
Raja senang mendengar keputusan Aiden untuk tinggal di istana yang artinya ia akan resmi menjadi anggota kekaisaran kerajaan Clarines.
Aiden menatap sang raja dan berkata dengan tegas bahwa ia ingin mengambil alih penyelidikan insiden yang menimpa ratu.
" Apa? " Raja tampak kaget mendengar permintaan pertama putranya
" Ada apa ? apa yang mulia keberatan dengan permintaan saya?" tanya Aiden
" Tidak, bukan begitu. Aku hanya heran kenapa kau meminta hal seperti itu.. Apa mungkin kau ada hubungan dengan nona Arabella ?" tanya Raja heran
" Jadi yang mulia khawatir dengan tujuan saya meminta permintaan ini. Yang mulia tidak perlu cemas, saya melakukan ini hanya untuk membalas budi pada nona Arabella " kata Aiden sambil tersenyum
" Apa Aiden memiliki perasaan untuk gadis itu? kenapa Aiden tersenyum senang saat membicarakan nya, biasanya dia tidak berekspresi " batin Raja bingung
" Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi apa tujuanmu. Aku akan mengabulkan keinginanmu " kata Raja setuju
" Terimakasih yang mulia raja " kata Aiden
" Aku sangat berharap suatu saat nanti dia akan memanggilku ayah " batin Raja berharap
" Aiden.. istirahat lah, aku sudah menyuruh pelayan menyiapkan kamar untukmu. " kata Raja
" Terimakasih yang mulia " kata Aiden sambil membungkuk hormat
***
Aiden keluar dari aula kerajaan, ia melihat Eugene seperti sedang menunggunya. Eugene memberi hormat kepadanya.
" Selamat sore kakak " kata Eugene
" Anda tidak seharusnya memberi hormat kepada saya yang statusnya lebih rendah, yang mulia.." kata Aiden dingin
" Bukankah ini wajar, kau adalah kakakku. Kau juga putra pertama ayahku, meskipun kita berbeda ibu. Tapi, kita tetap sedarah " kata Eugene
" Maaf, meskipun faktanya begitu aku tidak mau bersaudara denganmu " kata Aiden dingin
" Tapi kenapa?" tanya Eugene tak mengerti
" Karena aku tidak mau bersaudara dengan denganmu saja " jawab Aiden dingin
" Kenapa kau selalu bersikap dingin kepadaku? padahal aku selalu memperlakukan mu dengan lembut, aku tulus ingin bersaudara denganmu " kata Eugene heran
" Aku tidak butuh saudara sepertimu. Dan juga aku tidak menyukaimu " jawab Aiden sambil menatap pria di depannya itu dengan penuh kebencian
" Bagaimana bisa aku berhubungan baik denganmu?Mungkin kau lupa, tapi aku tidak lupa, bagaimana kau membunuh Arabella dan seluruh keluarganya?" batin Aiden penuh dendam
" Tatapan mata nya itu, kenapa aku merasa dia menatapku seperti sama dengan Arabella menatapku. Sama-sama penuh kebencian, tapi kenapa?" batin Eugene bingung
" Baiklah.. meskipun kau tidak menganggapku sebagai saudara. Aku akan memperlakukan mu dengan baik, kau bisa meminta bantuanku jika kau perlu bantuan ku " kata Eugene sambil menghela napas
" Terimakasih putra mahkota atas perhatiannya. Tapi tolong jangan panggil aku kakak, panggil saja namaku. Bukankah usia kita hanya berbeda 9 bulan saja?" tanya Aiden
" Baik , Aiden " kata Eugene setuju
" Aku selalu ingin punya kakak, aku harap kau menjadi kakakku tapi sepertinya kau tidak menyukaiku. " batin Eugene sedih
Aiden menemui Lorenzo dan Demian yang sudah menunggu di depan istana.
" Kenapa kalian disini? kalian sudah mencari di mana kamarnya?" tanya Aiden
" Iya kami sudah tau dimana kamarnya, tapi nona Arabella tidak berada disana " jawab Demian
" Lalu ?" tanya Aiden penasaran
" Nona Arabella sedang duduk dibawah pohon di taman istana " jawab Lorenzo
" Oke " jawab Aiden
***
Sore itu...
Arabella sedang sendirian di bawah pohon yang rindang dan teduh.
" Ayah, kak Ethan, kak Peter.. maafkan aku selalu membuat kalian kesusahan. Aku memang anak yang tidak berguna, di masa lalu aku membuat kalian terbunuh. Sekarang pun aku membuat kalian kesulitan, haa.. betapa tidak berguna nya aku, apa aku pembawa sial? dan kenapa sikapnya padaku berbeda dengan masa lalu. Kenapa dia berubah tidak seperti dulu? apa dia benar-benar sudah berubah? atau dia hanya menutupi sikap jahatnya saja? semakin aku ingat, hatiku semakin sakit. Entah kenapa aku tiba-tiba merindukan guru Cedric, jika dia ada di sini dia pasti akan memberiku solusi walaupun dia sombong, dan dingin. Tapi, dia bisa diandalkan .." Arabella bergumam sendiri
" Apa itu pujian?" tanya Aiden yang tiba-tiba sudah muncul di belakang pohon
" Ternyata dia memikirkan ku " batin Aiden senang
" Itu seperti suara guru Cedric. Ah tidak, seperti nya aku sedang berkhayal " gumam Arabella tak percaya
Aiden menghampiri Arabella dan berdiri di depannya, ia mengenakan topeng dan penampilan seperti Cedric.
" Gu...guru ! kenapa kau ada disini?!!" Arabella kaget dan segera berdiri
Dari kejauhan Lorenzo dan Demian melihat Arabella dan Aiden, mereka berdua seperti sedang berjaga.
" Lorenzo,.. aku sangat gereget pada yang mulia " kata Demian
" kenapa?" tanya Lorenzo
" Kenapa yang mulia tidak kasih tau saja identitas sebenarnya kepada nona Arabella? bukankah itu akan lebih baik " kata Demian
" Yang mulia mempunyai alasan kenapa dia berbuat seperti ini, yang jelas nanti juga nona Arabella akan tau identitas yang mulia " kata Lorenzo yakin
" Dengan melihat sikap nona Arabella seperti itu, saat dia mengetahui semuanya. Dia pasti akan marah pada yang mulia, bukan?" tanya Demian cemas
" Sepertinya begitu. " jawab Lorenzo
Arabella terkejut dan tak percaya melihat Aiden ada dihadapannya.
" Aku pasti berhalusinasi kan? tidak mungkin guru ada di istana " gumam Arabella bingung
" Kalau kau tidak percaya, kau bisa menyentuhku " kata Aiden
" astaga! bahkan bayangan nya bisa berbicara !" seru Arabella terkejut
" Saat ini aku ingin tertawa karena kau sangat imut, tapi aku ingin menikmati melihat wajahmu yang imut itu sebentar saja " batin Aiden senang
Arabella menyentuh pipi Aiden perlahan-lahan dan mencubitnya.
" Aw ! sakit tahu !" seru Aiden sambil memegang pipi nya yang dicubit oleh Arabella
" Guru.. ini benar-benar kau !" seru Arabella girang dan memeluk Aiden.
Aiden terdiam karena kaget Arabella tiba-tiba memeluknya. Lorenzo dan Demian yang melihatnya dari jauh juga senyum-senyum, senang. Selain mereka, ada seseorang lagi yang melihat Arabella memeluk Aiden dan terlihat mesra.
" Untung saja aku memakai topeng, jadi raut wajahku tidak kelihatan saat ini. Kalau terlihat olehnya, pasti akan memalukan " batin Aiden resah
" Syukurlah dia ada disini, entah kenapa aku merasa nyaman di dekatnya" batin Arabella senang
" haaa.. apa yang aku lakukan? kenapa aku memeluknya ? Aku sudah gila !" batin Arabella panik
Arabella yang panik segera mendorong Aiden dengan kuat, hingga Aiden menabrak pohon.
" Auw.. hey kau ! apa yang kau lakukan sih?!!" seru Aiden kesakitan sambil memegang keningnya
" Astaga ! guru maafkan aku ! aku benar-benar tidak sengaja .." kata Arabella menyesal
Arabella membantu Aiden berdiri, ia terkejut melihat kening Aiden terluka.
" Guru, kau harus buka topengmu !" seru Arabella
" A..apa? kenapa?" tanya Aiden kaget
" Seperti nya kening mu terluka, aku akan mengobatinya " jawab Arabella lembut
" Jika dia membuka topengku, maka semuanya akan berakhir. Tidak, aku tidak mau dia mengetahui nya dengan cara seperti ini. " batin Aiden berfikir
" Tidak usah ini hanya luka kecil " kata Aiden menolak
" Kenapa dia sangat tidak percaya diri? sampai tidak mau membuka topengnya, aku tidak percaya kalau dia sejelek itu. Dari suaranya saja dia pasti orang yang tampan. Ya seperti pangeran Aiden itu, kenapa aku jadi ingat dia?" batin Arabella
" Baiklah, aku minta maaf. " kata Arabella terlihat sedih
" kenapa wajahnya seperti itu? apa dia sedih tentang apa yang terjadi?" batin Aiden cemas
Aiden dan Arabella duduk di kursi taman dan mereka mengobrol.
" Katakan, kenapa guru bisa ada disini?" tanya Arabella curiga
" Sebenarnya aku tidak ingin bohong padamu sejak awal aku.." Aiden ingin menjelaskan
" Sejak awal kau mengenal pangeran Aiden, kan? dan kau adalah guru nya pangeran Aiden juga kan? kau tau aku mencarinya tapi kau berbohong padaku, jahat sekali " kata Arabella sambil memasang wajah cemberut
" Jadi dia menarik kesimpulan seperti itu, baiklah aku iya kan saja dia untuk saat ini " batin Aiden
" Ya, aku minta maaf sudah berbohong padamu. Aku memang mengenal pangeran Aiden dan aku kesini atas perintah pangeran Aiden " kata Aiden menjelaskan
__ADS_1
" Sudah kuduga, kalian berteman dekat kan?" kata Arabella sebal
" Aku sudah dengar masalah mu dari pangeran Aiden. Dan dia akan membantumu, membuktikan kau tidak bersalah " kata Aiden
" Apa? kenapa dia mau melakukan itu?" tanya Arabella polos
" Kalau aku bilang, karena aku menyukaimu. Kira-kira kau akan menjawab apa?" batin Aiden
" Karena dia adalah orang baik, dia bilang dia juga mengenalmu " jawab Aiden
" Padahal kami baru bertemu sekali, dan dia mau membantuku. Baik sekali " Arabella tersenyum
" Iya benar, katanya kau berdansa dengannya juga ya?" tanya Aiden
" Iya benar. kenapa guru bisa tau? apa jangan-jangan kau sangat dekat dengannnya?" tanya Arabella curiga
" Iya aku memang dekat dengannya. " jawab Aiden sambil mengalihkan pandangan
" Guru, kau tau tidak ? saat aku berada di dekat pangeran Aiden, aku merasa aku sedang berada di dekatmu. Kenapa ya?" tanya Arabella curiga
" Dugaanku benar, ternyata dia mulai curiga " batin Aiden panik
" Itu mungkin hanya perasaanmu saja.. " kata Aiden sambil tersenyum canggung
" Perilaku nya saat ini mencurigakan " batin Arabella merasa curiga
" Oh ya, baju yang aku pilihkan untukmu juga sama dengan bajunya. Apa benar-benar kebetulan?" tanya Arabella
" Sebenarnya baju yang kau pilihkan itu, aku memberikannya pada pangeran " jawab Aiden gugup
" Apa?! kenapa kau berikan padanya?!" Arabella marah
" Kenapa kau marah? Apa hanya karena aku memberikan baju itu pada pangeran Aiden?" tanya Aiden heran
" Menyebalkan, padahal aku memilihkan sepenuh hatiku untuknya. Tapi, dia malah memberikannya pada orang lain. Seolah pilihanku tidak berharga " batin Arabella kesal
" Lain kali, jangan meminta ku memilihkan baju untukmu lagi!" seru Arabella marah
" Dia marah kenapa sih sebenarnya?" batin Aiden merasa pusing
" Dan bilang pada pangeran Aiden juga, jangan membantuku ! biarkan saja aku mendapat hukuman, dan mati sekalian !" seru Arabella kesal
" Hentikan ! jangan katakan tentang kematian itu begitu saja !" teriak Aiden marah
" Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu dengan sangat mudah? " batin Aiden marah
" Kenapa dia marah?" batin Arabella tak mengerti
" Apa pedulimu ? aku mati atau tidak, apa urusanmu !" seru Arabella kesal
Aiden menutup mulut Arabella dengan mulutnya.
" Aku sudah bilang hentikan! kau cerewet sekali ! apa kau mengerti arti kematian? kenapa kau bisa mengucapkannya dengan begitu mudah? " tanya Aiden sedih
" Apa dia pernah kehilangan seseorang yang penting sehingga ia berkata begini? terlihat sekali ia sangat sedih" batin Arabella bingung
" Apa kau mengerti rasanya kehilangan seseorang yang sudah tiada? seseorang yang sudah mati tidak akan bisa kembali.. bagaimana bisa kau bicara begitu?!! bagaimana bisa kau bicara tanpa berfikir dulu??!" seru Aiden marah
" Ini pertama kalinya aku melihat dia begitu marah, dia pasti sudah merasakan banyak kesedihan. Atau mungkin dia punya seseorang yang ia cintai dan orang itu tiada, jadi dia begitu emosional tentang kematian " batin Arabella Cemburu
" Aku minta maaf, aku tidak akan mengatakan begitu lagi " kata Arabella sedih
" Aku tidak bermaksud marah padamu.." kata Aiden
" Aku tahu, guru aku akan kembali ke kamar ku. Aku akan beristirahat. Tentang latihan pedang kita lakukan lagi setelah aku bebas dari tuduhan. Dan Terimakasih sudah datang " kata Arabella dingin
" Kenapa aku marah seperti ini hanya karena baju? dan kenapa aku marah ketika memikirkan guru menyukai seseorang yang bahkan aku tidak tahu dia siapa ? apa aku sudah gila ya? Perasaan apa ini? aku tidak mengerti.." batin Arabella bingung
" Aku kesini untuk menghiburnya, tapi aku malah membuat dia marah dan sedih " batin Aiden sedih
Lorenzo dan Demian melihat Arabella terlihat sedih dan ia masuk ke dalam istana.
" Ada apa dengan atmosfer nya? bukankah tadi ada love love di udara?" tanya Demian heran
" Seperti nya mereka bertengkar lagi" kata Lorenzo sambil menghela napas
" Yah .. padahal aku menantikan mereka melakukan sesuatu yang lebih dalam. " kata Demian berharap
Lorenzo memukul kepala Demian.
" auw sakit ! kenapa kau memukulku tiba-tiba begitu ?!!" seru Demian kesal
" Aku sedang memperbaiki otak kotor mu itu !" kata Lorenzo
***
Liam menghampiri Eugene yang terlihat sangat lelah.
" Yang mulia " kata Liam menyapa
" Kau sudah tahu dia ada dimana?" tanya Eugene
" Apa aku jawab jujur atau tidak ya? kalau nona Arabella bersama pria lain? baiklah, sekalian saja aku lihat reaksi yang mulia, apa dia benar-benar menyukai nona Arabella atau tidak " batin Liam
" Kenapa kau malah melamun? bukannya menjawab" tanya Eugene kesal
" Maafkan saya, maafkan atas ketidaksopanan saya yang mulia " kata Liam merasa bersalah
" Ya baiklah. Katakan apa laporan mu sekarang?" tanya Eugene
" Nona Arabella berada di taman kerajaan, tadi dia sedang sendirian lalu .." Liam berhenti
" Apa aku menyuruhmu berhenti? lanjutkan..." kata Eugene
" Lalu nona Arabella bertemu seorang pria tidak dikenal dan mereka berpelukan mesra " kata Liam ragu
" APA? Mereka berpelukan??! siapa pria itu? katakan yang jelas !' seru Eugene cemburu
" wajahnya tidak terlihat karena dia memakai topeng, saya juga tidak tahu mengenai identitasnya " jawab Liam
" Yang mulia benar-benar cemburu, ini tandanya yang mulia serius menyukai nona itu " batin Liam
" Laki-laki bertopeng itu lagi? apa dia yang waktu itu aku lihat di toko baju. Sudah aku duga, dia memang ada apa-apa nya dengan pria bertopeng itu " batin Eugene kesal
" Liam, cari tau siapa pria bertopeng itu. " kata Eugene
" Baik yang mulia, saya akan mencari tau secepatnya " kata Liam patuh
***
Arabella berniat pergi mengunjungi Ratu dan ia melihat Ratu sedang bersama raja. Dan ia mengurungkan kembali niatnya mengunjungi ratu, namun saat ia akan pergi ia mendengar sesuatu yang seharusnya tidak ia dengar.
" Bagaimana keadaanmu?" tanya Raja dengan wajah dingin nya
" Saya baik-baik saja yang mulia " jawab Ratu
" yang mulia, apa anda mengkhawatirkan saya?" tanya Ratu sambil tersenyum
" Jangan salah paham, aku kemari karena ingin bicara sesuatu denganmu. Ini mengenai putra mahkota " kata Raja dingin
" Ada apa?" tanya Ratu
" Apa hubunganmu dengan Count Oscar ?" tanya Raja
" Kenapa tiba-tiba Caesar bertanya begitu? apa dia sudah mulai curiga ? tidak..tidak mungkin " batin Ratu panik
" Hubungan apa itu menurut anda yang mulia? tentu saja hanya hubungan kerja sama " Ratu menjawab dengan santai
" Benarkah?" tanya Raja tidak percaya
" Apakah kau cemburu?' tanya Ratu sambil memeluk Raja. Raja menepisnya dan mendorong nya.
" Cemburu? kenapa aku harus cemburu padamu? " tanya Raja sinis
" Ya, untuk apa juga dia cemburu. Hatinya hanya untuk Canaria saja. " batin Ratu kesal
" Lalu apa hubungannya Count Oscar dan putra mahkota?" tanya Ratu ketus
" Aku sudah tau semuanya. Kau bersikeras ingin menjadikan nona Claire Colette sebagai pasangan putra mahkota, pasti ada alasannya kan?" tanya Raja curiga
" Tentu ada. Itu karena nona Claire Collete adalah gadis yang pantas untuk Eugene. Dia gadis cantik, baik, berpendidikan dan berasal dari keluarga terpandang. " terang Ratu
" Haa...benarkah itu alasannya? jika itu alasannya, ada banyak gadis bangsawan di luar sana yang statusnya lebih tinggi dari Claire Collete, dan pastinya lebih baik. Kenapa kau harus memilih dia yang hanya berasal dari keluarga Count?" tanya Raja
" I..itu karena aku menyukainya. Aku menyukai gadis itu. " jawab Ratu gugup
" Kau pikir aku akan percaya itu, Freya? " tanya Raja sinis
" memangnya sejak kapan kau percaya padaku, Caesar. " kata Ratu sinis
" Kau tidak tanya pada Eugene siapa yang dia sukai? apa dia menyukai gadis itu atau tidak?" tanya Raja
__ADS_1
" Tidak penting siapa yang Eugene sukai, calon raja negeri ini tidak boleh lemah oleh cinta ataupun wanita. Bukankah begitu yang mulia?" tanya Ratu menyindir
" Rupanya aku salah menilai mu Ratu, aku berfikir kau menganggap putra kita adalah seorang anak, tapi kau menganggap nya sebagai putra mahkota. Kau juga berlaku sebagai Ratu dan bukan seorang ibu. Kau tau alasan aku mengatakan ini ? aku berharap Eugene bisa bersama dengan orang yang ia sukai, aku tidak ingin dia terjebak sama seperti ku. Dan kehilangan orang yang dia cintai selamanya. " terang Raja tegas
" Hahaa.. dia sudah mati, kenapa kau masih mengingatnya? lalu kenapa tidak kau susul saja dia ke alam kubur bersama putra haram mu itu?" Ratu tertawa menyeramkan
Raja menampar Ratu dengan keras. Arabella yang masih berdiri di dekat pintu, terkejut mendengar suara tamparan itu.
" Kau masih saja gila " kata Raja sinis
" Haha.. iya aku gila, gila karena terlalu mencintaimu " kata Ratu sambil menangis
" Hapus air matamu itu, aku tidak ingin melihatnya. Aku kesini untuk mengingatkan mu, jangan terlalu ikut campur dalam permasalahan pasangan untuk Eugene. Aku ingin dia memilih orang yang ia cintai dan orang yang ia pilih untuk bersamanya !" seru Raja tegas
" Sampai kapan kau akan terus memikirkan wanita sialan itu? padahal aku sudah menyingkirkan nya dari dunia ini, tapi dia masih saja di hatimu.. " batin Ratu sakit hati
Arabella kembali ke kamarnya dan terlihat melamun. Ia akan berganti baju, dan seseorang membuka jendela kamarnya.
" AAAAA aaa" teriak Arabella kaget
Aiden menutup mulut Arabella dengan panik.
Beberapa pengawal mendengar teriakannya dari luar.
" Nona Arabella? apakah anda baik-baik saja??" tanya salah satu pengawal
" A.. Aku tidak apa-apa. Aku hanya kaget ada kecoa " kata Arabella gugup
" Kalau begitu kami akan mengusir kecoa nya, biarkan kami masuk ke dalam " kata Pengawal cemas
" Ti..tidak usah, aku baik-baik saja. Tinggalkan aku sendiri " kata Arabella
***
Arabella terlihat kesal dan memakai bajunya kembali. Saat itu Aiden tidak memakai topeng dan berpenampilan sebagai pangeran.
" Saya tidak tahu anda orang yang mesum, pangeran " kata Arabella kesal
" Jika kedua kakakku itu tau ada seorang pria melihatku setengah telanjang, dia pasti akan menghunuskan pedang kepada pangeran atau malah menyuruhku menikah dengannya. Pemikiran mereka itu kan sangat kolot " batin Arabella cemas
" Aku kira ini adalah kamarku, bagaimana aku menjelaskan nya. " batin Aiden bingung
" Maafkan aku, aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku pikir ini kamar yang di sediakan pelayan untukku jadi aku masuk begitu saja " kata Aiden menyesal
" Lalu kenapa anda masuk lewat jendela? Tidak lewat pintu? haah??!" tanya Arabella yang hampir menangis
" Maaf, aku lewat jendela itu karena tidak mau berpapasan dengan seseorang " kata Aiden
" Sebenarnya aku tidak mau berpapasan denganmu, karena aku akan merasa canggung, tapi malah bertemu denganmu disini " batin Aiden merasa bersalah
" Aku tahu dia hanya mencari alasan. Mesum tetaplah mesum!" batin Arabella kesal
" Terus mau apa anda masih disini? bukannya harusnya anda segera pergi?!" teriak Arabella marah
" Dia marah-marah lagi, ya mood nya sedang tidak bagus hari ini. Dia bahkan marah-marah tidak jelas hanya karena baju" batin Aiden
" Iya iya, aku akan segera pergi. Aku benar-benar minta maaf nona " kata Aiden menyesal
" Huuhh.." gumam Arabella kesal
" Ah ya, tentang apa yang ku dengar dari yang mulia ratu dan Count Oscar, haruskah aku memberitahu kan ini padanya? tapi, bagaimana aku memberitahu nya, aku bahkan tidak dekat dengannya. Bukankah dia sebagai anaknya juga harus tau? Tidak, aku beritahu saja dia nanti " batin Arabella berfikir
Aiden melangkah pergi ke jendela kamar Arabella.
" yang mulia pangeran, tunggu!" seru Arabella
" Ya, ada apa?" tanya Aiden berbalik melihat Arabella
" Saya.. saya berterimakasih " kata Arabella malu-malu
" Untuk apa ?" tanya Aiden
" Saya dengar dari guru pedang saya, kalau anda ingin membantu saya terkait penyelidikan insiden yang melibatkan saya walaupun anda tidak mengenal saya dan kita tidak dekat " kata Arabella lembut
" Dia sangat manis ketika berbicara lembut seperti ini, rasanya aku ingin berlari sekarang kepadanya dan memeluknya. Jantungku iji, rasanya ingin meledak saja..." batin Aiden tersip
" Ya, itu bukan apa-apa. Selamat beristirahat " kata Aiden ramah
" Ah ya, yang mulia pangeran juga " kata Arabella
" Aneh sekali, aku selalu merasa kalau dia memberikan rasa nyaman ketika guru bersamaku. Bau mereka pun sama, apa jangan-jangan mereka punya hubungan spesial haha.. bicara apa sih aku ini " batin Arabella berfikir yang bukan-bukan
" Ah besok aku harus bicara padanya, dengan hati-hati. Karena ini adalah masalah sensitif, ini juga masalah mengenai ibunya. Tentu saja dia harus tahu " gumam Arabella berfikir
***
Keesokan harinya, Eugene secara pribadi menemui Arabella dan menunggunya di depan kamar nya.
" Selamat pagi yang mulia putra mahkota " kata Arabella menyapa
" Kenapa dia ada disini sepagi ini?" batin Arabella heran
" Selamat pagi, apa tidurmu nyenyak?" tanya Eugene
" Iya, saya tidur dengan nyaman yang mulia " jawab Arabella senang
" Kalau begitu, mari kita sarapan bersama " Eugene mengajak
" Ma..maaf yang mulia saya ini seorang tahanan istana, saya tidak bisa sarapan bersama dengan yang mulia " kata Arabella
" Apa kata orang nanti kalau ada rumor tentang ku beredar lagi? aku akan membuat keluargaku kesusahan " batin Arabella
" Aku bilang kan, kau bukan tahanan yang seperti itu. " kata Eugene
" Nona Arabella selamat pagi " kata Aiden yang tiba-tiba datang
" Selamat pagi yang mulia pangeran " kata Arabella
" Salam,..putra mahkota " kata Aiden
" Iya pangeran Aiden. " jawab Eugene formal
" Maafkan saya putra mahkota, tapi saya harus meminjam nona Arabella sebentar " kata Aiden
" kalian mau kemana? maksudku ada apa ?" tanya Eugene
" Kenapa Aiden terlihat sangat dekat dengan Arabella? sejak kapan mereka akrab?" batin Eugene cemburu
" Bukankah nona Arabella berkata ada yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Aiden memberi isyarat pada gadis itu
" Benar, ada yang ingin saya bicarakan dengan yang mulia pangeran" Jawab Arabella
" Pembicaraan apa yang mengharuskan kalian bicara berdua?" tanya Eugene kesal
" Yang mulia putra mahkota, apa anda belum tahu kalau saya ditugaskan sebagai penyelidik utama dalam insiden ratu. Jadi, banyak hal yang harus saya dan nona Arabella bicarakan " kata Aiden menjelaskan
" Apa? kenapa aku tidak tahu? sejak kapan kau menjadi penyelidik utama kasus ini?" tanya Eugene kaget
" Sejak tadi malam, untuk lebih detail nya bisa anda tanyakan kepada yang mulia Raja. Kalau begitu saya dan nona Arabella permisi dulu " kata Aiden sambil tersenyum sinis
Aiden mengajak Arabella pergi, Eugene terlihat kesal dan cemburu melihat kedekatan Arabella dan Eugene.
" Sejak kapan mereka jadi dekat? mereka bahkan baru bertemu sekali. Dan kenapa aku marah melihatnya bersama pria lain? apa benar kata Liam, kalau aku sudah jatuh hati pada nya?" gumam Eugene berfikir
***
Aiden dan Arabella berjalan bersama ke arah istana Timur, dan mereka juga diikuti Demian.
" Yang mulia pangeran, kenapa kita berjalan ke istana Timur?" tanya Arabella
" aku sudah menyelidiki tentang istana Timur semalam, dan ada sesuatu yang mencurigakan. Ku pikir kau harus tahu " kata Aiden
" Oh baiklah. Yang mulia pangeran terimakasih lagi " kata Arabella
" Kali ini untuk apa?" tanya Aiden
" Anda sudah menolong saya menjauh dari yang mulia putra mahkota " jawab Arabella
" Kau secara terang-terangan mengatakan bahwa kau tidak menyukai nya " kata Aiden
" Iya memang benar. " Arabella membenarkan
" Karena aku sudah menolongmu berkali-kali, bukankah kau harus melakukan sesuatu?" tanya Aiden
" A.. Apa? jadi anda meminta imbalan dari saya?" tanya Arabella kaget
" Jadi orang ini tidak tulus membantu? menyebalkan sama seperti guru saja !" batin Arabella sebal
" Aku tidak akan meminta yang aneh-aneh kok " kata Aiden
" Yang mulia ingin minta apa?" tanya Arabella
__ADS_1
" Aku ingin hati .." jawab Aiden
Arabella terkejut dengan jawaban Aiden, dan mereka saling menatap satu sama lain. Perlahan-lahan muncul senyuman manis di wajah Aiden. Ia menatap gadis yang ia sukai itu dengan penuh kelembutan.