
^^^
Ilustrasi Eugene Theodore Cassius ( Crown Prince )^^^
Sesampainya di depan kediaman Duke Reese, Arabella memberi hormat dan segera melangkah pergi, Eugene kelihatan kesal melihatnya. Semua pengawal di kediaman Reese begitu terkejut saat melihat yang mulia putra mahkota dan memberi hormat.
" Hormat kepada yang mulia putra mahkota !" kata para pengawal serempak
" Hey tunggu dulu nona Arabella !" seru Eugene kesal
Arabella membalikkan badannya dan memaksakan lagi senyumannya.
" Ada apa lagi yang mulia?" tanya Arabella jutek
(" Gadis ini benar-benar membuatku tak bisa berkata-kata. Beraninya menolakku, tunggu saja ") batin Eugene sebal
" Kelak kau tidak diizinkan untuk memikirkan seseorang saat berada di dekatku " kata Eugene tegas
" Apa maksud anda yang mulia ?" tanya Arabella tak mengerti
" Apa masih kurang jelas tindakan tidak sopan mu tadi di dalam kereta? " tanya Eugene kesal
Duke Reese dan Ethan segera pergi keluar rumah dan melihat putra mahkota terlihat kesal pada Arabella.
(" Apa Arabella membuat putra mahkota kesal? kenapa wajah putra mahkota seperti itu?" ) batin Duke Reese cemas
" Memangnya tindakan tidak sopan apa yang saya lakukan yang mulia? bukankah anda yang tidak sopan kepada saya?" tanya Arabella tanpa takut dan tanpa merasa bersalah sedikitpun
Semua orang disana terkejut melihat tindakan Arabella yang terkesan tidak sopan, dan raut wajah putra mahkota yang terlihat tidak kesal.
(" sial, aku tidak bisa menahan kemarahanku pada Eugene ") batin Arabella kesal
" Abel ! hentikan ! yang mulia putra mahkota, tolong jangan diambil hati perkataan putriku ! Abel, minta maaf kepada putra mahkota !" seru Duke Reese
" Tidak apa-apa duke Herald, aku ingin mendengar langsung perkataan putrimu. Ayo lanjutkan perkataan mu nona Arabella " kata Eugene menantang
" Saya tidak mau minta maaf pada nya ayah, karena saya tidak merasa berbuat salah padanya !" seru Arabella tegas
" Jangan keras kepala, Abel !" seru Ethan membentak adiknya
(" Baiklah, karena sudah terlanjur disangka berbuat tidak sopan kenapa tidak aku lanjutkan saja? " ) batin Arabella memiliki ide
" Baik lah, saya akan meminta maaf " kata Arabella setuju
Arabella tersenyum dan berjalan mendekati putra mahkota dan membungkuk.
(" Trik apa lagi yang akan gadis ini mainkan..sudah kuduga dia akan minta maaf ") batin Eugene senang.
Eugene sudah senyum-senyum sendiri karena mengira Arabella akan meminta maaf padanya. Namun, itu diluar dugaan Eugene.
" Hamba memohon maaf kepada putra mahkota " Arabella tersenyum seolah merencanakan sesuatu.
" Oh.. aku sudah tau kau akan .." Eugene tersenyum
Eugene kaget dan tersentak, begitu pula dengan semua orang disana. Karena Arabella dengan sengaja menunduk lalu menyundul dagu putra mahkota hingga ia jatuh ke lantai.
" AKH .." Eugene memegang dagunya yang memerah
" Bagaimana ini yang mulia? saya benar-benar tidak sengaja " kata Arabella dengan wajah memelas
(" Ayo berhenti tersenyum, tertawanya nanti saja haha ") batin Arabella merasa senang
" Yang mulia, saya benar-benar minta maaf. Putri saya benar-benar tidak sopan. Yang mulia putra mahkota, mari kita obati yang mulia di dalam kediaman saya dulu " kata Duke Reese merasa bersalah
Ethan membantu Eugene berdiri, Ethan terlihat kesal pada Arabella.
(" Gadis ini benar-benar membuatku tidak habis pikir , aku pikir dia hanyalah kucing kecil biasa tapi dia adalah singa yang menarik ") batin Eugene
" Aku baik-baik saja, tidak apa-apa kapten Ethan. Seperti nya aku harus segera pergi, ada banyak urusan di istana yang harus aku kerjakan. " kata Eugene berpamitan
" Tapi yang Mulia, dagu anda " kata Duke Reese merasa tak enak hati
" Tidak apa ini hanya luka kecil, jangan marahi putrimu ya tuan duke. " Eugene tersenyum tenang. Arabella memalingkan wajahnya.
" Yang mulia, saya benar-benar minta maaf " kata Duke Reese
" Tidak apa, tidak perlu begitu. Tapi sebagai gantinya lain kali aku boleh datang kemari lagi kan?" tanya Eugene dengan senyuman tipisnya
" Apa?" Ethan, Duke Reese, dan Arabella kaget mendengar nya
" Te..tentu saja .. lain kami kami akan menjamu yang mulia dengan baik di mansion kami yangs sederhana ini " kata Duke Reese gugup
(" Putra mahkota, apa dia tertarik dengan Abel. Bagaimana ini?") batin Duke Reese
(" Hey, kenapa kau tidak bersikap seperti dimasa lalu saja sih? kenapa kau bersikap seperti ini sekarang? kau sangat aneh ! menyebalkan kau Eugene !") batin Arabella merasa sebal
" Aku menantikan nya, dan aku ingin lebih terhibur lagi olehmu Nona Arabella " Eugene tersenyum dan mengedipkan matanya pada Arabella
(" Dia sudah gila, Eugene kau gila ") batin Arabella merasa jengkel
Semua pengawal di kediaman Reese kaget melihatnya, setelah kepergian putra mahkota semua orang di kediaman Reese mulai bergosip tentang Eugene dan Arabella.
Sementara itu, Duke Reese dan kedua kakak Arabella menegur Arabella karena sikapnya pada putra mahkota.
" Bisa kau jelaskan pada kami kenapa kau bersikap seperti itu kepada putra mahkota?" tanya Duke Reese mode introgasi
" Karena aku sudah bilang kan tadi, dia tidak sopan padaku lebih dulu " jawab Arabella bingung
(" Aku tidak bisa berkata jujur pada mereka bahwa aku membencinya karena dia membunuh kalian dan aku di masa lalu, yang ada aku malah dianggap gila !") batin Arabella bingung
" Walaupun kau tidak suka padanya, kau tidak boleh bersikap seenaknya padanya. Bagaimana pun juga dia adalah putra mahkota " kata Peter menasehati
" Tapi, dia itu.. "
Ethan menampar pipi Arabella sehingga membuat Peter dan Duke Reese kaget.
PLAK
Arabella terdiam dan memegang pipinya itu. Beberapa pelayan yang lewat melihatnya.
" Ethan !!!" seru Duke Reese
__ADS_1
" Kak Ethan ! kakak sudah keterlaluan !" seru
" Beraninya kau memanggil putra mahkota dengan sebutan DIA? aku pikir kau sudah berubah, dulu memang kau sangat nakal dan selalu buat onar. Ternyata sekarang pun sama saja, tahukah tindakan mu itu bisa membuat masalah besar untuk kami?" tanya Ethan kesal
" hey hey ! Kak Ethan kau tidak perlu bicara sekeras itu padanya " kata Peter pada Ethan
" Ya, aku minta maaf atas tindakanku yang sembrono. Aku tahu akan menimbulkan masalah besar dengan sikapku, aku juga tidak ingin terlibat dengan keluarga kerajaan manapun, entah ini takdir atau kebetulan aku selalu saja berhadapan dengan keluarga kerajaan. Aku serius berkata pada kalian tentang aku tidak ingin menjadi bagian keluarga kerajaan, tapi..."
(" Tapi aku tidak bisa mengendalikan diriku saat aku melihat pembunuh itu ") batin Arabella sedih
Ayah dan Kedua kakak nya itu menatap Arabella dan terlihat bingung.
" Maafkan aku ayah, kakak. Aku memang selamanya pembuat onar untuk kalian " kata Arabella sakit hati
" Abel maksud ku bukan begitu.. aku .." Ethan mencoba berbicara
" Tidak nak, kakakmu.. dia itu " kata Duke Reese mencoba menjelaskan
" Kakak tidak harusnya memukulnya !" seru Peter marah
(" Ini pertama kalinya dalam hidupku, kak Ethan memukulku..dan itu hanya karena Eugene. ") batin Arabella penuh kebencian pada Eugene
" Kita bicara nanti saja ya, aku lelah. Aku ingin ke kamarku " kata Arabella sambil tersenyum pahit
" Abel ! Abel !" seru Peter dan Duke Reese memanggil
Duke Reese akan menyusul Abel ke kamarnya namun ia harus segera pergi ke istana karena ada pekerjaan yang harus ia lakukan.
Arabella pergi ke kamarnya dan menutup pintunya dengan cepat. Ethan dan Peter menyusul nya ke depan pintu kamar.
" Abel, kakak belum selesai bicara padamu. Kakak akan jelaskan ya !" seru Ethan membujuk
Arabella berdiri di belakang pintu kamarnya, ia terlihat sedih dan mulai menangis. Ia teringat masa lalu nya sebelum ia bereinkarnasi dan diberi kesempatan kedua.
" Yang kakak katakan itu memang benar, dimasa lalu kalau bukan karena sifatku yang pembuat onar ini, kalian tidak akan mati karenaku.. semuanya salahku .." Arabella sedih
Ethan merasa bersalah dan tak enak hati, Peter juga merasa begitu.
" Kan aku sudah bilang kau jangan bicara sekeras itu pada Abel, kau bahkan memukulnya ! " kata Peter menasehati dan kesal pada kakaknya
" Apa kata-kata ku memang terlalu menyakitkan buat nya?" tanya Ethan sedih
" Kata-kata mu itu memang selalu tajam dan pedas lebih dari pedang, kak. Bukan itu saja , bahkan tamparanmu tadi terdengar keras! " kata Peter jujur
" Begitu ya... dia pasti marah .." Ethan menghela napasnya
(" Aku tidak bermaksud begitu, Abel ") batin Ethan merasa bersalah
" Aku juga marah padamu, jangan temui dia dulu sekarang mungkin dia butuh waktu sendiri. " kata Peter ketus
***
Arabella berbaring di ranjangnya, ia memegang kalung kristal nya.
" Ngomong-ngomong, karena kalung ini aku bisa kembali ke masa lalu dan hidup kembali. Tapi, kenapa aku tidak ingat siapa yang memberikan kalung ini padaku? " gumam Arabella pelan
Sementara itu Layla, Felix dan Daisy baru di keluarkan dari tahanan setelah menjalankan hukuman 2 hari dalam kurungan. Mereka langsung bergegas menemui Arabella, di kamarnya.
" Iya nona, tolong buka pintunya " kata Felix
(" Ini tidak seperti biasanya nona mengunci pintu kamarnya ") batin Felix heran
" Kalian pergi saja dulu dan kerjakan pekerjaan lain, aku ingin sendirian saat ini " kata Arabella dari balik pintu kamarnya
" No..nona .. apa nona baik-baik saja?" tanya Layla cemas
" Aku baik-baik saja, aku hanya lelah. Kalian pergilah " Kata Arabella dengan nada yang lemas
" Baiklah, jika ada yang nona inginkan nona bisa membunyikan bel untuk memanggil kami " kata Daisy
" Ya "
Layla, Daisy dan Felix pergi dari kamar Arabella. Mereka khawatir pada Arabella yang mengunci dirinya sendiri di dalam kamar dan penasaran dengan apa yang terjadi.
" Ada apa dengan nona? apa dia masih sakit?" tanya Daisy cemas
" Tidak.. seperti nya nona baik-baik saja tapi dia hanya terdengar sedih " kata Layla sedih
" Benar juga, sepertinya ada masalah yang kita tidak ketahui selama berada dalam tahanan. " kata Felix
" saya akan mencari tau dari orang-orang di rumah ini " kata Daisy
" ya,.. saya juga " kata Layla
Layla dan Daisy pergi ke dapur membantu pelayan dapur untuk membantu menyiapkan makan malam. Dari sana lah Layla dan Daisy menggali informasi tentang apa yang terjadi pada Arabella.
" Aku senang kalian sudah keluar dari masa hukuman " kata Pelayan dapur
" Iya, tapi kami tidak begitu senang " kata Daisy
" Oh kenapa?" tanya Pelayan dapur heran
" Karena nona Abel belum mau menemui kami, dia mengurung diri di kamarnya. Apa kau tau sesuatu yang terjadi?" tanya Daisy
" Oh tadi itu ada sesuatu kejadian yang menarik, yang mulia putra mahkota seperti nya tertarik pada nona kita. Tapi, tadi nona Abel bersikap tidak sopan pada putra mahkota dan membuat Tuan duke, tuan muda Ethan dan tuan Peter marah. " terang Pelayan dapur
" Apa? bersikap tidak sopan bagaimana?" tanya Layla penasaran
Pelayan dapur itu menceritakan semua yang terjadi dengan Arabella. Dan dia juga menceritakan kejadian Ethan menampar Arabella juga romurnya tentang menjadi putri mahkota.
Daisy dan Layla cemas mendengar nya.
" Jadi itu penyebabnya nona Abel seperti itu " kata Layla sedih
" Iya, setelah ini tugas kita adalah menghibur nya Layla. " Daisy tersenyum
" Iya bibi Daisy, kita harus menghibur nona Abel. " Layla setuju
" Bagus Layla, kita harus semangat demi nona. Oh ya, kau cobalah lagi membujuk nona ya, bawakan kue coklat ini. Sebentar lagi waktu makan malam, aku dengar nona bahkan belum makan siang. " kata Daisy sambil memberikan nampan berisi kue coklat kesukaan Arabella
" Iya bibi Daisy, siap. Aku akan mengantarkan nya pada nona. Semoga nona sudah membaik hatinya " kata Layla sambil tersenyum
***
__ADS_1
Aiden sudah sampai di negeri Clarines, bersama dengan Lorenzo dan Demian. Namun, mereka tidak langsung ke istana dan mengibap di sebuah penginapan biasa.
" Aku dengar anggur disini sangat enak yang mulia " kata Demian sambil senyam-senyum
" Apa maksudmu bicara begitu, Demian?" tanya Aiden cuek
" Bagaimana kalau kita minum-minum sebentar yang mulia? aku juga sudah lapar, bukankah ini sudah waktu makan malam. Lorenzo kau lapar juga kan?" tanya Demian. Lorenzo mengabaikan pertanyaan Demian seolah tak peduli. Demian menunjukkan ekspresi memelasnya.
" Aku sih terserah yang mulia " jawab Lorenzo cuek
" baiklah, kita beristirahat dulu di kedai itu sebelum kembali penginapan " kata Aiden
" Asyik ! hore ! yang mulia memang yang terbaik " Demian terlihat senang
" Satu lagi, aku tidak ingin orang-orang disini mengetahui identitas ku sebagai pangeran
Saat kita berada di luar di hadapan orang orang kalian bisa memanggil namaku " terang Aiden memperingatkan
" kami harus memanggil apa ?" tanya Lorenzo
" Cedric, panggil aku dengan nama itu " jawab Aiden
" bukankah nama mu adalah Aiden, yang mulia" tanya Lorenzo heran
" Cedric adalah nama yang diberikan ibuku, dan aku ingin menggunakan nya. Kalian jangan banyak protes " kata Aiden kesal
" Baik yang mulia, maksud kami Tuan Cedric " kata Lorenzo dan Demian
Aiden, Lorenzo dan Demian pergi memesan minuman dan makanan di kedai rakyat biasa.
Saat mereka minum-minum disana, mereka mendengar orang-orang membicarakan tentang Arabella dan Eugene.
" Hey hey apa kalian sudah tau rumornya ?" tanya Pria 1
" Rumor apa?" tanya Pria 2 penasaran
" Rumor bahwa putra mahkota sudah memilih putri mahkota " jawab Pria 1
" Yang benar kau? aku tau itu nona Claire Collete kan?" tanya Pria 3 menebak
" Bukan, bukan. Aku dengar dari orang-orang di dekat kediaman duke Reese kalau putra mahkota memberikan perhatian khusus pada Nona Arabella " kata Pria 1 semangat
" benarkah? bukankah dia adalah putri duke reese yang dirumorkan sebagai wanita jahat? bagaimana bisa putra mahkota suka padanya?" tanya pria 4 heran
" Dia sebenarnya tidak jahat, hanya saja sedikit sombong. Dia justru sangat baik, dia menolong anak-anak yang diculik oleh bandit penculik anak yang sudah lama menjadi buronan..Selain itu dia juga cerdas, dan cantik " terang Pria 1
Aiden kaget mendengar pembicaraan para pria yang ada di kedai itu. Kedua teman Aiden juga hanya menyimak pembicaraan itu untuk mendapatkan informasi lebih jauh.
" Yang benar? kalau begitu, dia pasti cocok untuk menjadi kandidat putri mahkota bukan? selain kedudukan keluarga nya yang dekat dengan Raja, kalau nona Arabella menikah dengan Putra mahkota akan semakin memperkuat kerajaan juga " kata Pria 2 berpendapat
" benar, suatu keuntungan tersendiri juga untuk kerajaan kita. " kata Pria 3
" Yah, pokoknya aku berharap pemimpin kita kelak akan memakmurkan negeri kita " kata Pria 4
" Benar benar itu yang terpenting. " kata Pria 2
" bella, menjadi putri mahkota? yang benar saja. Apa dia mau mati dua kali atau dia memang masih mencintai Eugene ?" batin Aiden kesal
Lorenzo dan Demian bisa merasakan kemarahan Aiden yang hanya diam saja dan menatap tajam pada para pria itu. Aiden pun berdiri dan mengajak kedua temannya itu untuk pergi ke penginapan.
" Yang mu.. maksudku Cedric kita belum selesai " kata Demian
Tanpa bicara, Aiden menatap Demian dengan tajam dan terlihat penuh kemarahan, Demian mulai ketakutan.
" Demian, jangan buat masalah..kau tidak lihat yang mulia saat ini ?" tanya Lorenzo berbisik pada Demian
" Ya ya.. baiklah, ayo kita pulang dan istirahat " kata Demian gugup
***
Layla mengetuk pintu kamar Arabella dan membawa kue coklat untuk nya.
" Nona, nona ini saya Layla. Saya membawakan kue coklat kesukaan nona dari Pia Bakery lo " kata Layla membujuk
" Layla, aku tidak ingin makan. Aku ingin tidur saja " jawab Arabella lemas
" Nona saya mohon, makanlah sedikit. Nona belum makan dari tadi siang kan? Apa nona tidak senang saya datang? " tanya Layla
".... " Arabella diam saja dan masih duduk di ranjangnya.
Layla terlihat sedih karena Arabella tidak membuka pintu dan berkali kali tidak menjawab pertanyaannya. Ia berdiri mematung di depan kamar Arabella dan menunggunya.
Ethan dan Peter yang baru pulang malam itu melihat Layla.
" Selamat malam tuan muda Ethan, tuan muda Peter" Layla menyapa
" Malam Layla, kenapa kau berdiri disini?" tanya Peter
" Saya berusaha membujuk nona Abel untuk makan dari tadi. Tapi, nona bahkan tidak membuka pintunya. " terang Layla sedih
" Dia belum keluar kamar dari tadi?" tanya Ethan mulai cemas
" Iya tuan muda " jawab Layla cemas
" Berikan kue coklatnya, kau pergilah bantu Daisy " kata Peter
Layla menyerahkan nampan kue coklat itu pada Peter. Peter berusaha membujuk Arabella untuk membuka pintu kamarnya, disana juga ada Ethan. Wajah Ethan terlihat merasa bersalah dan sedih.
" Abel, buka pintunya ayo kita makan bersama. Ini kue coklat kesukaan mu, yakin kau akan melewatkannya? akan ku habiskan nih " kata Peter menggoda
"... " Arabella tidak menjawab Peter dan suasananya terdengar hening.
" Abel aku akan bicara. Kau dengar kan? kita harus bicara " kata Ethan
" Kak, tolong bicara lah lebih lembut. Kau akan membuat adik kita semakin ketakutan " kata Peter menasehati
" Ini aku sudah lembut " kata Ethan pada Peter
" Kita harus bicara, Abel. Tolong keluarlah dari kamarmu " kata Ethan membujuk
" Maaf kakak. Aku tidak ingin bicara denganmu sekarang " jawab Arabella dengan nada kesal
" Abel..." suara Ethan lembut dan merendah
__ADS_1