cara seperti ini? apakah ini sopan?" tanya Arabella sinis


" Aku ingin pura-pura baik padanya, tapi karena dia merusak mood ku, aku jadi kesal" batin Arabella merasa kesal


" Nona Arabella, tolong bicara yang sopan dengan nona saya !" kata Pelayan itu dengan wajah yang kesal dan nada bicara yang ketus pada Arabella.


" Rini, hentikan ! kau sangat tidak sopan pada nona Arabella " kata Claire kesal pada pelayannya


" Apa-apaan mereka ini?" Arabella berkata dalam hatinya sambil melihat Claire dan pelayannya dengan tatapan tidak suka


" Hanya seorang pelayan rendahan , kau berani berkata tidak sopan dan ketus kepada nona saya " kata Felix kesal


" Felix, tidak apa. Aku rasa nona Claire salah memilih pelayan " kata Arabella mengejek


" Apa?" tanya Claire kaget


" Nona Claire apa kau tidak lihat kalau pelayanmu ini seperti nya butuh di disiplinkan?" tanya Arabella menyindir


" kalau aku tidak diganggu, aku tidak akan melakukan ini Claire " batin Arabella


" Rini, cepat berlutut dan minta maaf pada nona !" seru Claire menahan kesal


" Tapi nona, saya salah apa?" tanya Rini dengan wajah polos


" Kau masih berani bertanya ?!!" seru Claire marah


" Aku harus menahan penghinaan ini. Arabella, tunggu dan lihat saja. Aku akan membalas penghinaan mu ini " batin Claire kesal


Tiba-tiba Arabella merasakan kalung kristalnya sesaat berubah menjadi panas seperti api, lalu kembali seperti semula.


Rini berlutut dan memohon maaf pada Arabella, Arabella pun memaafkannya. Lalu Claire meminta maaf juga padanya karena bersikap tidak sopan, ia memberitahu kan maksudnya untuk mengundang Arabella ke rumahnya untuk berbincang-bincang, juga sebagai permintaan maaf nya saat di pesta teh.


" Baiklah, aku akan datang besok siang ke rumahmu " kata Arabella setuju


" Terimakasih nona Arabella, telah menerima niat baik saya " kata Claire sambil tersenyum ramah


Saat melihat senyuman Claire, Arabella berkata dalam hatinya.


" Sekali lihat juga tahu kalau kau memaksakan senyumanmu, dulu aku tidak menyadari kau sering tersenyum palsu seperti ini. Untuk menarik perhatian putra mahkota, kau berpura-pura sebagai wanita polos yang baik dan ramah pada semua orang, tapi untuk sekarang akting MU itu tidak mempan untukku. Aku yang sekarang tidak akan tertipu, aku yang sekarang tidak akan menjadi wanita jahat seperti di masa lalu .."


#FLASHBACK


Arabella dan Claire adalah kandidat dari putri mahkota yang tersisa saat itu. Mereka sedang menyulam untuk di pertunjukkan pada Putra mahkota.


" Arabella, kau akan menyulam apa?" tanya Claire dengan wajah polos


" Aku belum tahu, kalau kau sendiri Claire ?" tanya Arabella penasaran


" Aku juga belum tahu " jawab Claire polos


Arabella menyulam sapu tangan kosong, ia terlihat gembira sambil memikirkan putra mahkota. Hingga akhirnya terlihat ukiran burung Phoenix di sapu tangan yang tadinya kosong itu.


" Semoga yang mulia putra mahkota menyukai nya " kata Arabella sambil memeluk sapu tangan buatannya itu.


Ia terlihat kelelahan dan tertidur di sofa. Tanpa ia sadari Claire melihat sapu tangannya diam-diam nya dan tersenyum sinis.


Keesokan harinya di istana, Arabella terlihat gembira sambil membawa sapu tangan hasil sulaman nya semalaman itu. Namun, disisi lain ia melihat Claire menangis dan sedang berada di pelukan Eugene.


" Yang mulia putra mahkota .. salam " kata Arabella memberi hormat


Eugene menatapnya dengan sinis dan mengabaikan salam yang disampaikan Arabella. Ia terlihat bingung dengan apa yang terjadi.


" Claire,kenapa kau menangis?" tanya Arabella cemas


" Kau masih bertanya kenapa dia menangis?" tanya Eugene sinis


" saya.. saya benar-benar tidak tahu.." jawab Arabella tak mengerti


" Yang mulia, hu..huuu.. sudahlah yang mulia.saya tidak apa-apa, saya akan membuatnya lagi.." Claire menangis tersedu-sedu


Suara Arabella : Saat itu aku tidak tahu alasan Claire menangis, sampai Eugene menarik tanganku dengan kasar dan membawaku ke kamar Claire. Tatapan Eugene saat itu membuatku takut, sekaligus membuatku sakit hati.


" Apa yang anda lakukan?" tanya Arabella sambil memegang tangannya yang terasa sakit


" Aku tahu kau iri pada Claire, tapi kau harusnya tidak boleh melakukan ini !" seru Eugene setengah berteriak


Arabella melihat ke kamar Claire semuanya terlihat berantakan, gaun yang robek-robek berserakan dimana-mana dan yang paling penting sapu tangan sulaman nya pun rusak. Claire hanya bisa berdiri disamping putra mahkota itu, dan menangis seolah ia tertindas dan tak berdaya.


" Kenapa ini bisa terjadi?" tanya Arabella kaget dan tak mengerti


" Kau masih bisa bertanya?" tanya Eugene sinis


Beberapa pelayan yang melayani Arabella di istana, memberikan kesaksian bahwa Arabella yang menyuruhnya merusak sulaman milik Claire juga merusak semua gaun yang ada di kamar Claire.


" Saya tidak melakukan itu yang mulia..saya tidak pernah memerintahkan begitu.." Arabella terlihat bingung


" Aku juga tidak ingin mempercayai nya, tapi kau selalu saja berbuat semaumu Naomi .." Eugene kesal dan kecewa


Diam-diam Claire menyembunyikan senyumannya yang penuh kepuasan terhadap keretakan yang semakin besar antara Arabella dan Eugene.


" Yang mulia, sudahlah.. saya tidak apa-apa " kata Claire sambil menangis


" Claire, kau percaya padaku kan? aku tidak mungkin melakukan itu, kita adalah teman. " kata Arabella berharap


" Aku percaya pada mu, tapi kenapa kau melakukan ini padaku padahal kita adalah sahabat baik?" tanya Claire


" Apa? Claire.. aku .."


" Kau masih saja bamyak lebih bicara? cepat MINTA maaf !" teriak Eugene murka


PLAK


Tangan Eugene mendarat tepat di pipi Arabella, gadis itu memegang pipinya yang di tampar oleh Eugene. Dibandingkan dengan tamparan di pipinya, ia lebih merasakan hatinya yang tertampar. Terlebih lagi para pelayan melihat hal itu, dan itu membuat Arabella semakin di permalukan.


" Yang Mulia !" seru Claire pura-pura kaget


Arabella tak mampu berkata-kata, wajahnya sudah menunjukkan kekecewaan besar terhadap pria yang ia cintai dari kecil itu. Ia berusaha menahan air matanya mengalir, karena ia merasa sudah cukup malu dilihat para pelayan, ia tak mau semakin malu dengan menangis.


" Naomi.. aku.. " Eugene terlihat kaget dengan apa yang ia lakukan, sekilas terlintas ada rasa bersalah dalam hatinya


Claire tersenyum puas melihat semua itu.


" Cukup.. " Arabella bersuara pelan dan kepalanya menunduk


Setelah itu, Arabella di hukum sebagai tahanan rumah dan tidak diperbolehkan keluar dari kamarnya selama 2 minggu. Hal itu tidak masalah baginya, tapi yang menjadi masalah dan menyakitkan hatinya adalah karena pria yang ia cintai tidak percaya padanya dan lebih percaya pada Arabella.


Arabella Voice :


" Saat itu aku hanya berharap kau percaya padaku.. Namun.. jauh dari kata percaya, seperti nya hanya aku yang mencintaimu sepihak, dan aku sendiri yang harus menanggung perasaan ini. Perasaan cinta yang aku miliki untukmu sungguh menyakitkan hatiku....Aku menerima semua tuduhan orang-orang dan rumor tentangku yang mengatakan bahwa aku adalah gadis jahat yang menindas teman dekatku sendiri untuk posisi putri mahkota, Meskipun itu tidak benar, aku mengabaikan semuanya. Hanya karena ingin kau percaya, tapi nyatanya kau tidak !


Apakah kau tau sebenarnya apa yang ku inginkan saat itu Eugene? apa aku benar-benar ingin posisi putri mahkota? tidak ! yang aku inginkan hanyalah bersanding denganmu dan berada disampingmu. Karena aku mencintaimu .."


# END FLASHBACK


Di sepanjang perjalanan pulang, Arabella mengingat kejadian masa lalu itu dan tanpa sadar ia menangis. Ia turun dari keretanya, dan terkejut melihat Eugene sudah ada disana.


" Kenapa harus ada dia ? padahal hari ini aku tidak mau melihatnya!" batin Arabella kesal


" Nona Arabella ..kau.. " Eugene tak meneruskan kata-kata nya.


Perhatian nya teralihkan saat melihat gadis yang ada di hadapannya itu menyeka air mata nya.


" Matanya sembab? apa dia habis menangis?" tanya Eugene cemas, di dalam hatinya.


" Sial, kenapa dia harus datang disaat keadaanku seperti ini?" batin Arabella

__ADS_1


" Siapa yang membuatmu menangis? katakan !" seru Eugene sambil menatap lembut ke arah Arabella.


__ADS_2